
Tanpa disadari oleh mereka berdua, tindakan kedua laki-laki itu sempat diamati oleh Cladia dan Niela.
"Eh, sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Dari tadi aku perhatikan kalian sibuk dengan handphone kalian dengan mata saling bertatapan, kenapa harus lewat pesan kalo kalian bisa membicarakannya langsung," Mendengar perkataan Niela, Jeremy tersenyum memandang ke arah Niela.
"Ad menjanjikan hadiah besar padaku, sayangnya dia belum bisa memberitahukan ke kalian hadiah apa itu," Jeremy menjawab pertanyaan Niela sambil mengerlingkan matanya ke arah Ornado.
"Memang kamu menjanjikan apa ke Kak Jeremy Al?" Cladia yang baru saja selesai dari makannya berkata sambil membersihkan mulutnya dengan tissue, Ornado langsung menggerakkan kepalanya ke samping untuk memandang wajah Cladia.
"Untuk membuat Jeremy bisa mendapatkan hadiah itu hanya kamu yang bisa membantuku, tanya saja kakakmu hadiah apa yang dia inginkan, kalau kamu tidak keberatan untuk membantu, aku dengan senang hati akan memberikan hadiah itu padanya. Hanya perlu persetujuan darimu, pasti hadiah itu akan aku berikan padanya, kalau memungkinkan, akan kuberikan......, secepatnya," Ornado berkata dengan senyuman penuh kemenangan melihat wajah Jeremy yang mulai kebingungan karena Cladia menatap ke arahnya, menunggu jawaban darinya.
"Lupakan Cla, Ad hanya bercanda, jangan dianggap serius. Eh, sekarang sudah pukul setengah dua, bukannya kalian harus berangkat ke kantor EO?" Jeremy segera mengalihkan pembicaraan agar Cladia tidak bertanya lebih lanjut.
Sebenarnya kamu sudah memiliki hadiah yang diminta Kak Jeremy Al, Cladia berbisik dalam hati sambil mengalihkan pandangannya dari Jeremy.
Cladia bukan wanita bodoh, dia tahu dengan jelas sebenarnya apa yang diributkan Jeremy dan Ornado sedari tadi, tapi dia harus bersikap tidak mengerti agar pembicaraan tentang itu tidak berlanjut lagi. Saat ini dia belum siap memberitahukan tentang keberadaan bayi milik mereka kepada Ornado.
"Buat apa kamu repot-repot melakukan itu Cla, biar para pelayan yang melakukannya," Ornado mendekati Cladia yang masih terlihat sibuk melipat pakaian-pakaian Ornado dan memasukkannya ke dalam koper.
"Apa aku tidak boleh belajar menjadi istri yang baik?" Cladia berkata sambil tersenyum ke arah Ornado yang langsung membalasnya dengan senyuman.
"Sewaktu papa dan mama masih hidup, setiap papa bepergian pasti mama yang akan menyiapkan semua keperluan papa, termasuk menghitung berapa pakaian yang diperlukan selama perjalanan, pakaian apa saja yang kira-kira paling cocok untuk dibawa, sampai menatanya dalam koper, selalu mama sendiri yang melakukannya." Ornado menarik kursi ke arah Cladia dan kemudian duduk di kursi tersebut sambil mengamati apa yang dikerjakan Cladia.
__ADS_1
"Dulu papa pernah bilang padaku, yang paling mengerti tentang apa yang paling cocok untuk seorang wanita adalah suaminya, dan yang paling mengerti tentang apa yang paling cocok untuk seorang pria adalah istrinya." Cladia berkata dengan tetap fokus pada kesibukannya merapikan pakaian-pakaian Ornado dalam koper.
"Kita punya banyak pelayan, tapi ada beberapa hal yang sebaiknya aku sendiri yang melakukannya untukmu mulai sekarang," Ornado menarik nafas dalam-dalam, rasanya dia begitu tidak tahan untuk tidak menarik tangan Cladia agar bisa membawa tubuhnya untuk duduk di atas pangkuannya dan memeluknya dengan erat, menciumi bau harum seluruh tubuhnya, menikmati sentuhan kulit diantara mereka.
