
"Ah, aku mencari kalian kemana-mana," Alberto mendekati Ornado dan Cladia yang berdiri di dekat sebuah pagar tanaman.
"Ada apa pa?" Ornado tersenyum melihat papanya yang berjalan ke arah mereka berdua bersama dengan Om Setiawan.
"Om Setiawan mau mengenalkan kalian pada anaknya yang akan menikah,"
“Ok, ayo kita kesana,” Ornado dan Cladia berjalan mengikuti Alberto dan Om Setiawan yang berjalan ke arah selatan taman tempat diadakannya acara pesta, Cladia berjalan di samping Ornado sambil memegang jas Ornado yang masih dipakainya karena cuaca yang cukup dingin dengan angin bertiup cukup kencang di pesta taman malam itu.
"Reno, bawa Liana kemari, papa perkenalkan kalian dengan Tuan Xanderson," Mendengar panggilan dari Om Setiawan, pasangan calon pengantin yang sedang berbincang dengan orang lain itu tampak menoleh ke arah Om Setiawan. Begitu mereka pasangan calon pengantin itu menoleh dan mulai melangkah mendekat, tanpa sadar Cladia langsung mundur beberapa langkah, dengan wajah ketakutan dan mata melotot kaget, keringat dingin langsung membasahi keningnya. Ornado yang ada di sampingnya reflek memandang ke arah Cladia.
"Edo..." Bibir Cladia yang tampak pucat dan bergetar, kakinya yang tiba-tiba lemas berusaha menahan badannya agar tidak terjatuh, membisikkan sebuah nama yang langsung membuat Ornado memandang heran ke arah calon pengantin yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Cla, kamu kenapa?" Ornado memandang ke arah wajah Cladia dengan cemas.
"Al, tolong aku...., bawa aku pergi dari sini, tolong....," Ornado segera menepuk bahu papanya lembut.
"Pa, maaf, Cladia benar-benar tidak enak badan, aku harus segera membawanya pergi sekarang," Alberto yang awalnya tidak menyadari apa yang terjadi karena fokus pada pasangan yang berjalan menuju ke arahnya mengalihkan pandangannya ke arah Cladia, dilihatnya wajah Cladia yang pucat dan dipenuhi keringat dingin.
"Ah, ya, segera bawa Cladia pergi Ad, maaf Pak Setiawan, menantuku sedang tidak enak badan, mereka akan pulang sekarang," Om Setiawan menoleh, memandang sekilas ke arah Cladia dan buru-buru mengangguk melihat kondisinya.
"Aku akan telp sopir lain untuk menjemput papa," Cladia dan Ornado segera membalikkan badannya dan melangkah pergi. Tanpa sadar Cladia kembali memegang erat pakaian Ornado, kali ini tangan kanan Cladia memegang erat rompi jas Ornado, nafas Cladia mulai tersengal-sengal, tangan kirinya memegang dadanya yang terasa sesak.
Ornado berkali-kali menarik nafas panjang, wajahnya terlihat benar-benar gusar, ingin sekali rasanya dia langsung mengangkat tubuh Cladia dan membawanya berlari menuju mobil, tapi Ornado tahu pasti tindakannya itu akan membuat kondisi Cladia semakin parah. Begitu melihat kedatangan tuannya sopir Ornado dengan sigap membukakan pintu mobil.
"Masuklah, hati-hati Cla," Begitu Cladia masuk Ornado segera berlari ke arah pintu sebaliknya dan masuk ke mobilnya, duduk di samping Cladia dengan tetap menjaga jarak antara dia dan Cladia.
“Kita kemana Tuan?” Sopir Ornado bersiap meluncur, menunggu perintah dari tuannya.
"Apakah kita perlu ke rumah sakit sekarang Cla?" Ornado menatap Cladia dengan wajah cemas, Cladia buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak perlu Al, kita pulang saja," Cladia berbisik lirih dengan kedua tangannya meremas gaun di bagian pahanya dengan erat.
