
“Ahhh…,” Cladia langsung bangkit dari tidurnya, tangannya langsung membersihkan keringat yang membasahi dahinya. Dengan nafas masih terengah-engah Cladia menyalakan lampu kamarnya, mengambil gelas berisi air putih yang ada di nakas samping tempat tidurnya dan meminumnya.
Cladia memegang dadanya yang berdegup kencang, dengan menarik nafas panjang dia berusaha mengingat mimpi yang barusan dia alami. Potongan-potongan mimpinya menunjukkan kejadian-kejadian yang terpotong-potong. Cladia mengalihkan pandangan matanya ke arah buket bunga mawar yang tersusun rapi di atas meja dekat sofa biasa dia bekerja bersama Amalia selama beberapa hari ini.
Melihat bunga bunga-bunga itu Cladia teringat akan mimpinya tentang taman bunga mawar, di bagian tengah taman itu tersusun mawar merah dibentuk hati dan di dalamnya ada mawar berbentuk inisial C, sekilas dia bermimpi tentang dia menyatakan cintanya kepada seorang pria di tempat itu, bayangan selanjutnya dia kembali melihat dirinya sendiri dengan gaun pesta bewarna putih berciuman mesra dengan seorang pria, yang pada akhirnya membuatnya menyerahkan dirinya secara utuh ke dalam pelukan pria tersebut dan terakhir yang diingatnya dia bermimpi tentang seorang pria yang berusaha menyelamatkannya sehingga dia sendiri tertembak. Di dalam mimpinya Cladia bisa mendengar suara lembut alunan denting piano dan suara seorang pria yang menyanyikan sebuah lagu untuknya. Tanpa sadar ingatan Cladia akan mimpi-mimpi itu membuatnya meneteskan airmata, karena mimpi itu benar-benar membuatnya takut, ada rasa ketakutan yang besar seolah-olah dia kehilangan orang yang begitu berharga baginya.
“Siapa pria itu? Apakah dia pria yang selalu aku panggil dengan Al? Dimana dia sekarang? Apa dia sudah meninggal karena tembakan itu?” Cladia berbisik pelan tanpa bisa mengendalikan airmata yang jatuh di pipinya.
Suara panggilan di handphonenya membuat Cladia menoleh ke arah handphone yang dia letakkan di atas nakas, Cladia meraih handphonenya dan menjawab panggilan telp itu.
“Amore mio, apa yang terjadi denganmu? Kenapa tiba-tiba lampu kamarmu menyala lagi? Apa kamu bermimpi buruk?” Cladia tidak menjawab pertanyaan Ornado, justru suara tarikan nafas di hidung Cladia yang membuat Ornado kaget karena dari suara itu sudah jelas menunjukkan Cladia sedang menangis sekarang.
“Amore mio, tolong jawab aku, apa kamu baik-baik saja? Apa perlu aku kesana sekarang?” Ornado bangkit dari duduknya di tepi tempat tidur dan bangkit berdiri.
“Tidak Ad, tidak perlu kesini, aku baik-baik saja, hanya mimpi buruk, jangan khawatir,” Cladia berusaha menahan isak tangisnya agar tidak membuat Ornado khawatir.
“Kamu yakin kamu baik-baik saja? Tidak membutuhkan sesuatu?”
__ADS_1
“Tidak,” Cladia menjawab pelan, walaupun bibirnya mengatakan tidak, entah kenapa dalam hatinya dia mengharapkan Ornado datang menemuinya sekarang.
“Aku baik-baik saja, selamat malam,” Cladia menutup handphonenya.
Tidak berapa lama suara ketukan dari arah pintu kamarnya membuat Cladia bangkit dari tidurnya, berjalan ke arah pintu kamar hotelnya, begitu Cladia membuka pintunya tampak sosok Ornado yang tersenyum sambil membawa dua gelas coklat hangat di tangannya.
“Boleh aku masuk?”
“Tidak,” Cladia mengeluarkan suara tidak, tapi tubuhnya berkata lain, dengan reflek tubuhnya bergerak ke samping memberi jalan pada Ornado untuk masuk ke dalam kamar. Melihat itu Ornado hanya tersenyum simpul dan tanpa kata-kata langsung melangkah masuk, setelah itu dia langsung duduk di sofa dan meletakkan kedua gelas berisi coklat hangat di atas meja.
“Ada sesuatu di wajahku?” Ornado berkata sambil tersenyum melihat Cladia yang terus memandangnya tanpa berkedip, membuat Cladia menjadi salah tingkah karena pertanyaan itu.
“Ti..tidak,” Cladia langsung mengalihkan pandangannya sambil berpura-pura sibuk dengan gelas berisi coklat hangat di tangannya.
