
Cladia menggigit bibirnya dengan sedikit keras, karena panggilan telponnya kepada Ornado tidak dijawab sedari tadi. Cladia menoleh ke arah kaca depan mobil yang sedang membawanya ke kantor Bumi Asia, dilihatnya gedung bertingkat kantor tersebut sudah mulai terlihat.
Begitu memasuki gedung perkantoran Bumi Asia, hal yang pertama dilakukan oleh Cladia adalah melakukan panggilan kepada James setelah dia gagal melakukan beberapa kali panggilan kepada Ornado. Melihat kedatangan Cladia, beberapa karyawan dan staff yang berpapasan dengannya langsung menganggukkan kepala mereka tanda memberi hormat dan salam kepadanya.
“Hallo,”
“James, dimana posisi Al sekarang?” Begitu mendengar suara sahutan dari James, Cladia langsung menanyakan tentang “Al.”
“Al? Kamu memanggilnya dengan Al? Apa kamu sudah ingat semuanya Cla?” Cladia menghentikan langkahnya mendengar kata-kata James, ternyata semuanya benar, Ornado, Ad, maupun Al, adalah orang yang sama, walaupun sampai detik ini Cladia masih belum bisa mengingat kenapa semua orang memanggilnya dengan Ad, sedang hanya dia sendiri yang memanggilnya dengan Al?
“Sepulang dari mengantarmu kembali ke hotel Ad langsung pergi untuk bertemu dengan klien, ada yang bisa kubantu?”
“Antarkan aku ke kantor Al sekarang, aku sedang ada di front office sekarang,” Tanpa menunggu lebih lama James mematikan handphonenya dan berlari ke arah lift untuk turun menjemput Cladia.
Sesampainya di dalam kantor Ornado, Cladia mendekat ke arah dua meja kerja yang berjajar bersebelahan.
“James, apakah sebelum aku lupa ingatan aku berada di kantor ini bersamanya?” James mengangguk.
“Kamu tahu, Ad akan melakukan apapun untukmu, aku belum pernah bertemu laki-laki yang memiliki cinta sebesar itu kepada wanitanya,” Tangan Cladia mengelus meja tepian meja kerja Ornado sambil memejamkan matanya, bayangan tentang saat-saat dia bekerja di samping Ornado mulai terbayang di ingatannya, bayangan saat dia harus menyelesaikan project kerjasama mereka, saat Ornado membungkukkan badannya seolah memeluknya dari belakang sambil melihat design perhiasan di notebooknya, saat Ornado menyodorkan sebuah gelas berisi coklat hangat setelah kejadian di ruang meeting bersama Robi, bahkan saat Ornado yang berdiri di belakang Robi dan menatap tajam ke arah Robi saat di café Robi mulai memuji kecantikannya, juga saat dia duduk di kursi café dan Ornado meletakkan kedua lengannya di sisi kanan kirinya setelah menerima permintaan maaf dari ketiga karyawan Ornado.
Melihat bayangan-bayangan tentang ingatannya di tempat ini membuat tanpa sadar Cladia menitikkan air matanya, diambilnya nafasnya dalam-dalam, ada sesuatu yang begitu sesak tiba-tiba menghantam dadanya.
“Cla, kamu baik-baik saja?” Cladia menoleh dan langsung menghapus airmatanya, seolah-olah baru diingatkan dia tidak sendiri di ruangan itu, ada James yang sedari tadi mengamatinya.
“Ahh.., aku lelah, aku akan pulang ke rumah James,” James mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Cladia.
__ADS_1
“Maksudmu ke hotel?” James bertanya untuk meyakinkan apa yang baru saja dia dengar.
“Tidak, aku mau pulang ke rumah sekarang,” Tanpa menunggu tanggapan dari James, Cladia berjalan dengan sedikit tergesa-gesa ke arah pintu keluar ruangan Ornado. Melihat itu James langsung mengambil hanpdhone dari kantong jasnya, membuka layarnya, menggesernya untuk mencari nama Ornado dan langsung melakukan panggilan.
“Permisi, saya harus mengangkat telp sebentar,” Ornado yang kebetulan baru saja masuk kembali ke ruang meeting setelah dari toilet, sebelum membuka pintu ruang meeting sempat mengambil hanpdhone yang dia silent dan melihat nama James di layar handphone sedang melakukan panggilan padanya. Setelah berpamitan, Ornado segera keluar dari ruang meeting dan menerima telp dari James.
“Hallo,”
“Ad, untunglah kamu segera mengangkat telponmu, Cladia baru saja datang ke kantormu, seperti orang yang sedang mengingat-ingat sesuatu, dia mengelus pinggiran meja kerjamu sambil menangis, mungkin…,”
“Dia ada dimana sekarang?” Ornado langsung memotong perkataan James.
“Dia mengatakan ingin pulang ke rumah,” Tanpa merespon perkataan James, Ornado menutup handphonenya, membuka kembali pintu ruang meeting.
“Maaf, ada sesuatu yang harus saya selesaikan sekarang juga, maaf, meeting selanjutnya akan diteruskan oleh Bapak Fred, sebentar lagi Bapak James akan menyusul kesini, maaf,” Ornado segera menelpon James kembali dan memerintahkannya untuk menggantikannya untuk meeting, sedang dia sendiri berlari kencang menuju ke tempat parkir.
Cladi melangkah perlahan memasuki kamar utama di rumah itu. Sejak kakinya memasuki rumah itu sulit bagi Cladia untuk menahan airmatanya agar tidak jatuh. Dielusnya tempat tidur besar di kamar itu, semua kenangan indah tentang dia Ornado kembali melintas satu persatu di otaknya.
