My Wild Rose

My Wild Rose
MULAI MENCARIMU


__ADS_3

Ketika Cladia terbangun dari tidurnya, matanya langsung melihat kondisi tempat tidur di sampingnya yang sudah kosong, pandangan matanya mengelilingi seluruh ruangan tapi sosok Ornado tidak dapat ditemukannya. Dengan bergegas Cladia menuju kamar mandi untuk mandi dan turun ke ruang makan mencari Ornado. Hari ini Ornado akan berangkat ke Itali, paling tidak sebelum pria itu pergi Cladia ingin mengucapka terimakasih untuk apa yang sudah Ornado lakukan untuknya kemarin malam.


Ketika Cladia sampai di meja makan yang ada disana hanya Tante Ema dan dua orang pelayan yang sibuk mengatur makanan di meja itu.


“Pagi Tante,” Begitu mendengar suara sapaan dari Cladia, Tante Ema segera menoleh sambil tersenyum.


“Pagi Cla, ayo kita tunggu mertuamu dan kita akan mulai sarapan kita,” Mata Cladia kembali mengelilingi ruangan itu, tapi tetap tidak ditemukannya sosok Ornado.


“Tante, Al….,”


“O, iya, Ornado hampir 2 jam yang lalu sudah berangkat, sepertinya dia terburu-buru, tante juga dapat infonya dari apra pelayan tadipagi, apa dia tidak pamit kepadamu?” Cladia menggeleng pelan, Tante Ema memandang Cladia sambil menggerakkan telapak tangannya di wajahnya.


“Mungkin dia takut mengganggu tidurmu, jangan khawatir, pasti nanti kalau ada waktu dia akan memberimu kabar,” Cladia mengangguk, diliriknya jam di tangannya, masih pukul 6:30, tidak seperti biasanya Ornado berangkat sepagi hari ini dan tidak memberitahunya sama sekali. Memang kemaren Ornado sudah bilang akan ke Itali pagi ini, tapi Cladia tidak menyangka harus sepagi ini dia pergi.


“Pagi Ema, pagi Cladia,” Cladia reflek menoleh, dilihatnya papa mertuanya berjalan ke arah meja makan.


“Pagi,” Tante Ema dan Cladia menjawab sapaan Alberto bersamaan, Alberto tersenyum dan langsung menarik kursi, mengambil posisi bersiap untuk sarapan bersama Cladia dan tante Ema.


Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Ornado berangkat pagi-pagi sekali, tidak mungkin karena berangkat ke Itali, sedangkan mertuanya saja baru akan sarapan bersamanya pagi ini.


Apa mungkin….., Ornado menjemput Amadea? Kalau itu benar berarti dia sekarang ada di hotel tempat Amadea menginap, entah mengapa membayangkan Ornado dan Amadea berada dalam satu ruangan di kamar hotel membuat Cladia merasa tidak nyaman.


Ah, apa hakku untuk menghalang-halangi Al? Mungkin ucapan terimakasihku bisa ditunda nanti kalau Al sudah kembali dari Itali, Cladia menarik nafas panjang sebelum meraih sendok di samping piring di depannya.





“Ad, bangun!” James menggoyang-goyangkan badan Ornado yang tidur dengan posisi tengkurap di tempat tidurnya di hotel.


“Ah, rasanya masih mengantuk sekali,” Dengan malas Ornado membuka matanya setengah dan membalikkan badannya, James yang duduk disamping tempat tidur dengan pakaiannya yang sudah rapi bersiap untuk berangkat ke kantor memandangi Ornado dengan wajah heran.


“Biarkan aku tidur sebentar lagi, kalau tidak aku bisa pingsan kehabisan tenaga,” James tertawa mendengar permohonan dari Ornado.

__ADS_1


“Hei, sebenarnya apa yang terjadi? Apa kamu bertengkar dengan Cladia?” Ornado langsung menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan James.


