My Wild Rose

My Wild Rose
KEBIASAAN BARU (1)


__ADS_3

Sepanjang makan malam di meja makan Ornado dan Cladia lebih banyak saling berdiam diri, Tante Ema hanya memandangi mereka tanpa berkomentar apapun walaupun sebenarnya dia merasa ada yang aneh, dia tahu pasti ada sesuatu yang telah terjadi diantara mereka berdua, tapi karena dilihatnya wajah mereka berdua tidak menunjukkan wajah marah atau sedih, Tante Ema menahan dirinya untuk tidak bertanya apapun kepada mereka berdua.


Setelah makan malam Cladia memanggil dua pelayan dan mengajaknya ke kamarnya, Ornado yang sedang menerima panggilan telepon dari papanya hanya mengikuti mereka dengan pandangan matanya.


“Tante, aku akan ke atas, selamat malam,” Setelah panggilan telponnya berakhir, Ornado mendekati Tante Ema yang masih membaca majalah di ruang keluarga. Ornado mencium kening tantenya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Begitu memasuki kamarnya Ornado kembali dikagetkan dengan pemandangan yang tidak seperti biasanya di kamarnya. Cladia yang sudah berganti pakaian tidur berdiri di depan jendela kamarnya memandang keluar jendela dengan posisi membelakanginya. Mata Ornado memandang ke sekeliling kamarnya. Sejak papanya kembali ke Itali, Cladia kembali ke kamar sebelah, tapi malam itu dilihatnya di atas nakas tergeletak hp milik Cladia, di atas meja rias yang dulunya memang dia siapkan untuk Cladia tergeletak alat-alat rias Cladia yang tertata rapi, di atas meja dekat sofa tergeletak notebook yang biasa Cladia gunakan untuk bekerja, dan Ornado yakin jika dia membuka lemari pakaian yang dia siapkan untuk Cladia, dia juga akan menemukan pakaian Cladia sudah ada disana.


Ornado menarik nafas panjang, dengan senyuman di wajahnya, keberadaan barang-barang milik Cladia di kamarnya saat itu sudah cukup baginya untuk memberikan petunjuk bahwa mulai malam itu Cladia memutuskan untuk pindah ke kamar utama bersamanya, membuktikan perkataan Cladia di taman sore tadi benar-benar serius. Ornado memegang dadanya yang rasanya akan meledak karena bahagia.


“Cla…” Suara lembut Ornado membangunkan Cladia dari lamunannya, wajahnya langsung menoleh ke arah sumber suara, dilihatnya Ornado berjalan mendekat ke arahnya.


“Maaf, aku baru saja memindahkan semua barang-barangku dari kamar sebelah ke kamar ini, semoga kamu tidak keberatan,” Ornado berusaha menahan tawa geli mendengar perkataan Cladia. Yang benar saja? Keberatan? Itu tidak mungkin terjadi, yang ada justru saat ini dia bahagia sekali.


“Kamar ini memang kamarmu juga kan, kenapa aku harus keberatan? Justru seharusnya aku keberatan jika kamu menyesal dan memutuskan kembali ke kamar sebelah,” Ornado berkata dengan senyuman menggoda.


“Kamu berhak melakukan apa saja pada kamar ini, kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman kamu boleh mengganti atau menyingkirkannya, asal bukan aku yang kamu singkirkan dari kamar ini,” Mendengar candaan Ornado, Cladia tersenyum kecil, tapi bagi Ornado itu adalah senyuman yang sangat indah, karena biasanya bukannya senyuman, tapi pelototan yang akan dia dapat kalo berani menggoda Cladia dengan kata-kata seperti itu.


“Belum terlalu malam tapi sebaiknya aku menutup tirai jendela ini, lebih baik kamu bersitirahat, seperti kata Laurel, kamu perlu banyak istirahat untuk memulihkan kondisimu,” Ornado meraih remote di meja dekat sofa dan memencet tombol untuk menutup tirai kamarnya, sedang Cladia dengan patuh berjalan mendekati tempat tidur.


“Eh, Cla, kamu boleh memilih posisi tidur yang nyaman untukmu, apakah di sebelah barat atau timur tempat tidur,” Cladia menoleh kaget, heran dengan pertanyaan Ornado yang sedikit aneh, tapi setelah melihat wajah Ornado, Cladia benar-benar menyadari dari wajahnya tampak bahwa saat ini pria itu tampak begitu gugup.


