My Wild Rose

My Wild Rose
BIARKAN WAKTU BERHENTI SESAAT


__ADS_3

Cladia membuka pintu kamar tempat Ornado dirawat, dilihatnya tubuh Ornado yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit dengan matanya yang masih terpejam dengan rapat. Tante Ema, Jeremy dan James berdiri di samping tempat tidur itu. Begitu melihat Cladia berjalan mendekat ke arah tempat tidur Ornado, James segera menggeser posisinya menjauh dari tempat tidur itu, membiarkan Cladia mendekat ke arah Ornado yang masih terbaring tanpa sadarkan diri. Cladia termenung, menatap dalam-dalam wajah suaminya yang seperti seseorang yang sedang tertidur, dilihatnya wajah Ornado yang tampak damai walaupun terlihat sedikit pucat, dalam balutan pakaian rumah sakit dan selimut yang menutup tubuhnya sampai sebatas dada, dengan kedua tangannya di samping kanan dan kiri tubuhnya yang terbaring.


“Duduklah Cla,” Tante Ema menyeret sebuah kursi, mendekatkannya ke ranjang rumah sakit Ornado, membiarkan Cladia duduk disitu. Begitu Cladia duduk di dekat Ornado, diraihnya telapak tangan Ornado, dielusnya dengan lembut.


“James, sudah berapa lama Al tidak sadarkan diri?” Tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Ornado, Cladia bertanya kepada James.


“Sejak kejadian semalam,” James menjawab singkat.


“Apa operasinya berjalan dengan baik? Apa operasinya berhasil”


“Menurut dokter Laurel dan Dave operasi berjalan dengan lancar, tapi entah kenapa sampai sekarang Ad belum bangun juga, mungkin dia sedang menunggumu,” Cladia tersenyum mendengar perkataan James, tapi senyum disertai dengan airmata yang menetes di pipinya.


“Al, bangunlah, aku sudah disini, mau sampai kapan kamu terus tertidur?” Jeremy berjalan mendekat ke arah belakang Cladia, memegang kedua bahu Cladia dan mengelusnya lembut.


“Jangan menangis, Ad akan baik-baik saja, dia pria yang kuat. Jangan khawatir, kemampuannya untuk bertahan hidup sangat tinggi,” Mendengar itu bukannya Cladia menghentikan tangisannya, justru airmatanya semakin mengalir dengan deras, menetes membasahi lengan kanan Ornado yang ada di depannya.

__ADS_1


“Al, kumohon bangunlah, jangan membuatku takut. Banyak hal yang belum kita lakukan bersama, kamu berjanji akan mengajakku kembali berlibur ke Italia, ke Bali, ke tempat-tempat yang sebelumnya belum bisa aku kunjungi. Banyak orang yang membutuhkan kehadiranmu, puluhan ribu orang di bawah kepemimpinanmu sedang menunggu kamu bangun. Harusnya aku yang berada di tempat tidur ini, kenapa kamu harus mengorbankan dirimu untuk aku?” Mata Tante Ema mengerjap-ngerjapkan matanya dengan sedikit mendongakkan kepalanya ke atas menahan airmatanya agar tidak jatuh mendengar suara Cladia yang lebih terdengar seperti rengekan, terdengar begitu menyedihkan.


“Al, kumohon, dengarkan aku, aku dan calon anakmu membutuhkanmu. Aku mencintaimu, kamu tidak boleh meninggalkan kami, kumohon…” Cladia berkata dengan sesekali suaranya tertahan karena hidungnya mulai tersumbat karena tangisannya.


“Al, kamu berjanji akan selalu ada untukku, membiarkanmu menjadi satu-satunya pria tempat aku bersandar, harusnya aku yang terbaring disitu, bukan kamu,” Cladia menundukkan kepalanya ke arah lengan kanan Ornado, diciuminya dengan mesra lengan itu sambil menangis tersedu-sedu.


“Siapa yang mengijinkanmu menggantikan posisiku? Bahkan kamu belum menepati janjimu untuk memberiku 3 orang anak,” Cladia mengangkat kepalanya, dipandanginya wajah Ornado yang tersenyum melihat ke arahnya, dengan buru-buru Cladia menghapus airmata di pipinya dengan kedua punggung tangannya.


"Aku akan mengantarmu ke tempat-tempat itu sesuai janjiku. Aku akan selalu memberikan bahuku untuk tempatmu bersandar. Kamu tahu aku tidak pernah melanggar janjiku padamu," Ornado melanjutkan kata-katanya dengan senyum masih tersungging di bibirnya yang masih terlihat pucat.


“Selamat datang kembali Ad!” James yang berada agak jauh dari ranjang rumah sakit Ornado tersenyum lega sambil berjalan mendekat ke arah Ornado, ditepuk-tepuknya lembut paha Ornado.


