
Ornado yang masih mengenakan dobok taekwondonya berkali-kali melirik ke arah jam tangannya dan melirik ke arah kamar tamu dengan wajah yang mulai tampak gusar, Dave yang sedang duduk di depannya hanya bisa menahan senyumnya melihat Ornado. Sikap Ornado benar-benar mengingatkannya akan sikapnya sendiri terhadap Laurel, dia benar-benar tahu bagaimana cemasnya menanti seseorang yang sangat dicintainya.
“Tenang saja Ad, percayakan pada Laurel, dia dokter penyakit dalam yang hebat, aku jamin, bukan karena dia istriku, tapi dia memang benar-benar hebat. Lagipula lamanya mereka berdua di kamar menurutku bukan sekedar melakukan pemeriksaan saja, tapi sekalian saling bertukar kisah selama mereka terpisah,” Ornado tersenyum, dalam hati dia membenarkan perkataan Dave, sakit Cladia sepertinya bukan sesuatu yang serius, Ornado sedikit menarik nafas lega mendengar perkataan Dave yang cukup menenangkannya barusan.
“Sepertinya kamu menyukai taekwondo? Kapan-kapan bolehlah kita sama-sama berlatih,” Sebenarnya dari tadi Dave memperhatikan dobok taekwondo yang dipakai Ornado. Ornado tersenyum, tidak menyangka seorang dokter spesialis bedah syaraf seperti Dave mendalami taekwondo juga.
“Dengan senang hati, sebenarnya masih ada satu lagi partner berlatihku, Jeremy, kakak Cladia, tapi akhir-akhir ini kami sama-sama sibuk, jadi belum ada waktu untuk berlatih bersama. Dia lebih hebat dariku, jam terbang tandingnya cukup tinggi, kalau saja dia bukan pewaris dari Grup Sanjaya bisa dipastikan saat ini dia sudah menjadi atlet taekwondo yang hebat,” Dave menganguk-anggukan kepalanya, pembicaraan tentang taekwondo masih menjadi salah satu topik yang menarik buatnya selain masalah perusahaan farmasi keluarganya dan masalah rumah sakit.
Begitu mendengar suara pintu kamar dibuka Ornado dan Dave secara bersamaan menoleh memandang ke arah pintu kamar, Cladia dan Laurel terlihat keluar dari sana dan berjalan mendekat ke arah kedua pria itu.
“Bagaimana kondisi kesehatan Cladia?” Tanpa menunggu Laurel dan Cladia duduk Ornado langsung menyambut Laurel dengan pertanyaannya, Laurel hanya terkikik mendengar respon Ornado yang begitu cepat.
“Dia baik-baik saja, hanya perlu banyak istirahat dan makan makanan bergizi, sementara jangan biarkan dia terlalu lelah. Dan untuk sementara, jangan pernah ijinkan dia mandi di atas jam 6 sore,” Cladia melirik ke arah Ornado yang tampak bernafas lega mendengar penjelasan Laurel.
“Ok, kalau begitu kami pamit dulu. Ad, kamu berhutang cerita padaku selama 15 tahun kita tidak bertemu,” Ornado tertawa mendengar perkataan Laurel.
“Kapanpun kamu menyiapkan waktu untuk mendengar, aku akan menceritakan semua yang ingin kamu ketahui. Tenang saja, pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian, kapanpun kalian ingin berkunjung kemari. Lain kali kami pasti juga menyempatkan waktu untuk mengunjungi kalian,” Dave dan Laurel tertawa, tangan kanan Dave memeluk bahu istrinya, Cladia tersenyum melihat kemesraan mereka, rasanya hatinya ikut berbunga-bunga, ikut bahagia untuk mereka berdua.
__ADS_1
“Ok, jaga kesehatan Cla, kalau ada apa-apa, kamu sudah punya nomer kontakku, sewaktu-waktu kamu harus menghubungiku kalau ada masalah. Ad, jaga baik-baik Cladia, jangan sampai aku dengar kamu menindasnya,” Ornado tertawa mendengar nasehat sekaligus ancaman dari Laurel. Dua pelayan segera menghampiri mereka berdua untuk mengantarkan mereka ke pintu keluar.
“Aku akan mandi dan berganti pakaian dulu,” Cladia hanya mengangguk tanpa bersuara untuk menjawab perkataan Ornado yang langsung berlari-lari kecil ke arah kamarnya.
