
"Aku akan benar-benar menantikan saat itu," Mendengar perkataan Ornado, Cladia sedikit mendongakkan kepalanya, sehingga dengan posisi kepala Ornado yang sedikit tertunduk membuat jarak diantara wajah mereka menjadi begitu dekat, membuat Cladia dengan jelas dapat melihat tatapan lembut dan mesra dari Ornado.
Cladia dapat melihat dengan jelas mata biru Ornado, bulu matanya yang lentik, alis tebalnya yang melengkung sempurna di atas kedua matanya, hidung mancungnya, dagunya yang lancip, dan tentu saja bibir tipis Ornado yang selalu tersenyum bila ada di dekatnya, yang benar-benar memiliki komposisi sempurna untuk membuat wajah laki-laki di depannya menjadi begitu tampan dan mempesona.
Tanpa disadarinya pipi Cladia memerah, dan dengan cepat dia kembali menundukkan kepalanya dengan gerakan gugup. Ornado hanya bisa tersenyum simpul melihat tindakan Cladia. Paling tidak saat ini Ornado merasa lega karena tidak melihat wajah ketakutan Cladia, hanya wajah gugup dengan pipinya yang sedikit memerah, membuatnya benar-benar harus menahan nafasnya, mengendalikan keinginannya untuk mencium pipi Cladia yang saat ini terlihat begitu menggemaskan baginya.
Tanpa terasa satu lagu berlalu, ketika lagu a thousand years milik Christina PerriĀ berakhir, Cladia buru-buru menjauhkan tubuhnya dari Ornado, melepas tangan kirinya yang berada dalam genggaman tangan Ornado dan menyingkirkan tangan kanannya dari bahu Ornado. Ornado pun dengan gerakan pelan dan lembut ikut menjauhkan tubuhnya dari Cladia, membalikkan badannya dan berjalan menuju kursi panjang tanpa sandaran yang ada di dekat dinding ruangan, mengambil sebotol air mineral, membuka dan menyerahkannya Cladia yang sebelumnya berjalan mengikuti di belakang Ornado sampai akhirnya mereka duduk bersebelahan di kursi panjang itu dengan jarak yang cukup jauh.
Cladia sengaja mengambil posisi duduk tidak terlalu dekat dengan Ornado karena bagaimanapun saat ini dia masih berusaha menenangkan debaran di dadanya, dengan gerakan sedikit gugup dia meraih botol minuman yang disodorkan Ornado padanya dan segera meminumnya.
"Amore mio, besok kita makan malam diluar ya, aku juga sudah mengajak Jeremy dan Niela," Cladia menoleh ke arah Ornado yang matanya memandang lurus ke depan.
"Maaf Al, besok aku terlanjur ada janji dengan salah satu temanku di kampus dulu, dia sedang dalam kesulitan, ingin sedikit meminta bantuanku," Mendengar jawaban Cladia, Ornado sedikit tersentak, dengan cepat dia segera mengalihkan pandangannya ke arah Cladia.
"Apakah harus besok? Tidak bisakah pertemuan kalian ditunda?" Cladia menggeleng pelan, dengan tetap berusaha bertindak senormal mungkin supaya tidak menimbulkan kecurigaan Ornado, karena dia bukan orang yang terbiasa berbohong.
"Maaf, pertemuanku besok sudah direncakan jauh-jauh hari. Temanku ini benar-benar butuh bantuan Al," Ornado menarik nafas panjang, walaupun berusaha mengendalikannya, kekecewaan tetap nampak di wajah Ornado. Kalau boleh jujur rasanya Cladia ingin sekali tertawa melihat wajah Ornado saat ini.
"Apakah benar-benar tidak bisa diubah lagi jadwal pertemuanmu?" Ornado kembali mengarahkan pandangannya lurus ke depan, kedua tangannya menekan kursi di sebalah kanan kiri tubuhnya, pandangan matanya benar-benar menunjukkan kekecewaannya. Sebenarnya Cladia benar-benar tidak tega melihat wajah kecewa Ornado mendengar penolakannya.
"Maaf Al, tapi sebenarnya hanya untuk makan malam, kenapa harus besok? Kita bisa makan malam diluar kapan saja kan? Tidak harus besok," Ornado menggerakkan sedikit bibirnya ke atas, dalam hatinya dia ingin mengatakan kepada Cladia bahwa besok adalah makan malam untuk merayakan ulang tahunnya, tapi Ornado tidak mau Cladia merasa tidak nyaman karena dipaksa, Ornado lebih memilih untuk mengalah.
