My Wild Rose

My Wild Rose
INGIN SELALU BERSAMAMU


__ADS_3

Cladia hanya bisa tercengang, karena terlalu kaget dia tidak bisa


berkata-kata melihat siapa yang datang dan langsung menerobos masuk ke kamarnya.


Eh, bukankan seharusnya dia baru akan datang besok? Kenapa tiba-tiba hari


ini dia sudah ada disini? Pantas saja sepanjang siang ini dia tidak seperti


biasanya tidak menghubungiku sama sekali, ternyata dia sedang dalam perjalanan kembali kesini.


Cladia berkata dalam hati sambil membalikkan badannya, mengikuti Ornado yang melangkah ke


sofa di ruang tamu presidential suite room dan segera merebahkan badannya di sofa panjang di ruangan itu.


“Maaf, aku masih jet lag, kepalaku sedikit pusing,” Ornado berkata pelan


sambil mengangkat tangan kanannya, meletakkan lengannya menutupi wajahnya, Cladia yang berdiri di dekat sofa tempat dia berbaring mengamati wajah laki-laki itu yang memang terlihat lelah.


Fred langsung menarik tas koper milik tuannya ke kamar dan mengeluarkan


pakaian-pakaian di dalamnya, menatanya ke dalam lemari, setelah itu dia segera mendekati tuannya kembali, mendekati meja di dekat sofa dan meletakkan sebuah kotak yang terbungkus rapi dengan pita dan setangkai mawar merah di atasnya.


“Saya akan kembali seperti perintah anda semula,” Ornado menggeser lengan kanannya dari wajahnya, membuka matanya yang tadi tertutup.


“Ok, saat kamu sudah kembali jangan lupa ingatkan sopir menjemputku,”


“Eh, kamu berencana pulang hari ini?” Ornado melirik ke arah Cladia dan


tersenyum.


“Apa kamu ingin aku segera kembali ke rumah?” Ornado menggerakkan


badannya ke samping, sehingga matanya bisa menatap wajah Cladia yang terlihat sedikit bingung.


“Bukan, aku kesini membawa sopir, kita bisa pulang bersama, tidak perlu


menyuruh sopir lain kesini,” Ornado sedikit membeliak mendengar perkataan Cladia, dia buru-buru memberi tanda dengan tangannya kepada Fred agar meninggalkan kamar mereka, Fred sedikit menundukkan badannya untuk memberi hormat dan segera pergi keluar.


Ah, kenapa aku bicara seperti itu?


Cladia menutup mulutnya dengan telapak tangannya, kaget dengan apa saja yang barusan dia katakan. Dengan berkata begitu secara tidak langsung dia mengundang Ornado untuk menginap di hotel malam ini.


“Aku akan hubungi James, untuk membooking kamar lain,” Cladia bergegas mengambil handphonenya, Ornado segera duduk dari tidurnya.


“Tidak perlu Cla,semua kamar hari ini sudah penuh terisi, lagipula apa


kata James kalo dia tahu kita tidur di kamar terpisah, bisa-bisa laporan akan


segera sampai di telinga papa, kalau kamu keberatan aku disini aku akan pulang bersama Fred,” Cladia tersentak kaget, dengan sikap hati-hati dia duduk di sebelah Ornado.


“Kamu masih jet lag, istirahat saja disini malam ini,” Cladia berkata


pelan, Ornado yang menumpangkan kedua siku tangannya di kedua pahanya memandang Cladia yang duduk di sampingnya, rasanya ingin sekali dia menarik wajah cantik di depannya, mendekapnya, menenggelamkan wajahnya ke dadanya, mengelus rambut


hitam panjangnya dengan lembut. Dengan buru-buru Ornado mengalihkan pandangan matanya ke arah meja, meraih kotak yang terletak di atasnya.


“Aku tidak tahu apakah kamu masih suka coklat seperti waktu kamu masih


kecil dulu,” Ornado menyodorkan kotak itu ke hadapan Cladia yang tidak


menyangka bahkan hal sekecil itu Ornado benar-benar masih mengingatnya dengan baik. Sebelum 15 tahun lalu, setiap kali papanya datang berkunjung ke Indonesia, papanya selalu membawakan coklat untuk Ornado, dan Ornado pasti akan langsung mencari Cladia, mereka akan memakannya bersama-sama. Cladia ingat pernah suatu waktu saat Ornado datang membawa coklat Cladia sekeluarga sedang pergi keluar kota, sampai Cladia datang Ornado tidak mengijinkan seorangpun menyentuh coklatnya.


