My Wild Rose

My Wild Rose
SERPIHAN INGATAN


__ADS_3

“Bu, semua sudah disiapkan, sopir sudah siap di depan hotel,” Cladia mengangguk mendengar perkataan Amalia, dengan langkah bergegas Cladia berjalan menuju lift  untuk turun ke lobi hotel. Seorang pengawal wanitanya segera membukakan pintu mobil begitu melihat sosok Cladia berjalan ke arah mereka.


Baru saja Cladia turun dari mobil di depan lobi hotel S yang jalannya sedikit menanjak, Cladia merasakan handphonenya bergetar, dengan sedikit buru-buru Cladia mengambil handphonenya sehingga handphonenya terjatuh terpelanting beberapa meter di belakangnya, dengan spontan Cladia membungkuk untuk meraihnya, tidak menyadari dari arah lain ada mobil dengan kecepatan sedang menuju ke arahnya.


Suara decitan rem membuat Cladia menoleh kaget tanpa sempat berpikir untuk menghindar, sampai Cladia merasakan seseorang memeluk pinggangnya dan menariknya menjauhi mobil yang hampir menabraknya.


“Syukurlah kamu baik-baik saja Amore mio,” Ornado buru-buru melepas pelukannya, sedang wajah Cladia berubah menjadi pucat pasi karena kejadian barusan,dadanya bergetar dengan hebat karena kaget dan ketakutan yang menyerangnya akibat peristiwa barusan, membuat dadanya sedikit sesak.


“Hati-hati, jangan ceroboh, lebih penting keselamatanmu daripada sebuah handphone,” Cladia terdiam, tidak memperdulikan Ornado, karena tiba-tiba saja, potongan-potongan ingatan tentang kejadian-kejadian yang pernah dia alami kembali memenuhi kepalanya. Bahkan karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri Cladia melupakan bahwa baru saja Ornado memeluknya, bahkan dia tidak bisa berpikir kenapa Orando tiba-tiba ada di dekatnya.


Kedua pengawal wanita Cladia langsung berlari mendekat ke arahnya dan menyodorkan sebotol air mineral dan handphone Cladia yang terjatuh. Ornado langsung meraih botol itu, membuka tutupnya dan menyodorkannya ke arah Cladia yang terlihat masih shock dan terdiam sambil memegang dadanya yang masih berdebar-debar dengan keras.


“Minumlah lebih dahulu, tenangkan dirimu,” Cladia menerima sodoran botol air mineral dari Ornado antara sadar dan tidak karena saat ini di otaknya dipenuhi dengan banyak bayangan-bayangan tidak jelas. Melihat kondisi Cladia, Ornado memberi kode kepada kedua pengawal Cladia untuk membantu Cladia dengan memegang lengannya, mengajaknya masuk ke dalam restoran. Begitu sampai di restoran, Ornado buru-buru menarik sebuah kursi untuk Cladia agar Cladia bisa segera duduk dan menenangkan dirinya.


Jeremy langsung mendekat ke arah mereka begitu melihat Cladia yang terlihat pucat dan dipapah oleh pengawalnya.


“Apa yang terjadi Ad?” Jeremy mengelus pundak Cladia lembut.


“Handphone Cladia terjatuh, hampir saja ada mobil yang menabraknya, untung saja aku bisa dengan cepat menariknya untuk menjauhi mobil itu,” Jeremy menarik nafas lega.


“Untung kamu tadi bilang kalau mau menunggu Cladia di lobi hotel,” Cladia mendongak ke arah Jeremy.

__ADS_1


“Aku sudah tidak apa-apa Kak,” Cladia berusaha memenangkan dirinya agar semua yang ada di meja itu tidak memandanganya dengan cemas. Begitu melihat wajah Cladia sudah mulai memerah, baru Jeremy kembali ke tempat duduknya semula.


“Maaf sudah membuat kalian khawatir, selamat ulang tahun Laurel,” Laurel tersenyum mendengar ucapan selamat dari Cladia.


“Ah, untung saja ada Ad yang menunggumu di bawah,” Cladia tersenyum sambil diliriknya Ornado yang duduk di sampingnya, seolah-olah tidak mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Laurel.


