
Setelah acara dansa selesai, Ornado dan Cladia diikuti Afro berjalan menuju ruang kerja Ornado di mansionnya. Sesuai dengan janji Ornado kepada beberapa wartawan yang khusus diundangnya di pesta malam ini, malam ini Ornado sengaja menyediakan waktu untuk sesi wawancara dengan para wartawan seputar fakta tentang pernikahannya yang cukup menghebohkan bagi mereka yang sebelumnya tidak pernah tahu ada cerita tentang Ornado menjalin hubungan dengan seorang gadis sebelumnya.
Selama ini yang mereka tahu hanyalah cerita tentang kehebatan Ornado, bagaimana dengan kejeniusannya dalam berbisnis dan kemampuannya memimpin membuatnya sukses dalam membangun kerajaan bisnisnya yang awalnya hanya ada di beberapa bagian di negara-negara Eropa, tapi dalam dua tahun ini sudah mulai merambah keluar, ke semua benua bahkan sampai ke Asia, termasuk Indonesia.
“Selamat malam saudara-saudara, malam ini sesi wawancara dengan Tuan Ornado Xanderson akan dibuka, kalian diijinkan untuk menanyakan perihal seputar hubungan Tuan Ornado Xanderson dengan Nyonya Cladia Xanderson yang saat ini sedang menjadi sorotan publik di negara ini,” Afro memberikan kata-kata pembukaan sebelum sesi wawancara dimulai, sekilas diliriknya Ornado yang duduk berdampingan dengan Cladia di sofa yang ada di ruang kerjanya, yang sudah siap dengan sesi wawancara malam ini. Ornado duduk di samping kanan Cladia dengan salah satu kakinya disilangkan, menumpu pada kaki lainnya, dengan punggungnya bersandar pada sandaran sofa di belakangnya, terlihat santai, namun tetap terlihat berwibawa dan berkharisma seperti biasanya.
“Baiklah, selanjutnya kami persilahkan untuk memulai sesi wawancara, minta tolong semua untuk tenang dan tidak berebut dalam mengajukan pertanyaan,” Afro yang awalnya berdiri, setelah mempersilahkan para wartawan untuk memulai wawancaranya segera mundur dan mengambil posisi duduk di sebelah timur Ornado dan Cladia.
"Tuan Xanderson, sebenarnya sudah berapa lama Anda menikah dengan Nyonya? Kami dengar kalian berdua sudah cukup lama menikah. Kenapa baru sekarang mengumumkan hubungan kalian?" Ornado tersenyum mendengar pertanyaan itu, dia berdehem pelan sebelum memulai untuk menjawabnya.
"Kami sudah menikah di Indonesia hampir 4 bulan yang lalu. Tidak ada niat untuk menyembunyikan status kami berdua, hanya istriku yang masih muda ini ingin berkonsentrasi terlebih dahulu terhadap pekerjaan yang saat ini sedang didalaminya. Pekerjaan itu sedang banyak menguras energinya, jadi kami berdua sepakat untuk menunda mengumumkan pada dunia luar tentang hubungan kami. Mohon dimengerti, dia memiliki sifat khas orang Asia yang sedikit pemalu," Ornado meraih bahu Cladia yang ada disamping kirinya dengan tangan kirinya dan memeluk bahunya dengan hangat, menunjukkan bahwa Ornado sangat mendukung istrinya dalam segala hal, termasuk dalam pekerjaannya, membuat beberapa wartawan yang berkumpul di ruangan itu saling berpandangan dan mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menuliskan sesuatu di buku catatan mereka.
Mendengar penjelasan Ornado membuat Cladia tersipu malu, walaupun awalnya alasan sebenarnya dia tidak mau berita pernikahannya tersebar karena saat itu di masih berusaha mempertimbangkan keputusannya untuk bercerai dengan Ornado, tapi dengan jawaban Ornado barusan menunjukkan Ornado begitu melindunginya, Ornado tidak akan pernah membuat dia sebagai istri Ornado dipermalukan di depan orang lain.
“Tuan Xanderson, dimana pertama kali Anda bertemu dengan Nyonya? Apakah dua tahun lalu saat Anda mulai menancapkan bendera Grup Xanderson dengan nama Bumi Asia di Indonesia?” Ornado sedikit menahan nafasnya mendengar pertanyaan berikutnya.
