
“Temui manager hotel yang bertugas malam ini, minta rekaman cctv yang menunjukkan kemana arah Nyonya pergi menghilang dari kamar 1008. Kerjakan tugas kalian kurang dari 10 menit dari sekarang!” Keempat pengawal Ornado menganggukkan kepalanya.
“Pastikan secepatnya kalian dapatkan rekaman cctv sesuai dengan yang kita butuhkan, Jika kalian mengalami kesulitan, segera hubungi James!” Keempat orang itu kembali menganggukkan kepalanya. Mereka langsung mengerti jika sampai mereka kesulitan dan menghubungi James, berarti Ornado memberikan ijin untuk melakukan lobi kepada koneksi mereka yang merupakan aparat dengan kekuasaan tertinggi di negara ini. Dengan kekuatan yang dimiliki Ornado saat ini, koneksinya dengan beberapa pejabat penting dan aparat berkedudukan tinggi pasti akan mempermudah mereka untuk mendapatkan rekaman cctv itu. Walaupun itu adalah pilihan terakhir bila pihak hotel tidak mau bekerja sama.
Setelah memberikan perintah kepada para pengawalnya, Ornado berjalan sedikit menjauh dari mereka dan langsung meraih handphonenya, segera melakukan panggilan kepada James. James yang sedang menyetir mobilnya untuk menyusul Ornado ke Hotel XY menghentikan mobilnya ke pinggir jalan begitu melihat ada panggilan dari Ornado di layar handphonenya.
“Hallo Ad,”
“James, aku kehilangan Cladia,” Dari suara Ornado yang terdengar, James bisa memastikan Ornado dalam keadaan frustasi sekarang ini. Mengingat bagaimana cara Ornado mencintai Cladia, kehilangan jejak Cladia saat ini pasti merupakan pukulan yang sangat berat buat Ornado, apalagi kondisi Cladia sekarang sedang mengandung buah cinta mereka berdua. James hanya bisa menarik nafas panjang, rasanya tidak akan kata-kata yang tepat yang bisa dia gunakan untuk menghibur Ornado saat ini.
“Seseorang pasti sudah merencanakan semua ini sebelumnya,” Ornado berkata sambil telapak tangannya menyentuk lehernya bagian belakang dengan kepalanya sedikit mendongak, menunjukkan saat ini dia benar-benar dalam kondisi hati yang sangat buruk.
“Di panggilan telpon kita sebelumnya, sebenarnya aku mau menjelaskan tentang itu,” James menarik nafas panjang, benar-benar tidak menyangka peringatannya kepada Ornado sedikit terlambat, membuat Ornado kehilangan jejak Cladia sekarang.
“Kerahkan, kalau perlu lemburkan team IT terbaik kita dari Italia, cek keberadaan Cladia menggunakan sinyal dari alat pelacak yang sempat aku tanam di liontin kalung Cladia. Aku tidak yakin apakah alat pelacak itu masih berfungsi, karena sudah 4 tahun lalu aku menanamnya disana,” Ornado berkata sambil memejamkan matanya, berusaha menahan gejolak yang ada di dalam hatinya sekarang ini, merasakan kekecewaannya kepada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Cladia, tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Cladia saat ini, apa yang sedang dialami wanita yang sangat dicintainya itu, apakah dia baik-baik saja? Atau apakah sekarang dia sedang dalam kondisi ketakutan? Tubuh Ornado sedikit menggigil, merasakan ketakutan jika sesuatu yang buruk menimpa Cladia, membayangkan jika dia kehilangan Cladia untuk selama-lamanya membuatnya merasa benar-benar ketakutan yang selama ini belum pernah dia alami, membuat dadanya merasa sesak dan sakit. Rasanya saat ini Ornado ingin berteriak sekencang-kencangnya, memanggil nama Cladia, berharap Cladia mendengar suara panggilannya dan berlari ke arahnya, kembali ke dalam pelukannya.
“Aku akan segera melaksanakan perintahmu, tapi ada sesuatu yang perlu aku jelaskan padamu,” Ornado yang duduk di sofa lobi hotel dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, menunggu James melanjutkan kata-katanya.
