
"Aku anggap aku tidak pernah mendengar apa yang baru saja kamu katakan," Ornado memandangi wajah Cladia dengan tersenyum lembut, Cladia masih menatap wajah Ornado dengan tatapan sendu, lehernya terasa begitu kering, sehingga tidak mampu lagi mengeluarkan suara untuk menjawab perkataan Ornado.
"Hanya aku yang mampu melindungimu, jangan pernah mempertanyakan hal aneh itu lagi, bahkan hanya memikirkannya pun jangan pernah, karena sampai kapanpun, kemanapun kamu berusaha pergi menjauhiku, dengan sekuat tenaga aku akan berlari ke arahmu, aku akan menjagamu untuk tetap berada di sisiku," Cladia menundukkan wajahnya, Ornado berjalan menjauhi Cladia menuju pintu keluar, baru beberapa langkah Ornado berhenti, kembali membalikkan badan melihat kearah Cladia yang masih terdiam di tempatnya.
Ah, bagaimana caraku untuk menunjukkan betapa aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu, tidak perduli apa yang kamu katakan, apa yang kamu lakukan, aku akan tetap mencintaimu, Ornado berkata dalam hati dengan matanya mengamati Cladia yang masih melamun dengan tatapan kosong. Akhirnya Ornado menarik nafas panjang sebelum mengeluarkan suaranya kembali.
"Cla, kamu menunggu apa? Sudah waktunya kita pulang, bersiap untuk pesta pertunangan anak Om Setiawan malam ini," Cladia sedikit tersentak, tersadar dari lamunannya dan bergegas mengambil tasnya dan berjalan mengikuti Ornado.
©©©©©©©
Cladia yang sudah selesai berdandan berjalan menuruni tangga dari arah kamarnya, dia menghentikan langkahnya ketika dilihatnya Ornado yang sudah rapi memakai jasnya dengan warna senada dengan gaun yang dikenakannya hari itu, berdiri dengan tangan dilipat, dengan posisi sedikit membelakanginya memandang keluar jendela besar di ruang tamu. Entah apa yang dipikirkan pria itu, Cladia berkata dalam hati, pikirannya kembali teringat kejadian tadi siang di kantor, sebentar matanya sedikit menyipit melihat postur tubuh Ornado dari samping yang diterpa cahaya matahari sore yang menembus jendela ruang tamu, membuat tubuh Ornado terlihat sedikit menyilaukan.
Benar-benar seorang pria yang tampan, dengan rambutnya berwarna hitam kelam tersisir rapi, tubuhnya yang tinggi dan atletis, matanya yang biru yang seringkali menatapnya dengan lembut walaupun kadang di saat-saat tertentu terasa mendominasi, hidung mancung dan bibir tipisnya yang seringkali dipenuhi senyum untuk menggodanya.
Harus diakui, kamu benar-benar pria yang bisa membuat banyak wanita bertekuk lutut di hadapanmu, tidak heran gadis secantik dan sepopuler Amadea pun berusaha mendapatkan perhatianmu, Cladia berbisik dalam hati, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam. Ornado, pria yang sebenarnya adalah miliknya, tapi dia merasa tidak punya kekuatan untuk menggapai pria itu, seolah ada pintu besar diantara mereka dan Cladia tidak tahu apakah pintu itu suatu hari akan bisa terbuka dan menyatukan mereka.
Merasa ada yang memperhatikannya, Ornado menggerakkan badannya ke samping, matanya langsung mengarah ke arah tangga. Ornado menatap Cladia yang memakai gaun pesta design dari butiknya dengan tatapan terpesona. Dengan riasan tipis di wajahnya, rambutnya yang panjang tergelung rapi, dihiasi hiasan rambut berbentuk rangkaian bunga mawar yang dipenuhi dengan permata, di lehernya terlihat kalung yang sama dengan yang dipakai Cladia pada hari pernikahan mereka, membuat Cladia tampil sempurna dengan wajah cantiknya. Benar-benar pemandangan yang membuat Ornado sulit untuk mengedipkan matanya.
Cantik, gadis tercantik yang pernah aku temui, sampai kapanpun kamu tetap membuatku terpesona, dan tetap membuat hatiku berdebar-debar, Ornado berbisik dalam hati, tersenyum lembut dan berjalan mendekati Cladia yang masih terdiam berdiri di tengah-tengah tangga.
"Jangan terlalu terpesona, suamimu memang terlalu tampan untuk tidak membuat kamu terkagum-kagum," Cladia sedikit melotot mendengar perkataan Ornado yang menggodanya., Ornado tertawa kecil mendapat bonus pelototan dari Cladia.
"Gaunnya cocok sekali denganmu Cla, sepertinya kamu harus sering-sering berbelanja disana," Cladia sedikit tersipu mendengar pujian Ornado.
"Ayo, papa sudah menunggu kita di mobil," Tanpa berkata-kata lagi Ornado berjalan ke arah mobilnya diikuti Cladia.
