My Wild Rose

My Wild Rose
MELEPASKAN MAAF


__ADS_3

Dengan cepat Ornado membuka surel dari Robi tersebut dan mulai membacanya, dengan mata terlihat was-was Cladia ikut memandang ke arah layar handphonenya, ikut membaca dengan teliti apa yang tertulis disana.


Cla, saat kamu membaca surel ini aku sudah tidak ada lagi di Indonesia. Memang benar, aku seorang pengecut yang tidak berani bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat, seorang pengecut yang menginginkan milik orang lain. Aku mengatasnamakan cinta yang justru membuatmu menderita. Melihat dengan mata kepalaku sendiri begitu besarnya cinta Ornado padamu, aku merasa sangat malu pada diriku sendiri. Aku tidak memiliki hak untuk merebutmu dari Ornado yang bahkan tidak perduli pada dirinya sendiri saat dia ada di dekatmu. Cinta yang dimiiki Ornado kepadamu bukan sekedar kata-kata yang indah diucapkan, atau hanya sekedar keinginan besar untuk memilikimu sepenuhnya, tapi dia membuktikan cintanya padamu dengan perbuatannya. Aku sebagai laki-laki harus mengakui bahwa dia laki-laki hebat yang sulit untuk ditemukan dan ditandingi. Aku benar-benar menyesal atas segala yang terjadi. Dari info yang aku dapat Ornado sukses dalam menjalani operasinya, aku harap dia segera pulih, dan bisa kembali bersamamu dan melindungimu kembali. Walaupun aku tidak berharap kalian bisa memaafkanku, dengan tulus aku meminta maaf pada kalian atas dosa yang sudah aku lakukan kepada kalian. Setelah melakukan kesalahan besar itu aku berusaha untuk lari dari tanggung jawab, tapi justru itu benar-benar membuatku tersiksa dalam rasa bersalah yang selalu menghatuiku, aku merasa sudah berubah menjadi seorang monster yang kejam, bahkan untuk bertemu lagi denganmu aku merasa sudah tidak pantas. Untuk membuktikan ketulusanku, aku mengirimkan lokasi keberadaanku sekarang. Jika kalian ingin aku mempertangungjawabkan kesalahanku, aku tahu bukan masalah sulit untuk Ornado memerintahkan anak buahnya menemukanku dan membawaku kepada kalian. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Aku benar-benar berdoa untuk kebahagiaan kalian di masa depan.


Selesai membaca surel dari Robi, Cladia dan Ornado saling berpandang-pandangan. Ornado sedikit menjauhkan tubuhnya dari Cladia, kembali pada posisinya bersandar pada sandaran ranjang rumah sakitnya, lalu sedikit menggeser tubuhnya ke samping kiri, telapak tangan kanannya menepuk-nepuk tempat tidur di sampingnya.


“Amore mio, duduklah disini,” Dengan gerakan pelan Cladia menuruti perintah Ornado untuk duduk di sampingnya, di atas tempat tidur. Cladia tidak perlu merasa khawatir, karena ranjang rumah sakit yang ditempati Ornado lebih seperti tempat tidur di rumah dengan lebar ranjang yang lebih dari 160 cm karena fasilitas khusus dari para penghuni kamar rawat inap VVIP.


Begitu Cladia duduk disampingnya, tangan kanan Ornado mengelus perut Cladia dengan lembut, kepalanya langsung menunduk, dengan matanya memandangi perut Cladia dengan pandangan yang begitu lembut dan mesra.


“Selamat pagi nak, bagaimana kabarmu hari ini? Maafkan papa karena 2 hari tidak menyapamu. Apa kamu baik-baik saja disana? Pasti rasanya nyaman sekali berada di dalam perut mama ya? Kamu harus jadi anak yang kuat, tetap sehat disana ya, papa dan mama sangat mencintaimu,” Cladia tersenyum mendengar ocehan Ornado yang ditujukan kepada bayi dalam kandungannya.


“Al…,” Cladia memangggil Ornado dengan suara lirih. Ornado langsung mengalihkan pandangan matanya dari perut Cladia ke arah wajah Cladia.


