
Dara memasuki kamar, matanya menjelajahi kamar dan tak menemukan Rendi disana, namun terdengar suara gemericik air dikamar mandi.
"Apa Rendi mandi lagi?'' batin Dara akhirnya berjalan mendekati almari kemudian mengambilkan piyama untuk Rendi dan duduk dipinggir ranjang sembari menunggu Rendi keluar.
Tak berapa lama Rendi keluar dengan mengenakan jubah mandinya.
"Aku udah siapin piyama." kata Dara mengulurkan sepasang piyama , Rendi mengambil piyama tanpa mengatakan apapun.
Dara menghela nafas, Dara sadar memang dirinya yang salah.
Setelah memberikan piyama Rendi, Dara beranjak memasuki kamar mandi, tidak mandi tapi Ia perlu mencuci muka.
Selesai dengan ritualnya, Dara dan melihat Rendi sudah berbaring diranjang memunggunginya.
Setelah menganti Dressnya dengan piyama, Dara bergegas menaiki ranjang dan memeluk Rendi dari belakang.
"Maafin aku sayang." kata Dara yang entah didengar ataupun tidak oleh Rendi namun Dara memang harus melakukan ini.
"Aku tau aku salah, aku memang pembangkang, maafin aku yaa? jangan marah lagi." kata Dara lagi yang membuat Rendi tak tahan akhirnya Ia berbalik menghadap Dara lalu mencium bibir Dara.
Dara yang mendapatkan serangan dari Rendi hanya bisa pasrah dan ikut ******* Bibir Rendi, bagi Dara jika sudah seperti ini pasti Rendi akan memaafkan nya.
"Aku kesel liat kamu kenal cowok lain tanpa sepengetahuan aku!" kesal Rendi yang terlihat jelas sekali jika Rendi sedang cemburu. Ya saat ini Rendi sedang cemburu.
"Aku nggak kenal sama Dia, kemarin dia ke supermarket sama anak kecil namanya Nana trus Nana mau yogurt yang aku bawa, ya udah aku kasih aja, aku nggak kenalaan sama dia sayang." jelas Dara sedikit terkekeh melihat bagaimana cemburu nya pria yang sudah menjadi suaminya ini.
"Kamu ngerasa nggak? tadi bahkan pas periksa kamu aja dia curi curi pandang sama kamu,." kesal Rendi.
"Enggak sayang, namanya juga lagi diperiksa ya kan pasti ngeliatin aku." jelas Dara.
"Udah belain aja terus!" dengus Rendi kesal melihat Dara membela Dokter Vano.
"Astaga, aku nggak ngebelain... ya udah sayang besok kalau ketemu atau liat biar aku pura pura nggak liat aja atau sekalian pura pura nggak kenal biar suami aku ini enggak cemburu." jelas Dara.
"Aku nggak cemburu! siapa yang cemburu." protes Rendi.
"Iya iya sayang... nggak cemburu! udah yaa marahan nya." sabar Dara.
"Aku nggak marah, siapa memang yang marah." kata Rendi santai dan kali ini membuat Dara sedikit kesal.
__ADS_1
"Ah iya, aku lupa jika suamiku bukanlah tipe pria pemarah." kata Dara yang langsung melepaskan pelukan nya dan langsung membalikan tubuh memunggunggi Rendi.
Rendi tertawa renyah mendengar sindiran Dara lalu memeluk tubuh Dara .
"Nanti kalau kamu bosan ingin kemanapun bilang sama aku, pasti aku bakalan usahain waktu buat ngajak jalan jalan jangan pergi tanpa pamit lagi yaa." jelas Rendi membuat Dara tersenyum.
"Janji bakalan ngajak jalan jalan?" tanya Dara.
"Tentu saja sayang, apapun itu aku pasti nurutin kok." kata Rendi dan Dara hanya tersenyum lega.
...
"Mau kemana kamu?" tanya Tantri Ibu Siti melihat Siti sudah berpakaian rapi hendak keluar rumah.
"Aku mau periksa kandungan aku Bu.." jawab Siti dengan nada takut.
"Apa kamu gila haaa??? mau ditaruh dimana muka IBu kalau kamu periksa kandungan kamu dibidan kampung, jangan gila kamu!" marah Tantri pada Siti.
"Aku periksa ke klinik dekat kota Bu, nggak dibidan kampung,." jelas Siti sambil menangis.
