My Wild Rose

My Wild Rose
MENIKMATI KEBERADAANMU


__ADS_3

Ornado duduk di kursi taman yang ada di dekat kebun mawarnya, di sebelahnya duduk Cladia dengan kedua tangannya menyatu di atas pangkuannya. Tangan kiri Ornado menumpu pada pegangan kursi taman, sedang tangan kanannya berada di sandaran kursi taman tepat di belakang punggung Cladia, sesekali dielusnya lembut rambut Cladia, tidak ada lagi rasa khawatir adanya penolakan dari Cladia karena ketakutannya, walaupun dia harus tetap berhati-hati dalam bertindak, tidak ingin Cladia kembali mengalami trauma, apalagi saat ini Cladia sedang mengandung buah hati mereka. Bagi Ornado, dari cara Cladia membiarkan dia menciumnya barusan, menunjukkan Cladia benar-benar sudah bisa menerima keberadaannya sebagai seorang laki-laki yang menjadi suaminya. Untuk saat ini baginya itu lebih dari cukup.


"Al," Suara lembut Cladia membuat Ornado yang awalnya masih membayangkan apa  yang barusan terjadi sedikit tersentak dan langsung menggerakkan kepalanya ke arah Cladia.


"Ada hal lain yang mau aku katakan padamu," Ornado tersenyum, berusaha untuk tidak mengarahkan pandangannya ke perut Cladia, agar Cladia tidak curiga bahwa dia sudah bisa menebak apa yang hendak dikatakan Cladia. Cladia sedikit menahan nafasnya untuk beberapa saat, baru mengarahkan matanya ke mata biru Ornado.


Cladia menggerakkan tangannya untuk menarik tangan kanan Ornado yang ada di sandaran kursi, lalu meletakkan telapak tangan kanan Ornado untuk menyentuh perutnya.


"Ada calon anak kita disini," Tanpa membalas perkataan Cladia tangan kanan Ornado langsung menarik leher bagian belakang Cladia, mendekatkan wajah Cladia ke arahnya dan langsung mencium kembali  bibir Cladia dengan lembut, me..lu..mmat dan menghisapnya kembali dengan mesra, sedang tangan kiri Ornado bergerak ke arah perut Cladia dan mengelusnya lembut. Hari ini Ornado benar-benar kehabisan kata-kata karena kebahagiaan yang dia rasakan. Rasanya tindakannya untuk mencium Cladia dengan sangat intens saat ini lebih dapat mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya dibandingkan dengan kata-kata.


Akhirnya Ornado melepaskan ciumannya dengan enggan, dipandanginya wajah Cladia tanpa berkedip dengan senyum yang terus tersungging di wajahnya, membuat wajah Cladia yang terlihat benar-benar terharu karena tindakan Ornado barusan sedikit salah tingkah. Tangan kiri Ornado masih berada di perut Cladia, masih mengelusnya dengan lembut. Mata Ornado memandang ke arah perut Cladia dengan mesra.


"Terimakasih sudah bersedia menjadi ibu dari anakku," Ornado mengelus perut Cladia lembut, dengan gerakan pelan Ornado mengarahkan kepalanya ke pangkuan Cladia sehingga telinganya bisa bersentuhan dengan perut Cladia, seolah-olah dengan tindakannya itu dia berharap bisa mendengar paling tidak detak jantung bayi kecilnya. Setelah itu Ornado menggerakkan wajahnya berhadapan dengan perut Cladia, mencium perut Cladia lembut, hampir saja airmata Ornado menetes karena rasa bahagianya.


"Apa kabar bayi kecil papa? Baik-baiklah disana, jadilah anak yang baik, jangan membuat mama susah ya," Ornado kembali mencium perut Cladia lembut sebelum akhirnya kembali mengambil posisi duduk. Tanpa bosan-bosannya dipandanginya wajah Cladia dengan lembut.


"Maafkan aku, karena tidak langsung jujur tentang kehamilanku," Cladia berkata pelan dengan kepala sedikit tertunduk.


"Sejak kapan kamu menyadari kamu hamil?" Cladia menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Ornado.

__ADS_1


"Sejak kita pulang dari berlibur dengan team Bumi Asia dan Sanjaya," Ornado memandangi wajah Cladia sambil tersenyum dengan mesra, dia kembali teringat pada malam ketika mereka berlibur di Hotel X, dimana saat makan malam akan dimulai Cladia berlari ke arah kamar mandi karena mual, sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke rumah lebih awal.


Ah, saat itu aku tidak pernah berpikir sedikitpun bahwa itu adalah tanda-tanda yang terjadi karena kehamilanmu, Ornado berbisik dalam hati, merasa konyol terhadap dirinya sendiri yang saat itu tidak segera tanggap terhadap kejadian waktu itu. Tapi siapa yang menyangka bahwa tindakannya di malam pertama mereka langsung membuahkan hasil. Wajah Cladia sedikit merona melihat cara Ornado menatapnya.


