My Wild Rose

My Wild Rose
MIMPI BURUK


__ADS_3

Ornado langsung menyerahkan pencopet yang sudah ditangkapnya kepada para petugas keamanan yang baru saja datang karena mendapat laporan dari beberapa orang pengunjung lainnya.


"Terimakasih untuk bantuannya pak," Salah seorang petugas keamanan berkata kepada Ornado yang hanya mengangguk sambil tersenyum.


Ornado membalikkan tubuhnya, begitu melihat Cladia berjalan mendekat ke arahnya bersama kedua pengawal wanitanya, Ornado langsung berlari mendekat ke arahnya.


"Kenapa menyusulku kesini?" Cladia hanya tersenyum melihat wajah khawatir Ornado. Selain Jeremy, Cladia hanya pernah melihat satu wajah pria lain yang begitu mengkhawatirkannya, Ornado Xanderson. Tanpa disadarinya itu membuatnya sedikit merasa tersanjung, karena kekhawatiran Ornado menunjukkan betapa laki-laki itu begitu menganggapnya sebagai sosok yang penting bagi dia.


"Aku baik-baik saja," Ornado menyodorkan tas Cladia yang berhasil direbutnya kembali dari pencopet tadi. Walaupun Cladia berkata kalau dia baik-baik saja tampak ada rasa tidak puas di wajah Ornado karena Cladia tidak menuruti perkataannya tadi.


"Lain kali tetaplah di tempatmu semula sampai aku kembali padamu, aku tidak mau kamu membahayakan dirimu," Kedua pengawal wanita Cladia segera menjauh dari mereka berdua setelah Ornado kembali ke samping Cladia.


"Tidak akan terjadi apa-apa Al, jangan terlalu khawatir," Ingin sekali Ornado mengelus kepala Cladia untuk menunjukkan rasa bersyukurnya karena Cladia baik-baik saja. Pandangan mata Cladia yang masih menatapnya sedari tadi membuat Ornado menyunggingkan senyumnya.


"Jangan memandangku seperti itu, seolah-olah hari ini aku jadi pahlawan kesiangan," Cladia tersenyum, dia harus mengakui tindakan pria di depannya tadi terlihat begitu memukau dan mengagumkan.


"Hari ini memang kamu jadi seorang pahlawan," Ornado tertawa santai mendengar pujian Cladia.


"Tapi daripada menjadi pahlawan yang memenangkan pertarungan, aku jauh lebih ingin memenangkan hati seseorang," Wajah Cladia langsung memerah mendengar perkataan Ornado dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Selamat malam pak," Seorang petugas keamanan mendekati Ornado dan Cladia, Ornado segera menoleh mendengar sapaan itu.


"Malam pak, ada yang bisa saya bantu?" Ornado membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah petugas keamanan yang menyapanya, sehingga mereka berhadap-hadapan.


"Bisakah Bapak dan Ibu datang ke pos keamanan untuk membantu kami memberikan laporan tentang kejadian barusan?" Ornado sekilas mengernyitkan dahinya mendengar permintaan dari petugas keamanan di depannya.


"Ok, kami akan kesana, tapi kami tidak mau memperpanjang masalah ini, kami tidak akan menuntut apa-apa kepada pencopet tadi," Ornado melirik ke arah Cladia yang langsung mengangguk mendengar perkataan Ornado tanda setuju dengan keputusan yang diambil Ornado.


"Dan kami minta kejadian hari ini tidak akan muncul di berita manapun pak, apalagi sampai menyebutkan nama asli kami, kami mau menyelesaikannya secara damai," Petugas keamanan itu terdiam sebentar, tidak berani menjanjikan apa-apa, tetapi setelah melihat 4 orang berpakaian rapi di dekat mereka berdua, yang dari cara berpakaian dan postur tubuh mereka, terlihat jelas seperti pengawal, dia bisa menilai bahwa pria dan wanita yang ada di depannya saat ini bukan orang sembarangan, apalagi melihat mata biru Ornado dan wajah bulenya, yang pasti tidak mau privasinya terganggu. Akhirnya petugas tersebut menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya mengajak Cladia dan Ornado ke pos keamanan.

__ADS_1


Cladia langsung menarik nafas panjang begitu keluar dari ruang pos keamanan, Ornado yang berdiri di sampingnya menggerak-gerakkan kepalanya dengan tangan kanannya ke kanan atas dan ke kiri atas untuk mengurangi lelahnya.


"Kita mau pulang sekarang? Atau kamu masih ingin berjalan-jalan lagi?" Cladia sedikit mengernyitkan dahinya sambil menutup matanya, rasanya badannya cukup lelah karena kejadian barusan.