Cladia berusaha menahan senyumnya, ternyata Ornado yang biasanya terlihat berwibawa dan tegas juga bisa menjadi salah tingkah.


“Aku bisa di sebelah mana saja, tapi kalau kamu tidak keberatan, aku mau di tempat biasanya,”

__ADS_1


“Oh..., ya...,boleh-boleh saja,” Ornado berkata sambil menarik nafas panjang dan tersenyum, membiarkan Cladia duduk di tepi tempat tidur sebelah timur, yang memang sebelumnya, saat beberapa waktu lalu Cladia di kamar itu menempati posisi itu.


“Ah, aku haus, aku akan ambil sesuatu, kamu mau aku mengambilkan minum untukmu juga?” Cladia tersenyum mendengar pertanyaan Ornado.


Sepertinya saat ini kamu benar-benar gugup Al, padahal saat ini seharusnya aku yang merasa gugup, lucu sekali melihat tingkahmu, tapi aku bersyukur kamulah pria yang menjadi suamiku, jika saja laki-laki lain belum tentu aku bisa bertahan. Aku berharap aku bisa mempercayakan hidupku kepadamu, dan aku akan berusaha keras untuk layak menjadi istrimu.


Cladia berbisik dalam hati.


“Tidak, aku akan ambil sendiri jika aku butuh nanti,” Mendengar jawaban Cladia, Ornado segera berjalan menuju ke arah pintu di bagian barat ruangan. Ornado mengambil air mineral dingin dari kulkas dengan tangan kanannya, membuka tutup botol dan segera meneguknya, sedangkan tangan kirinya memegang krah bajunya dan menggerak-gerakkannya ke depan dan ke belakang, karena tiba-tiba saja dia merasa suhu ruangan yang ditempatinya saat ini menjadi terasa panas, padahal jelas-jelas AC ruangan itu dalam kondisi menyala.


Untuk beberapa saat Ornado mencoba mengendalikan debaran dalam hatinya, walaupun beberapa waktu sebelumnya Cladia sudah pernah tidur di kamar itu selama papanya ada disitu, kali ini situasinya benar-benar berbeda.


Saat itu Ornado tahu bahwa Cladia hanya sementara akan ada disitu, tapi mulai malam ini dan untuk ke depannya Cladia akan menempati kamar ini bersamanya, dan ......, mengingat janji Cladia di taman sore tadi membuat Ornado tiba-tiba merasakan suhu di ruangan itu bertambah panas.


Ornado menarik nafas panjang dan membuangnya, beberapa kali dia melakukan itu untuk bisa membantunya mengendalikan jantungnya yang sedari tadi berdebar-debar, sejak dia tahu Cladia memutuskan untuk pindah ke kamar utama. Setelah merasa lebih tenang, Ornado berjalan melangkah keluar dari ruangan itu.


“Please…., letakkan hpmu, sudah waktunya kamu beristirahat,” Cladia sedikit mendongak, memandang ke arah Ornado yang berdiri tepat di samping tempat tidurnya.


“Besok aku terakhir berada di kantor Bumi Asia, aku minta Amalia mengaturkan meeting terakhir sebelum aku berpamitan,” Ornado meraih hp di tangan Cladia dan meletakkannya di nakas di samping tempat tidur.


“Besok pagi belum terlambat untuk mengatur itu, lagipula kamu tahu hari ini mereka baru pulang dari berlibur mereka, jangan ganggu mereka, biarkan mereka beristirahat dulu,” Cladia menaikkan sedikit alisnya, dia baru saja ingat bahwa sore tadi team nya bersama James baru saja kembali dari hotel X.


“Ok, waktumu untuk tidur,” Ornado menjentikkan kedua jarinya, membuat lampu utama di ruangan itu mati dan lampu tidur di atas nakas di samping Cladia menyala.


“Selamat malam, selamat tidur, mimpi indah,” Ornado menarik selimut di kaki Cladia dan menutupkannya ke badan Cladia, sedang dia sendiri setelah itu berjalan ke bagian barat tempat tidur, meraih notebooknya. Ornado mengambil posisi duduk bersandar dengan kaki bersila di tempat tidur dengan notebooknya di atas kedua pahanya, sekilas Cladia melirik ke arah Ornado.

