
“Tidak bisa Cla, aku tidak setuju!” Nada bicara Jeremy sedikit naik mendengar permintaan Cladia yang baginya sangat tidak masuk akal. Niela menyentuh lengan Jeremy lembut, memberi tanda agar Jeremy mengendalikan emosinya. Ornado yang berdiri di samping Jeremy yang berhadapan dengan Cladia yang duduk di tepi ranjang rumah sakit hanya diam.
“Ad! Katakan sesuatu, apa kamu setuju dengan permintaan Cladia?” Ornado memandang wajah Cladia dalam-dalam, mendapat tatapan dari mata Ornado Cladia sedikit tertunduk, berusaha menghindari tatapan itu.
“Kamu meminta waktu untuk memenangkan diri, tidak masalah, tapi kamu tidak mau pulang ke rumahmu tapi tinggal di hotel untuk sementara waktu? Apa menurutmu itu masuk akal Cla?” Jeremy berusaha keras menekan nada suaranya agar tidak membuat Cladia tidak nyaman.
“Aku merasa tidak nyaman harus pulang ke rumah yang menurutku asing, tolong mengertilah kondisiku saat ini, aku benar-benar butuh waktu untuk memikirkan semuanya, mengingat semuanya,” Niela berjalan mendekat ke arah Cladia, lalu duduk disampingnya.
“Bagaimana kalau kamu pulang ke rumah Jeremy? Atau mungkin ke rumahku?” Cladia menggeleng mendengar penawaran dari Niela.
“Aku ingin sendirian, tolong beri aku waktu,” Saat ini Cladia ingin benar-benar sendiri, ingin berusaha mengingat semuanya tanpa dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya, dan satu hal yang paling diinginkannya saat ini. Menemukan pria yang bernama “Al” yang benar-benar mengusik pikirannya.
“Ad, katakan sesuatu, apa kamu setuju dengan apa yang diminta Cladia?” Jeremy bertanya dengan matanya memandang ke arah Ornado yang masih terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Ad, kalau kamu benar-benar mengharapkan kesembuhanku, tolong bantu aku kali ini untuk menyetujui permintaanku,” Ornado mengernyitkan keningnya, bukan karena Cladia memintanya untuk mengijinkan dia sementara tinggal di hotel, tapi karena mendengar Cladia memanggilnya dengan “Ad” bukan “Al” seperti biasanya. Ornado menarik nafas panjang, ditatapnya wajah Cladia dengan tatapan lembut.
“Apapun yang kamu inginkan asal kamu bahagia,” Ornado menjawab pertanyaan Cladia dengan suara sedikit bergetar karena jujur saja dia tidak rela Cladia keluar dari rumah sakit justru memilih tinggl di hotel, tidak pulang ke rumah. Mendengar jawaban Ornado, Cladia tersenyum lega.
“Terimakasih Ad. Ok kalau begitu aku akan segera pergi sekarang,” Dengan santai Cladia memberi tanda kepada Amalia untuk merapikan semua barang-barangnya dan membawanya keluar bersamanya, meninggalkan Jeremy, Niela dan Ornado yang hanya bisa terdiam melihat kepergian Cladia tanpa bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
“Ad, kenapa kamu membiarkan Cladia bertindak sembarangan seperti itu? Apa kamu sudah tidak perduli lagi padanya? Apa kamu sudah menyerah terhadap Cladia?” Ornado menarik nafas panjang, lalu menggerakkan kepalanya untuk memandang Jeremy.
“Biarkan dia melakukan apa yang menurutnya baik, aku juga akan melakukan apa yang menurutku baik, jangan khawatir, aku akan segera membawanya pulang kembali, membawanya kembali ke sisiku, karena berada di sisiku adalah takdirnya,” Mendengar kata-kata optimis dari Ornado, Jeremy terdiam, sedikit berpikir, tapi akhirnyadia hanya bisa pasrah karena tidak ada yang bisa dilakukannya, dia tahu sekeras apa karakter Cladia, tapi dia juga tahu, sekeras apa usaha Ornado selama ini untuk mendapatkan hati Cladia, di alam bawah sadar Cladia, pasti sosok Ornado masih bertahan di sana.
“Bu Cladia,” Mendengar Amalia menyebut namanya, Cladia yang sedang serius mengamati layar notebooknya mengangkat kepalanya. Begitu dilihatnya Amalia berdiri di depannya dengan seikat bunga mawar merah di tangannya Cladia langsung menarik nafas panjang.
“Seperti biasa, dari penghuni kamar seberang,” Cladia memberikan kode kepada Amalia untuk meletakkan buket mawar itu di meja yang ada di sebelah utara tempatnya duduk, Amalia hanya bisa tersenyum melihat respon Cladia dan bergegas meletakkan buket itu diatas meja, di dekat 3 buket bunga mawar lainnya yang berjajar rapi di atas meja.
Sejak Cladia memutuskan pindah ke hotel untuk sementara waktu, setiap pagi petugas hotel akan mengetuk kamarnya dan memberikan sebuah buket bunga mawar untuknya. Jika ditanya darimana datangnya buket itu petugas selalu menjawab dari seseorang yang tinggal di kamar hotel yang posisinya tepat di seberang kamar hotel yang ditempati Cladia.