Setelah Ornado pergi Cladia memilih untuk pergi keluar rumah menuju taman bunga mawar di samping rumah untuk menghirup udara segar dan menenangkan hatinya.
Cladia langsung mendekati kursi taman yang ada di tengah pinggiran jalan setapak yang tersusun rapi di taman bunga mawar tersebut. Begitu Cladia duduk, disentuhnya perutnya lembut.
“Apa kabar bayi kecil mama? Sehat-sehatlah di dalam sana, bertumbuhlah dengan sempurna dan sehat, mama akan menjagamu dengan sebaik mungkin,” Cladia berbisik pelan dengan kepalanya yang menunduk, matanya memandangi perutnya yang masih terlihat datar, masih dengan hati yang tidak percaya bahwa saat ini dia benar-benar hamil.
Cladia mendongakkan kepalanya, matanya memandang hamparan bunga mawar dengan berbagai warna di depannya. Dia harus benar-benar mengakui bahwa hal sekecil apapun dalam pembangunan rumah ini Ornado benar-benar mempertimbangkan semua yang menjadi kesukaannya, mulai dari penataan ruang, warna-warna cat yang dipakai, semua dipilih berdasarkan kesukaan Cladia. Bahkan setelah menikah beberapa waktu lalu dia baru mengetahui bahwa selain taman bunga mawar, Ornado menyiapkan sebuah studio balet di rumah untuk Cladia, karena sejak kecil Cladia memang menyukai balet, seperti dia menyukai taekwondo.
“Al, sebenarnya siapa Dave? Sepertinya kamu cukup mengenalnya?” Ornado tersenyum, matanya memandang ke depan, ke arah bunga-bunga mawar yang tampak ceria dengan berbagai warna yang tersusun rapi.
“Dia anak laki-laki dari Tuan Augistin Shaw, pemilik salah satu perusahaan farmasi tebesar di Irlandia, dia memiliki satu adik laki-laki yang membantunya menggerakkan perusahaan karena selain BOD (Board Of Director) Perusahaan Shaw, dia juga kepala rumah sakit tempat dia bekerja bersama Laurel. Seingatku dulu dia pernah sedikit berselisih paham dengan ayahnya karena dia lebih memberatkan menjadi kepala rumah sakit daripada mengurusi masalah perusahaan, untung saja ada adik laki-lakinya yang cukup kompeten dan bisa membantunya menjalankan perusahaan. Kami sudah lama bekerja sama di bidang manufaktur, bahkan sudah lama sebelum aku memegang Grup Xanderson, tapi Afro yang lebih banyak melakukan kontak dengannya karena dia yang bertanggung jawab terhadap food manufacture di bawah Grup Xanderson. Papanya keturunan Amerika Irlandia, sedang ibunya orang Indonesia asli.”
“Dia memiliki mata biru sepertimu, apa kamu senang bisa bertemu orang-orang yang berasal dari belahan dunia yang sama denganmu di kota ini?” Ornado memandang ke arah Cladia dan sedikit tergelak mendengar pertanyaan polos Cladia. Dia sadar betul di Asia, keberadaan orang-orang yang berasal dari benua Eropa atau Amerika apalagi mereka yang memiliki warna rambut dan mata berbeda dengan orang-orang Asia akan menjadi pusat perhatian, seperti menjadi tokoh favorit, kadang keberadaan mereka dianggap sebagai artis.
__ADS_1
“Bagi orang-orang yang berasal dari Eropa, memiliki mata biru atau hijau merupakan hal umum, bahkan di Irlandia di atas 80% dari penduduknya memiliki mata biru. Aku berdarah blasteran Eropa Asia dan Dave berdarah blasteran Amerika Eropa Asia. Secara genetik kebetulan saja genetik papa kami yang berasal dari Eropa lebih dominan dibanding dengan mama kami yang orang Asia, sehingga kami memiliki mata biru seperti papa kami. Tapi dengan kami menikahi orang Asia lagi, tidak tahu apakah anak-anak kami kelak masih ada yang memiliki mata biru, tergantung gen siapa yang lebih dominan,” Cladia langsung tertunduk begitu Ornado membicarakan tentang keturunan, Ornado melirik ke arah Cladia yang menundukkan wajahnya begitu dia menyebutkan masalah anak.
