
"Maaf sudah membuatmu khawatir Al," Ornado tersenyum mendengar ucapan Cladia barusan, rasanya semakin hari Ornado semakin melihat perubahan kepribadian Cladia kembali seperti Cladia kecil yang dikenalnya dulu, yang selalu ada disampingnya, menemani hari-harinya dan gadis kecil yang selalu menarik lengannya dengan erat untuk bermain dan tertawa bersama, bahkan yang begitu setia menghibur dan menemaninya di saat masa-masa sulitnya.
Ornado kembali teringat masa-masa sulit dimana mamanya yang saat itu sakit dan semakin hari kondisinya semakin menurun, dengan tubuh yang hanya bisa terbaring di tempat tidur rumah sakit, dengan kesadaran yang semakin lama semakin berkurang. Selama mamanya terbaring di rumah sakit selama lebih dari dua bulan, atas pemintaan dari mama Ornado yang tetap bertahan tidak mau meninggalkan Indonesia sampai saat terakhirnya, untuk sementara Ornado tinggal di rumah orangtua Cladia. Sebelum berangkat dan sepulang sekolah Ornado akan dengan setia duduk di samping ranjang rumah sakit mamanya, dan Cladia kecil selalu ikut bersamanya.
Selama masa-masa itu Ornado dan Cladia dengan setia menemani mama Ornado yang terbaring lemah, baik Ornado dan Cladia akan bergantian bercerita dan mengajak mama Ornado mengobrol dan bercanda, menghabiskan waktu bersama. Tangan mama Ornado yang terlihat kurus, hanya tinggal tulang yang terbungkus kulit seringkali mengelus pipi dan rambut Cladia dengan lembut, kadang disertai dengan airmata yang menetes di pipinya. Jika bukan karena sakitnya dia tidak akan kehilangan bayi perempuan yang seharusnya menjadi adik Ornado.
Karena kelainan jantung yang dimilikinya dan kanker paru-paru yang semakin hari semakin menggerogotinya dia tidak bisa mempertahankan keberadaan bayi perempuannya yang saat itu masih berusia 6 bulan di kandungannya. Keberadaan Cladia selalu mengingatkannya akan bayi perempuannya yang tidak dapat dia pertahankan. Saat mengandung Ornado kondisi kesehatannya belum seburuk saat itu sehingga dia masih bisa mempertahankan Ornado, tapi saat kehamilan anak keduanya, tubuhnya sudah tidak mampu lagi mempertahankan kehamilannya.
Di depan mamanya Ornado selalu tersenyum, mencoba menjadi anak yang kuat, tidak pernah menunjukkan kesedihannya agar mamanya terhibur, berharap itu bisa menguatkan dan membantu mengurangi rasa sakit yang dirasakan mamanya. Tapi seringkali di luar pintu kamar rumah sakit Ornado kecil menangis, merasakan kesedihan dan ketakutan akan kehilangan mamanya. Dan setiap kali dia menangis Cladia kecil yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi akan menyodorkan saputangannya untuk mengusap airmata Ornado. Bahkan di hari dimana mamanya meninggal, orang pertama yang langsung menghampiri dia yang duduk di lantai dengan kepalanya yang menunduk di atas kedua lututnya sambil menangis di pojok ruangan kamar rumah sakit adalah Cladia. Saat itu, gadis kecil itu membungkukkan tubuhnya yang kecil dan memeluk erat tubuh Ornado, membiarkan airmatanya membasahi pakaian yang dikenakan Cladia kecil.
"Al, kamu masih disana?" Ornado sedikit tersentak, tersadar dari lamunannya yang mengingat tentang masa kecilnya bersama Cladia.
"Tidak perlu meminta maaf, tapi tadi kamu hampir saja membuatku berlari ke bandara dan meninggalkan meetingku besok." Cladia mendengar suara tawa kecil dari Ornado yang menandakan saat ini kekhawatirannya sudah hilang, menunjukkan dia benar-benar lega.