"Kita beli beberapa makanan dulu setelah itu kita pulang,"


"Ok," Ornado menjawab sambil tangannya memberi kode kepada 2 pengawal wanita yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka.


"Bantu nyonya untuk membeli beberapa makanan untuk dibawa pulang," kedua pengawal itu langsung mengangguk dan berjalan mengikuti Cladia yang sibuk melihat ke kanan dan ke kiri, mencoba memilih apa saja yang akan dibelinya untuk orang-orang di rumah. Tidak sampai 1 jam kedua tangan pengawal Cladia penuh dengan barang-barang belanjaan Cladia.


“Benar-benar hebat, aku sudah membeli barang sedemikian banyak, tapi uang yang aku belanjakan rasanya masih sedikit sekali,” Ornado tertawa mendengar perkataan Cladia.


Ternyata wanita di belahan dunia manapun sama saja, mereka akan merasa begitu bangga kalau bisa mendapatkan barang dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga yang biasanya dia tahu, Ornado berkata dalam hati dengan matanya melirik ke arah Cladia yang masih dengan wajah penuh senyumnya. Benar-benar pemandangan yang sangat indah bagi Ornado. Senyum  bahagia di wajah Cladia membuatnya terlihat semakin cantik.


Aku harap, di hari-hari ke depan aku bisa selalu membuatmu tersenyum seperti hari ini, membuatmu bisa melupakan setiap kenangan buruk yang pernah kamu alami, Ornado berbisik dalam hatinya, menghela nafasnya, mengarahkan pandangan matanya ke langit yang malam ini terlihat cerah dengan banyaknya bintang yang bersinar terang.





“Cla…” Ornado bangkit dari posisi tidurnya, dengan posisi duduk dia menggeser tubuhnya mendekat ke arah Cladia yang meronta-ronta.


“Pergi! Jangan sentuh aku!” Tiba-tiba Cladia bangun dari posisi tidurnya, duduk di atas tempat tidurnya, dengan kondisi mata tetap tertutup rapat, tangannya sibuk bergerak ke kanan ke kiri seolah-olah sedang mengusir sesuatu.


“Cla….bangun Cla….” Dengan lembut Ornado mencoba membangunkan Cladia yang tampaknya sedang bermimpi buruk sampai dia berteriak histeris.


“Kak Jeremy! Al! Tolong aku!” Mendengar Cladia memanggil namanya, reflek Ornado bergerak memeluk tubuh Cladia tanpa berpikir panjang lagi, mengelus-elus belakang kepalanya dengan lembut, mencoba untuk memberinya rasa aman.


“Tenang Cla, aku disini, jangan takut,” Orando berbisik lembut di telinga Cladia. Sebentar kemudian terdengar suara tangis Cladia. Dengan tergesa-gesa Ornado melepas pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Cladia, dilihatnya wajah Cladia yang mulai penuh dengan airmata dengan mata masih tertutup. Ornado sedikit menarik nafas lega, paling tidak Cladia bukan menangis karena ketakutan akibat pelukannya barusan.


“Al, tolong aku!” Ornado sedikit tertegun mendengar suara Cladia barusan memanggilnya sambil terisak dan masih dalam posisi mata tertutup. Dengan lembut Ornado membantu meletakkan kembali tubuh Cladia dalam posisi tertidur, lalu mengelus-elus dahi dan kepalanya.

__ADS_1


“Tenang Cla, ada aku disini, tidak akan ada yang bisa menyakitimu,” Entah karena perkataan Ornado atau karena mimpi buruknya sudah berakhir, Cladia menarik nafas panjang dalam tidurnya dan pelan-pelan nafasnya mulai teratur, menunjukkan dia mulai tenang kembali.


Walaupun hanya dalam mimpi buruk, rasanya senang sekali mendengarmu memanggil namaku untuk menolongmu. Sepertinya di alam bawah sadarmu kamu sudah mulai mempercayakan hidupmu padaku, kamu mulai percaya aku mampu melindungimu, Ornado berbisik dalam hati. Mata Ornado memandang Cladia dengan tatapan lembut dan senyuman yang tersungging di bibirnya.


Aku tidak tahu mimpi buruk apa yang barusan kamu impikan, aku harap itu bukan tentang aku yang melakukan sesuatu yang buruk kepadamu, Ornado berkata dalam hati sambil menghela nafasnya.


Setelah beberapa lama Ornado menghentikan gerakan tangannya untuk mengelus kepala Cladia dan menggerakkan badannya untuk kembali ke posisi tidurnya semula. Untuk beberapa saat ke depan dia masih mengawasi Cladia dalam tidurnya, begitu Cladia sudah terlihat benar-benar tenang dalam tidurnya Ornado baru dapat memejamkan matanya untuk tidur.





