
"Amore mio, bisakah...., secepatnya kamu pindah ke Bumi Asia?" Cladia sedikit tersentak mendengar permintaan Ornado barusan.
"Maaf Al, bukannya aku tidak mau membantumu, tapi Kak Jeremy masih membutuhkanku, aku sendiri, masih ingin melakukan banyak hal untuk Sanjaya sebelum pergi meninggalkannya," Ornado menarik nafas panjang, sedikit kecewa, tapi dia tahu dia tidak bisa menyalahkan Cladia.
Perusahaan Sanjaya merupakan perusahaan peninggalan kedua orangtua mereka, hasil jerih payah selama bertahun-tahun, tidak mungkin dia tidak memberikan paling tidak sedikit kontribusi untuk mengembangkan usaha tersebut. Tapi rasanya Ornado benar-benar tidak rela membiarkan Cladia bertemu dengan Robi lagi.
Walaupun ke depannya Cladia berencana untuk tidak terlibat lagi dengan pihak Lautan Gemilang, tapi selama Cladia masih di Sanjaya, pasti akan ada kemungkinan mereka untuk bertemu walaupun hanya berpapasan sekilas. Ornado sedikit menggemeretakkan giginya untuk menahan sedikit emosinya mengingat terakhir kali di kolam renang rumah mereka ketika Cladia menceritakan tentang Robi yang menyatakan cintanya tanpa perduli status Cladia sebagai istrinya yang sah.
"Al..., kalau sudah tiba waktunya, suatu hari pasti aku akan membantumu di Bumi Asia. Untuk sekarang ijinkan aku membantu Kak Jeremy, lagipula kalau dipikir-pikir, sebenarnya orang sehebat kamu rasanya tidak akan memerlukan bantuanku," Ornado tersenyum mendengar pujian dari Cladia.
"Bagaimana dengan yakinnya kamu bilang aku tidak memerlukan bantuanmu? Keberadaanmu di sisiku adalah bantuan terbesar buatku yang tidak akan bisa digantikan oleh orang lain," Cladia yang berdiri di depan jendela kamarnya sambil memandangi lampu-lampu di taman mawarnya tersenyum mendengar perkataan Ornado.
"Kata-kata semanis itu, kenapa kamu ahli sekali mengucapkan kata-kata manis seperti itu?" Ornado langsung tertawa mendengar pertanyaan Cladia tentang kata-kata manisnya.
"Kenapa ya? Mungkin karena kata-kata manis itu sudah tertahan selama 15 tahun ini, sehingga sekarang semakin sulit untuk aku kendalikan, karena pemiliknya sudah muncul," Cladia hanya bisa tersenyum geli mendengar jawaban Ornado yang terdengar asal-asalan. Ornado melirik jam di tangannya sekilas.
"Sudah waktunya kamu beristirahat, jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatanmu amore mio," Ornado berkata setelah itu bibirnya bergerak membentuk gerakan seperti mencium, seolah-olah Cladia benar-benar ada di depannya.
"Besok jam berapa kamu mendarat? Aku akan menjemputmu ke bandara," Ornado sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ditawarkan Cladia.
"Tidak perlu, aku tidak mau kamu ada di tempat umum tanpa aku," Cladia tertegun, barusan dia benar-benar lupa tentang itu. Bagaimana dia berani menawarkan diri untuk menjemput Ornado di bandara, dimana pasti banyak orang disana. Cladia memegang kepalanya, rasanya beberapa waktu ini dia seringkali lupa akan kondisinya saat dia sedang fokus dengan Ornado.
"Maaf Al," Ornado tersenyum, sebenarnya dia senang sekali mendengar Cladia berencana menjemputnya, tapi mengingat kondisi Cladia, lebih baik dia tidak mengambil resiko itu kalo tidak ingin perkembangan kesembuhan Cladia terhambat atau bahkan gagal dan harus mengulang lagi dari awal, sedangkan untuk berapa lama ini Ornado sudah begitu menikmati hubungan mereka yang jauh lebih dekat dibandingkan dengan pertama mereka menikah dulu.