"Bagaimana makan siangmu? Disana pasti sudah siang. Aku sedang menunggu Jeremy," Cladia melirik jam di tangannya mendengar pertanyaan dari Ornado, sudah hampir jam 2 siang, di Itali mungkin masih sekitar jam 8 pagi, tapi disini jam 2 siang sudah sedikit terlambat untuk dikatakan makan siang, dan dia benar-benar lupa bahwa dia belum makan siang.
"Sebentar lagi aku akan makan siang, nikmati harimu disana, semoga semua urusanmu lancar hari ini," Ornado tersenyum mendengar perkataan Cladia.
"Sepulang kerja lebih perhatikan jam istirahatmu. Walaupun ada Niela disana aku harap kamu tidak tidur terlalu malam karena terlalu asyik menggosip dengan Niela," Cladia sedikit tertawa mendengar perkataan Ornado.
"Aku bukan tipe orang yang suka bergosip seperti kamu dan orang kepercayaanmu," Ornado tertawa mendengar perkataan Cladia, apalagi dia tahu jelas yang dimaksudkan Cladia adalah James. Tampaknya Cladia masih ingat ketika kepergiannya ke Itali sebelum ini James dengan detail selalu melaporkan segala kegiatan Cladia kepada Ornado.
"Jeremy sudah datang ke kantorku, kami akan selesaikan masalah venue hari ini. Terimakasih buat doamu, malam nanti aku akan menghubungimu lagi, jaga dirimu amore mio, ti amo" Ornado menutup telpnya.
__ADS_1
Cladia baru saja merapikan file-file yang tadi pagi diletakkan Amalia di meja kerjanya untuk persiapan meeting dengan pihak Perusahaan Lautan Gemilang, ketika didengarnya sebuah ketukan dari arah pintu ruangannya.
"Masuk," Begitu pintu dibuka terlihat wajah penuh senyum Amalia yang langsung berjalan mendekat ke arah meja kerja Cladia.
"Bu Cladia, perwakilan dari Perusahaan Lautan Gemilang sudah datang,"
"Ok, beri aku waktu 5 menit untuk bersiap-siap, persilahkan tamu kita untuk memasuki ruang meeting, bawa semua file ini ke ruang meeting," Cladia mengambil tumpukan file di meja kerjanya, menyerahkan ke Amalia yang langsung menerimanya.
"Baik Bu," Amalia segera membalikkan badannya berjalan keluar dari kantor Cladia.
Cladia tertegun sejenak, mengingat telepon Jeremy kemarin malam, menginfokan bahwa perwakilan Lautan Gemilang akan datang ke kantor hari ini membahas kontrak kerjasama. Lautan Gemilang merupakan perusahaan penghasil mutiara yang saat ini sedang naik daun karena kualitas mutiara yang mereka hasilkan berada di atas rata-rata perusahaan lain. Perusahaan itu menguasai pertambangan mutiara dari wilayah Lampung sampai dengan Papua yang dikenal sebagai daerah penghasil mutiara terbaik di dunia. Saat ini banyak perusahaan perhiasan yang berebut untuk melakukan kerjasama dengan Perusahaan Lautan Gemilang untuk meningkatkan nilai tambah perhiasan mereka.
Jeremy sudah sejak sebulan lalu sibuk menghadiri meeting dengan pihak Lautan Gemilang yang tanpa disangka-sangka akhirnya setuju untuk menjalin kerjasama dengan Sanjaya, padahal selama ini Lautan Gemilang hanya bekerjasama dengan perusahaan perhiasan dari luar negeri, terutama Eropa. Dan hari ini adalah hari terakhir meeting sebelum kontrak resmi disahkan minggu depan oleh kedua pihak. Karena Jeremy sedang pergi ke Itali dengan Ornado tentu saja hari ini Cladia yang harus mewakilinya.
