My Wild Rose

My Wild Rose
KEMBALI KE KANTOR BUMI ASIA


__ADS_3

Begitu pintu ruang kerja Cladia terbuka, Amalia yang sedang berdiri di depan meja kerja Cladia, menunggu kembalinya Cladia dari toilet langsung menoleh dan terlihat kaget begitu melihat Ornado yang masuk ke dalam ruangan Cladia dengan posisi menggendong tubuh Cladia yang terlihat sedikit menggigil.


"Ibu Cladia? Apa yang terjadi?" Amalia segera berlari mendekat ke arah sofa, merapikan bantal kursi yang ada di atasnya, menyingkirkannya ke bagian ujung sofa. Ornado berjalan menyusul Amalia ke arah sofa, dengan lembut diciumnya kening Cladia sebelum akhirnya Ornado meletakkan tubuh Cladia di atas sofa dengan hati-hati dalam posisi duduk.


"Tolong ambilkan coklat hangat untuk Ibu Cladia," Tanpa menunggu diperintah dua kali Amalia bergegas keluar dengan setengah berlari keluar dari ruangan untuk menuruti permintaan Ornado. Ornado mengambil posisi duduk di samping Cladia, di sebelah kanannya, dan langsung meraih kedua tangan Cladia, merangkumnya dalam genggaman kedua tangannya, meletakkannya di depan hidungnya.


"Apa kamu baik-baik saja Amore mio? Ada aku disini, jangan khawatir," Cladia menganggukkan kepalanya, badannya masih terlihat sedikit menggigil, dadanya masih terasa begitu berdebar-debar dan sedikit sesak mengingat apa yang barusan Robi hendak lakukan padanya.


Cladia benar-benar takut saat mengingat tangan Robi yang berusaha meraihnya tadi, bayangan tentang Edo 5 tahun lalu kembali terlintas di pikirannya. Bayangan tentang tangan kiri Edo yang berusaha meraihnya, sedangkan tangan kanannya berusaha menghujamkan pisau ke arahnya dengan membabi buta, berusaha untuk membunuhnya seperti dia membunuh Dina. Bayangan darah Dina yang menggenang membasahi lantai rumahnya begitu jelas terbayang di pikiran Cladia. Cladia benar-benar tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kalau saja Ornado tidak muncul tepat pada waktunya, bisa jadi dia akan pingsan di hadapan Robi.


Ornado menggerakkan tangan kirinya ke arah bahu Cladia, melingkarkan lengan tangan kirinya dan menarik lembut tubuh Cladia ke dalam pelukannya, dengan tangan kanannya masih merangkum kedua tangan Cladia yang masih gemetar dan basah karena keringat dingin.


"Tenanglah, aku disini, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, aku akan selalu ada untuk melindungimu," Tangan kiri Ornado bergerak mengelus-elus kepala bagian belakang Cladia sampai dengan punggungnya dengan lembut, sedang Cladia membiarkan kepalanya sedikit tertunduk, bagian samping kanan kepalanya menopang pada bahu kiri Ornado.


Sebentar kemudian terdengar suara ketukan dari arah pintu kantor Cladia. Mendengar suara ketukan pelan dari arah pintu, Cladia mengangkat kepalanya, menjauhkannya diri dari bahu kiri Ornado.


"Masuk," Suara jawaban dari Ornado membuat Amalia membuka pintu dengan perlahan dan langsung mendekat ke arah sofa sambil membawa sebuah nampan, di atasnya terlihat sebuah gelas berisi coklat hangat.


"Ini coklat hangatnya Bu Cladia," Amalia yang baru saja memasuki ruang Cladia kembali langsung menyodorkan gelas berisi coklat hangat ke arah Cladia. Ornado langsung meraih gelas tersebut, mengecapnya sedikit untuk mengecek apakah coklat itu sudah cukup hangat atau masih terlalu panas. Setelah dirasa suhu coklat hangat sesuai dengan keinginannya, dengan tangan kanannya Ornado mendekatkan gelas berisi coklat hangat ke bibir Cladia, membantu Cladia untuk meneguk coklat hangat tersebut sedang tangan kirinya masih melingkar di bahu Cladia.