“Mana pernah aku bertengkar dengan Cladia,”


“Yang benar saja, pagi-pagi buta tadi kamu telp minta dibukakan pintu kamar hotel, melihat wajahmu tadi pagi seperti melihat wajah baru kalah perang saja,” Ornado tersenyum kecut mendengar sindiran dari James.


“Berapa hari ini aku kurang tidur, paling parah kemarin malam, karena itu pagi tadi aku langsung memutuskan pinjam kasur hotelmu sebentar kalau tidak ingin pingsan karena kurang tidur,” James mengernyitkan alisnya, berusaha memutar otak untuk menebak apa yang terjadi pada Ornado.


“Kalau bukan karena kalian bertengkar, lalu apalagi yang membuatmu kurang tidur? Apa mungkin….., kalian terlalu bersemangat? Walaupun kalian masih pengantin baru, masak kalian lembur tiap malam?” Ornado langsung tertawa mendengar perkataan James, kantuknya tiba-tiba menghilang, dia segera bangun dari posisi tidurnya, dengan posisi duduk disamping James di atas tempat tidur, Ornado memandang ke arah James.


“Kalau benar karena itu, dengan senang hati aku akan menikmati rasa capeknya, bukannya mencarimu dan tidur disini,” James membalas pandangan Ornado dengan pandangan tidak mengerti.


“Eh, Ad, apa maksudmu?”


“Sudah, tidak usah dibicarakan, jangan bilang siapa-siapa pagi ini aku menumpang tidur di kamar hotelmu, aku bilang ke orang rumah ada masalah di perusahaan yang harus aku tangani pagi ini,” Ornado bangkit berdiri, merapikan bajunya dan meraih jasnya dari sandaran kursi.


“Aku akan ke bandara sekarang, papa juga pasti sedang dalam perjalanan ke sana, sebentar aku akan ke kamar Amadea mengajaknya check out sekalian.” James hendak memaksa Ornado menjelaskan apa yang terjadi, tapi tampaknya dari wajahnya Ornado menunjukkan kalau dia tidak ingin masalah itu dipertanyakan lagi.


“Hati-hati, semoga proses tandan tangan kontrak kerjasama disana berjalan dengan lancar,” Ornado tersenyum , membalas tepukan di bahunya, buru-buru diliriknya jam dan diambilnya handphone dari nakas di samping tempat tidur dan memasukkannya dalam kantong celananya, kemudian bergegas keluar meninggalkan kamar James.





Cladia melirik jam di tangannya, tepat pukul 08:30 pagi, sedari tadi tanpa disadarinya sudah puluhan kali dia melirik jam di tangannya, kemudian beralih ke handphonenya. James yang bekerja satu meja dengannya pagi itu sedikit banyak memperhatikan apa yang dilakukan Cladia dan mencoba menghubung-hubungkan tindakan Cladia dengan tindakan Ornado yang pagi-pagi buta tadi sudah mengganggu tidurnya.


“Cla, dari tadi aku lihat sepertinya kamu sedang menunggu telpon dari seseorang?” Cladia sedikit tersentak mendengar pertanyaan James, tanpa sadari pipinya sedikit memerah, seperti anak kecil yang tertangkap basah tidak bisa menyembunyikan keinginannya melihat permen tergeletak di meja.


“Ah, tidak, sebenarnya aku tidak ada janji dengan orang lain kok, cuma tumben saja teman yang biasa hubungi aku menanyakan kabar sudah lama tidak menghubungiku,”Cladia berusaha mencari-cari alasan walaupun dia tahu dari wajah James 100% dia tidak percaya dengan apa yang baru saja Cladia katakan.


Mungkin dia lagi banyak urusan, tunggu saja mungkin dia akan…,” Suara dari arah handphone Cladia menghentikan ucapan James, dan tanpa memperdulikan keberadaan James, Cladia langsung mengangkatnya dan berjalan menuju ruangan kecil di bagian lain ruangan kantor milik Ornado yang saat ini masih ditempatinya.


