
"Jadi kamu kenal sama Rendi?" tanya Dara ramah.
"Ya baru beberapa minggu yang lalu, Rendi menabrak ku waktu itu?' jelas Kinan
"APA??? kenapa Rendi nggak pernah cerita sama aku !" Kata Dara yang terkejut.
"Mungkin dia nggak mau kamu khawatir." sanggah Randi yang juga terkejut ternyata Rendi tidak menceritakan pada Dara.
"Tapi kan nggak seharusnya dia kayak gitu!" lirih Dara sedangkan Kinan hanya diam tak peduli. "Tapi ya sudahlah, lebih baik kalian masuk biar dibikinin minum." Ajak Dara pada Randi dan Kinan.
"Disini aja gimana? sambil ngeliatin pemandangan taman enak kayaknya!" kata Randi yang sudah duduk disebuah kursi.
"Hmm ya sudah, aku akan menyuruh Bibi membuatkan minuman." kata Dara.
Dara memasuki rumah dengan pikiran sedikit kacau, mengapa pula Rendi tak menceritakan semua padanya.
"Bi.. buatin minum sama bawain cemilan keluar ya?" perintah Dara.
"Iya Nyah.. itu kembaran nya Tuan Rendi ya Nyah? Bibi pikir Tuan Rendi bawa selingkuhan." Kata Bik Surti dengan nada terkekeh.
"Nggak usah ngomong aneh aneh Bi... Mas Rendi nggak mungkin kayak gitu." kata Dara sedikit tak suka dengan ucapan Bi Surti.
"Iya Non... maaf." Bik Surti terlihat menunduk menyesal.
"Ya sudah Bi.. aku tunggu diluar ya?" kata Dara meninggalkan dapur dan kembali keluar untuk menemui Kinan dan Randi.
"Apa perlu aku telponin Rendi biar dia pulang dulu?" tanya Dara yang kini sudah duduk dikursi menghadap Randi.
"Udah nggak perlu, bisa ngamuk nanti dia." kekeh Randi "Ohh ya gimana kabar baby calon ponakan om?" tanya Randi melihat perut Dara sedikit membuncit saat Dara mengenakan Dress yang sangat pas ditubuhnya.
"Jadi dia sudah hamil sebelum menikah? cihh dasar perempuan murahan!" batin Kinan.
"Baik kok, sehat kemarin aku sempet periksa waktu dikampung, dan ini juga belum periksa lagi, nanti lah nunggu kalau Mas Rendi nggak sibuk!" jelas Dara.
"Mulai sekarang Lo harus maklum kalau Rendi jarang dirumah, soalnya dia pekerja keras banget, dan selalu mengutamakan kerjaanya lebih dari apapun!" kata Randi.
"Masa sih? tapi kemarin kemarin kok kayaknya nggak sih!"
"Soalnya kemarin dia lagi ngerintis perusahaan terbaru yang baru ia buka, jadi bakalan sering sibuk." kata Randi dan Dara hanya manggut manggut "Nanti kalau Lo butuh apa apa, kalau Rendi nggak bisa nganter, Lo bilang Gue deh nanti gue anter! nggak udah sungkan sungkan!" kata Randi.
"Ah ya makasih sebelumnya.. ngomong ngomong gimana keadaan kamu? apa banyak lukanya kemarin?" tanya Dara pada Kinan yang sedari tadi hanya menyimak obrolan Randi dan Dara.
"Ya lumayan, tapi cuma lecet dan keseleo aja sih, untung Mas Rendi langsung bawa aku keklinik trus juga kemarin sempet nginep dirumah aku juga karena kemaleman, aku nggak tega kalau Mas Rendi harus pulang tengah malam."
Deggggggg.... Rendi nginep ditempat Kinan? batin Dara.
"Karena Rendi kalau tanggung jawab nggak setengah setengah." kata Randi yang mencoba membuat Dara berpikir positif, Randi sungguh tak menyangka jika Kinan akan mengatakan sedetail ini pada Dara.
"Iya, paginya Rendi sampai nganter aku ke toko tempat aku kerja dan karena aku dipecat akhirnya Rendi bawa aku kekota buat kerja sama Mas Randi ini." jelas Kinan.