“Sejak kamu duduk dan memegang telapak tanganku,” Mata Cladia terbeliak mendengar perkataan Ornado.


“Berarti kamu sengaja berpura-pura masih belum sadar ya?” Ornado tertawa terkikik, tapi dia segera menghentikan tawanya karena rasa nyeri di punggung sebelah kirinya.

__ADS_1


“Ah…,” Ornado meringis menahan sakit di punggungnya.


“Al, kamu baik-baik saja? Bagian mana kamu merasa sakit?” Cladia langsung bangkit berdiri dengan wajah cemas, tangannya sibuk bergerak kesana kemari seolah ingin membantu meringankan rasa sakit yang dialami Ornado, tangan kanan Ornado langsung bergerak menangkap tangan Cladia, menggenggamnya dan membawanya mendekat ke bibirnya dan menciumnya dengan mesra.


“Kalau aku buru-buru menunjukkan kalau aku sudah sadar, apa mungkin aku mendapat kesempatan mendengar pernyataan cintamu di depan semua orang?” Wajah Cladia langsung memerah mendengar perkataan Ornado, seolah baru menyadari dia tidak sedang sendirian bersama Ornado di kamar itu saat dengan lantang mengatakan bahwa dia mencintai Ornado. Tante Ema buru-buru memberi kode kepada James dan Jeremy untuk keluar meninggalkan mereka berdua.


Cladia memandang ke arah Ornado dengan tatapan pura-pura marah, tangannya bersiap pura-pura untuk memukul Ornado, tapi tatapan lembut dan mesra Ornado membuat tangan Cladia terhenti di udara.


“Amore mio…,” Mendengar Ornado memanggilnya dengan suara lembut dan mesra, kepala Cladia kembali tertunduk, kemudian dia menangis sekeras-kerasnya di hadapan Ornado, membuat wajah Ornado berubah kebingungan.


“Amore mio, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu menangis lagi?” Cladia mengangkat wajahnya, dipandanginya dalam-dalam wajah Ornado dengan wajahnya sendiri dipenuhi dengan airmata.


“Al, aku takut sekali, aku takut kamu pergi meninggalkanku. Aku takut tidak memiliki kesempatan lagi untuk menunjukkan anak kita padamu. aku belum pernah melakukan banyak hal untuk membuatmu bahagia seperti apa yang sudah banyak kamu lakukan untukku. Aku takut aku kehilangan satu satunya pria yang aku cintai. Aku taku…mmmh,” Cladia tidak bisa melanjutkan lagi bicaranya karena dengan cepat tangan kanan Ornado menarik kepalanya untuk mendekat ke arahnya dan langsung membungkamnya dengan ciuman mesra bibirnya ke bibir Cladia.


“A…, Al…mmmphhhh,” Ornado tidak membiarkan Cladia memiliki kesempatan untuk berkata-kata lagi, Cladia berusaha menarik bibirnya dari bibir Ornado, tapi tampaknya dalam kondisi baru sadarpun tenaga Cladia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tenaga Ornado, akhirnya Cladia menyerah, mengikuti irama yang dibawa Ornado untuk menikmati ciuman mereka yang membuat hati Cladia menjadi begitu terasa hangat. Ornado memejamkan matanya, dengan penuh gairah, diciumnya bibir Cladia dengan penuh perasaan, membayangkan dia hampir saja kehilangan wanita yang diciumnya saat ini membuat setitik airmata Ornado meleleh membasahi pelipisnya.

__ADS_1


Bukan cuma kamu, aku begitu takut kehilanganmu, aku begitu takut malam itu aku tidak bisa menemukanmu, aku takut tidak berhasil melindungimu dan anak kita, aku benar-benar takut membayangkan bagaimana saat aku terbangun dari tidurku setiap pagi tidak ada lagi kamu di sampingku, aku takut menjalani hidupku tanpa kamu di sisiku, selama ini kehadiranmu di hidupku yang menguatkanku, Ornado berbisik dalam hati sambil bibirnya bergerak semakin dalam menikmati kebahagiaan karena dapat merasakan kembali sentuhan bibir Cladia. Bahkan rasa sakit akibat bekas tembakan dan operasi di punggungnya tidak lebih menyakitkan dari membayangkan dia harus kehilangan Cladia untuk selamanya.


Rasanya saat ini Ornado ingin waktu berhenti, membiarkannya untuk waktu yang lama dalam perasaan damai karena bisa bersama lagi dengan Cladia, menikmati kembali hangatnya suhu tubuh Cladia dan bibir lembutnya, membuatnya benar-benar ingin menghentikan waktu untuk membuatnya sadar tentang keberadaan Cladia yang sudah kembali ke dalam pelukannya, dan dia ingin tetap seperti itu, ingin mengikat keberadaan Cladia di sisinya selamanya, tanpa ada yang bisa mengusik mereka.


__ADS_2