“Sudah lama sekali sebelum kalian menikah Cladia tidak pernah bermimpi buruk lagi,” Jeremy berkata sambil mengernyitkan dahinya mendengar cerita Ornado tentang kejadian semalam via telepon.


“Memang sejak kejadian 5 tahun lalu Cladia ada kecenderungan untuk mengalami somnabulisme (suatu kondisi berulang di mana seseorang bangun, berjalan, atau melakukan berbagai kegiatan dalam keadaan tidur). Setelah kejadian 5 tahun lalu memang hampir setiap hari dia mengalami itu. Tapi rasanya sudah lama tidak pernah kambuh. Apa kemarin ada suatu kejadian di luar dari biasanya?” Ornado mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Jeremy.


“Menurut dokter Renata, ada banyak faktor penyebab somnabulisme, bisa karena keturunan, pengaruh konsumsi obat-obatan tertentu, kurang tidur, jadwal tidur tidak teratur, stress, demam, menstruasi, kehamilan, serangan panik. Menurutmu mana alasan yang paling tepat untuk Cladia?” Belum sempat Ornado menjawab pertanyaan Jeremy, Jeremy sudah menjelaskan lagi detail tentang somnabulisme yang dialami Cladia.


“Kemaren malam kami pergi ke pasar malam,” Ornado berkata dengan nada pelan, karena tahu pasti sebentar lagi Jeremy akan protes mendengar apa yang dia katakan.


“Apa? Pasar malam? Apa aku tidak salah dengar? Kamu nekat sekali mengajaknya kesana Ad!” Jeremy sedikit menaikkan nada bicaranya mendengar perkataan Ornado barusan.


Ornado menarik nafas panjang, memang sebenarnya hal itu cukup beresiko tinggi untuk kondisi Cladia saat ini, tapi mengingat wajah bahagia Cladia tadi malam rasanya bila bisa mengulang Ornado akan tetap memutuskan mengantarnya kesana, tentu saja dengan harapan kejadian pencopetan itu tidak tejadi lagi.


“Tenang Jer, Cladia sendiri yang meminta, bukan aku yang mengajaknya. Jangan emosi dulu, Cladia sudah lama menginginkan pergi ke tempat seperti itu, harusnya kamu melihat bagaimana bahagianya dia kemarin. Kalau kamu melihatnya aku jamin kamu juga tidak akan tega menghalanginya untuk pergi kesana.” Jeremy terdiam, baru saja dia tersadar, saat ini Ornado adalah suami Cladia, yang pasti lebih berhak dalam memutuskan apapun tentang Cladia, hanya saja sebagai kakak kadang tanpa sadar dia masih merasa Cladia sebagai adik kecilnya yang harus dia jaga dan atur kehidupannya, harus selalu dia lindungi.


“Maaf Ad, kadang aku masih sering lupa kamu sebagai suami Cladia sekarang posisimu lebih berhak memutuskan apa yang terbaik buat Cladia,” Ornado tersenyum, beruntung sekali Cladia memiliki kakak sebaik Jeremy, dalam pikirannya tidak terbersit sedikitpun untuk tersinggung dengan tindakan Jeremy barusan. Kalau dia ada di posisi Jeremy dia pasti akan mengatakan hal yang sama.


“It’s ok. Sebenarnya kemarin malam semua baik-baik saja, tapi sempat ada seseorang yang tiba-tiba berniat mencopet tas Cladia, mungkin karena itu dia sedikit kaget tadi malam.” Jeremy melotot mendengar perkataan Ornado.


“Apa? Pencopet? Bagaimana dengan Cladia? Kenapa kamu baru cerita pagi ini Ad?” Dari suara Jeremy jelas terdengar nada protes kepada Ornado.

__ADS_1


“Kalaupun semalam aku menceritakan padamu, apa itu akan mengubah keadaan? Lagipula aku tidak mau Cladia menganggapku orang yang bermulut ember, sebentar-sebentar harus lapor ke kamu, tolong pertimbangkan perasaan Cladia, bagaimana kalau dia tahu sedikit masalah saja aku sudah menelponmu. Bagaimanapun dia wanita yang sudah menikah, pasti dia tidak ingin merepotkan kamu lagi, walaupun kamu adalah satu-satunya saudara kandungnya,” Jeremy menahan nafasnya sebentar kemudian menghembuskannya, tentu saja apa yang dikatakan Ornado semua benar, tapi sekilas dalam hatinya tetap ada rasa tidak rela Cladia berada dalam masalah.


__ADS_2