Kita beruntung sekali memiliki orangtua yang begitu saling menghargai dan saling mencintai, dan aku beruntung mendapatkan wanita yang telah dididik dengan baik, Ornado berkata dalam hati sambil meraih handphonenya, membuka layar dan menekan icon kamera, mengarahkan kameranya ke Cladia dan mulai mengambil beberapa foto Cladia yang langsung menoleh dengan sedikit kaget.
"Apa yang kamu lakukan Al?" Ornado tersenyum sambil mengamati foto-foto Cladia yang barusan diambilnya.
"Aku sedang menyiapkan obatku juga untuk berjaga-jaga selama aku di Itali," Cladia mengernyitkan alisnya, melihat itu Ornado langsung tersenyum lebar, bangkit berdiri dari duduknya dan menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Cladia.
"Obat kalau sewaktu-waktu aku sakit karena merindukan istriku, ti amo, amore mio (aku cinta kamu, cintaku)," Sebelum Ornado mendapatkan respon dari Cladia dia segera bergerak menjauhkan dirinya dari Cladia, membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah kamar mandi sebelum tubuhnya semakin tidak dapat dia kendalikan lagi berada dekat dengan Cladia. Cladia hanya bisa menarik nafas panjang, tanpa disadarinya wajahnya benar-benar memerah dan jantungnya berdetak dengan begitu cepatnya mendengar perkataan Ornado barusan.
"Hallo Cla, apa ada yang bisa kubantu?" James langsung menyapa Cladia begitu telp dari Cladia dia angkat.
"Ada yang perlu kusiapkan?" James mencoba memancing apa yang diinginkan Cladia sampai dia berencana datang ke kantor Bumi Asia.
"Tidak, tidak ada, aku hanya mau membicarakan sesuatu denganmu, tunggu saja aku disana, dalam waktu kurang dari 1 jam aku akan sampai di kantormu," Awalnya James ingin bertanya tentang maksud kedatangan Cladia, tapi akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sampai mereka bertemu, karena bagaimanapun posisi Cladia sebagai istri Ornado, secara logika mau kapanpun dia ke kantor Bumi Asia dengan alasan apapun dia memiliki hak untuk melakukan itu.
Begitu Cladia sampai di kantor Bumi Asia, Fred sebagai asisten pribadi Ornado yang biasa menangani keperluan Ornado langsung menyambutnya secara pribadi bersama seorang staff wanita lainnya. Tidak seperti pertama kali Cladia menginjakkan kaki di kantor Bumi Asia, hari ini beberapa orang yang melihat kedatangannya langsung menghentikan kegiatannya, berdiri dengan sedikit membungkukkan badannya untuk memberinya hormat, benar-benar memperlakukannya seperti mereka memperlakukan CEO mereka, Ornado Xanderson.
"Selamat siang Ibu Cladia Xanderson," Fred langsung menyapa Cladia dengan hormat, sejak terakhir kali dia berada di tempat itu semua orang mulai memanggilnya dengan nama Ibu Cladia Xanderson, dan Cladia tahu dengan pasti siapa yang memberikan perintah kepada semua anak buahnya untuk memanggilnya dengan nama tersebut.
__ADS_1
"Aku sudah ada janji bertemu dengan Pak James,"
"Pak James sudah menginfokan hal itu kepada saya, silahkan," Fred langsung mengangguk, memberi jalan Cladia untuk berjalan di depannya menuju lift ke lantai 8, lantai tempat kantor James berada.
Begitu sampai di lantai 8, Fred dengan sedikit terburu-buru mendahului Cladia, berjalan di depannya, dan membukakan pintu sebuah ruangan yang Cladia tahu jelas-jelas itu bukan kantor James, tapi kantor Ornado.
Melihat wajah Cladia yang sedikit heran melihat Fred membukakan pintu kantor Ornado dan mempersilahkannya masuk, Fred langsung memberikan penjelasan.