“Bohong kalau ada wanita yang bilang tidak suka coklat, mereka yang bilang tidak suka adalah mereka yang tidak berani memakannya karena mereka takut gemuk,” Cladia tersenyum sambil menerima kotak coklat dari tangan Ornado.

__ADS_1


Ah, hanya melihat senyummu saja sakit kepalaku rasanya langsung terasa


membaik, Ornado berkata dalam hati, di bergerak untuk kembali berbaring,


tiba-tiba Cladia menarik lengan kemejanya perlahan.


“Terimakasih Al, tapi… bukannya kamu seharusnya kembali besok?” Akhirnya


Cladia mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi berkutat di kepalanya.


“Kalau aku bilang karena aku begitu merindukanmu, kamu percaya tidak?”


Mendapat pelototan mata dari Cladia, Ornado tertawa tergelak.


“Semua urusanku sudah selesai disana, dalam perjalanan kebetulan aku


membaca email dari James tentang rencana kalian hari ini, makanya aku langsung


menyusul kesini,” Ornado berusaha menjelaskan dengan kata-kata yang masuk akal,


walaupun sebenarnya alasan terbesarnya buru-buru pulang memang karena dia


benar-benar merindukan Cladia.


“Maaf, rencana hari ini terlalu mendadak, tercetus tiba-tiba saja karena senang dengan hasil persiapan event kita, aku tidak meminta ijinmu terlebih dahulu,” Cladia sedikit tertunduk, merasa sedikit bersalah karena merasa sudah sedikit lancang memutuskan acara hari ini.


“Sudah aku katakan, lakukan apa saja yang kamu mau, aku akan selalu


mendukungmu, toh kamu juga bagian dari Grup Xanderson. Sejak kita menikah, apapun yang jadi milikku adalah milikmu juga, kamu bebas memutuskan apapun yang


kamu anggap baik bagi Grup Xanderson, jangan lupa kamu adalah Nyonya Xanderson,” Ornado tersenyum dengan matanya tetap menatap ke arah Cladia, malam ini hatinya merasa bahagia, tidak sia-sia dia pulang lebih awal dan menyusul Cladia ke tempat ini, bukan sekedar melapas rindunya dengan memandang wajah istrinya,


tindakan Cladia yang membiarkannya tinggal bersamanya malam ini baginya


“Istirahatlah di tempat tidur, supaya kamu cepat pulih,” Ornado memandang


wajah Cladia dengan heran, seolah-olah dia baru saja mendengar sesuatu yang


tidak masuk akal, muka Cladia langsung memerah melihat cara Ornado menatapnya.


“A…aku rasa tempat tidur kamar ini tidak kalah lebar dengan yang ada di


kamarmu, akan cukup bagi kita berdua untuk tidak saling terganggu,” Ornado


hanya bisa tersenyum sambil mengangguk, bagaimana bisa dia mengatakan tidak


untuk hal yang baru saja ditawarkan Cladia kepadanya. Dengan buru-buru Cladia melepaskan jari-jarinya dari kemeja Ornado.


“Istirahatlah duluan, aku akan menelpon Kak Jeremy sebelum tidur,” Ornado


mengangguk dan segera bangkit berdiri berjalan ke arah kamar, saat ini hatinya


benar-benar merasa bahagia, rasanya terlalu banyak kejutan yang terjadi malam ini.


Semoga malam ini aku bisa tidur nyenyak, ti amo Cla, Ornado berbisik


dalam hati, dan tanpa mengganti pakaiannya Ornado merebahkan diri di tempat tidur.


Ketika Cladia selesai dengan pembicaraannya lewat telpon dengan Jeremy, didengarnya suara nafas Ornado yang terdengar teratur, menandakan laki-laki itu


sudah tertidur. Cladia meletakkan handphonenya di atas nakas dengan pelan agar tidak menimbulkan suara, setelah itu dengan hati-hati dia merebahkan badannnya


di tempat tidur.