__ADS_1


“Al. aku dengar dari James, kamu akan ke Itali lagi dalam waktu dekat,” Ornado menghentikan gerakan tangannya pada keyboard notebooknya, mengalihkan pandangannya ke arah wajah Cladia.


“Sebenarnya event peluncuran busana baru dan perhiasan kali ini bukan event yang harus aku sendiri yang turun tangan, tapi karena ini event pertama bagimu, aku ingin membantumu memastikan semua sesuai dengan ekspektasimu, karena itu aku harus lakukan cek di lokasi sebelum event dilaksanakan,” Cladia tersenyum mendengar penjelasan Ornado, ternyata dia benar-benar perduli dengan apa yang dia kerjakan.


“Al, lain kali aku akan ikut denganmu ke Itali,” Untuk sesaat mata Ornado terbeliak, kemudian dia berdehem.


“Kalau mau kali ini kamu juga bisa ikut. Sebenarnya dari awal aku ingin mengajakmu, tapi kata Jeremy kamu tidak telalu suka melakukan perjalanan udara,” Bagi Ornado pasti akan menyenangkan sekali jika benar Cladia bisa ikut bersamanya ke Itali.


Dia akan membawa istrinya itu ke tempat-tempat romantis, menunjukkan mansion tempat dimana keluarganya tinggal, memamerkan kamarnya yang dipenuhi dengan foto-fotonya, membuat Cladia mengenal tentang dirinya lebih dalam lagi, bagaimana kehidupan yang dijalaninya selama 15 tahun mereka berpisah.


Cladia menggigit bibir bawahnya, memang dia tidak terlalu suka melakukan perjalanan udara, tapi sebenarnya alasan terbesarnya bukan karena itu, tapi karena usia kandungannya yang belum mencapai 14 minggu, tentu saja perjalanan udara akan beresiko terhadap bayinya.


Sebenarnya kalau memungkinkan, dia ingin sekali melihat venue event yang menjadi project pertamanya ini.


“Mungkin tidak sekarang, Kak Jeremy mengatakan kalau dia yang akan ikut bersamamu melihat venue disana,” Ornado mengangguk mengiyakan.


“Iya, karena harus ada perwakilan dari Sanjaya juga yang harus melakukan cek venue, karena ini event besar bagi kalian, Jeremy memutuskan untuk dia sendiri yang melakukannya, apalagi diantara orang-orang yang bekerja di Sanjaya, Jeremy yang paling familiar dengan keadaaan di Itali,” Sekilas Ornado melihat Cladia yang baru saja menguap, wajahnya terlihat lelah.


“Sudah, jangan membahas pekerjaan lagi, masih ada hari besok, tidurlah,” Cladia mengangguk pelan, kemudian memejamkan matanya, karena hari ini sebenarnya dia benar-benar lelah, baik fisik dan pikiran.


Untuk waktu yang tidak sebentar Ornado bekerja dengan notebooknya, mengecek semua email yang masuk sejak hari Sabtu kemarin yang belum sempat dia buka dan balas.


Ketika selesai melakukan pekerjaannya Ornado melirik jam tangannya, jarum jam sudah menunjuk di angka 11 malam, ditutupnya notebooknya dan diletakkannya di atas nakas di samping tempat tidurnya, tangan kanannya menekan-nekan dahi diantara matanya untuk mengurangi rasa lelah di matanya.


Ornado menggerakkan tubuhnya ke posisi tidur, badannya bergerak menghadap ke arah timur, dipandanginya wajah Cladia yang sudah tertidur lelap dengan memeluk guling, tangan Ornado terulur ke arah Cladia, membetulkan posisi selimutnya agar menutupi badannya kembali.

__ADS_1


Sepertinya mulai malam ini aku harus benar-benar berjuang keras untuk menahan  diri, membiasakan diri dengan keberadaaanmu disini, kalau tidak ingin kejadian di kamar hotel James terulang lagi. Jangan khawatir Cla, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, aku akan membawamu dalam pelukanku.


Ornado berkata dalam hati sambil tersenyum, setelah itu dia memejamkan matanya, mulai malam ini tampaknya dia harus berusaha lebih keras untuk dapat tidur dan pastinya malam-malam berikutnya juga.


__ADS_2