__ADS_1
"Untuk apa? Tidak perlu merasa bersalah untuk masalah sepele seperti itu. Sudah kukatakan diamlah di tempatmu, aku yang akan mencarimu, aku yang akan berlari ke arahmu," Cladia terdiam dengan tangan memegang dadanya, kali ini karena ada debaran halus di dadanya yang tetap tidak dia mengerti apa artinya itu.
"Selamat malam Amore mio, selamat beristirahat, sampai bertemu besok,"
Cladia membuka pintu studio tari pribadi yang terletak di lantai 1 bersebelahan dengan ruangan gym Ornado. Sejak dia memasuki rumah ini, sebenarnya sudah beberapa kali dia mengintip ruangan ini, tapi belum pernah sekalipun dia memasuki ruangan itu, apalagi menari ballet lagi sejak menikah. Ruangan itu berukuran 12 x 12 meter, di dalamnya terdapat kursi panjang tanpa sandaran, di ujung bagian depan tampak lemari berisi peralatan tari seperti hola hoop (Hula hoop adalah sebuah lingkaran yang biasanya terbuat dari plastik dan kayu rotan. Ukuran atau diameter lingkarannya juga bervariasi, dari 0,5 meter sampai 1 meter, sehingga kamu bisa memilih ukuran yang sesuai dengan kebutuhan atau bentuk tubuh orang yang memakainya. Bentuknya yang seperti gelang berukuran besar dapat untuk diputar di bagian perut, pinggul atau leher. Hula hoop modern diciptakan pada 1958 oleh Arthur K. "Spud" Melin dan Richard Knerr), selendang, bola senam dan peralatan lain untuk menari.
Cladia menyalakan lampu ruangan yang berlantai kayu tersebut, membuat ruangan yang dikelilingi kaca itu terlihat terang dan bersinar, menimbulkan kesan mewah di dalamnya. Begitu memasuki ruangan studio tari itu Cladia berjalan ke arah ruang ganti yang di dalamnya terdapat lemari pakaian dan sepatu yang berjajar rapi.
Cladia membuka lemari pakaian tersebut, tampak beberapa pakaian ballet tergantung rapi di dalamnya. Cladia tahu pasti beberapa pakaian itu adalah miliknya, tapi beberapa yang lain merupakan pakaian-pakaian balet yang nampak masih baru. Tangan Cladia menyentuh lembut pakaian-pakaian itu, rasanya rindu sekali ingin memakai pakaian itu dan kembali menari.
Dengan tangan masih menyentuh pakaian-pakaian ballet yang tergantung rapi mata Cladia melirik ke arah kanan dimana tampak lemari sepatu yang terbuat dari kaca, disana berjajar sepatu ballet dengan berbagai warna. Cladia sedikit mengernyitkan dahinya, beberapa sepatu itu juga bukan merupakan sepatu miliknya, dilihat dari fisiknya jelas sekali beberapa sepatu itu merupakan sepatu baru.
Cladia kembali mengarahkan pandangan matanya kepada pakaian-pakaian ballet yang tergantung di lemari, satu per satu disentuhnya pakaian itu.
"Kalau kamu begitu menginginkannya, kenapa tidak mencoba untuk memakainya dan mulai menari?" Cladia tersentak kaget mendengar suara yang begitu dikenalnya, membuatnya langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Al.." Ornado yang mengenakan kemeja lengan panjang bewarna merah bata dan kaca mata hitam melipat kedua tangannya di depan dadanya, berdiri di belakang Cladia dengan bersandar di pintu ruang ganti sambil tersenyum memandanginya.
"Sejak kapan kamu datang?" Cladia sedikit gugup melihat kehadiran Ornado yang tanpa suara dan tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Baru saja, sejak kamu membuka lemari pakaian itu," Mata Ornado melirik ke arah lemari yang berisi pakaian-pakaian ballet itu.
__ADS_1
"Pakaian-pakaian itu benar-benar membuatku cemburu, andai saja aku bisa menggantikan posisinya agar bisa mendapatkan setuhan lembut darimu," Cladia langsung melotot kaget mendengar perkataan Ornado, sedang Ornado langsung tertawa geli sambil melangkah mundur seolah-olah takut Cladia menggerakkan tangan atau kakinya untuk memukulnya, yang tentu saja tidak akan mungkin Cladia lakukan.
"Apa kamu tidak mengalami jet lag?" Cladia memandang ke wajah Ornado yang tampak sedikit lelah. Ornado melepas kacamata hitamnya sambil menggeleng pelan.