Selama acara makan siang bersama Cladia lebih banyak diam, karena sejak peristiwa di lobi hotel tadi, dalam otaknya terus tergambar bayangan-bayangan tidak jelas yang cukup mengganggu konsentrasinya.


“Ok, kami pamit duluan ya, setelah ini Niela harus bertemu dengan supplier emas kami untuk membicarakan kontrak, terimakasih atas traktiran siang ini, kado menyusul pesta sabtu depan,” Jeremy tertawa sambil bangkit berdiri disusul oleh Niela, mendekat ke arah Dave dan menepuk pundaknya sebagai ucapan terimakasih.


“Cla, lebih baik kamu kembali ke hotel dengan mobil Ornado saja, biar Ad yang mengantarmu. Ad, titip Cladia ya,” Ornado langsung mengacungkan jempolnya mendengar kata-kata Jeremy, detik berikutnya Jeremy menepuk bahu kiri Ornado.


“Maaf, kenapa dengan bahumu Ad? Apa masih sakit?” Ornado menggeleng pelan.


“Sepertinya bekas lukanya sedikit bermasalah karena karena melakukan gerakan yang tiba-tiba sewaktu di bawah tadi, tapi tenang saja, pasti akan cepat pulih,” Cladia melirik ke arah Ornado yang tersenyum untuk menyatakan kepada semua orang bahwa dia baik-baik saja, sepertinya saat ini hanya dia yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan bahu Ornado.


“Jangan anggap remeh luka jahitanmu bekas tertembak peluru kemaren Ad,” Mendengar peringatan Laurel untuk Ornado, Cladia menoleh kaget. Luka akibat tembakan peluru? Apakah orang yang tertembak pistol karena menyelamatkannya di ingatannya adalah Ornado? Cladia terdiam, sebentar memejamkan matanya mencoba untuk mengingat-ingat kembali. Dalam bayangannya jelas dia meneriakkan nama Al saat melihat laki-laki yang melindunginya ambruk di pangkuannya akibat luka tembak, bukan nama Ad.





Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, Cladia lebih banyak diam, sesekali diliriknya wajah Ornado, berusaha keras untuk mengingat dan memperjelas bayangan-bayangan yang ada di kepalanya.

__ADS_1


Begitu Cladia sampai di kamar hotelnya, yang pertama dituju oleh Cladia adalah buket mawar yang tersusun rapi atas meja, tindakan Cladia sedikit mengejutkan Amalia yang sedang konsen mengerjakan audit file-file pembayaran di depannya.


“Ibu mencari sesuatu?” Amalia langsung mendekati Cladia yang sibuk menggeser-geser buket-buket bunga di atas meja, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Cladia langsung menoleh ke arah Amalia mendengar pertanyaan itu.


“Ehmm, Amalia, apa setiap buket-buket bunga ini dikirim, ada kartu yang dikirimkan bersama dengan buket bunga ini?”


“Ada bu, saya letakkan di laci di bawah meja itu, maaf, selama ini ibu tidak pernah mau menyentuh buket-buket mawar itu, jadi kartu-kartunya pun saya simpan tanpa menunjukkannya kepada Ibu,” Dengan buru-buru Cladia membuka laci di bawah mejanya, satu persatu dibukanya kartu-kartu ucapan itu.


Amore mio, selamat pagi, aku merindukanmu, ti amo, Al


Amore mio, semoga harimu menyenangkan, jaga bayi kita baik-baik, ti amo, Al


Amore mio, jangan lupa untuk bahagia dan jangan lupa minum susu hari ini, ti amo, Al


Tangan Cladia bergetar membaca kartu-kartu itu, baru saja dia membuka tiga kartu, kakinya tiba-tiba terasa lemas, tanpa sadar kartu-kartu itu terjatuh di lantai, lepas dari genggaman tangannya. Tanpa bisa dikendalikannya lagi airmatanya menetes dengan deras di pipinya.


“Ibu Cladia baik-baik saja?” Amalia mendekat ke arah Cladia dengan wajah khawatir.


“Amalia, siapkan mobil dan sopirku, aku mau ke kantor Bumi Asia sekarang juga,”


“Baik bu,” Tanpa menunggu lama Amalia segera melaksanakan perintah dari Cladia.

__ADS_1


__ADS_2