"Ibu nggak peduli ya!! kamu harus gugurkan kandungan kamu!!' perintah Ibunya.
"Kalau kamu nggak mau mengugurkan kandungan kamu lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!!"
"Ibu ngusir aku?" Siti tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.
"Tentu saja, buat apa Ibu punya anak yang nantinya cuma bikin malu keluarga!" jelas Tantri.
Dengan tangisan yang semakin menjadi, Siti kembali memasuki kamarnya, Ia segera memasukan pakaian nya kedalam koper. Setelah dirasa cukup Siti menyeret kopernya keluar dari rumahnya tanpa pamit dengan Tantri.
Siti menyeret kopernya dijalanan kampung, beruntung siang ini cuaca mendung jadi kampung Siti terlihat sangat sepi.
Siti berjalan sambil sesekali menyeka air matanya yang masih saja bercucuran, Kini Ia pergi tanpa tujuan karena Ia tak tau harus kemana lagi.
Siti juga tak menyangka orangtua, yang selama ini Ia sayangi tega mengusir dirinya namun Siti juga memaklumi karena memang dirinya yang salah, hamil diluar nikah tanpa suami yang nantinya akan membuat malu keluarganya.
"Siti... kamu kan itu?" tanya seorang wanita yang berpapasan saat Siti berada dipinggir jalan raya.
"Fitri ?" Siti mencoba mengingat.
__ADS_1
"Iya ini aku Fitri temen kamu waktu smp dulu." Fitri terlihat senang begitupun dengan Siti.
"Ngomong ngomong kamu mau kemana bawa koper ? kamu masih kerja dikota ya?" tanya Fitri.
"Egh.. aku udah dipecat dan aku nggak tau mau kemana lagi." Desah Siti "Kamu makin sukses aja udah bisa beli mobil juga." Siti terkagum melihat Fitri yang keluar dari mobil.
"Em.. kamu mau kerja bareng aku?" tanya Fitri.
"Haa? serius kamu?? mau lah aku." Siti terlihat girang karena sekarang Ia tak harus binggung mau kemana lagi dalam keadaan seperti ini.
"Tapi aku nggak tau kamu bakalan suka nggak kerja kayak gitu," Ragu Fitri.
"Enggaklah, aku mau kerja apa aja." jawab Siti Mantap.
"Ya udah ayo masuk mobil aku, sementara kamu tinggal dirumah aku aja sambil mikirin kamu mau nggak kerja kayak aku." jelas Fitri membuat Siti heran sebenarnya pekerjaan apa yang dimaksud Fitri itu.
Fitri membantu Siti memasukan koper kedalam bagasi mobilnya kemudian keduanya masuk kedalam mobil Fitri.
"Wah hebat yaa kamu, masih muda udah bisa beli mobil bahkan nyetir mobil sendiri." puji Siti yang hanya mendapatkan senyuman dari Fitri.
"Ngomong ngomong kerja apa sih yang kamu maksud?" tanya Siti yang masih penasaran.
"Aku nggak tau kamu mau apa nggak? tapi kalau kamu memang nggak mau jangan bilang sama siapa siapa masalah kerjaan aku, gimana?" tanya Fitri.
"Hmm oke deh." jawab Siti yang semakin dibuat penasaran oleh Fitri.
"Aku kerja jadi ******* sama seorang mucikari." kata Fitri yang langsung membuat Siti membegap mulutnya tak percaya.
"Aku punya masa lalu yang buruk, itulah alasanku kenapa aku kerja kayak gini, aku udah dirusak cowok sekalian aja aku kerja kayak gini, lagian kerjanya enak, cuma ngelayani pria hidung belang kalau kita pinter bikin mereka puas pasti dapet dikasih bonus yang nggak sedikit." jelas Fitri membuat Siti sedikit tersentil karena Ia juga merasa dirusak oleh Rezky bahkan lebih parah, dihamili lalu ditinggalkan.
"Pantas aja kamu udah punya mobil semewah ini." gumam Siti.
"Nggak hanya mobil, aku juga punya rumah, perhiasan dan setiap bulan bisa ngirim uang dikampung." jelas Fitri. "Jadi gimana ? kamu mau nggak? kalau iya nanti aku bakalan bilang sama mucikari aku." tanya Fitri yang membuat Siti binggung setengah mati.
"Aku ...."
"Ya udah pikirin dulu aja." kata Fitri.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...