
Cladia yang mendengar suara pintu ruangan dibuka dengan keras menoleh ke belakang dan dengan jelas dapat melihat Ola dengan gaun pestanya yang berlari ke arah Ornado, memeluknya dan terlihat melakukan gerakan untuk mencium Ornado, yang tentu saja bagi Cladia yang melihat posisi tubuh Ornado yang membelakanginya tidak dapat melihat bahwa Ornado berhasil mencegah Ola menciumnya.
Cladia menarik nafas panjang dan menggerakkan kembali kepalanya untuk memandang ke depan, berusaha untuk tidak memperdulikan apa yang terjadi di sisi lain ruangan itu, walaupun dari arah belakangnya dengan jelas dia masih mendengar teriakan-teriakan histeris dari Ola. Laurel segera mendekati Cladia dan duduk di sampingnya.
“Jangan hiraukan! Jangan dengarkan apapun yang wanita itu katakan,” Laurel menutup kedua telinga Cladia dengan lembut, Cladia mengangguk dengan pelan, tangannya mengelus perutnya lembut, berusaha untuk menahan perasaan sedihnya dengan mengingat adanya keberadaan bayi yang dikandungnya. Begitu Ola berhasil dibawa keluar dari ruangan pesta dan tidak lagi terdengar suara teriakannya, baru Laurel menarik kedua tangannya yang menutup telinga Cladia.
“Terima kasih,” Laurel tersenyum mendengar ucapan terimakasih Cladia.
“Kata-kata yang tidak berguna lebih baik tidak perlu kamu dengarkan, justru akan merusak mentalmu, kalau kamu bersedih, bayi yang ada di perutmu juga akan bersedih, apa yang dirasakan wanita yang sedang hamil akan berpengaruh besar terhadap perkembangan bayi dalam kandungannya, jadi lebih baik yang baik-baik dan membuat kita bahagia saja yang kita dengarkan. Lagipula aku juga mengenal Ad lebih lama dengan dirimu saat kecil, dia pria yang benar-benar mencintaimu dengan tulus sejak dulu,” Cladia mengangguk mendengar perkataan Laurel.
“Setiap aku bertemu Ad, dari cara dia memandangmu aku bisa melihat cintanya yang begitu dalam padamu,” Cladia menarik nafas panjang, sebenarnya dengan apa yang berapa lama ini Ornado lakukan untuknya lebih dari cukup untuk membuktikan betapa pria itu benar-benar mencintai dan menghargainya, rela melakukan apapun untuknya, tapi tindakan Ola barusan tetap saja membuat pikiran Cladia kacau. Ada satu pertanyaan besar dalam diri Cladia, sampai berapa lama Ornado akan bersabar demi dirinya sedangkan di luar sana banyak wanita cantik dan hebat yang siap menyerahkan dirinya tanpa syarat kepada pria setampan dan sehebat Ornado.
“Jangan memikirkan apapun tentang perkataan Ola,” Suara lembut Ornado yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya membuat Cladia tersentak kaget, menyadarkannya dari lamunannya. Sekilas Ornado melirik ke arah Laurel.
__ADS_1
“Terimakasih sudah menemani Cladia,” Laurel mengangguk, lalu bangkit berdiri.
“Tidak masalah. Ok, aku harus kembali ke sisi Tuan Shaw,” Ornado dan Cladia tersenyum, cukup geli mendengar candaan Laurel yang memanggil nama suaminya dengan sebutan Tuan Shaw.
Ornado segera mengambil posisi duduk di samping Cladia, tangan kanannya menyodorkan piring kecil berisi pai buah.
“Makanlah, maaf aku benar-benar tidak menyangka Ola akan muncul di tempat ini,” Cladia menggeleng.
“Aku yang salah, bagaimanapun dia itu masih saudaramu walaupun jauh, harusnya aku juga mengundang dia,” Ornado sedikit terkejut mendengar perkataan Cladia yang terdengar ada nada sedih di balik kata-katanya.
“Dengan hormat kami persilahkan untuk Tuan Ornado Xanderson maju ke depan,” Kata-kata Ornado terputus karena panggilan dari pembawa acara, pandangannya langsung beralih ke arah pembawa acara di depan.
“Silahkan Tuan Ornado Xanderson, sebentar lagi semua saudara, teman, sahabat, jajaran staff baik dari Bumi Asia dan Sanjaya akan memberikan kado ulang tahun kepada Tuan Ornado Xanderson. Mohon kesediaan Tuan Ornado Xanderson untuk menuju panggung di depan,” Ornado memandang ke arah Cladia sebelum bangkit dari duduknya.
__ADS_1
“Nyonya Xanderson, tolong dampingi aku untuk menerima hadiah di depan,” Cladia menoleh ke arah Ornado dengan wajah sedikit kaget, Ornado langsung tersenyum melihat respon Cladia.