Dara merasa ada yang aneh dengan Kinan, mungkin karena Rendi menolongnya dan sedikit perhatian dengan Kinan hingga membuat Kinan salah mengartikan perhatian Rendi. jika dilihat dari semuanya ucapan nya memang seperti itu. "Ohh ya baguslah kalau mas Rendi tanggung jawab, Dia salah dan memang seharusnya yang tanggung jawab kan?" kata Dara mencoba menyadarkan Kinan.
"Tapi kan jarang jarang cowok sekarang mau tanggung jawab kalau nabrak orang apalagi pas malem juga waktu itu." jelas Kinan.
"Hmm sudah sudah... yang penting sekarang semuanya sudah baik baik saja." kata Randi yang merasakan atmosfer tak enak diantara Kinan dan Dara. Sepertinya Randi salah mengira Kinan, Randi pikir jika ia mengajak Kinan bertemu Dara membuat Kinan minder dan tak berharap pada Rendi lagi karena jika secara fisik Kinan pasti akan kalah dari Dara namun bukanya minder ia malah semakin menjadi, astaga wanita itu batin Randi.
Sepulangnya Randi dan Kinan, Dara mengurung dirinya dikamar, sambil terus memikirkan semua ucapan Kinan padanya tadi.
Sebenarnya Dara mencoba positif thingking tidak ingin memikirkan ucapan Kinan karena Dara pikir wajar saja jika Rendi seperti itu, mungkin itu bentuk tanggung jawab Rendi pada Kinan karena telah menabraknya.
Namun yang membuat ia ragu kala Kinan mengatakan jika Rendi sampai menginap dirumah Kinan, Apakah terjadi sesuatu diantara mereka? batin Dara yang kini mulai resah.
Tentu saja Dara resah, umur pernikahannya baru seumur jagung, ia tak ingin ada orang ketiga yang akan merusak pernikahan nya dengan Rendi. Apalagi sekarang ini mereka sedang bahagia bahagianya menikmati biduk rumah tangga setelah selama ini banyak yang menentang pernikahan mereka.
....
Randi dan Kinan kini sudah berada didalam mobil perjalanan pulang menuju apartemen. "Mengapa tadi Dara memanggilmu Tuan?" tanya Kinan penasaran saat awal pertemuan Dara dan Randi ,Dara memanggil Randi dan membawa embel embel Tuan.
"Ya karena Dara dulu bekerja dirumah orangtuaku!" kata Randi.
Kinan jelas terkejut, ia sampai membegap mulutnya karena tak percaya. Wanita cantik yang tadinya ia pikir juga berdarah biru nyatanya sama saja seperti dirinya hanyalah pembantu pantas saja tadi Dara mengatakan jika ia pernah periksa di kampung jadi Dara juga orang kampung seperti dirinya?. berarti memang Rendi bukan tipe orang yang memilih status sosial untuk dijadikan istri, entah mengapa mengetahui itu semua membuat Kinan sedikit senang.
....
Malam harinya Rendi pulang cukup larut, pukul 11 malam, namun meski begitu Dara tetap setia menunggu kepulangan Rendi.
__ADS_1
"Aku pikir kau sudah tidur, kenapa harus menungguku?" tanya Rendi yang baru saja memasuki kamar.
"Hmm, bukankah memang tugas istri menunggu kepulangan suami?" tanya Dara yang kini sudah membantu Rendi melepaskan dasinya.
"Iya tapi jika terlalu larut bukankah lebih baik kau tidur lebih dulu?" kata Rendi.
"Hmm tidak apa apa, ohh ya kau sudah makan malam?" tanya Dara.
"Sudah, kau juga sudah kan sayang?" tanya Rendi yang kini sudah bertelanjang dada hendak mandi.
"Hmm tentu saja sudah, ya sudah mandilah dulu aku akan membuatkan teh hangat untukmu!" kata Dara, Rendi segera mengecup kening Dara dan berjalan menuju kamar mandi.
Dara turun dan melihat Bik surti masih menunggu didapur, sedangkan para Maid yang lain nampak sudah beristirahat dikamar masing masing.
"Bibik kau belum tidur?" tanya Dara yang melihat mata Bik Surti sudah mengantuk.
"Belum Nyah." Bik Surti hanya tersenyum nyengir.