"Atau kamu mau aku menemanimu makan malam tapi setelah jam 9 malam? Kamu bisa mengajak yang lain dahulu, nanti aku menyusul," Cladia berusaha memberikan alternatif pada Ornado. Ornado terdiam sejenak, sebenarnya apa yang ditawarkan Cladia cukup bagus, dia hanya perlu mengubah jam undangan makan malam untuk para undangan lain, tapi kalo acara baru dimulai jam 9, entah jam berapa acara akan selesai. Ornado memandang wajah Cladia dalam-dalam.
"Apa tidurmu cukup nyenyak akhir-akhir ini?" Cladia sedikit heran dengan pertanyaan Ornado barusan.
__ADS_1
"Tidak ada masalah dengan tidurku, kenapa?" Ornado masih memandangi wajah Cladia dalam-dalam untuk beberapa saat, benar-benar mengamatinya, Cladia berusaha keras untuk bersikap normal agar Ornado tidak menyadari ada sesuatu yang salah pada wajahnya yang dia sendiri sadar beberapa hari ini terlihat sedikit pucat, dan menurut hasil konsultasinya dengan Laurel merupakan hal normal untuk wanita yang sedang hamil, apalagi di trisemester pertama kehamilan.
Ornado menarik nafas panjang, walaupun Cladia mengatakan dia tidak bermasalah dengan tidurnya Ornado bisa melihat wajah Cladia sedikit lebih pucat dari biasanya, apalagi setelah semu merah di wajahnya yang tadi gugup sudah menghilang, membuat warna pucat di wajah Cladia lebih terlihat. Rasanya ingin sekali dia mengarahkan tangannya untuk menyentuh wajah Cladia, menyentuhnya dengan lembut.
Jangan membuatku khawatir dengan wajah pucatmu, semoga memang kamu benar dalam kondisi baik-baik saja. Kamu harus selalu sehat, agar kita bisa tetap bersama-sama sampai tua. Aku berharap bisa hidup bersamamu dalam waktu yang lama. Apapun yang aku miliki sekarang tidak akan berarti jika kamu tidak ada di sisiku, menemaniku, Ornado berkata dalam hati dengan sedikit menghela nafasnya.
"Ok, lain kali temani aku makan malam di luar, aku tidak mau istirahatmu berkurang hanya karena acara makan malam," Ornado melirik ke arah jam tangannya.
"Sudah hampir gelap, lebih baik kita bersiap untuk makan malam. Tante Ema pasti sudah menunggu. O Iya, aku lupa, hari ini papa ikut denganku juga ke Indonesia," Cladia tersentak kaget, bagaimana Ornado bisa melupakan memberinya info untuk hal sepenting itu. Bagaimapun sebagai menantu sudah seharusnya dia menyambut mertuanya yang datang dari jauh.
"Kenapa baru memberitahuku sekarang?" Cladia dengan buru-buru bangkit dari duduknya, berjalan dengan terburu-buru keluar dari studio tarinya, Ornado langsung mengikutinya.
"Tidak perlu buru-buru, papa orang yang simple. Kamu tidak perlu segugup itu." Cladia hanya diam tidak menanggapi perkataan Ornado, di Eropa mungkin hubungan antara mertua dan menantu tidak seformal di Indonesia, tapi dia yang lahir dan dibesarkan sebagai orang timur, sudah dari kecil dididik dan diajarkan bagaimana menghormati dan menyambut kedatangan orang yang lebih tua, apalagi itu adalah mertuanya.
"Tuan, Nyonya," Begitu keluar dari ruang studio tari seorang pelayan yang tampak berjalan mendekati mereka langsung membungkukkan sedikit tubuhnya untuk memberi hormat kepada mereka berdua.
"Kami segera kesana," Cladia berkata sambil mempercepat jalannya ke arah ruang makan.
Sesampainya di ruang makan Cladia lebih terkejut lagi karena disana selain Tante Ema dan Alberto Xanderson, disebelah kiri Alberto duduk James dan satu wanita cantik, Amadea De Luca, yang bisa dipastikan dia datang ke Indonesia menaiki jet pribadi bersama dengan Alberto dan Ornado.
Bukan sekedar kedatangan papa, ternyata tentang kedatangan Amadea, Al juga tidak mengatakan apa-apa padaku, apakah karena kedatangan Amadea dianggap bukan sesuatu yang penting, atau aku bukan orang yang dianggap penting oleh Al? Cladia sedikit menarik nafas panjang, berusaha menenangkan pikirannya yang tiba-tiba terasa kacau melihat kedatangan Amadea di meja makan rumahnya malam ini. Sebagai orang timur, baginya adalah sesuatu yang aneh jika suaminya tiba-tiba mengajak wanita lain makan malam di rumah mereka tanpa memberinya info sedikitpun.
"Malam pa," Alberto Xanderson langsung tersenyum lebar melihat kehadiran Cladia di ruang makan bersama Ornado. Setelah menyapa mertuanya Cladia mengarahkan pandangannya ke Amadea, dengan sedikit mengangguk untuk menyapanya, Amadea yang duduk di sebelah James langsung tersenyum membalas senyuman Cladia.