"Maaf, Bapak Ornado Xanderson sudah berpesan pada kami, jika sewaktu-waktu anda mengunjungi kantor kami, Bapak sudah berpesan untuk langsung memberikan Ibu akses ke kantor Bapak. Ibu Cladia Xanderson bisa menggunakan kantor ini sesuai dengan keinginan Ibu. Itu pesan dari Bapak Ornado Xanderson sejak terakhir Ibu meninggalkan kantor ini beberapa waktu lalu," Cladia hanya bisa terdiam mendengar penjelasan dari Fred.
"Silahkan Ibu masuk, saya akan segera infokan ke Pak James bahwa Anda sudah datang," Cladia mengangguk, sepeninggal Fred mata Cladia melihat ke sekeliling kantor Ornado, masih sama seperti terakhir dia meninggalkan tempat ini.
Tanpa sadar ingatan Cladia kembali ke saat-saat dia masih menempati kantor ini. Bagaimana sosok Ornado yang terlihat semakin mempesona saat dia serius bekerja di meja kerjanya ataupun saat dia menggoda Cladia dengan kata-katanya. Begitu juga ingatan tentang Ornado yang berusaha menenangkannya setelah terjadi sedikit insiden dengan Robi di ruang meeting, dan yang terakhir diingatnya adalah ketika Ornado melihat-lihat foto perhiasan untuk event di notebooknya dengan posisi seolah-olah dia berada dalam pelukan Ornado. Tanpa sadar Cladia tersenyum, ada sedikit rasa aneh yang saat ini tidak dapat dia jelaskan mengingat setiap kejadian yang pernah dia alami bersama Ornado di ruangan ini, yang pasti ada sedikit getaran di dadanya saat dia mengingat momen-momen itu.
"Siang Cla," Mendengar sapaan James, Cladia yang awalnya memandangi kursi kerja Ornado langsung menoleh ke arah pintu, dilihatnya sosok James yang langsung menyambutnya dengan senyuman.
"Tumben sekali, ada yang bisa kubantu?" Cladia mendekat ke arah sofa yang ada di ruangan itu dan mengambil posisi duduk yang langsung disusul oleh James.
"Mmm, sebenarnya bukan hal yang urgent, tapi aku butuh bantuanmu untuk melakukan sesuatu," James sedikit mengernyitkan dahinya, mencoba berpikir kenapa Cladia membutuhkan bantuannya? Kenapa dia tidak meminta bantuan suaminya sendiri? Yang pasti akan lebih mampu membantunya dibandingkan dia.
Cladia tersenyum, pada waktu dia membereskan keperluan Ornado kemarin lusa tanpa sengaja dia membuka paspor Ornado, dan disana tertulis info tanggal lahir pria itu adalah 4 hari lagi, kalau tidak ada perubahan berarti hari itu adalah sehari setelah rencana kedatangannya kembali ke Indonesia. Untuk hari itu Cladia ingin mengadakan pesta ulang tahun untuk Ornado, yang pastinya untuk mewujudkannya dia membutuhkan bantuan orang lain untuk membantunya mengatur acara dan keperluan pesta, dan James adalah orang yang paling tepat untuk itu.
"4 hari lagi ulang tahun Ornado, aku berencana minta bantuanmu untuk menyiapkan pesta untuknya," Senyum James langsung mengembang mendengar perkataan Cladia.
__ADS_1
Wow, sepertinya Cladia sudah mulai membuat dirinya mengambil dan menjalankan posisinya sebagai istri Ornado, James berkata dalam hati sambil tersenyum simpul, ikut senang melihat perkembangan hubungan mereka berdua.
"Iya, benar sekali, 4 hari lagi Ad berulang tahun. Biasanya dia akan minta saudara-saudaranya untuk berkumpul merayakannya dengan makan bersama dan...." James menggantung kata-katanya sambil tetap tersenyum, membuat Cladia sedikit menaikkan alisnya.