"Tidak terlalu berasa, apalagi ada wanita cantik di depanku, mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan untuk tidak menikmati kecantikannya dengan alasan jet lag," Kali ini Cladia tidak lagi melotot, justru hanya membalas perkataan Ornado dengan senyuman walaupun tampak kegugupan di wajah Cladia, Ornado menarik nafasnya dalam-dalam, memasukkan kedua tangannya dengan cepat ke dalam saku celananya sebelum tangannya tidak dapat dia kendalikan lagi untuk bergerak menarik tubuh Cladia ke dalam pelukannya.
"Al, kalau kamu tidak keberatan, bisakah kamu membantuku?" Cladia berjalan mendekati Ornado yang tampak sedikit terkejut dengan tindakan Cladia, karena tindakan Cladia yang mendekatinya dengan tiba-tiba membuat saat ini jarak tubuh diantara mereka terasa begitu dekat, tidak seperti biasanya.
"Al, bisakah kita mencoba lagi berdansa untuk satu lagu?" Ornado terdiam untuk beberapa saat, sedikit mengernyitkan alisnya, menunjukkan dia sedang berpikir, seolah tidak memberi respon atas pertanyaan Cladia.
"Al...aku..." Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Cladia.
"Ok, kita akan coba," Ornado segera menjawab sebelum Cladia sempat meneruskan bicaranya kembali.
Ornado berjalan ke arah pojok ruangan, menyalakan alat pemutar musik dan memutar sebuah lagu a thousand years milik Christina Perri yang mengalun dengan lembut. Setelah itu baru dia kembali mendekat ke arah Cladia. Cladia dan Ornado berdiri berhadap-hadapan dengan jarak sekitar 1 meter, Ornado sedikit membungkukkan badannya ke depan, dengan tangan kirinya di belakang, sedang tangan kanannya terulur ke arah Cladia dengan posisi telapak tangannya menghadap atas, seperti seorang pangeran yang sedang mengajak dansa seorang putri.
Cladia menarik nafas panjang sebelum akhirnya dengan pelan dia mengulurkan tangan kirinya untuk diletakkan di atas telapak tangan kanan Ornado yang terulur ke arahnya. Setelah itu tangan kanan Cladia bergerak ke arah bahu kiri Ornado dan meletakkan telapak tangan kanannya disana. Tangan kiri Ornado bergerak ke arah pinggang Cladia, begitu Ornado melihat wajah Cladia sudah mulai tenang, Ornado sedikit menarik tubuh Cladia untuk lebih mendekat ke arahnya. Tindakan Ornado sempat membuat Cladia tersentak, tapi sebentar kemudian wajah kagetnya kembali tenang. Ornado tersenyum, dia tahu bahwa saat ini Cladia berusaha keras untuk dapat mengendalikan ketakutannya, membuat Ornado membiarkan Cladia yang memimpin gerakan dansa mereka supaya dia tidak merasa terintimidasi.
"Bagaimana kabarmu berapa hari ini?" Ornado berusaha mengajak Cladia mengobrol untuk membuatnya bisa lebih rileks.
"Baik-baik saja, semua berjalan lancar. Bagaimana dengan suppliermu yang bermasalah?"
"Kami sudah membereskan masalahnya, semuanya sudah selesai, ada salam dari seluruh keluarga besar disana untukmu, mereka tidak sabar menantikan kedatanganmu ke Itali," Cladia tersenyum, beberapa keluarga dekat Ornado memang belum bisa hadir di pernikahan mereka berapa waktu yang lalu, dan saat itu Ornado sempat menjanjikan kepada mereka suatu hari pasti membawa Cladia ke Itali untuk memperkenalkannya kepada seluruh anggota keluarga besar disana.
__ADS_1
"Kalau aku sudah lebih longgar aku pasti akan kesana," Ornado tersenyum mendengar perkataan Cladia, dia sedikit menundukkan kepalanya dan sedikit mengarahkannya ke depan sehingga hidungnya bisa mencium bau harum dari rambut Cladia yang tergerai, karena dengan perbedaan tinggi badan mereka Ornado harus menunduk untuk dapat sedikit lebih dekat dengan wajah Cladia.