"Duduklah Cla, untung saja kebetulan kita memasak banyak karena aku dengar tentang kepulangan Ad hari ini," Cladia kembali mengangguk mendengar perkataan Tante Ema. Ornado segera menarik kursi untuk Cladia sebelum dia sendiri menarik kursi tepat di sebelah kanan Cladia untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa rencanamu selama disini? Aku dengar dari Ad kamu berencana berlibur 10 hari disini. Tumben sekali, apa jadwalmu sedang kosong?" Amadea menoleh ke arah James mendengar pertanyaannya barusan.
"Kenapa? Apa kamu pikir aku akan jatuh miskin dengan tidak bekerja selama 10 hari?" James tertawa mendengar pertanyaan balik dari Amadea.
"Jangan khawatir, fee yang akan aku terima dari Ad untuk acara peragaan busana yang akan datang akan bisa membuatku aman walaupun aku mengambil liburan selama 1 tahun," Ornado ikut tertawa pelan mendengar perkataan Amadea, Cladia memilih untuk berkonsentrasi pada sup di mangkok di depannya, mencoba untuk tidak terganggu dengan pembicaraan mereka, berusaha agar suasana hatinya yang buruk tidak mempengaruhi bayi kecil di perutnya.
"Rencana aku mau berlibur ke Bali, lusa teman-temanku akan menyusulku ke Indonesia. Apa kamu mau menemaniku bersama Ornado? Tentu saja kalau Nyonya Xanderson memberinya ijin," Cladia yang awalnya sedang menikmati supnya sedikit mendongak mendengar perkataan Amadea, dia hanya bisa memberi respon dengan sebuah senyuman. Ornado yang sedang menggigit roti isi dagingnya sedikit melirik ke arah Cladia.
"Aku mau mengantarmu asal Nyonya Xanderson juga ikut kesana menemaniku," Dengan santai Ornado berkata sambil melanjutkan memakan roti di tangannya.
"Bagaimana Cla? Anggap saja ini permohonan dari Amadea dan Ornado," James langsung bertanya kepada Cladia yang tersenyum sambil membersihkan bibirnya dengan lap.
"Aku belum bisa pergi kemana-mana untuk persiapan event peluncuran produk," James tersenyum, dia tidak mungkin meneruskan pembicaraan itu karena dari perkataan Cladia jelas dia tidak tertarik dengan rencana berlibur ke Bali apalagi tatapan tajam dari Ornado cukup bagi James untuk mengerti bahwa Ornado tidak ingin James melanjutkan kata-katanya yang mungkin akan membuat Cladia tidak nyaman.
"Sudah, semua bisa kita bicarakan nanti, kita nikmati dulu makan malam kita," Tante Ema menyodorkan jus jeruk ke arah Cladia yang langsung meraih dan meminumnya karena sup ayam jamur yang barusan dia makan cukup membuatnya merasa mual. Dia berharap dengan meminum jus jeruk bisa membantunya menghilangkan rasa mualnya.
Seorang pelayan datang mendekati meja makan, meletakkan nampan yang masih tertutup rapat di antara Tante Ema dan Cladia.
"Hari ini tante sendiri yang khusus memasaknya buatmu Cla, kata Jeremy kamu benar-benar menyukai ini," Tante Ema berkata sambil membuka tudung saji makanan yang baru saja dikirimkan oleh pelayan. Begitu tudung saji dibuka, langsung tercium bau buah-buahan segar. Cladia tersenyum melihat masakan salmon fillet bakar dengan irisan buah segar dan saus lemon. Tanpa disadarinya, sejak kehamilannya dia semakin menyukai buah-buahan segar, terlebih yang sedikit berasa asam.
"Terimakasih tante, dari baunya terlihat enak sekali," Cladia mengambil potongan-potongan buah segar di masakan itu tanpa menyentuh ikan salmon fillet bakarnya.
"Kenapa kamu tidak mengambil ikannya?" Ornado sedikit mengernyitkan dahinya melihat Cladia tidak mengambil potongan ikan salmon itu walaupun hanya sepotong.
"Perutku sudah cukup kenyang dengan sup barusan," Awalnya Ornado hendak membalas perkataan Cladia tapi pandangan Tante Ema segera membuatnya membatalkan niatnya. Dari tatapan mata Tante Ema, Ornado mengerti kalau tantenya memberi isyarat agar membiarkan Cladia daripada dia tidak mau makan sama sekali, karena selama dia di Itali Tante Ema sempat memberitahunya bahwa akhir-akhir ini Cladia sedikit kehilangan nafsu makannya.
__ADS_1
(Khusus Velentine hari ini, author up 1 episode di luar jadwal untuk para reader, Happy valentine day everyone)