Cladia bangkit dari duduknya, merapikan blazer ungu tua yang dikenakannya dan berjalan keluar menuju ruang meeting. Ketika Cladia mendekati pintu ruang meeting Amalia sudah menunggunya, dan segera membukakan pintu ruang meeting begitu Cladia mendekat. Cladia langsung berjalan ke arah depan ruangan dan untuk menghormati tuan rumah ketiga pria yang merupakan tamunya dari pihak Lautan Gemilang langsung bangkit berdiri begitu melihat Cladia memasuki ruangan.
"Silahkan duduk," Cladia berusaha bertindak sewajar mungkin dengan mempersilahkan mereka duduk dan dia sendiri sedikit menarik kursinya untuk duduk, lalu memandang ke arah ketiga tamunya kembali. Amalia sebagai sekretarisnya mangambil posisi duduk di dekat Cladia, berhadap-hadapan dengan ketiga tamunya.
Pantas saja hari ini Amalia terlihat ceria sekali, ternyata karena pertemuan hari ini hadir seseorang yang diam-diam disukainya, Cladia berkata dalam hati sambil melirik ke arah Amalia yang jelas-jelas sedikit mencuri-curi pandang ke arah Robi yang pandangan matanya justru tidak mau lepas dari sosok Cladia.
"Selamat pagi Ibu Cladia, senang sekali hari ini kita bisa mengadakan meeting terakhir hari ini sebelum kita menadatangani kontrak kerjasama kita minggu depan," Seorang pria muda mewakili pihak Lautan Gemilang untuk membalas salam dari Cladia barusan.
"Pertemuan kita hari ini sekaligus untuk memberikan info kepada pihak Sanjaya, untuk ke depannya setelah penandatanganan kontrak kerjasama, Pak Robi Adhitama selaku CEO baru Lautan Gemilang yang akan bertanggung jawab langsung terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Lautan Gemilang karena saya sendiri akan lebih fokus untuk menangani Grup Harta Lautan," Cladia sedikit terkejut dengan pemberitahuan yang saja disampaikan oleh Agam Adhitama yang selama ini dikenalnya sebagai CEO Lautan Gemilang, bukan Harta Lautan.
Aku baru sadar bahwa nama belakang Kak Robi dan Pak Agam ternyata sama-sama Adhitama. Mereka pasti memiliki hubungan kakak adik. Pantas saja dengan gampangnya Kak Robi melepas pekerjaannya di kantor Bumi Asia. Cladia berkata dalam hati sambil tetap memperhatikan apa yang dikatakan Agam Adhitama.
__ADS_1
"Baik, kita akan bahas poin-poin penting untuk kontrak kerjasama kita yang akan kita tandatangi minggu depan. Hari ini saya selaku perwakilan dari pihak Sanjaya mendapat kuasa penuh untuk mewakili Bapak Jeremy Sanjaya yang sekarang tidak dapat menghadiri meeting hari ini karena harus ke Itali," Cladia menjelaskan posisinya saat ini di dalam meeting itu.
"Tidak masalah, Pak Jeremy sendiri sudah memberikan info kepada pihak kami untuk masalah itu, kami harap kerjasama Sanjaya dan Bumi Asia bisa berjalan lancar, sehingga kami dari pihak supplier juga bisa merasakan keuntungan dari peningkatan penjualan perhiasan berbasis mutiara karya-karya dari Sanjaya," Agam Adhitama membalas perkataan Cladia, terbersit rasa kagum melihat sosok Cladia Sanjaya yang selama ini dia dengar dari beberapa rekan yang sudah pernah bertemu dengan wanita ini. Wanita yang masih muda tapi memiliki kemampuan bisnis yang tidak kalah dibandingkan dengan Jeremy, benar-benar pasangan kakak beradik yang hebat. Sayang sekali wanita cantik itu sudah ada yang memiliki, kalau tidak rasanya Agam juga tidak keberatan untuk berlomba dengan yang lain untuk mendekatinya.