“Di hari kita menikah kamu sudah mengucapkan janji untuk selalu bersamaku dalam suka maupun duka. Dimana ada Tuan Xanderson, harusnya disitu juga ada Nyonya Xanderson supaya semua orang tahu siapa Nyonya Xanderson yang sebenarnya. Satu-satunya Nyonya Xanderson,” Cladia menghela nafasnya, tapi akhirnya dia ikut bergerak bangkit bediri menyusul Ornado yang sudah duluan berdiri, lalu mereka berdua berjalan ke arah depan ruangan pesta.
Satu persatu dari pihak sabahat, teman, saudara, perwakilan dari Bumi Asia dan Sanjaya memberi kado kepada Ornado yang begitu menerima kado langsung menyerahkannya ke tangan Cladia yang selanjutnya dibantu oleh Amalia untuk menatanya di atas meja yang sudah disiapkan.
Ketika giliran James memberikan hadiah Cladia masih bisa tersenyum lebar, tapi begitu Amadea yang ada di belakang James memberikan kado kepada Ornado, ada sedikit rasa nyeri di dada Cladia. Bukan karena kado yang diberikan Amadea kepada Ornado, tapi pelukan dan ciuman mesra di pipi Ornado yang dilakukan oleh Amadea yang membuat tiba-tiba Cladia merasakan nyeri dan sedikit sesak di dadanya, yang dia sendiri tidak dapat mengerti kenapa dia mengalami itu. Semua orang sudah memberikan kadonya kepada Ornado, tapi satu-satunya gadis yang berani memeluk dan mencium Ornado hanya Amadea. Walaupun Cladia mengerti bagi orang Eropa mungkin itu sesuatu yang bisa dilakukan di negara mereka, tapi bagi Cladia itu masih merupakan sesuatu yang tidak pantas dilakukan di negara ini.
“Yang terakhir kita akan persilahkan Nyonya Cladia Xanderson memberikan hadiahnya kepada Tuan Ornado Xanderson,” Cladia sedikit tergagap, tersentak kaget karena lengan Niela yang langsung menyenggolnya karena dilihatnya Cladia yang terdiam tidak merespon perkataan pembawa acara.
“Giliranmu untuk memberikan kado untuk Ornado”, Niela berbisik ke telinga Cladia yang buru-buru memandang ke Amalia yang langsung tanggap dan mengerti, menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus rapi dengan kertas kado dan pita ke arah Cladia.
Cladia bergerak dari samping Ornado ke depan Ornado sehingga mereka saling berhadap-hadapan, semua tamu dengan wajah tersenyum menanti Cladia memberikan hadiahnya kepada Ornado yang sedari tadi wajahnya dipenuhi dengan senyum bahagia. Cladia menyodorkan kado di tangannya ke arah Ornado, dalam pikirannya silih berganti terbayang tentang Ola dan Amadea yang mencium Ornado, rasanya ada sesuatu di dadanya yang membuat dia merasa benar-benar tidak nyaman mengingat kejadian itu. Ada rasa tidak rela di dalam hatinya.
__ADS_1
Tanpa disadarinya tiba-tiba tubuh Cladia bergerak mendekati Ornado, kakinya yang menggunakan high heels tiba-tiba berjijit, bibirnya bergerak mencium bibir Ornado yang langsung membeliakkan matanya karena kaget, dengan posisi kedua tangan Ornado dan Cladia masih memegang kotak hadiah di tangan mereka secara bersamaan. Walaupun ciuman Cladia hanya berlangsung 2-3 detik sontak membuat semua tamu undangan tersenyum dan bertepuk tangan melihat kemesraan mereka. Jeremy, Niela, dan Laurel tersentak kaget, bahkan Niela dan Laurel langsung menutup mulut mereka dengan telapak tangan karena benar-benar tidak menyangka Cladia melakukan itu.
Bagi orang yang tidak mengetahui kondisi Cladia, mungkin hal itu dianggap hal yang biasa antara suami dan istri, tapi bagi Jeremy, Niela dan Laurel itu merupakan kemajuan yang luar biasa bagi Cladia. Apalagi bagi Ornado, untuk beberapa saat dia merasa seolah-olah jantungnya berhenti berdetak karena kaget dan bahagia yang bercampur aduk menjadi satu di hatinya, tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Ornado karena saat kejadian itu dia sempat melihat sekilas, saat Cladia menciumnya, dia melihat ada kesedihan di mata Cladia, matanya sedikit berkaca-kaca, dan hampir meneteskan airmata. Dia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Cladia sampai wajah dan matanya menunjukkan kesedihan seperti itu pada saat bibir mereka bertemu. Ornado justru bisa mengerti jika itu wajah ketakutan, tapi wajah sedih dari Cladia, Ornado benar-benar tidak mengerti apa yang membuat wanita yang dicintainya berwajah sedih seperti itu.