My Wild Rose

My Wild Rose
SELALU INGIN DEKAT DENGANMU


__ADS_3

Makan siang di café siang itu tidak lebih dari 30 menit, tapi bagi Cladia, rasanya seperti sudah berjam-jam dia terjebak dalam suasana yang tidak mengenakkan di meja café itu. Bagaimana tidak, selama 30 menit dia seringkali harus menahan nafas karena tatapan Ornado, sebenarnya bukan tatapan tajam seperti Ornado menatap Robi, tapi tetap saja bagi Cladia tatapan itu cukup untuk membuatnya sedikit salah tingkah dan gugup. Cladia sendiri tidak dapat mengartikan arti tatapan dari Ornado yang sebentar-sebentar terfokus ke arahnya, dan itu cukup membuat beberapa orang mengamati tindakan aneh mereka berdua dan mulai berbisik-bisik saling menebak ada hubungan apa antara Cladia dan CEO mereka.


“Ok, saya sudah selesai, saya akan duluan, silahkan kalau kalian masih mau menikmati waktu istirahat kalian disini. Ibu Cladia, saya harap selesai makan siang anda bisa kembali ke kantor, ada beberapa hal yang perlu kita bahas,” Tanpa menunggu jawaban Cladia, Ornado bangkit berdiri dari duduknya dan tersenyum ke arah orang-orang yang duduk satu meja dengannya sebelum akhirnya dia meninggalkan mejanya, Cladia menarik nafas lega sambil memegang dadanya dengan tangan kanannya, tapi buru-buru dia menghentikan tindakannya takut orang-orang menyadari apa yang barusan dilakukannya dan mereka akan semakin bertanya-tanya. Tapi, tentu saja tindakan Cladia sempat terlihat oleh Robi yang hanya tersenyum tipis, tindakan Cladia yang menunjukkan ketidaknyamanannya di dekat Ornado membuat Robi merasa sedikit senang.


“Ah, ok, kita juga harus segera kembali, melanjutkan pembahasan tentang design panggung yang harus kita selesaikan hari ini,” Robi menyingkirkan piring di hadapannya yang sudah kosong dan berdiri bersiap meninggalkan café diikuti Cladia dan yang lainnya.





Ornado melirik jam di pergelangan tangan kirinya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 13:30, jam istirahat harusnya sudah berakhir 30 menit yang lalu, tapi sedari tadi dia melihat ke arah pintu ruangannya belum ada tanda-tanda Cladia kembali ke kantornya. Ornado melirik hpnya yang tergeletak di meja, sebentar kemudian dia sudah meraihnya dan menghubungi seseorang.


“Apa Cladia bersamamu?” Belum sempat lawan bicaranya bersuara, Ornado langsung menanyakan posisi Cladia, James yang baru saja menerima telp langsung menoleh ke arah Cladia yang sedang berdiskusi dengan teamnya.


Ah, pasti ada sesuatu yang terjadi lagi, James berkata dalam hati sambil tersenyum.


“Kami sedang meeting, membicarakan desain panggung untuk acara yang harus kami selesaikan hari ini dan kami kirimkan ke team di Itali. Apa ada sesuatu yang mendesak?” Belum lagi James mendapat jawaban, Ornado sudah memutuskan telpnya, James memandangi hpnya dengan sedikit mengernyitkan alis, tapi sebentar kemudian dia tersenyum melihat siapa yang tiba-tiba datang berjalan memasuki ruangan itu.


“Siang Pak Ornado,” Semua yang ada di ruangan itu langsung memberikan salam hormat begitu Ornado memasuki ruangan dan berjalan ke arah Cladia.


“Siang semua, Ibu Cladia, bukannya tadi kita sudah membuat janji untuk membahas sesuatu setelah jam istirahat?” Cladia yang sebelumnya berdiri sedikit membungkuk untuk membaca berkas di meja di hadapannya, bergerak untuk menegakkan badannya dan memandang ke arah Ornado.


“Maaf pak, sebelum saya sempat menjawab Bapak sudah pergi, saya harus selesaikan meeting yang sudah kami jadwalkan sejak kemarin, setelah ini saya akan ke ruangan Bapak,”


“Ibu Cladia mungkin bisa meninggalkan meeting terlebih dahulu kalau memang ada hal penting yang harus dibahas dengan Pak Ornado, biar saya handle meeting yang ada disini,” James berjalan mendekati mereka berdua, mencoba mencari jalan tengah, tapi Ornado melambaikan tangannya memberi tanda dia tidak setuju dengan yang dikatakan James.