__ADS_1
“Tidak, jauh sebelum itu saya sudah bertemu dan berteman dengannya. Bukan sekedar kenal, bahkan kami merupakan teman sepermainan waktu kecil. Saat itu dimana ada saya, pasti ada dia juga ada di samping saya. Sebelum 15 tahun lalu kami sangat dekat, bahkan saya ikut menyaksikan proses kelahirannya. Saya adalah laki-laki pertama yang melihatnya setelah dia dilahirkan,” Cladia langsung menoleh, memandang ke arah Ornado. Dia benar-benar tidak tahu ada kisah seperti itu di seputar kelahirannya, Ornado hanya tersenyum melihat wajah kaget Cladia. Kisah itu bahkan mungkin Jeremy tidak mengetahuinya sama sekali, apalagi Cladia. Dan selama ini belum pernah sekalipun Ornado menceritakan kejadian itu pada siapapun, termasuk papanya, Alberto Xanderson.
“Saat itu mama saya dan mama Cladia yang sedang hamil besar melakukan perjalanan ke kota asal mama Cladia bersama saya dan Jeremy, karena kakek Cladia meninggal. Sesampainya disana mama saya langsung sibuk membantu keluarga disana, pergi berbelanja keperluan acara peringatan meninggalnya kakek Cladia. Ketika mama saya sedang tidak ada di tempat, mama Cladia merasakan perutnya mengalami kontraksi. Waktu itu saya masih anak kecil yang masih berumur 6 tahun, yang bisa saya lakukan saat itu adalah memberitahu Jeremy untuk melakukan panggilan telp kepada papanya dan memberitahu keluarga yang lain, sedang saya langsung memanggil sopir untuk menemani saya mengantar mama Cladia ke rumah sakit,” Afro tersenyum mendengar penjelasan Ornado, bahkan sejak berumur 6 tahun Ornado sudah terlihat begitu kuat jiwa kepemimpinannya, dengan sigap bisa mengatasi situasi yang bagi anak normal seumurannya pasti akan menjadi saat yang sulit.
Ornado melirik ke arah Cladia sekilas sambil tersenyum, teringat kembali saat detik-detik kelahiran Cladia, bukan papa Cladia, bukan Jeremy atau bahkan saudara-saudara yang lain, justru saat itu dia yang terus berada di samping mama Cladia dan memegang tangan mama Cladia dengan erat, seolah ingin memberinya kekuatan. Sepanjang perjalanan dari rumah kakek nenek Cladia sampai ke rumah sakit Ornado tetap memegang erat tangan mama Cladia sampai beberapa saat sebelum mama Cladia dibawa masuk oleh para perawat ke dalam ruang bersalin.
Setelah mama Cladia melahirkan, beberapa saat kemudian Ornado yang saat itu masih berumur 6 tahun hanya bisa mengintip lewat pintu kamar rumah sakit tempat mama Cladia menginap, yang terlihat sedikit terbuka. Saat itu papa Cladia dan mama Ornado sudah berdiri di samping tempat tidur rumah sakit dimana mama Cladia sedang duduk di atas tempat tidur sambil menggendong Cladia yang baru saja selesai dibersihkan oleh perawat dan diserahkan ke mamanya untuk disusui setelah dilahirkan.
Melihat Ornado yang mengintip di sela-sela pintu yang terbuka sedikit, mama Cladia langsung memberi kode kepada papa Cladia untuk memanggil Ornado untuk masuk. Dengan wajah ceria Ornado bergegas berlari mendekat ke arah mama Cladia. Dengan berjinjit dilihatnya bayi kecil di hadapannya, yang sedang dalam gendongan mamanya. Mama Cladia mendekatkan bayinya ke arah Ornado agar Ornado dapat melihat bayi itu dengan jelas.
“Mama, cantik sekali bayi kecilnya. Bolehkah bayi ini kita bawa pulang ke rumah kita? Jangan khawatir ma, aku yang akan menjaga bayi cantik ini,” Mama Cladia tertawa mendengar pujian Ornado untuk bayi perempuan yang baru saja dilahirkannya. Ornado mengamati wajah bayi kecil tersebut dengan mata berbinar, tampak bahwa Ornado sangat menyukai bayi kecil itu, apalagi ketika Ornado berniat mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi bayi kecil itu tiba-tiba jari-jari tangan kanan bayi kecil itu meraih tangan Ornado dan menggenggamnya dengan erat.
“Tuan Xanderson, apa yang membuat Tuan jatuh cinta kepada Nyonya?” Ornado tersenyum, sebenarnya itu pertanyaan klasik yang akan ditujukan kepada semua pasangan baru, tapi dia ingin menjawab pertanyaan itu untuk menunjukkan pada dunia memang sejak awal Cladia memang ditakdirkan untuknya.