"Saat Laurel pertama kali memeriksamu siang itu, berarti kamu dan dia sudah tahu?" Cladia mengangguk mengiyakan. Ornado kembali tersenyum, andai saja saat itu dia juga sudah mengetahui tentang kehamilan Cladia, dia tidak akan mengijinkan Cladia pergi ke pasar malam. Kalau ada yang terjadi pada Cladia di pasar malam beberapa waktu lalu dia tidak dapat membayangkan seberapa besar penyesalan yang akan dia alami.


"Saat itu dia membawa test pack, aku yang sengaja memintanya untuk tidak memberitahukan masalah ini kepadamu, bahkan aku memintanya agar jangan sampai Dave pun mengetahui tentang kehamilanku. Maaf....., karena saat itu aku merasa aku belum siap." Cladia menarik nafas dalam-dalam.


"Sejujurnya, sebelumnya aku sempat berpikir untuk mengajukan cerai karena aku merasa menjadi orang yang menghambat masa depan dan kebahagiaanmu, karena itu aku berusaha menyembunyikannya darimu," Mata Ornado terbeliak, baginya sudah cukup hidup selama 15 tahun tanpa Cladia di sisinya, dan dia tidak akan mau mengulangi masa-masa itu.


"Berpisah lagi darimu, itu yang akan menghancurkan masa depan dan kebahagiaanku. Kumohon, jangan pernah memikirkan hal menakutkan itu lagi walaupun hanya sedetik. Jangan pernah berpikir untuk menjauh dan meninggalkanku." Ornado menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya di bahu Cladia, seperti seorang anak kecil yang memohon pada mamanya. Cladia mengangguk pelan, untuk saat ini satu-satunya yang diinginkannya adalah berusaha menjaga bayi dalam tubuhnya dan berusaha untuk menjadi istri yang terbaik bagi Ornado, laki-laki yang untuk berapa lama ini sudah berhasil membuat dadanya berdegup kencang saat berada dekat dengannya, membuatnya ingin selalu berada dekat dengannya, merasakan keberadaan laki-laki itu.


"Maafkan aku," Ornado menoleh mendengar permintaan maaf dari Cladia, mengecup puncak kepala Cladia lembut.


"Mintalah dan lakukan apa saja yang membuatmu bahagia, asal jangan pernah meninggalkan aku," Cladia melepas pelukan tanganya pada leher Ornado.


"Bisa menjadi wanita yang membuatmu bahagia sudah cukup bagiku," Ornado tersenyum, tangannya bergerak mengacak rambut Cladia lembut, merasa sedikit gemas.


"Sejak dulu hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuatku bahagia," Cladia tersenyum sambil menarik nafas lega.

__ADS_1


"Sudah siang, lebih baik kita masuk ke dalam," Tangan kanan Ornado bergerak melingkar di bahu Cladia.


"Aku masih ingin menikmati hembusan angin disini sambil menikmati keindahan kebun bunga mawar ini," Cladia berkata sambil pandangan matanya mengamati susunan bunga mawar yang membentuk huruf C di depannya.


"Amore mio, ingatlah kondisimu saat ini sedang hamil. Mulai sekarang kamu harus menjaga dirimu baik-baik, jangan membuat dirimu terlalu lelah, jaga pola makanmu, jaga kualitas makan dan tidurmu, jangan tidur terlalu malam, jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja," Tanpa sadar Cladia terkikik mendengar ucapan Ornado, selama ini dia tahu Ornado sangat memperhatikannya, tapi saat ini rasanya dia sedang dihadapkan pada seorang nenek-nenek yang cerewet.


"Al, sudah Al, aku bisa menjaga diriku," Ornado mengerutkan keningnya melihat tawa geli Cladia, tangannya bergerak melepaskan bahu Cladia dari pelukannya.


"Ternyata kamu jauh lebih cerewet dari Kak Jeremy, kukira laki-laki paling cerewet yang aku kenal adalah Kak Jeremy," Ornado tersenyum dikecupnya sekilas kening Cladia.


"Kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku karena terlambat mengetahui tentang kehamilanmu, rasanya seperti kehilangan kesempatan untuk menjagamu dan bayi kita," Cladia tersenyum, dengan sedikit ragu dan canggung disentuhnya punggung tangan kanan Ornado yang dengan cepat justru langsung menggenggam tangan Cladia.


"Terimakasih sudah mau menungguku begitu lama," Begitu mendengar perkataan Cladia, tangan kiri Ornado menepuk tangan kiri Cladia yang ada dalam genggaman tangan kanan Ornado.


"Kalau tidak menunggumu menurutmu siapa lagi wanita yang akan aku tunggu?" Tangan kiri Ornado meraih kepala Cladia dan menariknya untuk bersandar di bahunya.


"Mulai sekarang ijinkan aku menjadi laki-laki yang selalu siap menjadi sandaranmu kapanpun dan dimanapun kamu berada," Cladia mengangguk pelan mendengar permintaan Ornado.


Ternyata begini rasanya seseorang yang jatuh cinta, benar-benar hanya ingin memandangmu saja, tidak perduli dengan yang lain, mengubah ketakutan untuk dekat denganmu menjadi ingin selalu berada dekat denganmu, Cladia berkata dalam hati sambil tersenyum, menikmati nyamannya bersandar pada bahu Ornado.

__ADS_1


__ADS_2