"Aaahhh!" Cladia berteriak histeris begitu bangun dari tidurnya menyadari gaun pengantinnya sudah tergantung rapi di pintu lemari pakaian, di sampingnya terlihat Ornado yang tidur dengan bertelanjang dada. Saat dia membuka selimut yang menutupi tubuh telanjangnya ada begitu jelas tanda merah di beberapa bagian tubuhnya dan ada bercak darah di sprei kasurnya.
"Aku berjanji tidak akan menggunakan hakku sebagai suamimu sampai kamu benar-benar siap menerimaku seutuhnya,"
“Aku tidak mungkin membiarkan istriku tidur di sofa. Aku beri kamu 2 pilihan, aku tidur di sofa atau kita sama-sama tidur di tempat tidur itu.” Telunjuk Ornado terarah pada tempat tidurnya sementara matanya menatap tajam ke arah Cladia
"Hanya aku yang mampu melindungimu, jangan pernah mempertanyakan hal aneh itu lagi, bahkan hanya memikirkannya pun jangan pernah, karena sampai kapanpun, kemanapun kamu berusaha pergi menjauhiku, dengan sekuat tenaga aku akan berlari ke arahmu, aku akan menjagamu untuk tetap berada di sisiku,"
__ADS_1
"Kamu sudah membuatku memberikan semua hatiku sejak 15 tahun lalu, semuanya sudah kamu rebut tanpa tersisa sedikitpun untuk yang lain. Kalau kamu katakan aku harus menunggu, aku akan menunggu, kalau kamu katakan aku harus berlari, aku akan berlari, kalau kamu katakan aku harus melakukan sesuatu yang mustahil, apapun akan aku usahakan untuk mendapatkannya, sesulit apapun itu, apapun yang kamu katakan, akan aku lakukan, asal jangan memintaku pergi dari sisimu, aku tidak akan sanggup melakukan itu,"
"Cla, 15 tahun bukan waktu yang sebentar, tapi bagiku, asal seperti saat ini kamu ada di sisiku, rasa penantian 15 tahun itu bagiku seperti baru kemarin. Aku tidak perduli berapa lama lagi hatimu siap untukku, aku akan tetap menunggumu. Saat kamu siap, kamu tidak perlu berjalan ke arahku, aku yang akan berlari ke arahmu,"
"Maaf, saya tidak begitu pandai berdansa, partner dansa yang bisa mengimbangi dansa saya yang payah hanya istri saya, tapi saat ini dia sedang kurang sehat, saya harus menemaninya,"
"Nyonya Xanderson, apa perlu aku ingatkan lagi siapa yang sudah merampok hatiku 15 tahun lalu? Membuatku tidak pernah bisa tertarik lagi dengan makhluk yang namanya wanita kecuali dia?"
"Tapi daripada menjadi pahlawan yang memenangkan pertarungan, aku jauh lebih ingin memenangkan hati seseorang,"
“Di hari kita menikah kamu sudah mengucapkan janji untuk selalu bersamaku dalam suka maupun duka. Dimana ada Tuan Xanderson, harusnya disitu juga ada Nyonya Xanderson supaya semua orang tahu siapa Nyonya Xanderson yang sebenarnya.”
Ti amo, amore mio, grazie per il tuo amore," (aku mencintaimu, cintaku, terimakasih untuk cintamu)
"Aku sudah berjanji padamu, tidak akan meminta hakku sampai kamu sendiri siap memberikannya padaku. Kamu tahu aku bukan tipe laki-laki yang akan memaksa wanita yang aku cintai melakukan hal yang tidak disukai atau belum bisa dilakukan oleh wanitanya,"
“Tenang saja, kita akan kesana dengan pesawat pribadi, aku tidak akan membiarkan kamu kehilangan kesempatan untuk menikmati keindahan kota Venice, lagipula aku juga tidak sabar melakukan prosesi berciuman di gondola persis di bawah jembatan bride of Sighs ketika matahari akan terbenam untuk membuat cinta kita kekal abadi. Aku akan mengikatmu selamanya untuk terus berada di sisiku,”
"Aku akan mengantarmu ke tempat-tempat itu sesuai janjiku. Aku akan selalu memberikan bahuku untuk tempatmu bersandar. Kamu tahu aku tidak pernah melanggar janjiku padamu,"
“Amore mio…, syukurlah…, kamu…, baik-baik…, saja,” Ornado berkata sambil tangannya mengelus pipi Cladia dengan lembut, sebelum akhirnya kesadarannya menurun, tangannya terkulai lemah di samping tubuhnya dan pingsan di pangkuan Cladia.
“Siapa yang mengijinkanmu menggantikan posisiku? Bahkan kamu belum menepati janjimu untuk memberiku 3 orang anak,”
“Al, aku takut sekali, aku takut kamu pergi meninggalkanku. Aku takut tidak memiliki kesempatan lagi untuk menunjukkan anak kita padamu. aku belum pernah melakukan banyak hal untuk membuatmu bahagia seperti apa yang sudah banyak kamu lakukan untukku. Aku takut aku kehilangan satu satunya pria yang aku cintai. Aku taku…mmmh,” **Cladia t**idak bisa melanjutkan lagi bicaranya karena dengan cepat tangan kanan Ornado menarik kepalanya untuk mendekat ke arahnya dan langsung membungkamnya dengan ciuman mesra bibirnya ke bibir Cladia.
__ADS_1
Bayangan-bayangan tentang ingatan-ingatan apa yang pernah terjadi, apa yang pernah Ornado ucapkan padanya satu persatu kembali terbayang di otak Cladia dan semakin lama ingatan itu semakin jelas.