"Ya sudah Bi... bawa saja makan malam dimeja kekulkas dan hangatkan besok pagi saat ingin dimakan, Mas Rendi sudah makan soalnya!"
"Tapi kan Nyonya Dara belum makan!" kata Bik Surti.
"Nggak apa apa Bik, aku juga masih kenyang, lagian kalau makan sendiri juga nggak enak!" kata Dara yang kini sudah membawa satu cangkir teh hangat. "Bibi langsung istirahat soalnya udah larut banget ini!" kata Dara.
"Siap nyah."
Dara memasuki kamar dan melihat Rendi sudah selesai mandi mengenakan piyamanya, "Sepertinya Enak." kata Rendi yang lansung menyeruput teh hangat buatan Dara.
"Sekarang kutemani tidur karena setelah ini aku akan kenbali bekerja.'" kata Rendi.
"Haa?"
"Banyak yang harus kuselesaikan sayang jadi tidurlah lebih dulu." kata Rendi.
"Baiklah, jangan terlalu keras bekerja sayang nanti kau bisa sakit." nasihat Dara.
"Iya sayang." kata Rendi mengecup kening Dara kemudian keluar meninggalkan Dara.
Dara hanya bisa menghela nafas lelah, rasanya sedikit aneh sekarang, Rendi terlalu sibuk bekerja, namun mau bagaimanapun Dara harus memahami situasi ini karena Rendi bekerja juga untuk dirinya dan calon anaknya.
Pagi hari saat bangun tidur, lagi lagi Dara harus kembali merasakan kecewa karena Rendi suaminya sudah tidak ada disana atau sudah berangkat bekerja. Sepagi ini? batin Dara yang melirik jam masih pukul 6 pagi, bukankah masih terlalu pagi untuk bekerja apalagi Rendi adalah bosnya.
Sayang maafkan aku tidak membangunkanmu saat aku berangkat kerja karena aku tak tega membangunkan mu yang sangat nyenyak tidurnya.
Jangan lupa makan dan jaga kesehatan yaa..
jangan menungguku pulang karena aku akan pulang larut lagi malam ini
Dara meremas kertas pesan yang Rendi tinggalkan. pikirannya sedikit kacau memikirkan Rendi yang benar benar berubah padahal pernikahan Dara dan Rendi baru 3 hari tapi mengapa Rendi sudah sesibuk ini? Dara terlihat sangat kesal bahkan untuk sarapan bersama saja tidak bisa, baiklah memang benar yang Randi katakan, sepertinya Dara memang harus benar benar extra sabar menghadapi Rendi.
...
"Jam berapa Rendi berangkat?" tanya Dara pada salah satu maid yang tengah menyiapkan makanannya.
"Pukul 5 pagi Nyonya."
"Apakah Rendi sarapan?" tanya Dara lagi.
"Tidak Nyonya, Tuan buru buru." jelas maid itu.
Kemana Rendi pergi sepagi itu? bahkan ia juga buru buru sampai tidak sarapan, sebenarnya apa yang dia kerjakan? , Dara segera menepis kala ia berpikir Rendi memiliki wanita lain dibelakangnya "Tidak mungkin." lirih Dara segera menghilangkan pikiran negatifnya.
...
Rendi berjalan terburu buru menuju sebuah lapangan dimana disana terdapat helikopter pribadi milik Sanjaya.
Rendi memang sedang ada meeting dengan klien diluar kota, sebenarnya Rendi bisa saja berangkat siang dan naik pesawat namun karena ia tak ingin menginap, Rendi memilih berangkat pagi sekali dengan Helikopter pribadi milik keluarganya agar lebih menghemat waktu jadi Rendi tak harus menginap. Karena ia juga merasa tak tega jika harus meninggalkan Dara seorang diri dikala dirinya dan Dara baru saja menikah beberapa hari yang lalu.
"Kita akan mendarat 3jam lagi Pak dan pukul 2 siang kita akan melaksanakan pertemuan dengan Klien dihotel yang sudah dipesankan." kata Sekertaris Rendi yang ikut dalam perjalanan bisnis ini.
"Baiklah , jadi pukul 4 kita sudah selesai meeting kan?" tanya Rendi.