“Sejak dia lahir, dia yang pertama menggenggam tangan saya, saat itu saya tahu di masa depan, saya pasti akan menggenggam tangan yang sama untuk membawanya berdiri mendampingi saya, memasuki kehidupan saya. Sejak dia lahir dia membuat mata saya tidak bisa beralih darinya,” Ornado menjawab pertanyaan itu sambil memandangi wajah Cladia dalam-dalam, dia baru menyadari, ternyata dia sudah jatuh cinta kepada Cladia dan memutuskan untuk menjadikan Cladia istri masa depannya bukan sejak 15 tahun lalu, tetapi sejak 21 tahun lalu, sejak hari dimana Cladia dilahirkan, dan menggenggam erat tangan Ornado.
__ADS_1
“Waaa..ahhh,” Orang-orang yang ada di ruangan itu saling berpandangan dan tersenyum mendengar penjelasan dari Ornado. Wajah Cladia tersipu mendengar jawaban Ornado yang terdengar begitu romantis bagi yang mendengarnya, termasuk bagi dirinya sendiri.
“Untuk Nyonya, apa yang membuat Nyonya jatuh cinta kepada Tuan Xanderson?” Mendengar pertanyaan itu Cladia sedikit tersentak dan membuatnya sedikit gugup, dengan cepat tangan kanan Ornado meraih tangan Cladia yang berada di pangkuannya dan menggenggamnya dengan erat.
“Selama hidup saya, hanya dialah satu-satunya pria yang bisa membuat saya merasa nyaman sekaligus berdebar-debar, satu-satunya pria yang saya inginkan untuk menjadi suami dan ayah dari anak-anak saya,” Jeremy yang berdiri tidak jauh dari situ tersenyum lebar mendengar jawaban Cladia, sedang Ornado hanya bisa menggigit bibirnya sambil tersenyum dengan wajah terlihat sedikit salah tingkah. Kalau saja Ornado tidak ingat saat ini mereka sedang melakukan sesi wawancara di depan banyak orang, tidak segan-segan dia akan menarik tubuh Cladia dalam pelukannya dan menghujaninya dengan banyak ciuman mesra karena pengakuan yang baru saja diberikan Cladia tentang cintanya pada Ornado.
"Rencananya berapa anak yang ingin kalian miliki?"
"Tiga!" Tanpa sengaja dengan spontan Orando dan Cladia menjawab pertanyaan itu secara bersamaan, membuat mereka berdua langsung saling berpandangan dan tertawa kecil menyadari sikap spontan mereka barusan yang ternyata sama-sama menyebutkan jumlah angka yang sama, padahal sedari awal mereka tidak melakukan kesepakatan apapun untuk menjawab pertanyaan itu. Alhasil kekompakan mereka membuat para wartawan yang melakukakan wawancara lagi-lagi tersenyum melihat manisnya sikap mereka berdua. Lengan kiri Orando yang masih melingkar di bahu Cladia mempererat pelukannya, membuat tubuh Cladia semakin mendekat ke arah Ornado.
Beberapa pertanyaan seputar hubungan Ornado dan Cladia masih terdengar, sampai Afro menyatakan bahwa waktu yang disiapkan untuk wawancara sudah habis dan dengan segera Afro menutup sesi wawancara malam itu.
"Terimakasih untuk semua rekan-rekan wartawan, malam ini kita tutup sesi wawancara kita, semoga hasil wawancara malam ini cukup memuaskan semuanya," Para waratawan yang mendengar itu tersenyum, menyatakan setuju dengan apa yang baru diucapkan oleh Afro.
"Tuan Xanderson, untuk terakhir kalinya, bolehkah kami meminta foto Anda berdua?" Ornado sedikit mengernyitkan dahinya mendengar permintaan dari salah satu wartawan, sekilas diliriknya Cladia yang hanya tersenyum menanggapi permintaan itu.
__ADS_1
"Ok, kami akan berikan sesuai permintaan kalian," Ornado menepuk kedua pahanya dengan kedua telapak tangannya, lalu bangkit berdiri. Setelah itu dia mengulurkan tangan kirinya ke arah Cladia yang masih dalam posisi duduk. Begitu Cladia meraih tangannya, Ornado langsung menariknya lembut, membantunya untuk bangkit berdiri.
Ornado menarik tubuh Cladia agar berhadap-hadapan dengannya dan mendekat ke arahnya. Begitu tubuh mereka sudah berdekatan Ornado melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Cladia, sedang Cladia dengan reflek langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher Ornado. Sedetik kemudian Orando menundukkan kepalanya, membiarkan keningnya bersentuhan dengan kening Cladia yang mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Ornado, sejenak mereka berdua tertawa dengan bahagia karena gerakan spontan mereka yang ternyata terlihat begitu mesra, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh para wartawan untuk mengabadikan momen mesra tersebut.