“Kamu tentu sudah bisa menebak siapa dalang penculikan Cladia, tapi sepertinya kejadian ini tidak sesederhana itu. Sejak kamu menceritakan tentang tindakan Robi di kantor Sanjaya dan menyuruhku mengawasinya, dua hari lalu orang suruhan kita melaporkan bahwa pada malam dua hari lalu Robi berkunjung ke café Ola. Awalnya aku tidak mau berprasangka buruk, tapi sekarang aku merasa Ola juga terlibat dalam kasus ini.” Mendengar apa yang dikatakan James, Ornado tersentak kaget dan langsung mengambil posisi duduk dengan tegak.
__ADS_1
“Ola? Ke café Ola? Tempat kerja Robi maupun rumahnya jaraknya cukup jauh dari café milik Ola,” James menarik nafas panjang mendengar tanggapan dari Ornado yang begitu cepat.
“Karena itu timbul kecurigaanku, kalau hanya untuk ke café, terlalu banyak café di lingkungan tempat kerja maupun rumah Robi untuk dijadikan pilihan, tapi justru Robi memilih untuk mengunjungi café milik Ola, yang notabene juga bukan merupakan café terkenal.” Ornado memijat-mijat keningnya dengan ujung-ujung jari tangan kirinya. Apa yang dikatakan James semua masuk akal, apalagi dari awal Ornado kenal Ola, dia bukan orang yang mudah untuk diajak bicara, egois dan sangat keras kepala, juga…begitu matrelialistik, seorang yang mampu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta kekayaan untuk dirinya sendiri.
“Dan satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, hari ini juga bersamaan dengan info tentang Robi dan Ola, seorang anak buah kita juga melaporkan bahwa Edi, saudara kembar Edo ternyata merupakan salah satu orang yang bekerja di jasa pengiriman barang, yang sering dipakai oleh Ola,” Ornado menarik nafas dalam-dalam, rasanya saat ini dadanya akan meledak karena menahan amarah di dalam hatinya. Dia tidak ingin mencurigai Ola mempunyai rencana buruk terhadap Cladia, tapi kalau semua kecurigaan James terbukti, dia tidak akan pernah akan mengampuni Ola, tidak akan pernah!
Ornado menahan nafasnya untuk beberapa lama, mencoba kembali mengingat kejadian di acara pesta reuni malam ini, pantas saja Robi sama sekali tidak berusaha mendekati Cladia sepanjang malam ini, karena dia benar-benar menunggu adanya kesempatan saat dia tidak berada di samping Cladia baru melakukan aksinya. Ornado kembali memejamkan matanya, berharap andai waktu bisa diulang, dia tidak akan pernah meninggalkan Cladia barang sedetikpun, akan selalu menjaga Cladia agar tetap di sampingnya, sehingga tidak memberikan kesempatan pada orang lain untuk membawa pergi wanita yang benar-benar merupakan dunia dan hidupnya.
Beberapa waktu sebelum Ornado kembali ke kamar nomer 1008, Cladia yang sedang mengobrol dengan Putri dikejutkan dengan suara pintu kamar hotel yang tiba-tiba terbuka, dan tiga orang wanita masuk ke dalam dengan langkah terburu-buru mendekat ke arahnya dan Putri.
“Kenapa aku harus menemui orang itu?” Cladia bangkit berdiri dari duduknya, matanya memandang ke arah tiga wanita yang tampaknya merupakan bodyguard bagi seseorang. Dari perawakan kedua wanita itu Cladia bisa menilai bahwa pekerjaan mereka adalah pengawal.
“Maaf Nyonya, kami tidak diijinkan menggunakan kekerasan kepada Nyonya, tapi jika Nyonya menolak kami mendapatkan perintah untuk membawa Nyonya dengan paksa,” Cladia mengernyitkan alisnya mendapatkan ancaman seperti itu.
“Katakan siapa nama orang yang menyuruh kalian?” Ketiga orang wanita itu saling berpandangan, salah seorang yang terlihat merupakan pemimpin kelompok itu menggelengkan kepalanya.
“Kami tidak berhak menyebutkan namanya, tapi saat Nyonya bertemu dengannya, Nyonya akan tahu siapa beliau,” Cladia melirik ke arah Putri yang terlihat tenang-tenang saja melihat ketiga orang wanita itu. Cladia menarik nafas dalam-dalam, mengerti sepenuhnya bahwa sepertinya Putri terlibat dengan apa yang terjadi sekarang ini.