“Tidak apa-apa, selesaikan dulu meeting ini, apa yang perlu saya bahas dengan Ibu Cladia bisa ditunda sebentar, saya akan menunggu,” Ornado berkata sambil membalikkan badannya, memandang ke arah James yang hanya bisa mengangkat bahunya, menahan bibirnya untuk tidak tersenyum melihat bagaimana Ornado bertindak barusan.


“Terimakasih pak, kami akan segera selesaikan meeting ini,” Cladia kembali membaca berkas-berkas di hadapannya, namun ketika sekilas dia melirik ke arah kanan, ternyata tidak seperti yang diharapkannya, sehingga membuat dia sedikit mengernyitkan alis. Dia berharap Ornado yang mengatakan akan menunggunya berarti menunggu di ruangannya sendiri, ternyata Ornado sudah mengambil posisi duduk di kursi sebelah kanan yang tak jauh dari Cladia sambil mengawasi jalannya meeting mereka.

__ADS_1


Benar-benar akan jadi hari yang melelahkan, Cladia berbisik dalam hati, sedang James hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum ketika Cladia melirik ke arahnya, seolah memberi tanda dia mempertanyakan tindakan Ornado dan James tidak bisa memberikan penjelasan padanya.


“Cla,” Robi mendekati Cladia, sambil membawa map yang terbuka, Cladia segera mengalihkan pandangannya dari James.


“Ya, kenapa Kak Robi?” Robi menyerahkan map yang dibawanya ke tangan Cladia.


“Coba kamu lihat ini, dari 3 design ini, kira-kira mana yang kamu pilih?” Cladia menggerakkan tangannya, telunjuknya menunjuk ke arah salah satu design yang tergambar di map yang sedang dipegangnya.


“Konsep design ini bagus, tapi posisi lampu sorot yang di sebelah kanan kirinya harus di geser sedikit lebih ke tengah,” Telunjuk tangan Cladia bergerak ke kanan dan ke kiri menjelaskan gambaran yag dia maksud kepada Robi, Robi yang awalnya berdiri di hadapan Cladia menggeser posisinya sehingga berada di samping kiri Cladia.


“O, maksudmu digeser posisi ini?” Robi berkata sambil tubuhnya berjalan semakin mendekati Cladia, dan jari telunjuknya ikut menunjuk ke arah design gambar sehingga tangan mereka hampir bersentuhan, Ornado sudah bersiap untuk berdiri melihat kejadian itu, tapi tanpa disangka Cladia bergerak lebih cepat. Tanpa sadar Cladia langsung berjalan mundur menjauhi Robi dan sedikit melemparkan map yang dipegangnya sehingga terjatuh.


“Maaf, aku tidak sengaja,” Cladia buru-buru mengambil map yang terjatuh dan meletakkannya di meja, sedang Robi yang sedikit terkejut hanya terdiam di posisinya, James yang kebetulan berdiri tak jauh dari mereka menoleh kaget.


“Ada apa Ibu Cladia?” Begitu James mendekati Cladia, hendak menepuk pundaknya, Ornado sudah berdiri diantara Cladia dan James.


“James, kamu handle dulu meeting hari ini, kelihatannya Ibu Cladia sedikit kurang enak badan, biarkan dia beristirahat sebentar,” Ornado langsung menepuk pundak James. James dan Robi melirik ke arah Cladia yang memang terlihat sedikit pucat, James buru-buru mengangguk.





“Minumlah sedikit supaya tenang,” Ornado menyodorkan segelas air kepada Cladia yang duduk di sofa yang terletak di depan meja kerja Ornado.


“Terima kasih,” Suara Cladia terdengar bergetar, tangannya meraih gelas dari tangan Ornado dan meneguk air di dalamnya pelan-pelan dengan tatapan mata kosong.


“Tenangkan dirimu dulu, tidak apa-apa, tidak akan terjadi apa-apa” Cladia mengalihkan pandangannya, matanya yang sendu menatap ke arah Ornado, Ornado meraih kembali gelas di tangan Cladia dan meletakkannya di atas meja.