"Bisa diperkirakan seperti itu Pak... namun bisa kurang bisa juga lebih."
"Aku berharap ini segera berakhir." keluh Rendi karena sudah 2 hari ini ia sama sekali tak menyetuh istrinya itu. Tapi mau bagaimana lagi demi masa depan yang baik untuk istri dan anaknya, Rendi harus bekerja keras.
__ADS_1
Pukul 4 sore pertemuan mereka selesai, seperti perkiraan Rendi dan sekertarisnya.
"Mr Rendi kau ingin segera pulang? kau tak ingin ikut pesta bersama kami?" tanya Mr Han rekan bisnisnya.
"Maaf , saya tidak bisa .. saya harus segera pulang, lain kali mungkin saya akan menerima ajakan Mr Han.." Tolak Rendi halus.
Rendi cukup paham tentang pesta apa yang dimaksud Tuan Han, pastilah mereka akan minum minum dan bermain dengan wanita bayaran mereka hingga pagi. Rendi sekarang sudah tak ingin melakukan semua itu, baginya memilki Dara sudahlah lebih dari cukup mengisi hidupnya meskipun dulunya memang ia seliar itu namun sekarang Rendi sudah sadar benar benar sadar.
"Ah tentu saja kau menolak ku karena kau sekarang sudah memiliki istri dirumah tapi lain kali aku tak akan menerima penolakan mu!" kata Mr Han.
"Baiklah Mr. Han saya tak akan menolak lagi pesta anda untuk pertemuan selanjutnya." kata Rendi.
Mr Han hanya tersenyum kemudian pergi meninggalkan Rendi dan Sekertarisnya.
"Apa Bapak yakin tidak ikut kepesta?" tanya Sekertaris Rendi.
"Ya .. aku hanya ingin segera pulang saja." jawab Rendi.
"Sejak mempunyai istri memang bapak sudah banyak berubah." kekeh Sekertaris Rendi.
Rendi tak mengubris hanya membalas ucapan Sekertarisnya dengan senyuman.
..
Pukul 8 malam Rendi sudah sampai dimansionnya.
"Tuan... sudah pulang?" sapa salah satu maid saat membukakan pintu.
"Hmmm.. dimana Dara ?" tanya Rendi dingin.
"Nyonya Dara sudah tidur Tuan?" kata Maid itu membuat Rendi terkejut.
Diliriknya jam tangan yang melingkar ditangan nya, masih jam 8 malam, kok tumben batin Rendi.
"Apa Dara sudah makan malam?" tanya Rendi.
"Sudah Tuan..."
"Baiklah, siapkan makan malam untuk ku, aku akan mandi dulu." perintah Rendi.
"Baiklah Tuan..."
Rendi memasuki kamar dan melihat memang Dara sudah memejamkan matanya.
"Apa kau lelah sayang??? atau ada yang sakit???" lirih Rendi mengelus pipi Dara sebentar kemudian bergegas untuk mandi dan makan malam.
....
Dara merasa ada yang memeluknya dari belakang, segera Dara membuka matanya dan melihat suaminya yang kini tengah memeluk dan menciumi dirinya.
Diliriknya jam dinding masih pukul 9 malam, apakah ini benar suaminya? batin Dara.
"Kenapa melihatku seperti melihat hantu?" tanya Rendi penasaran.
"Aneh saja melihatmu sudah pulang padahal ini masih pukul 9 malam." kata Dara jujur.
"Kenapa harus aneh sih.. bukankah seharusnya senang karena aku pulang lebih awal?" kata Rendi.
"Tentu saja aku senang." kata Dara tersenyum lebar.
"Alu sangat merindukanmu.." bisik Rendi yang masih menciumi Dara.
"Apa kau lelah??" tanya Dara.
"Sangat Lelah... tapi aku masih memiliki tenaga untuk hmmm..." kata Rendi yang lagsung saja memulai permainan panasnya dengan Dara.
Hanya satu Ronde kali ini, Dara sudah sudah merasa lemas. Rendi segera menyelimuti Dara karena kali ini Dara sangat polos tanpa busana.
"Aku ingin menanyakan sesuatu..." kata Dara.
"Apa sayang?"
"Siapa Kinan?"
BERSAMBUNG....
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN....