
"Siang Tante Ema," Tante Ema yang sedang sibuk di dapur menoleh mendengar suara sapaan dari Ornado, dilihatnya sosok Ornado yang langsung mendekat lalu mencium kening tantenya lembut.
"Siang Ad, tumben siang-siang begini kamu mencari tante?" Tante Ema langsung tertawa geli melihat mata Ornado yang melihat ke kanan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu tanpa menjawab pertanyaan tantenya.
"Apa yang kamu cari Ad? Jujur saja, kamu kesini mau mencari tante atau istrimu?" Ornado langsung tersenyum mendengar pertanyaan tantenya yang begitu tepat sasaran.
"Tadi sebentar dia ke dapur, tapi sepertinya bau masakan membuatnya tidak tahan. Mungkin karena ini masih masa awal kehamilannya dia sering merasa mual jika hidungnya mencium bau masakan. Baru saja dia keluar dari sini, mungkin dia sedang di ruang santai." Ornado menepuk bahu tantenya lembut dan langsung membalikkan badan tanpa berkata-kata lagi, membuat Tante Ema hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, dilihatnya semakin hari Ornado semakin menempel kepada Cladia, apalagi setelah dia mengetahui tentang kehamilan Cladia, seolah Ornado tidak pernah rela Cladia menjauh dari pandangan matanya walau sedetikpun.
Ornado melangkah ke ruang santai yang dimaksud tantenya. Ruang itu menghadap langsung ke arah kolam renang outdoor di sebelah utara rumahnya, dipisahkan oleh jendela dengan kaca-kaca besar dan tebal, membuatnya terlihat nyaman untuk menghabiskan waktu luang, dengan air yang terasa semilir dari arah pepohonan di dekat kolam renang yang memasuki ruangan. Di sebelah selatan ruangan tampak minibar dengan penataannya yang mewah. Begitu memasuki ruangan itu Ornado langsung melihat sosok Cladia yang sedang berdiri menghadap ke arah kolam sambil tangannya tampak memegang handphonenya yang menempel di telinganya. Sinar matahari siang yang terik justru menimbulkan cahaya silau yang terpantul dari kolam, menerobos kaca dan menerpa tubuh Cladia, membuat sosok Cladia terlihat begitu anggun dan menyilaukan.
"Iya kak, maaf selama ini aku tidak memberitahukannya kepadamu," Cladia berkata sambil tangan kirinya memainkan bunga segar yang berada di atas meja dekatnya berdiri, sambil matanya memandang ke arah pohon-pohonan di dekat kolam renang.
"Apapun itu, asal kamu dan bayimu sehat, jangan membuat dirimu sendiri tidak nyaman, tidak baik untuk kesehatan bayimu. Aku cukup kaget mendengar berita kehamilanmu dari Ad tadi pagi, tapi aku benar-benar senang mendengar itu. Selamat untuk kalian berdua. Kamu harus jaga dirimu baik-baik. Mulai sekarang jangan main-main dengan kesehatanmu," Dari seberang sana terdengar suara Jeremy yang menasehati Cladia, mengingat bagaimana sejak kecil dulu Cladia paling sulit jika harus memeriksakan kesehatannya ke dokter.
"Iya kak, jangan khawatir, aku bisa menjaga diri, aku..." Ornado berjalan mendekat, dengan perlahan-lahan dipeluknya Cladia dari belakang, kedua tangannya melingkar di pinggang Cladia, dengan salah satu telapak tangannya mengelus lembut perut Cladia dan langsung diciumnya leher Cladia sebelah kanan dengan lembut dengan hidung mancungnya, membuat Cladia sedikit tersentak kaget, sehingga menghentikan pembicaraannya dengan Jeremy secara tiba-tiba.
"Kenapa Cla? Ada sesuatu yang terjadi?" Cladia menahan nafasnya, seolah takut Jeremy mengetahui apa yang baru saja terjadi.
"Tidak, tidak ada apa-apa kak, ada semut yang iseng menggigit leherku barusan,"
"Semut?" Jeremy mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Cladia, sedang Ornado hanya tertawa geli tanpa suara dan justru menggerakkan kepalanya ke arah leher Cladia sebelah kiri dan kembali menciumnya, kali ini dengan bibirnya sehingga meninggalkan sedikit tanda merah di leher jenjang Cladia yang langsung menggerakkan tangan kirinya untuk menyentuh dan menutupi lehernya karena tindakan Ornado barusan.
__ADS_1
"Kak, nanti aku hubungi lagi, aku perlu menyingkirkan semut gatal dari leherku," Tanpa menunggu jawaban dari Jeremy, Cladia menutup handphone, meletakkannya di atas meja dan langsung membalikkan tubuhnya sehingga tubuhnya berhadap-hadapan dengan Ornado. Cladia langsung mendongakkan kepalanya, dilihatnya Ornado langsung tertawa terkikik ke arahnya, tangan kanannya langsung bergerak mencubit hidung Cladia pelan, sedang tangan kirinya masih memeluk pinggang Cladia.
"Siapa yang kamu maksudkan dengan semut?" Ornado menundukkan kepalanya, sehingga ujung hidungnya dan ujung hidung Cladia saling bersentuhan, lalu Ornado menggerak-gerakkan hidungnya ke kanan dan ke kiri dengan gerakan lembut, membuat ujung hidungnya dan ujung hidung Cladia saling bergesekan pelan.
"Apa aku harus jujur pada Kak Jeremy kalau suamiku yang menjadi semutnya?" Dengan senyum tetap di wajahnya, Ornado menggerakkan tangannya ke arah belakang kepala Cladia, menyentuhnya dan mengelusnya lembut.
"Silahkan saja kalau kamu merasa nyaman untuk menceritakan pada kakakmu tentang rahasia kita," Melihat senyum nakal dari Ornado, tangan Cladia bergerak dengan cepat mencubit pelan pinggang Ornado, membuat laki-laki itu sedikit meringis dengan wajah berpura-pura kesakitan.
"Ampun amore mio," Tangan kiri Ornado yang awalnya memeluk pinggang Cladia bergerak ke arah tangan kiri Cladia yang sedang mencubit pinggangnya dan langsung menggenggam tangan kiri Cladia, menariknya ke arah bibirnya, lalu dengan lembut mencium tangan Cladia yang ada di genggamannya.
"Ti amo, Tu sei un dono del cielo," (Aku mencintaimu, kau adalah hadiah dari surga) Ornado berkata dengan lembut.
“Anch’io ti amo,” (Aku juga mencintaimu) Cladia membalas perkataan Ornado dengan senyum di bibirnya, membuat Ornado tidak tahan melihatnya dan langsung menggerakkan bibirnya untuk mencium bibir Cladia dengan mesra.
Cladia membaca pesan singkat di handphonenya, jarinya bergerak naik turun untuk membaca undangan dari teman-teman SMP nya untuk menghadiri reuni angkatan mereka. Ornado yang duduk di hadapan Cladia di ruang kerjanya di rumah awalnya begitu berkonsentrasi dengan notebook di depannya, tapi mendengar suara desahan dari bibir Cladia, Ornado langsung mengalihkan pandangan matanya dari layar notebooknya ke arah Cladia.
"Ada apa Amore mio?" Cladia menarik nafas panjang.
"Teman-temanku SMP mengundangku untuk menghadiri reuni," Cladia berkata sambil matanya tetap memandangi layar handphonenya.
"Kamu berencana hadir di reuni itu?" Ornado melipat kedua tangannya dan menopangkannya di atas meja kerjanya, menggeser notebooknya ke samping.
__ADS_1
"Kamu tahu kondisiku, tentu saja aku tidak mungkin menghadiri acara seperti itu," Ornado tersenyum, walaupun saat ini tidak ada lagi penolakan dari Cladia setiap kali dia mencium atau memeluknya, tapi Ornado harus tetap menahan diri karena tahu Cladia belum siap untuk melakukan hal yang lebih dari itu, dan responnya terhadap laki-laki lain selain dirinya masih tetap sama, Cladia benar-benar masih menjaga jarak, masih ada ketakutan di matanya saat berdekatan dengan laki-laki selain dirinya dan Jeremy, bahkan untuk sekedar berjabat tangan.
Seperti halnya pagi ini saat salah satu karyawan dari salah satu rekan kerjasama Sanjaya datang untuk mengirimkan flash disk berisi data penting yang harus diaudit oleh Cladia, saat laki-laki itu berniat menjabat tangan Cladia, Cladia langsung menghindar dengan wajah terlihat tidak tenang, sehingga dengan sigap Ornado langsung menggantikan posisi Cladia untuk menerima flash disk dan berjabat tangan dengan laki-laki itu untuk mengucapkan terima kasih. Walaupun sebenarnya kondisi itu membuat Ornado tidak keberatan karena dia menjadi satu-satunya pria yang bisa melakukan kontak fisik dengan Cladia, tapi tentu saja kadang kondisi Cladia cukup mengganggu hubungannya dengan beberapa teman dan anggota keluarganya yang lain.