“Jangan takut, ada aku disini, tidak akan ada yang bisa menyakitimu,” Ornado memandang wajah Cladia dalam-dalam, berusaha memberikan ketenangan pada Cladia melalui tatapannya yang lembut tapi tegas, meyakinkan bahwa dia sanggup melindungi Cladia dan Cladia bisa mempercayakan dirinya padanya.

__ADS_1


Sebuah ketukan dari arah pintu seolah-olah menyadarkan Cladia dan Ornado, mengusik keheningan diantara mereka.


“Masuk,” Ornado memberi ijin untuk orang yang mengetuk pintu untuk masuk. Ketika pintu terbuka terlihat Fred membawa suatu benda berukuran 1 x 1,5 meter yang terbungkus rapi.


“Siang pak, pesanan bapak tadi siang sudah dikirim,” Ornado menganggukkan kepalanya, kemudian bangkit berdiri.


“Sementara letakkan di dekat sini, kamu boleh meninggalkan ruangan, tolong pesan ke office girl untuk membawakan segelas coklat hangat untuk Ibu Cladia,”


“Baik pak,” Tanpa menunggu dua kali diperintah Fred langsung meninggalkan ruangan, Ornado memandangi wajah Cladia yang tampak berangsur-angsur mulai memerah, sudah tidak pucat lagi.


“Setelah ini minumlah coklat hangat untuk menenangkan pikiranmu, kandungan triptofan dan feniletilalanin bisa sedikit membantumu untuk tenang.” Ornado berjalan mendekati bungkusan yang baru saja diserahkan Fred dan membukanya, pandangan mata Cladia yang mengikuti gerakan Ornado sedikit terbeliak melihat apa yang dibalik bungkusan tersebut, sebuah pigora dengan foto pernikahannya bersama Ornado.


“Al, kenapa ada foto itu disini?” Ornado yang awalnya berdiri mengamati foto di hadapannya menoleh memandang ke Cladia.


“Mau aku pasang di kantor ini, supaya orang tidak lagi penasaran siapa istri sahku,” Cladia langsung bangkit berdiri mendengar perkataan Ornado.


“Al, jangan,” Cladia berjalan mendekati pigora tersebut.


“Kenapa? Dengan begini orang tidak akan berani lagi bicara macam-macam tentang kamu,” Cladia langsung menggelengkan kepalanya.


“Tidak Al, aku belum pantas disebut sebagai istrimu, aku…”


“Sudah, jangan diteruskan, aku cuma bercanda, ini akan aku pasang di kamar kita,” Ornado tersenyum, tadi siang setelah kejadian di kantin dia langsung memerintahkan Fred untuk menyiapkan foto itu. Kalau bukan karena kejadian tadi siang antara Robi dan Cladia di ruang meeting, awalnya Ornado benar-benar akan memasang foto itu di kantornya, tetapi dengan kejadian tadi siang, Ornado benar-benar yakin bahwa Cladia tidak menyimpan perasaan sedikitpun kepada Robi, dan mengingat hal itu membuatnya tersenyum bahagia saat ini.


“Tapi Cla, boleh aku minta sesuatu dari kamu?” Ornado membalikkan badannya dari foto sehingga kini dia dan Cladia berdiri berhadap-hadapan.


“Apa Al?” Cladia mendongak memandang Ornado yang wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius.

__ADS_1


“Tolong jangan terlalu dekat dengan Robi, atau pria manapun, aku tidak mau kejadian seperti tadi siang terulang. Kalau saja tadi aku tidak disana, bukannya tidak mungkin James yang tidak tahu kondisimu akan menepuk pundakmu? Karena bagi kami orang Eropa adalah hal biasa berusaha menenangkan seseorang dengan menepuk pundak, melakukan kontak fisik,” Ornado mencoba memberikan pengertian kepada Cladia, walaupun sebenarnya inti dari permintaannya adalah dia tidak mau Cladia dekat dengan pria manapun kecuali dia. Cladia menghela nafas sebentar, sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu yang membuat Ornado tersentak kaget.


“Al, apa kamu yakin mau mempertahankan pernikahan kita?” Kalau saja Ornado tidak ingat tentang kondisi Cladia, tangannya akan langsung bergerak memeluk Cladia dan mengelus rambutnya, menciuminya, dan tidak akan melepaskannya hingga Cladia tahu bahwa dia begitu mencintainya, dan apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah mau melepaskan Cladia.


__ADS_2