__ADS_1
“Aku tidak tahu apa yang kamu dapatkan dari membantu orang-orang ini, tapi sangat disayangkan, harga pertemanan kita begitu kamu anggap murah,” Mendengar perkataan Cladia barusan, Putri bangkit berdiri, matanya menatap tajam ke arah Cladia.
“Kamu beruntung karena terlahir dalam keluarga berada! Kamu tahu aku harus melalui banyak hal yang menyakitkan, harus bekerja lebih keras dari siapapun untuk bisa hidup seperti kalian! Berpenampilan cantik, anggun karena mengenakan pakaian-pakaian mahal, aksesoris mewah di tubuh kalian,” Cladia memejamkan matanya sebentar, sambil menahan nafasnya, setelah itu dia membuka kembali kedua matanya.
“Pemikiranmu tentang kekayaan dan kecantikan terlalu dangkal. Kekayaan bukan sekedar bicara tentang harta, dan kecantikan bukan sekedar bicara tentang fisik,” Putri tersenyum sinis mendengar perkataan Cladia.
“Kamu mudah mengatakan itu karena kamu memiliki kedua hal itu, sedang aku walaupun tidak bisa dibilang secantik dirimu, tapi aku harus pandai-pandai menggunakan kecantikanku untuk bisa mendapatkan sedikit uang,” Cladia hanya bisa menarik nafas panjang mendengar sanggahan dari Putri.
“Itu pilihan yang kamu buat sendiri. Apa yang kamu lakukan padaku hari ini, aku tidak yakin kamu akan selamat dari amarah suamiku, Ornado Xanderson. Kamu tidak sadar sudah membangunkan singa yang sedang tertidur,” Putri sedikit tersentak mendengar Cladia menyebutkan nama lengkap suaminya. Siapa yang tidak mengenal Ornado Xanderson di negara ini, apalagi jika orang itu tinggal di kota ini. Pengusaha asing yang memiliki perusahaan raksasa di kota ini, orang yang sangat disegani di negara ini, apalagi di negara asalnya. Pengusaha yang dikenal masih muda dan sukses, juga memiliki hubungan baik dengan banyak pejabat tinggi dan aparat di negara ini, tidak pernah pelit dalam memberikan bantuan dana untuk warga di negara ini, terutama saat terjadi bencana alam.
“Aku akan pergi dengan kalian setelah suamiku kembali kesini,” Salah satu dari wanita itu meberikan kode melalui gerakan matanya kepada dua wanita yang lain, yang langsung mendekat ke arah Cladia dan memegang lengan kanan dan kirinya.
“Maaf Nyonya, kami hanya diperintahkan untuk membawa Nyonya sendiri, tanpa suami Nyonya,” Cladia menggerakkan kedua tangannya ke atas dengan gerakan yang cukup keras, membuat tangan-tangan yang memegang kedua lengannya terlepas.
“Aku bukan seorang tahanan atau buronan, aku akan berjalan sendiri menemui orang yang sudah memerintahkan kalian untuk membawaku kepadanya. Bawa aku padanya sekarang, aku juga penasaran kenapa dia harus memakai cara seperti ini untuk bertemu denganku,” Tanpa menunggu jawaban dari ketiga wanita tersebut, dengan langkah yang terlihat tenang Cladia melangkah ke arah pintu kamar untuk berjalan keluar. Cladia berusaha menenangkan hatinya, dia yakin Ornado tidak akan tinggal diam jika tahu seseorang sengaja menjebak mereka dan membawanya pergi, dan Cladia yakin Ornado pasti bisa segera menemukannya.
“Maaf Nyonya, kami hanya menjalankan perintah,” Setalah mengatakan itu salah satu dari wanita itu mengambil tas Cladia dari tangannya, Cladia hanya bisa menahan nafasnya sejenak melihat itu, karena tahu kesempatannya untuk mengirim pesan atau menelpon Ornado menghilang karena tas yang berisi handphone sudah tidak ada di tangannya lagi.
Ketiga wanita itu segera menyusul Cladia, salah satunya langsung mempercepat langkah-langkahnya untuk bisa berjalan mendahului Cladia, menunjukkan lokasi dimana dia bisa bertemu dengan orang yang memberikan perintah kepada mereka.
__ADS_1