Hari pertama dan kedua Cladia tidak terlalu memikirkan tentang siapa yang mengirimnya buket bunga itu, tapi kemarin tiba-tiba saja Cladia ingin membuka lebar-lebar jendela kamar hotelnya, berjalan ke arah balkon kamarnya, dan begitu pandangan matanya menatap ke arah kamar hotel yang tepat berada di seberang kamarnya, Cladia dapat melihat dengan jelas sosok seorang pria yang sedang berdiri dengan posisi sedikit membungkuk, dengan kedua siku tangannya menumpu pada pagar yang mengelilingi balkon kamarnya. Laki-laki itu menatapnya sambil tersenyum, sambil melambaikan tangan ke arahnya.
“Ornado Xanderson, keberadaanmu seperti hantu yang selalu mengikutiku,” Bibir Cladia mendesis pelan, lalu membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke kamarnya meninggalkan balkon.
“Bu…,” Cladia sedikit tersentak mendengar panggilan dari Amalia, buru-buru Cladia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan kejadian kemarin di balkon kamarnya.
“Bapak Ornado sungguh seorang suami yang romantis ya bu,” Cladia menatap ke arah Amalia, bagaimana dia tahu bahwa yang memberinya bunga-bunga itu adalah Ornado.
__ADS_1
“Kamu tahu darimana bunga-bunga itu dari Pak Ornado?” Amalia tersenyum mendengar pertanyaan Cladia.
“Tentu saja saya tahu Bu, setiap hari Bapak selalu mengirim pesan ke saya, menyakan bagaimana kabar ibu, apa ibu baik-baik saja, apa ibu sudah makan, apa yang dikerjakan ibu hari ini, bahkan bapak selalu menyakan apakah ibu suka dengan bunga yang beliau kirimkan.” Cladia membeliakkan matanya, ternyata selama 4 hari ini Amalia sudah menjadi mata-mata Ornado.
“Bu, jangan marah kepada Bapak, beliau melakukan semuanya itu untuk menunjukkan bahwa beliau sangat mencintai ibu. Saya dengar semua kamar hotel yang berseberangan dengan kamar ibu disewa oleh bapak, agar tidak ada yang bisa mengamati ibu dari jendela kamar-kamar itu kecuali Bapak,” Mendengar perkataan Amalia, Cladia langsung bangkit berdiri, berjalan menuju jendela kamar hotelnya, membukanya dan berjalan melangkah ke balkon. Dilihatnya di seberang sana Ornado sedang duduk dengan menyilangkan kaki kanannya, dengan matanya berkonsentrasi pada sebuah notebook yang ada di pangkuannya.
Ornado langsung menoleh ke arah meja di samping tempatnya duduk yang berbunyi karena adanya panggilan masuk ke handphonenya. Melihat nama siapa yang tertulis di layar handphonenya, Ornado langsung tersenyum dan matanya menatap ke depan, dimana tampak Cladia yang sedang berdiri di balkon kamarnya sambil memegang handphone di telinganya.
“Selamat pagi Amore mio,” Begitu mendengar sapaan dari Ornado di telpon, Cladia sedikit menahan nafasnya, mencoba mengatur suaranya sebelum dia berbicara.
“Apa maksudmu dengan mengirimkan aku buket mawar setiap hari?” Ornado menggerakkan sedikit bibirnya ke atas mendengar pertanyaan dari Cladia.
“Bukannya kamu sangat menyukai bunga mawar?”
“Tuan Ornado, kamu bukan anak kecil lagi, tindakanmu mengirim mawar bahkan sengaja menyewa seluruh kamar di blok depan kamarku, dan menjadikan Amalia sebagai mata-matamu sungguh kekanak-kanakan,” Ornado tertawa renyah mendengar protes dari Cladia.
“Nyonya Xanderson, tolong dimengerti, kita belum pernah melewati masa-masa pacaran, aku pikir, dengan kejadian ini Tuhan memberikan kesempatan pada kita untuk merasakan indahnya masa-masa berpacaran, anggap saja aku adalah pemuda yang sedang berusaha mengejar cinta gadis idamannya, pemuda yang sedang mencari jalan untuk mendapatkan gadis pujaannya,” Walaupun tidak bisa melihatnya, tapi Ornado bisa merasakan saat ini mata Cladia pasti melotot ke arahnya dengan pipi yang sedikit memerah menahan marah. Membayangkan penampakan Cladia seperti itu membuat Ornado tersenyum geli.
“Ad, mau sampai kapan kamu melakukan semua ini?” Ornado menutup note book di pangkuannya, lalu bangkit berdiri, berjalan mendekat ke arah pagar di balkon kamarnya dan melambaikan salah satu tangannya ke arah Cladia.
__ADS_1
“Sampai cintaku kembali ke sisiku,” Tanpa menunggu respon dari Cladia, Ornado mematikan panggilan telponnya, lalu membalikkan badannya untuk masuk ke kamarnya kembali, meninggalkan Cladia yang masih terdiam di tempatnya, merasakan dadanya yang tiba-tiba berdetak dengan keras karena ucapan Ornado barusan.