"Kalau begitu kamu info ke mereka, kamu tidak bisa menghadiri undangan tersebut," Cladia memandang wajah Ornado dalam-dalam.
"Sudah untuk kesekian kalinya aku menolak mereka, bahkan beberapa orang sudah terang-terangan mencapku sebagai orang yang sombong," Tangan kanan Ornado bergerak ke arah tangan Cladia dan menggenggamnya.
"Di dunia ini, kalau setiap perkataan orang selalu menjadi beban bagimu, kamu tidak akan bisa menjadi dirimu sendiri. Setiap orang bisa menilai kita semau mereka, kamu tidak perlu memikirkan orang-orang seperti mereka. Toh, kita makan dan hidup tidak bergantung dari mereka," Cladia tersenyum, kadang kata-kata Ornado begitu menunjukkan sisi dinginnya kepada orang lain, tapi laki-laki itu selalu menunjukkan sisi lembutnya di hadapannya, membuat Cladia benar-benar bisa merasakan begitu besarnya cinta laki-laki itu kepadanya.
"Bukannya begitu, kadang aku juga ingin mencoba datang, kadang ingin tahu kabar dan kondisi mereka sekarang. Aku ingin tahu kabar dari beberapa teman yang dulu cukup dekat denganku," Ornado tertawa geli, namanya wanita, tetap saja kadang masih membuatnya bingung, sebentar berkata A, sebentar berkata B, kadang tidak ada sinkronisasi antar yang dipikirkan, diinginkan, dan dikatakan, seolah-olah berharap semua pria adalah ahli pembaca pikiran mereka.
"Kalau kamu ingin datang, datang saja, aku akan menemanimu," Cladia sedikit terbeliak mendengar perkataan Ornado, karena terus terang info dari James mengatakan bahwa selama ini Ornado tidak pernah mau menghadiri yang namanya pesta reuni, karena pernah sekali Ornado menghadiri pesta reuni, justru setelah itu dia banyak mendapatkan gangguan dari teman-temannya yang kurang bertanggung jawab karena posisinya sebagai penerus Grup Xanderson. Mulai dari teman yang berpura-pura menawarkan kerjasama, meminta bantuan baik keuangan maupun pekerjaan, sampai yang terparah adalah teman-teman wanita yang berusaha mendekatinya dengan berbagai cara untuk dapat menjadi istrinya ataupun sekedar teman kencannya, mencoba mengais keuntungan darinya.
Karena info dari James tersebut Cladia dari awal tidak berani mengajak Ornado untuk pergi bersamanya ke acara reuni tersebut, sedangkan dia sendiri sudah memutuskan tidak akan pergi jika dia harus pergi sendirian ke acara seperti itu. Cladia benar-benar tidak menyangka kalau demi dirinya Ornado mau melakukan hal yang sebenarnya baginya tidak menyenangkan dan membuatnya tidak nyaman.
"Benarkah? Benar kamu mau menemaniku?" Cladia tersenyum, dengan keberadaan Ornado disampingnya paling tidak teman-teman prianya yang selama ini berusaha mencuri perhatiannya dan berusaha mendekatinya tidak akan berani untuk mengganggunya lagi.
"Dimana acaranya akan diadakan?" Ornado bertanya sambil matanya melirik ke arah handphone Cladia yang langsung mengarahkan layar handphonenya kepada Ornado.
"Di restoran XY, masih lama, acara masih diadakan satu setengah bulan lagi, setelah kita pulang dari acara peluncuran produk baru kita di Itali," Ornado berkata lirih sambil mengangguk setelah membaca pesan di layar handphone Cladia yang menuliskan lokasi acara dan note bahwa boleh membawa pasangan masing-masing, asal melakukan konfirmasi sebelumnya.
__ADS_1
"Tidak masalah, restoran itu tidak jauh dari rumah kita, toh acaranya diadakan hari sabtu sore, kita masih ada waktu sehari untuk berlibur setelah acara itu, jadi kamu bisa beristirahat," Cladia tersenyum senang mendengar perkataan Ornado.
"Ok, aku akan konfirmasikan kepada mereka aku akan datang," Cladia menuliskan pesan konfirmasi kepada panitia acara reuni mereka bahwa dia akan datang dan tanpa sadar Cladia menuliskan info yang salah bahwa dia akan datang sendiri tanpa pasangan.