“Antar kami pulang,” Sopir Ornado langsung mengangguk dan mengendarai mobil itu untuk pulang ke rumah.
"Atau kamu mau aku panggil dokter Renata untuk datang ke rumah? Jeremy memberikanku nomer dokter Renata dan berpesan kalau kamu sakit bisa memanggilnya sewaktu-waktu," Cladia kembali menggeleng.
__ADS_1
"Tidak Al, tidak perlu," Badan Cladia menggigil, airmatanya menetes perlahan membasahi pipinya, wajahnya begitu ketakutan, dan apa yang dilihat Ornado semakin membuat Ornado tertekan karena tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu Cladia.
"Al, aku takut....takut sekali," Dan tangis Cladia akhirnya pecah, tangan Ornado sudah terulur siap untuk memeluk Cladia, tapi segera dia menggenggam tangannya dan menariknya kembali. Sepanjang perjalanan Ornado lebih banyak diam, membiarkan Cladia meluapkan emosi dengan tangisannya, pandangan matanya tetap tidak lepas dari Cladia, menatapnya dengan sedih, merasa menjadi suami yang tidak berguna, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Cepat bantu nyonya, bawa ke kamar," Ornado langsung berteriak begitu dia turun dari mobil dan membuka pintu ruang tamu, dua orang pelayan yang ada di ruang tamu buru-buru berlari ke arah mobil, membantu Cladia untuk turun dari mobil dan membawanya ke kamar, Ornado mengikuti di belakang mereka.
"Tolong bantu nyonya untuk berganti pakaian," Ornado berjalan keluar kamar dan menutup pintu kamarnya. Buru-buru diraihnya telpnya dan ditekannya kontak Jeremy.
Cladia terduduk di atas kasur dengan punggungnya bersandar pada sandaran tempat tidur dengan tatapan mata kosong. Ketika didengarnya suara pintu dibuka baru Cladia mengalihkan pandangan matanya ke arah sumber suara. Dilihatnya Ornado yang terlihat sudah berganti pakaian masuk ke kamar, melangkah mendekati tempat tidur. Tangan kiri Ornado menarik kursi dari meja rias, meletakkan di samping tempat tidur dimana Cladia duduk, Ornado mengambil posisi duduk di kursi yang baru dipindahkannya. Badan Ornado sedikit membungkuk dengan kedua tangannya menopang di atas pahanya, matanya memandang ke arah Cladia, menatapnya dengan lembut, berusaha menenangkan Cladia dengan tatapannya yang terlihat memancarkan aura begitu melindungi.
"Al,"
"Cla," Mereka saling bersamaan menyebut nama lawan bicaranya, Ornado kembali tersenyum.
"Kamu duluan," Cladia menarik nafas panjang.
"Terimakasih untuk hari ini," Cladia memandangi wajah Ornado, Cladia bisa melihat dengan jelas kecemasan masih tergambar di wajah pria itu.
Kamu pria yang baik Al, kamu terlalu baik padaku Al, Cladia berbisik dalam hati, tanpa disadarinya air matanya kembali menetes di pipinya, kali ini bukan lagi karena ketakutan, Cladia langsung mengerjap-ngerjapkan matanya agar air matanya tidak bertambah deras.
"Cla, apa yang bisa aku bantu untuk membuatmu bisa tenang?" Ornado sedikit menundukkan kepalanya, matanya menatap tempat tidur di depannya. Dia teringat telpnya dengan Jeremy sebelum masuk ke kamar. Edo, Ornado mencoba menebak-nebak apa yang terjadi, sehingga tadi di pesta Cladia membisikkan nama Edo.