©©©©©©©
“Selamat datang Tuan Alberto, Tuan Ornado dan Nyonya Cladia,” Dua orang tampak bergegas menyambut kedatangan Ornado dan Cladia yang datang bersamaan dengan Alberto. Begitu melihat siapa yang datang, tuan rumah segera mendekati mereka bertiga.
“Selamat datang,” Om Setiawan Budiman sebagai tuan rumah langsung menyalami Ornado dan Alberto, sebentar kemudian mata Om Setiawan memandang ke arah Cladia.
__ADS_1
“Selamat datang nyonya, senang bertemu dengan anda,” Cladia yang berdiri di samping kanan Ornado terdiam sesaat ketika Om Setiawan mengarahkan tangan kanan kearahnya untuk memberi salam, Ornado berniat berbicara untuk mengalihkan perhatian Om Setiawan, tapi tiba-tiba tangan Cladia terulur menyambut tangan Om Setiawan, menjabatnya sekilas dan langsung menariknya kembali, sedangkan tanpa diketahui oleh orang lain tangan kiri Cladia meremas jas Ornado dengan erat, untuk membantunya mengendalikan dirinya agar tidak menampik tangan Om Setiawan dengan keras.
“Ah, kami akan menemui tamu yang lain dulu Om, mungkin Om perlu ngobrol dengan papa yang sudah lama tidak bertemu,” Ornado segera mengalihkan perhatian Om Setiawan yang langsung mengangguk. Ornado bersama Cladia langsung berjalan ke arah lain menjauhi Om Setiawan, sedang Alberto masih asyik berbincang dengan Om Setiawan.
“Apa kamu baik-baik saja Cla?” Ornado berbisik lembut di telinga Cladia yang langsung tersentak kaget dan melepaskan tangannya dari jas Ornado.
“Maaf, maaf Al, aku tidak sengaja,” Ornado tersenyum lembut.
“Tidak apa-apa, asal bisa membantumu,” Dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya Ornado memandang Cladia dalam-dalam.
"Terima kasih Cla," Cladia memandang Ornado dengan tatapan tidak mengerti.
"Aku tahu apa yang barusan kamu lakukan untuk menjaga agar aku sebagai suamimu tidak dipermalukan dengan pembicaraan tentang istriku yang aneh." Cladia mengalihkan pandangannya dari wajah Ornado tanpa berkomentar.
Al, kamu seperti orang yang bisa membaca pikiranku, Cladia berkata dalam hati dan segera mengalihkan pandangannya dari wajah Ornado, untuk menghilangkan kecanggungannya.
"Tapi Cla, selanjutnya kamu tidak perlu memaksakan diri kalau kamu tidak merasa nyaman. Aku tidak perduli apa kata orang tentang kamu, bagiku yang terpenting asal kamu bahagia, aku akan melindungimu, apapun yang kau lakukan." Cladia sedikit mendongakkan kepalanya tanpa memandang Ornado, matanya memandang ke atas, sekuat tenaga berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh, sedang Ornado dengan sekuat tenaga menahan agar tangannya tidak bergerak untuk menarik Cladia dalam pelukannya.
Bolehkan aku berharap bahwa kamu mulai perduli padaku? Ornado berbisik pelan dalam hatinya.
"Apa kabar Cla, baru beberapa hari tidak bertemu denganmu, rasanya seperti sudah berbulan-bulan," Tanpa menunggu respon dari Cladia, Jeremy langsung berjalan mendekati Cladia dan memeluknya dengan erat.
"Apa kabar Kak, dimana Niela? Tidak ikut?" Cladia bersyukur dengan kedatangan Jeremy paling tidak bisa mengalihkan perhatiannya, membuatnya sedikit lupa akan kejadian yang barusan terjadi, sedang Jeremy sedikit mengangkat bahunya mendengar pertanyaan dari Cladia.
"Seharusnya dia menemaniku, tapi hari ini dia kurang enak badan, jadi aku paksa dia tidak ikut, Sebenarnya dia ingin sekali bertemu denganmu, tapi aku bilang besok dia bisa mampir ke rumahmu kalau memang ingin bertemu kamu," Jeremy mengalihkan pandangannya ke Ornado.
"Bagaimana dengan kinerja Cladia di kantormu? Apakah memuaskan?" Ornado langsung tertawa mendengar pertanyaan Ornado.
"Diluar jam kantor, dilarang membicarakan pekerjaan, tapi sebagai informasi saja, apapun yang dikerjakan adik kesayanganmu hasilnya cukup memuaskan, tidak rugi kamu mempromosikannya sebagai SDM terbaikmu," Jeremy ikut tertawa mendengar jawaban Ornado.
"Jadi Tuan Jeremy, kapan aku bisa mengambil kembali hakku atas SDM terbaikmu? Jangan lupa, sekarang dia menyandang nama Xanderson di belakangnya, jadi sebenarnya dia milik Grup Xanderson," Ornado berkata sambil memeluk bahu Jeremy, otomatis perkataan Ornado membuat Jeremy semakin tertawa lebar, sedang Cladia sedikit melotot ke arah dua pria itu, merasa dianggap sebagai benda yang bisa di pindah-pindahkan kepemilikannya.