“Hallo,” Ornado cukup surprise mendengar kecepatan suara sahutan dari Cladia padahal handphonenya masih berdering sebanyak 1 kali.

__ADS_1


“Pagi Cla,” Tanpa sadar Cladia menyunggingkan sedikit senyuman di bibirnya mendengar suara Ornado dari seberang sana.


“Maaf tadi pagi tidak sempat membangunkanmu, aku ada urusan mendadak jadi harus segera berangkat,” Cladia menyandarkan badannya di dinding ruangan tempat dia berdiri, sambil memandang ke arah bagian lain dinding ruangan itu.


“It’s ok, semoga urusanmu lancar,” Cladia menjawab pendek.


“Bagaimana kabarmu pagi ini Cla? Apa sudah lebih baik? Kalau kamu masih merasa tidak nyaman sebaiknya kamu tinggal di rumah sementara.” Cladia menggerak-gerakkan sebelah kakinya maju mundur di lantai.


“Tidak, aku baik-baik saja. Al, terimakasih banyak untuk tadi malam,” Ornado tersenyum, rasanya keputusannya tadi pagi untuk segera keluar dari rumah adalah keputusan tepat, kalau tidak, kalau sampai pagi tadi dia mendengar ucapan terimakasih Cladia secara langsung dia tidak berani menjamin respon tubuhnya apakah masih bisa menahan dirinya untuk tidak bergerak menarik Cladia dalam pelukannya.


“15 menit lagi aku harus berangkat ke Itali, sampai jumpa hari Sabtu depan, hati-hatilah selama aku tidak ada disini, berjanjilah kalau ada apa-apa hubungi James atau Jeremy, supaya setidaknya aku tahu kamu berada dalam pengawasan orang yang tepat. Kalau tidak aku tidak akan bisa tenang meninggalkanmu disini,” Ornado memakai kacamata hitamnya, berjalan meninggalkan tempatnya berdiri, di belakangnya ada Alberto dan Amadea yang mengikutinya, bersiap menuju jet pribadinya.


“Cla…,” Mendengar tidak ada jawaban dari lawan bicaranya Ornado memanggil nama Cladia dengan lembut dan menghentikan langkahnya.


“Ya Al?”


“Berjanjilah padaku, atau aku perlu menunda keberangkatanku dan menculikmu untuk ikut bersamaku ke Itali?” Ornado tersenyum mendengar sekilas suara kaget Cladia di seberang sana.


“Tidak, tidak perlu, aku akan baik-baik saja, tenang saja Al, tidak akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi disini,”


“Kupikir-pikir, sebenarnya bukan ide yang buruk membawamu bersamaku ke Itali, sekarang aku akan aturkan sopir untuk menjemputmu, membawamu kesini,”


“Eh, Al, aku belum bisa meninggalkan pekerjaanku disini, kamu tahu deadline tugasku disini,” Cladia sedikit panik mendengar perkataan Ornado yang terdengar serius, apalagi, apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh pria itu? Buru-buru Cladia menjadikan pekerjaan sebagai alasannya, berharap Ornado tidak bersungguh-sungguh membawanya ke Itali.


“Aku janji, akan hubungi Kak Jeremy dan James kalau ada masalah,” Cladia berkata pelan, Ornado tertawa mendengar perkataan Cladia.


“Aku hanya takut bagaimana caraku menghiburmu kalau tiba-tiba kamu merindukanku,” Ornado berkata dengan nada menggoda.


“Ah, tidak…jangan berpikir macam-macam, semua….akan baik-baik…saja,” Cladia berkata dengan sedikit tergagap, tidak menyangka dengan apa yang barusan Ornado katakan.


“Ti Amo, mi mancherai,” (Aku mencintaimu, aku akan merindukanmu) Tanpa menunggu jawaban dari Cladia, Ornado menutup telponnya, untuk beberapa saat Cladia terpaku diam, tanpa sadar di seberang sana Ornado sudah menutup telponnya.

__ADS_1


__ADS_2