Ornado yakin 5 tahun lalu Edo dijatuhi hukuman seumur hidup, dan kalau sampai laki-laki itu melarikan diri dari penjara pasti informannya akan memberitahukan kepadanya. Kalau memang posisi Edo masih di penjara, bagaimana mungkin Cladia tiba-tiba menyebutkan nama itu. Dan barusan James memastikan bahwa Edo masih ada di dalam penjara. Jadi siapa laki-lakiyang dianggap Edo oleh Cladia?
"Al, tadi aku melihat pria yang benar-benar mirip dengan Edo," Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Ornado, Cladia segera menjawab pertanyaan Ornado. Ornado langsung mengangkat kepalanya, matanya sedikit terbeliak mendengar apa yang barusan dikatakan Cladia. Cladia menarik nafas dalam-dalam, bagaimanapun dia tahu bahwa Ornado tahu betul tentang kejadian 5 tahun lalu, karena saat kejadian 5 tahun lalu ketika Jeremy melakukan panggilan telp dengan Ornado dan menceritakan tentang apa yang dialami Cladia, kebetulan Cladia ada di balik pintu kamar Jeremy.
Cladia tahu jauh sebelum kejadian itu Ornado dan Jeremy sering bertukar info tentang kondisi mereka masing-masing karena walaupun terpisah jarak, mereka tetap bersahabat dan melakukan bisnis bersama, bahkan seperti yang dikatakan Jeremy belum lama ini, Jeremy seringkali berangkat ke Itali untuk perjalanan bisnisnya menemui Ornado.
Saat itu Cladia belum tahu tentang surat wasiat itu, walaupun begitu, kalau tidak ada kejadian 5 tahun lalu, pasti Cladia tidak akan menolak pria yang sekarang duduk di hadapannya dengan wajah mencemaskan dirinya itu. Kalau tidak ada kejadian 5 tahun lalu pasti saat ini dia akan mempunyai kehidupan pernikahan yang bahagia dengan Ornado.
"Apakah anak Om Setiawan mirip Edo?" Cladia menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Ornado.
"Bukan anak Om Setiawan, tapi orang yang diajak bicara mereka sebelum Om Setiawan memanggil mereka,"
__ADS_1
Ah, sayang sekali aku tidak memperhatikan wajah pria itu, aku pikir tadi Cladia memandang ke arah anak Om Setiawan, ternyata aku salah, Ornado mengangkat kedua tangannya sehingga hanya sikunya yang ada di atas pahanya, kedua telapak tangannya telangkup di depan bibir dan hidungnya, terlihat jelas dia sedang memikirkan sesuatu.
“Al….,” Ornado menyingkirkan tangannya dari wajahnya dan memandang Cladia mendengar namanya dipanggil.
“Jangan khawatir, James akan mengurusnya, aku akan hubungi dia supaya menyelidiki siapa pria yang kamu lihat tadi. Untuk masalah Edo, James sudah pastikan dia ada di penjara, dia tidak akan bisa menyakitimu,” Cladia mengangguk pelan.
“Cla, sebelum aku ke kamar, ada telp dari Itali, besok aku harus kembali kesana, ada beberapa masalah yang harus aku selesaikan karena tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Selama aku di Itali, lebih baik mulai besok kamu tidak masuk kerja dulu, istirahatlah di rumah untuk sementara waktu,” Cladia buru-buru menggeleng.
“Aku baik-baik saja, tidak perlu seperti itu, aku harus selesaikan masalah event kerjasama Bumi Asia dan Sanjaya, supaya semua bisa berjalan dengan lancar, waktu kita sudah tidak banyak lagi,” Ornado mengernyitkan dahinya, berpikir apakah benar Cladia ingin segera menyelesaikan tugasnya karena tanggung jawab menjadi satu-satunya alasan, atau karena dia berusaha untuk segera meninggalkan kantor Bumi Asia untuk menghindarinya? Walaupun sikap Cladia tidak sedingin dulu padanya, tapi dengan peristiwa tadi di pesta cukup membuat Ornado khawatir Cladia akan semakin menjaga jarak dengannya.