__ADS_1
"Tanya saja dengan yang bersangkutan, kapan dia mau mengklaim haknya di Grup Xanderson, jangan-jangan dia tidak mau pindah kesana karena CEO disana sering menindasnya?" Dengan cepat tangan Cladia mencubit pinggang Jeremy yang terus menggodanya.
"Au,, sakit, sudah-sudah Cla, ampun," Jeremy melepaskan tangan Cladia dari pinggangnya sambil tetap tertawa, menikmati bisa menggoda adiknya setelah beberapa hari mereka tidak bertemu.
"Ok, aku akan temui Om Setiawan dan yang lain," Jeremy menepuk bahu Ornado dan melangkah menjauhi Cladia dan Ornado.
©©©©©©©
"Lebih baik kita duduk disana sambil menikmati hidangan yang ada," Ornado menunjuk sebuah meja kosong berbentuk bulat di arah selatan mereka berdiri. Cladia segera mengangguk, ternyata pergi ke pesta sebagai istri Ornado Xanderson benar-benar melelahkan, harus melayani sapaan dan senyuman banyak orang, entah itu benar-benar tulus untuknya atau karena posisi dia sebagai Nyonya Xanderson.
"Tunggu aku disini, aku akan ke toilet sebentar," Setelah Ornado menarik sebuah kursi dan membiarkan Cladia duduk, dia segera berjalan ke arah toilet, Cladia yang memegang gelas di tangan kanannya dengan pelan menikmati minumannya, sampai tiba-tiba ada seseorang berdisi di sampingnya menyapa.
"Malam nona, boleh bergabung di meja ini?" Seorang pemuda bersama temannya dengan pakaian rapi, tersenyum ke arahnya, menarik kursi yang ada di sebelahnya, bersiap untuk duduk disitu.
"Maaf...., kursi itu sudah ada yang punya," Cladia berkata lirih, pemuda yang tadi menyapanya memandanginya dengan wajah tetap tersenyum.
Al, kamu dimana sekarang? Cepatlah kemari, Cladia berkata dalam hati sambil tangan kanannya meletakkan gelasnya di meja, tangan kirinya mulai meremas gaunnya.
"Kami baru datang nona, dan sedari tadi kami tidak melihat ada orang yang bersamamu," Jeremy yang kebetulan menoleh ke arah Cladia segera menghentikan pembicaraannya dengan lawan bicaranya dan berjalan ke arah Cladia.
Tiba-tiba Cladia merasakan ada yang meletakkan sesuatu di punggung dan bahunya dari arah belakangnya, Cladia langsung mendongak ke belakang untuk melihat siapa yang melakukan hal itu barusan.
"Selamat malam, apa anda mengenal istriku? Ada yang bisa kami bantu?" Ornado yang baru saja meletakkan jasnya di bahu Cladia untuk menutupi punggung dan bahu Cladia tersenyum memandangi kedua pria itu. Jeremy yang sudah berdiri tak jauh dari situ hanya tersenyum dan segera membalikkan badan kembali bergabung dengan yang lain, membatalkan niatnya untuk mendekati Cladia.
"Ah, Tuan Xanderson, ternyata nona ini istri Tuan Xanderson? Maaf kami salah mengenali orang lain," Ornado mengangguk dengan satu tangannya memegang sandaran kursi yang sedang diduduki Cladia, dan satu tangannya dimasukkan ke celana panjangnya, seolah-olah menyatakan kepada dua orang itu bahwa wanita yang sedang duduk di kursi tersebut ada di bawah perlindungannya.
"Disini terlalu dingin, terlalu banyak angin, lebih baik kita cari tempat lain," Ornado sedikit membungkukkan badannya, berbisik di telinga Cladia yang langsung disambut dengan sebuah anggukan. Cladia langsung bangkit dari duduknya, berjalan ke samping Ornado.
"Maaf istriku tidak tahan angin malam, kami akan pindah ke tempat lain." Tanpa menunggu jawaban dari kedua pria asing itu Ornado dan Cladia langsung berjalan menjauh.
"Oooo, iya Tuan Ornado, silahkan," Dengan sedikit tergagap kedua pria tersebut memberi hormat, mempersilahkan Ornado dan Cladia meninggalkan meja itu, walaupun Ornado dan Cladia sudah membalikkan tubuh mereka dan menjauhi meja itu.
__ADS_1
"Terimakasih Al," Cladia berkata lirih, Ornado membetulkan letak jas nya yang berada di bahu Cladia dengan berusaha tanpa menyentuh Cladia.
"Maafkan aku, aku terlalu lama meninggalkanmu sendirian," Cladia menggeleng pelan, entah kenapa jas Ornado yang melekat di badannya malam itu membuat hatinya terasa hangat.