“Al…,” Cladia kembali memanggil nama Ornado karena Ornado hanya memandangnya tanpa berkata sepatah katapun padanya, terutama tentang surel dari Robi yang baru saja mereka baca, seolah-olah barusan tidak terjadi apa-apa.


“Hmmm…,” Ornado hanya menjawab panggilan Cladia dengan suara  gumaman pelan.


“Al, kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa tentang surel dari Kak Robi?” Ornado menggerakkan tangannya ke kepala Cladia bagian belakang lalu mengelus-elusnya dengan lembut.


“Katakan padaku, apa yang kamu inginkan untuk aku lakukan kepada Robi? Katakan saja, aku akan melakukannya untukmu. Kamu ingin aku membawanya ke hadapanmu untuk meminta ampun? Kamu ingin aku melakukan hal sama dengan yang sudah dia lakukan padamu dan padaku? Haruskah aku menembaknya? Atau kamu ingin aku menghancurkan bisnis dan keluarganya? Atau bahkan kamu ingin aku membunuhnya?” Cladia menggeleng kuat-kuat mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Ornado yang terdengar mengerikan di telinganya.


“Aku tidak suka dengan tindakan balas dendam,” Cladia berkata lirih dengan kepala sedikit menunduk.


“Ahhh…,” Ornado mengeluarkan suara lenguhan pelan yang membuat Cladia langsung memandang ke arahnya, dan begitu Cladia memandangnya Ornado langsung tersenyum.


“Itulah susahnya memiliki istri yang begitu baik hati, tidak ada keinginan untuk membalas, ataupun keinginan untuk menuntut balik, apalagi menyakiti orang lain walaupun sudah disakiti habis-habisan,” Cladia sedikit terbeliak, merasa heran bagaimana Ornado bisa menebak apa yang dipikirannya.


“Jangan berwajah kaget seperti itu, sudah 21 tahun aku tahu hal sekecil apapun tentang kamu. Bahkan bagaimana kamu melepaskan Amalia begitu saja tanpa beban mengetahui dia sudah menjadi informan bagi Robi.” Cladia kembali membeliakkan matanya, benar-benar kaget darimana Ornado tahu tentang pengakuan Amalia kepadanya.


“Tapi Amalia tidak bersalah, dia hanya dimanfaatkan…,” Ornado langsung menutup bibir Cladia dengan telapak tangannya.


“Jangan diteruskan…, aku tahu semuanya tanpa kamu harus menceritakannya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan sifatmu, bagaimana kamu tidak memiliki keinginan untuk membalas kejahatan mereka. Kalau aku di posisimu, sudah pasti aku akan menghancurkan mereka,” Cladia melepas telapak tangan Ornado yang menutupi bibirnya.

__ADS_1


“Jangan melakukan sesuatu yang kejam kepada orang lain Al, pembalasan bukan hak kita. Saat seseorang meminta maaf kepada kita, sudah jadi kewajiban kita untuk memaafkannya, memberinya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik lagi, kalau kita membalas dendam pada seseorang, ada kemungkinan dia atau orang lain akan membalas kita juga, akhirnya dendam itu akan selalu berputar-putar, saling berbalas-balasan, kita harus memutuskan rantai dendam itu dengan tidak membalas dendam lagi,” Ornado tersenyum, ditariknya kepala Cladia ke arahnya, lalu diciumnya leher Cladia lembut sambil berbisik.


“Apapun yang kamu inginkan Amore mio. Dari awal melihat respon wajahmu membaca surel dari Robi, aku sudah tahu kamu tidak tertarik sama sekali untuk mengetahui lokasi dimana dia berada sekarang, yang artinya kamu tidak ingin melakukan pembalasan apapun padanya. Sebagai suaminya, aku hanya bisa pasrah memiliki istri yang terlalu baik sepertimu,” Cladia tersenyum mendengar penjelasan Ornado, Cladia benar-benar bahagia  mendengar kata-kata Ornado yang memperbolehkannya untuk melupakan masalah itu.


“Amore mio…,” Ornado memanggil Cladia dengan posisi bibirnya masih menempel di lehernya.


“Kenapa Al?”


“Kapan kita pulang ke rumah? Rasanya aku sudah tidak sabar melakukan apa yang seharusnya kita lakukan,” Cladia menoleh, membuat lehernya menjauh dari bibir Ornado yang langsung memandang ke arah Cladia.