“Kalau begitu, aku akan aturkan James setiap hari bisa menemanimu berangkat ke kantor,” Cladia sedikit menggerakkan badannya menjauhi Ornado.
“Jangan, tidak perlu, maaf Al, aku….., tidak terlalu nyaman jika James terlalu dekat denganku,” Ornado terkesiap sejenak, ah, dia sempat lupa tentang hal itu, bagaimanapun, Cladia pasti tidak ingin orang lain tahu tentang kondisinya, sedangkan dengan dia, mungkin Cladia lebih bisa mentolerir karena Cladia sadar Ornado tahu kondisinya dan tidak akan melakukan hal-hal yang akan membuatnya takut. Ornado tersenyum dalam hati, paling tidak saat ini selain Jeremy, rasanya pria yang bisa sedekat ini dengan Cladia hanya dirinya, bagaimanapun di hadapannya, Cladia bisa bertindak seperti apa adanya dirinya, tanpa takut dipandang aneh.
“Oke, kalau begitu, aku akan aturkan pengawal pribadi untukmu,” Cladia mengernyitkan alisnya, dia menolak James, justru Ornado menggantinya dengan pengawal pribadi? Apa dia tidak salah dengar?
“Tenang saja, mereka wanita, bukan pria,” Ornado menjawab sambil tersenyum, seolah tahu apa yang baru saja dipikirkan Cladia.
“Rasanya tindakan itu terlalu berlebihan Al,” Ornado melipat kedua tangannya.
“Hanya ada dua pilihan, pengawal pribadi atau kamu meliburkan diri dari pekerjaanmu selama aku tidak disini,” Tanpa menjawab Cladia hanya menarik nafas panjang, dengan wajah tidak terima tapi tidak mengeluarkan kata-kata dari mulutnya dan Ornado sudah tahu itu artinya Cladia memilih option pertama.
“Berapa lama kamu akan di Italia?” Ornado sedikit kaget dengan pertanyaan Cladia. Dengan pertanyaan itu dia sedikit berharap Cladia tidak ingin dia terlalu lama di Itali, dan segera kembali.
“Hanya 5 hari, aku akan berangkat dengan jet pribadi bersama Papa dan Amadea,” Cladia berusaha menutupi kegelisahannya yang tiba-tiba muncul karena Ornado menyebutkan Amadea akan bergabung bersama Ornado dalam jet pribadinya. Walaupun bukan hanya mereka berdua, ada mertuanya, tapi ada sedikit rasa tidak nyaman di dadanya mendengar barusan Ornado menyebutkan nama Amadea, yang bagi telinga Cladia terdengar lembut.
Kalau mereka tidak memiliki hubungan yang cukup dekat dan istimewa, bagaimana mungkin Amadea bisa menaiki jet pribadi milik Grup Xanderson. Kalau Cuma sekedar hubungan bisnis rasanya tidak akan mungkin sampai seperti itu.
“Cla,” Panggilan Ornado sedikit mengejutkan Cladia yang sedang melamun, ketika dia menoleh ke arah Ornado, pria itu sudah bangkit dari duduknya, berdiri di samping tempat tidur.
“Sudah malam, kamu perlu istirahat, jangan berpikir macam-macam, tenangkan pikiranmu,” Cladia mendongak memandangi Ornado, kemudian mengangguk pelan, Ornado membalikkan tubuhnya, bersiap untuk melangkah ke arah sofa untuk tidur, tiba-tiba…….
“Al,” Cladia menarik pelan piyama yang dikenakan Ornado dengan ujung jari telunjuk dan jempolnya.
“Bisakah……., kamu menemaniku tidur di sampingku malam ini?” Mendengar perkataan Cladia yang terdengar lirih, Ornado benar-benar kaget, matanya melotot, dia langsung membalikkan badannya, matanya memandang ke arah Cladia yang mendongakkan wajahnya ke arahnya, dengan pandangan mata serius.
__ADS_1