__ADS_1


"Kamu bisa meninggalkan ruangan ini Amalia, jika kami perlu sesuatu kami akan memanggilmu," Mendengar perintah dari Ornado yang terdengar tegas dan tidak bisa dibantah, Amalia mengangguk dan langsung membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan ruangan itu, sekilas diliriknya wajah Cladia dengan cemas,  walaupun dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi, yang membuat Cladia menjadi seperti itu, tetapi dia sungguh berharap apapun yang terjadi tadi kondisi pimpinannya segera membaik.


Sejak Amalia menjadi asisten Cladia, bahkan sejak Cladia masih menyelesaikan kuliahnya dulu (Walaupun tidak secara resmi bekerja di kantor Sanjaya, sejak kuliah Cladia sudah banyak membantu perkerjaan Jeremy dan mengangkat Amalia menjadi asistennya), Amalia begitu menghormati dan menyukai Cladia. Cantik, cerdas, baik hati dan tidak pernah membedakan status, 4 kata itu merupakan gambaran yang bisa Amalia berikan untuk menjelaskan sosok Cladia sebagai pemimpin yang disayanginya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Amalia segera meninggalkan ruangan Cladia.


Ornado meletakkan gelas berisi coklat hangat yang masih tersisa setengah ke atas meja di depannya. Cladia yang sudah lebih tenang menarik nafas panjang, dipandanginya wajah Ornado yang masih tampak cemas.


"Apa si kecil baik-baik saja? Apa kejadian hari ini membuatnya kaget?" Ornado meletakkan telapak tangannya ke perut Cladia yang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Ornado, memberi tanda bahwa perutnya baik-baik saja.


"Kenapa tiba-tiba kamu ke Sanjaya?" Mendengar pertanyaan Cladia, tangan Ornado langsung meraih kembali kepala Cladia, menariknya ke dadanya dan mengelusnya lembut.


"Sepanjang pagi ini perasaanku tidak enak mengingat tentang pesan dari Robi tadi pagi, membayangkan Robi yang bisa saja berbuat nekat kepadamu. Awalnya aku hanya sekedar mampir untuk melihat kondisimu, kebetulan sebelum ke ruanganmu aku mampir ke toilet," Cladia melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Ornado, benar-benar merasa bersyukur saat ini suaminya ada disini.


"Cla!" Suara teriakan Jeremy yang tiba-tiba saja membuka pintu ruangan Cladia dengan sedikit kasar dan langsung menyerbu masuk ke ruangan Cladia membuat Ornado dan Cladia sedikit tersentak kaget.


Dengan buru-buru Cladia melepaskan pelukan kedua lengannya pada pinggang Ornado, sedang Ornado dengan santai tetap membiarkan lengan kirinya melingkar di bahu Cladia.


"Kamu baik-baik saja?" Dengan kedua telapak tangannya Jeremy memegang wajah Cladia, dengan mata menyelidik melihat Cladia dari ujung kepala sampai ujung kaki, memastikan tidak terjadi apa-apa pada Cladia. Dengan pelan Cladia menyingkirkan tangan Jeremy dari wajahnya.


"Kakak tahu darimana ada sesuatu yang terjadi?" Cladia bertanya kepada Jeremy dengan pandangan mata menyelidik.

__ADS_1


"Bagaimana aku tidak tahu? Keluar dari ruang meeting semua pegawai ribut membicarakan tentang kamu yang digendong oleh Ornado dari arah toilet. Apa yang sebenarnya terjadi?" Ornado menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia menceritakan apa yang terjadi antara Robi dan Cladia selama ini dengan detail, bahkan sejak mereka masih bersama-sama di kantor Bumi Asia beberapa waktu lalu.