“Silsilah keluarganya mirip sekali denganku ya. Hanya bedanya, sejak lahir sampai sekarang dia menetap di Indonesia, hanya sesekali mengunjungi perusahaannya di Irlandia, kalau aku hanya memiliki kesempatan 12 tahun tinggal disini sebelum akhirnya kembali lagi kesini.” Ornado tersenyum, berusaha mengubah topik pembicaraan tentang anak, matanya kembali memandang ke arah kumpulan bunga mawar di depannya.
“Dia beruntung, memiliki seorang adik laki-laki dan perempuan dan sampai saat ini mamanya masih ada bersamanya,” Tenggorakan Cladia sedikit tercekat mendengar perkataan Ornado barusan, yang baginya terdengar menyedihkan, diliriknya Ornado yang matanya menerawang jauh ke depan dan menarik nafas panjang, seolah-olah teringat akan mamanya kembali, namun tiba-tiba Ornado menoleh dan tersenyum memandangi wajah Cladia dengan pandangan mesra.
“Tapi aku beruntung, sebelum mama meninggal, keberadaan mama di kota ini memberiku kesempatan untuk menemukan sebuah harta karun yang berharga. Karena gadis kecil yang pernah aku kenal saat aku masih di kota ini, ketika aku kehilangan mama aku masih bisa bertahan untuk melanjutkan hidupku, berjuang untuk menjadi yang terbaik. Sehingga saat aku kembali padanya aku tidak akan membuatnya malu untuk menerimaku,” Dada Cladia sedikit sesak mendengar perkataan Ornado, dia tidak menyangka bahwa selama ini keberadaannya sangat berarti buat pria itu, menjadi hal yang memotivasi Ornado untuk berjuang mencapai apa yang sekarang dia miliki.
Memang dari yang dia dengar ataupun berita yang dia baca tentang Ornado, sejak 5 tahun lalu saat Alberto Xanderson sempat kritis di RS, semua tanggung jawab dan kepemimpinan Grup Xanderson langsung dialihkan pada Ornado yang pada saat itu masih sangat muda. Dengan usianya yang baru menginjak angka 22 tahun, banyak orang yang meragukannya. Bahkan beberapa orang berani meramalkan kehancuran Grup Xanderson di bawah tangan seorang pemuda yang dianggap belum layak dan belum mampu menjalankan bisnis. Siapa sangka dia dapat membungkam setiap mulut orang yang pernah meragukannya. Bukan saja bertahan, di tangannya Grup Xanderson semakin berkembang dan merajai dunia bisnis di dunia, jauh lebih besar daripada saat kepemimpinan dipegang oleh Alberto Xanderson.
“Al….,” Cladia berkata lirih, saat ini dadanya begitu berdebar-debar karena saat ini dia sudah mengambil sebuah keputusan yang benar-benar besar dalam hidupnya. Mendengar panggilan pelan dari Cladia, Ornado menoleh, memandang ke arah wajah Cladia.
“Al, tolong….Ajari aku untuk bisa mencintaimu, buat aku jatuh cinta padamu,” Mata Ornado terbeliak mendengar perkataan Cladia barusan, sekilas mata Cladia memandang ke arah Ornado, tapi akhirnya dia menundukkan wajahnya.
Ornado tidak menyangka dengan apa yang barusan dia dengar, untuk beberapa saat Ornado tetap diam dengan wajah tidak percaya. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Cladia hari ini, tapi kata-kata Cladia sore itu benar-benar membuatnya kaget, tidak hanya membuat dadanya berdetak begitu kencang sedikit tidak terkendali, tapi sekaligus membuatnya sangat-sangat bahagia.
“Al, aku akan belajar untuk mencintaimu, aku akan berusaha keras untuk itu.” Kedua tangan Cladia menggengam di atas pangkuannya, sedang Ornado tiba-tiba benar-benar kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata.
__ADS_1
“Sudah hampir gelap, aku akan masuk ke dalam,” Cladia bangkit dari duduknya. Mendengar itu Ornado seperti baru saja dibangunkan dari tidurnya, masih dengan wajah kagetnya dia segera mengikut Cladia untuk meninggalkan taman mawar itu, tetap dalam kondisi tidak dapat berkata-kata.