__ADS_1


Cladia menggerakkan badannya ke samping, sehingga matanya dengan jelas bisa memandangi wajah pria yang sudah tertidur di sampingnya. Untuk beberapa saat matanya tetap mengamati wajah tampan yang tertidur di sampingnya tanpa


berkedip.


Kamu adalah pria yang benar-benar baik Al, seandainya aku bisa membalas


cintamu, aku pasti akan jadi wanita paling bahagia di dunia ini. Cladia berkata dalam hati, tanpa sadar tangannya terulur ke arah wajah Ornado, tapi tiba-tiba dia tersentak kaget dan segera menarik tangannya kembali dengan cepat.


Apa yang baru saja mau aku lakukan! Cladia menarik nafas panjang, dadanya


terasa berdebar-debar, dia segera membalikkan badannya membelakangi Ornado. Tanpa sepengetahuan Cladia, Ornado yang terbangun dan sempat sedikit membuka matanya sesaat sebelum tangan Cladia terulur ke wajahnya hanya bisa tersenyum simpul


setelah Cladia membalikkan badannya.


©©©©©©©


Ketika Cladia terbangun pagi itu dilihatnya Ornado masih tertidur,


diamatinya wajah Ornado untuk beberapa saat sebelum akhirnya Cladia turun dari tempat tidur dengan pelan-pelan, berusaha agar tidur Ornado tidak terganggu.


Selesai dari mandi dan berdandan Cladia melirik Ornado yang masih


tertidur, diambilnya secarik kertas, dan dituliskannya sesuatu, setelah itu


diletakkannya di atas bantalnya sebelum dia meraih handphonenya dan keluar meninggalkan kamarnya untuk bertemu dengan James dan yang lainnya, untuk sarapan bersama-sama.


Ketika Cladia sampai di restoran, dilihatnya semua anggota team telah


berkumpul kecuali dia dan James.


“Pagi semua,” Cladia menyapa mereka dengan matanya memperhatikan


sekitarnya, namun James tidak nampak di sudut manapun.


“Pagi Bu Cladia,” Yang lain segera menjawab sapaan Cladia.


“Eh, dimana Pak James? Kok belum kelihatan?”


“Tadi sebenarnya Pak James sudah kesini, tapi barusan ada telp, setelah


mengangkat telpon Pak James buru-buru pergi,” Salah seorang anggota team


memberikan penjelasan, Cladia mengangguk untuk mengiyakan.


“Hai Cla, mencariku?” Tiba-tiba saja James sudah berdiri di sampingnya.


“Darimana saja?” James tersenyum, telunjuk tangannya menunjuk kearah


handphone Cladia, seolah memberi tanda agar Cladia mengecek handphonenya, Cladia segera membuka layar hpnya, terlihat ada sebuah pesan baru dari James, Cladia memandang James dengan tatapan bertanya-tanya, kenapa harus berbicara lewat pesan tidak dibicarakan langsung saja. James mengangkat sedikit alis matanya, memberi tanda agar Cladia membuka pesan itu.


Setelah sarapan Ornado berpesan agar tim kita bisa menikmati kolam renang private di lantai atas, Ornado sudah membooking tempat itu. Pesan


darinya untukmu, selamat bersenang-senang. Cladia tersenyum membaca pesan dari James.


Cladia cukup kaget, karena kolam renang private di hotel itu terkenal


dengan penataannya yang mewah, karena di design seperti kondisi di pantai, di sekelilingnya ditumbuhi tanaman-tanaman seperti yang ada di pantai, dan juga berdiri tenda-tenda penjual berbagai jenis makanan seperti di pantai sungguhan, dan biaya sewanya jelas-jelas juga tidak murah.


Sepertinya Ornado benar-benar ingin memanjakan teamnya, atau


memanjakannya? Ah entahlah, Cladia tidak berani berpikir macam-macam. Cuma saja ada yang Ornado tidak tahu, Cladia tidak pernah mau berenang bersama dengan orang lain, terutama jika ada pria di dekatnya, bagaimana mungkin Ornado menyuruhnya bersenang-senang di kolam renang sedang dia tidak akan mungkin mau


berenang, dan mengingat itu membuat Cladia tersenyum geli.

__ADS_1


__ADS_2