“Memang apa yang seharusnya kita lakukan?” Ornado tersenyum mendengar pertanyaan polos Cladia.


“Yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri yang saling mencintai,” Mendengar jawaban Ornado membuat pipi Cladia memerah dengan cepat, dan dadanya berdegup dengan kencang.


“Sifat polos dan malu-malumu selalu membuatku tidak bisa untuk menahan diri menghadapimu. Kalau saja ini bukan di rumah sakit…,” Cladia langsung bergegas turun dari tempat tidur Ornado mendengar kata-katanya barusan, membuat Ornado terkikik, kemudian sedikit meringis karena merasakan sakit di punggungnya jika dia tertawa, karena membuat tubuhnya tergoncang.





“Al, Laurel baru saja mengirimkan pesan bahwa sebentar lagi dia akan kesini, membawa hasil pemeriksaanmu,” Ornado yang sedang melihat televisi di depannya menurunkan volume suara televisi dan menoleh ke arah Cladia.


“Aku harap aku bisa segera kembali ke rumah, rasanya sama sekali tidak nyaman berada di rumah sakit,” Cladia terkikik mendengar keluhan Ornado.


“Hanya orang aneh yang merasa tinggal di rumah sakit lebih nyaman dari rumah sendiri,” Tangan Ornado langsung mengelus puncak kepala Cladia mendengar perkataan Cladia.


“Aku ingin segera pulang, agar aku bisa bebas melakukan apapun berdua denganmu, di rumah kita, terutama di kamar kita,” Cladia melotot mendengar perkataan Ornado, jari-jarinya sudah bersiap untuk mencubit lengan Ornado tapi terhenti karena suara pintu dibuka, dan begitu mereka menoleh, tampak Jeremy dan Tante Ema muncul dari balik pintu.


"Ah, Tante Ema dan Jeremy, untung kalian segera datang, istriku baru saja hendak melakukan penyiksaan kepadaku," Cladia langsung melotot mendengar perkataan Orando, sedang Tante Ema dan Jeremy langsung tertawa kecil yang menunjukkan bahwa mereka tidak percaya pada yang baru saja dikatakan Ornado. Tante Ema berjalan mendekat, meletakkan sebuah tas berisi makanan di atas meja.


"Tante memang yang terbaik, benar-benar mengerti aku tidak pernah suka dengan makanan rumah sakit," Ornado melirik ke arah tantenya yang langsung mendekat dan mencium kening Ornado.


"Aku membawakan makanan buat Cladia, bukan untuk kamu, lebih baik kamu makan makanan dari rumah sakit karena memang sudah diperuntukkan pasien yang sakit," Cladia terkikik mendengar perkataan Tante Ema yang sukses membuat Ornado menarik nafas panjang pura-pura menunjukkan rasa kecewanya.


"Cla, sudah siang, makanlah dulu, sudah seharian kamu di rumah sakit menjaga tuan besar kita," Mendengar perkataan Tante Ema, Cladia langsung tersenyum geli, sambil tangannya membuka makanan yang sudah dibawa Tante Ema untuknya. Begitu penutup tempat makanan dibuka, Ornado langsung menoleh karena bau harum masakan yang langsung menerpa hidungnya.

__ADS_1


"Ah..., Tante pasti memasak daging rendang untukmu," Ornado berkata sambil hidungnya menghirup bau harum bumbu rendang yang begitu menggodanya. Cladia segera mengambil sendok untuk mulai memakan makanan itu, rendang dengan sayur nangka muda, membuat Ornado menelan ludahnya. Melihat wajah Ornado yang begitu menginginkan makanan yang sedang dia makan, dengan spontan Cladia menyuapkan makanan itu ke mulut Ornado yang langsung menyambutnya.


"Istriku memang yang terbaik," Ornado, langsung menggerakkan bibirnya untuk mencium pipi Cladia yang langsung tersipu, Jeremy yang melihat tindakan Ornado hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, ikut bahagia melihat mereka berdua.