"Jadi selama ini ada kejadian seperti itu? Kenapa kalian berdua tidak menceritakannya padaku? Waktu aku di Itali dan Cladia menggantikanku bertemu dengan pihak Lautan Gemilang, Ornado hanya mengatakan keberatannya kalau ke depannya kamu bertemu lagi dengan Robi, walaupun untuk urusan bisnis. Aku tahu sejak awal kalau Robi memang menyimpan perasaan suka pada Cladia, tapi aku tidak menyangka Robi sudah pernah menyatakan perasaannya pada Cladia bahkan bersikeras untuk mengejar Cladia. Kalau tahu akan ada kejadian seperti hari ini lebih baik aku membatalkan kontrak kerjasama dengan Lautan Gemilang," Jeremy berkata dengan nada emosi, tangan kanan Ornado langsung menepuk bahu Jeremy.


"Tenanglah Jer, kita bersikap profesional saja. Hanya saja ke depannya ada baiknya Cladia memindahkan kantornya ke Bumi Asia." Jeremy memandang ke arah Cladia, memang berapa hari lalu Cladia mengatakan setelah event mereka selesai dia memutuskan untuk bekerja di Bumi Asia membantu Ornado, tapi bukan sekarang.


"Cladia memang berencana untuk pindah ke Bumi Asia setelah event kita selesai, tapi bukankah keseluruhan event di 5 kota besar di dunia itu akan berakhir sekitar 5 bulan lagi?" Jeremy sedikit protes dengan pendapat Ornado, walaupun dia tahu sebenarnya Bumi Asia lebih memiliki hak terhadap Cladia daripada Sanjaya, tapi dalam hati kecil Jeremy saat ini rasanya dia merasa belum siap untuk kehilangan Cladia yang selama bertahun-tahun ini selalu di disampingnya, mungkin terdengar sangat egois, tapi keberadaan Cladia di Sanjaya selama ini benar-benar banyak membantu Jeremy.


"Aku tidak minta Cladia keluar dari pekerjaannya di Sanjaya, aku hanya ingin kantor Cladia dipindahkan kesana. Mau tidak mau kamu harus mengakui bahwa Cladia akan lebih aman berada di kantor Bumi Asia daripada Sanjaya selama kalian masih berhubungan dengan Lautan Gemilang. Aku tidak mau saat Robi datang kesini dia kembali mencuri-curi kesempatan untuk mendekati Cladia lagi. Bukan hanya Cladia, aku harus melindungi calon anakku juga," Jeremy tidak dapat berkata apa-apa lagi mendengar perkataan Ornado yang sepertinya benar dan juga tidak dapat dibantah lagi.


"Bagaimana menurutmu Cla?" Jeremy mengalihkan pandangannya ke arah Cladia, dalam hati dia berharap Cladia menolak keinginan Ornado, rasanya dia belum benar-benar siap kehilangan Cladia walaupun sebenarnya dalam 5 bulan ini Cladia masih akan membantunya di Sanjaya.


"Aku akan mengikuti saran Al, ada baiknya sementara ini aku berada di kantor Bumi Asia," Jeremy hanya bisa menghela nafas dalam-dalam mendengar keputusan Cladia.


“Baiklah, bawa Amalia bersamamu untuk menjadi asisten pribadimu,” Cladia mengangguk pelan menyetujui perkataan Jeremy.


Tanpa menunggu lebih lama lagi Ornado langsung meraih handphonenya, melakukan panggilan kepada James dan menyampaikan perintah untuk menyiapkan meja kerja Cladia di samping meja kerjanya di kantornya di Bumi Asia saat ini juga. Tanpa meminta persetujuan Jeremy dan Cladia, Ornado langsung memberikan perintah agar besok pagi meja kerja Cladia sudah harus siap, karena dia ingin mulai besok Cladia sudah mulai memindahkan kantornya ke Bumi Asia. Mendengar itu Jeremy hanya bisa memandang dengan pasrah. Baginya keselamatan Cladia juga merupakan hal terpenting saat ini, dan harus diakuinya dengan jujur untuk saat ini yang paling bisa melindungi Cladia dibanding dirinya adalah Ornado Xanderson.


NOTE : Selamat membaca, jangan lupa like, komen, vote, dan follownya. Makasih......

__ADS_1


__ADS_2