“Bagaimana kamu tahu aku sedang terbangun karena mimpi buruk?” Mendengar pertanyaan Cladia, Ornado tersenyum, lalu mengambil gelas berisi coklat hangat di meja dan meminumnya.
“Semua hal sekecil apapun tentang kamu, aku tahu semuanya, termasuk kebiasaanmu setiap pagi yang diam-diam mengamatiku bahkan kadang mencuri ciumanku saat kamu baru bangun dari tidur,” Cladia melotot mendengar perkataan Ornado, antara percaya dan tidak percaya. Melihat reaksi Cladia, Ornado hanya tertawa pelan, tidak ada keinginannya untuk menceritakan bagaimana selama beberapa hari ini dia begitu memperhatikan apa yang dilakukan Cladia di kamar hotelnya. Setelah pukul 9 Cladia mematikan lampu kamarnya, bersiap untuk tidur, Ornado akan duduk di dekat jendela kamarnya untuk mengamatinya hingga lewat tengah malam, jika lampu tersebut tidak menyala lagi setelah lewat pukul 2 dini hari, baru Ornado akan bersiap untuk tidur, karena dari pengalaman yang dia tahu, Cladia biasa mengalami mimpi buruk antara pukul 11 malam sampai pukul 1 dini hari.
__ADS_1
“Sudah malam, sebaiknya kamu memaksa dirimu tidur demi bayi dalam kandunganmu juga, dia juga butuh istirahat, jaga kesehatanmu,” Ornado meletakkan gelas berisi coklat hangat yang sudah dihabiskannya, tersenyum pada Cladia, lalu bangkit dari duduknya. Cladia yang masih memegang gelas berisi coklat dengan kedua tangannya memandang ke arah Ornado.
“Ad, tinggallah disini untuk malam ini,” Ornado sedikit tersentak mendengar permintaan Cladia, begitu juga Cladia menyadari apa yang baru saja dikatakannya barusan. Tidak menyangka bibir dan tubuhnya akan mengkhianati pikirannya yang awalnya ingin menyuruh Ornado untuk segera meninggalkan kamarnya.
“Ah, tidak, maksudku bukan itu, jangan salah paham, tolong temani aku mengobrol malam ini agar aku bisa melupakan mimpi burukku,” Cladia langsung menundukkan wajahnya, karena menyadari pasti Ornado sedang menatapnya dengan senyuman di wajahnya.
“Ok, aku akan menemanimu mengobrol, duduklah di atas tempat tidur, supaya kamu merasa nyaman,” Cladia bangkit berdiri, melangkah ke arah tempat tidur dengan tidak habis pikir, kenapa dia begitu menurut dengan laki-laki itu, bahkan tidak ada ketakutan sedikitpun menyadari mereka hanya berdua di dalam kamar itu, dan lagi-lagi Cladia merasa dia pernah mengalami peristiwa sejenis ini sebelumnya.
Begitu Cladia duduk bersandar di atas tempat tidur, Ornado menarik selimut dan menutupi tubuh Cladia dengan selimut itu.
“Aku tidak berencana tidur, aku mau mengobrol denganmu,” Ornado tersenyum, lalu menarik kursi dan mendekatkannya ke samping tempat tidur Cladia, duduk di atas kursi itu sambil memandang ke arah Cladia.
“Aku tidak bilang kamu harus tidur, duduklah dengan nyaman sambil kita mengobrol,” Cladia tersenyum, diambilnya bantal dan dipeluknya di depan dadanya, Ornado tersenyum, teringat akan cerita Cladia sejak 11 tahun lalu dia punya kebiasaan untuk memeluk boneka beruang pemberiannya saat tidur, setelah mereka menikah Cladia lebih memilih memeluk bantal karena malu jika dia harus membawa boneka beruang itu bersamanya. Setelah kepulangan mereka dari Italia, beberapa hari sebelum terjadinya musibah yang harus mereka hadapi berturut-turut, Cladia lebih memilih tidur dalam pelukan Ornado.
Melihat saat ini Cladia kembali memeluk bantalnya membuat Ornado terdiam sesaat. Tentu saja dia sengaja menyuruh Cladia duduk di atas tempat tidurnya, mengharapkan saat mereka mengobrol Cladia akan tertidur dengan sendirinya.
Ah, aku harus memulai dari awal lagi denganmu Amore mio, tapi aku tidak akan pernah merasa keberatan asal itu denganmu, Ornado tersenyum, memandangi Cladia yang memeluk bantal sambil menopangkan kepalanya di atas bantal itu.
__ADS_1