"Al, setelah ini biar Cladia pulang ke rumah untuk beristirahat, Tante akan menggantikannya untuk menjagamu," Mendengar perkataan Tante Ema, Ornado langsung memandang wajah Cladia sambil tersenyum, walaupun ada sedikit rasa tidak rela, sepertinya memang itu pilihan terbaik agar Cladia bisa beristirahat sebentar di rumah.


“Aku baik-baik saja Tante, nanti sore aku kembali ke rumah,” Ornado langsung mencekal tangan Cladia lembut.


“Pulanglah dulu, nanti sore kamu bisa kesini lagi, toh kemungkinan besar besok aku pasti sudah boleh pulang,” Cladia menarik nafas panjang, diam untuk beberapa saat untuk berpikir.


“Baiklah, nanti sore aku akan kesini lagi, aku juga sedang menunggu kiriman vitamin dari dari temanku hari ini,” Cladia kembali meneruskan makannya sembari menyuapi Ornado.


Setelah Cladia menyelesaikan makannya, Tante Ema segera mendekat ke arah Cladia.


“Lebih baik kamu pulang sekarang, sopir sudah siap mengantarmu pulang,” Cladia menoleh ke arah Jeremy.


“Kak, apa tidak lebih baik aku pulang bersama kakak?” Jeremy langsung tersenyum mendengar pertanyaan Cladia.


“Kenapa? Sepertinya kamu masih tidak rela meninggalkan suamimu disini? Aku masih ada beberapa hal yang mau kubicarakan dengan Ad masalah event kita di kota lain,”


“Aku akan menunggu kakak selesai dengan Al,” Cladia mejawab cepat perkataan Jeremy.


“Tidak, lebih baik kamu pulang sekarang kalau nanti sore ingin kembali kesini. Yang mau aku bahas dengan Jeremy belum tentu cuma sebentar,” Ornado berkata sambil menyentuh lengan Cladia lembut, membuat Cladia menoleh ke arahnya. Begitu Cladia menoleh ke arahnya, Ornado tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, sebagai tanda dia memohon untuk Cladia menuruti perkataannya, dengan sedikit menarik nafas panjang dan menaikkan alisnya, akhirnya Cladia mengangguk mengiyakan.


“Baiklah, aku akan pulang ke rumah dulu Al, nanti sore aku kesini lagi,” Cladia baru saja hendak membalikkan tubuhnya, tapi tangan kanan Ornado bergerak dengan lebih cepat menarik tubuhnya agar mendekat ke arahnya, lalu dengan cepat Ornado meraih tengkuk Cladia ke arah wajahnya.


“Berikan aku doping (doping adalah upaya meningkatkan peforma atau prestasi yang biasa digunakan oleh para atlet dengan mengkonsumsi zat-zat atau obat-obatan tertentu) untuk membuatku semangat hari ini,” Tanpa menunggu jawaban Cladia, Ornado langsung mendekatkan bibir Cladia ke bibirnya sendiri dan menciumnya lembut, membuat dengan spontan Cladia menarik kepalanya untuk menjauhkan bibirnya dari Ornado karena menyadari ada Jeremy dan Tante Ema di ruangan itu, sedang Ornado kali ini sengaja menahan tenaganya, membiarkan Cladia melepaskan diri darinya sambil tersenyum geli. Melihat itu lagi-lagi Tante Ema dan Jeremy hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Hati-hati di jalan Amore mio,” Cladia hanya menjawab perkataan Ornado dengan sebuah anggukan kecil, dan dengan buru-buru langsung membalikkan badannya, berjalan ke arah pintu keluar.


“Aku pulang dulu Tante Ema, Kak Jeremy,” Cladia berbisik pelan dan langsung keluar dari kamar karena tidak ingin Jeremy dan Tante Ema melihat rona merah di wajahnya akibat perbuatan Ornado barusan.


Sampai di luar kamar Cladia berhenti sejenak, menarik nafas panjang sambil tersenyum, memegang dadanya yang masih terasa berdegup kencang dengan telapak tangan kanannya, kemudian sedikit mengangguk kepada dua pengawal yang berjaga di depan pintu kamar Ornado dirawat, lalu berjalan menyusuri lorong rumah sakit tanpa menyadari ada seseorang yang sejak dia keluar dari pintu kamar Ornado mengamati setiap gerak geriknya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2