Semakin hari pesona dan kecantikanmu semakin membuatku tidak dapat berhenti memikirkanmu, andai saja saat ini kamu belum menikah dengan Ornado, secepatnya aku pasti akan memintamu untuk menikah denganku, Robi berbisik lirih dalam hati sambil matanya tanpa berkedip menikmati wajah Cladia. Cladia sendiri bukannya tidak dapat merasakan pandangan Robi yang tak mau lepas darinya, dengan sengaja Cladia berusaha untuk tidak bertatapan mata dengan Robi. Benar-benar suasana yang membuat Cladia tidak nyaman, untungnya pertemuan minggu depan Jeremy sendiri yang menghandlenya, sehingga dia tidak perlu bertemu dengan Robi lagi.
"Hahh, akhirnya selesai juga," Cladia sedikit menghempaskan punggungnya di sandara kursi meeting yang didudukinya, Amalia yang dalam posisi berdiri sambil merapikan berkas-berkas di meja meeting tersenyum melihat tindakan bos nya barusan.
"Meeting hari ini cukup melelahkan Bu Cladia, tapi untung saja semua berjalan lancar, tinggal menunggu kontrak ditandatangani minggu depan," Cladia melirik ke arah Amalia yang wajahnya terlihat senang.
"Saya tadi cukup kaget Bu, ternyata Pak Robi adalah adik dari Pak Agam, saya tadi sempat mendapat info bahwa ternyata Lautan Gemilang merupakan anak perusahaan dari Grup Harta Lautan, dan owner Grup Harta Lautan memiliki 3 orang anak laki-laki sebagai ahli warisnya, salah satunya adalah Pak Robi. Dia merupakan putra bungsu owner Grup Harta Lautan." Cladia tersenyum, tampak sekali ketertarikan Amalia terhadap Robi sampai dia mencari info detail tentang laki-laki itu.
"Amalia...., boleh aku tanya sesuatu yang sedikit pribadi padamu?" Cladia menggerakkan tubuhnya ke depan, matanya memandang ke arah Amalia yang langsung menghentikan gerakan tangannya dan membalas tatapan Cladia.
"Ibu Cladia mau bertanya tentang apa?"
"Kamu sudah pernah pacaran?" Amalia sedikit tersentak kaget mendengar pertanyaan dari Cladia, tapi perlahan dia menganggukkan kepalanya pelan.
"Tapi sudah putus Bu, namanya cinta monyet, saya suka kakak kelas saja sejak SD, sempat pacaran waktu kami SMA, tapi begitu saya kuliah kami putus," Cladia mengernyitkan alisnya.
"Alasannya putus kenapa?" Amalia tertawa kecil melihat bosnya begitu bersemangat mendengar tentang kisah cintanya.
"Biasa Bu, kami akhirnya sadar kami cuma sebatas saling menyayangi sebagai kakak adik. Dengan bertambahnya umur orang akan tahu perbedaan apa itu sayang dan cinta, sekarang dia sudah menikah dengan teman kuliahnya dulu," Cladia mengangguk-anggukkan kepalanya, secara usia Amalia 3 tahun lebih tua dia atasnya, tapi karena posisinya sebagai bos Amalia harus memanggilnya dengan sebutan Ibu.
__ADS_1
Cladia mengamati Amalia, selama menjadi asistennya gadis cerdas dan cekatan itu bekerja dengan cukup baik, gadis itu terlihat manis dengan rambut panjangnya yang selalu di ikat ke atas. Cladia membayangkan kalau gadis di depannya ini disandingkan dengan Robi sepertinya cukup cocok, tapi akhirnya Cladia hanya bisa mengulum senyumnya, dia sendiri belum terlalu mengerti apa itu cinta, bagaimana bisa dia menjodoh-jodohkan orang lain.