My Wild Rose

My Wild Rose
BERUSAHA MENGINGATMU


__ADS_3

Cladia mengelus perutnya dengan lembut, dilihatnya sekeliling ruangan tempatnya dirawat, hanya ada Amalia yang sedang sibuk mengupaskan apel untuknya. Sejak kejadian kemarin malam saat dia baru saja terbangun dengan kondisinya yang tidak mengingat apapun tentang beberapa kejadian yang terjadi dalam kurun waktu setahun ini, membuat Cladia untuk sementara ingin menenangkan dirinya, mencoba memikirkan apa yang sedang dia alami sekarang ini.


Apa kabar bayi mama? Walaupun mama belum bisa mengingat apa yang terjadi pada mama, bahkan mama tidak bisa mengingat dengan jelas tentang siapa papamu, tapi mama bahagia sekali ternyata saat mama terbangun mama tidak lagi sendiri, mama memilikimu di dalam tubuh mama. Cladia berbisik dalam hatinya sambil tersenyum memandang sambil mengelus perutnya yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilannya.


Sebentar kemudian Cladia mengangkat kepalanya, sambil memandang ke arah Amalia yang hari ini bertugas menunggunya di rumah sakit, Cladia kembali teringat akan sosok laki-laki yang semalam dikatakan semua orang bahwa laki-laki itu adalah suaminya. Amalia yang sudah selesai mengupas apelnya segera menyodorkannya ke arah Cladia.


"Makan apelnya Bu," Cladia tersenyum sambil meraih piring berisi potongan apel dari tangan Amalia.


"Amalia, apa benar aku sudah menikah?" Amalia yang sudah mengetahui kondisi Cladia dari Niela dan Jeremy buru-buru mengangguk, kali ini dia memiliki keinginan besar untuk membantu Cladia mengingat tentang pernikahannya, tentang kejadian-kejadian yang dia lupakan, termasuk keberadaan Ornado yang selalu membuat Amalia kagum karena cintanya yang begitu besar untuk Cladia.


Paling tidak Amalia ingin sekali menebus kesalahan yang pernah dia lakukan bersama Robi.


"Bukannya semua orang juga sudah mengatakan kalau Ibu sudah menikah dengan Bapak Ornado? Bukannya menurut semua orang Ibu dan Bapak Ornado begitu saling mencintai karena itu kalian menikah?" Cladia mengernyitkan alisnya mendengar jawaban Amalia.


"Kamu yakin apa yang mereka katakan itu benar? Mereka tidak sedang menyembunyikan sesuatu?" Mendengar respon dari Cladia, berganti Amalia yang mengernyitkan alisnya karena bingung kenapa Cladia curiga status pernikahannya dengan Ornado hanya sebuah kebohongan, sedang Cladia saat ini benar-benar tidak habis pikir, bagaimana dia bisa menikah dengan Ornado sedangkan dia memiliki phobia terhadap laki-laki sejak kejadian 5 tahun lalu, apa yang membuatnya mau menikah dengan Ornado saat itu tidak bisa diingatnya sama sekali. Rasanya aneh sekali semua orang mengatakan dia mencintai Ornado, sedang dalam ingatannya belum pernah sekalipun dia jatuh cinta dengan seorang laki-laki apalagi sejak peristiwa 5 tahun lalu. Jangankan jatuh cinta, berdekatan dengan laki-laki dengan jarak di bawah 1 meter saja Cladia enggan.


Cladia kembali teringat kejadian kemarin malam saat dia tersadar, bayangan tentang pembunuhan Dina langsung terbayang di kepalanya, setelah itu bayangan gaun pengantin yang tergantung rapi di pagi hari saat dia terbangun dengan kondisi tanpa busana dan seseorang tertidur di sampingnya, di sebuah kamar mewah yang tidak dia kenal sama sekali, dan bayangan tentang seseorang yang memainkan piano dan menyanyikan sebuah lagu untuknya, setelah itu dia melihat bayangan dirinya sendiri yang mengenakan gaun pesta bewarna putih berciuman dengan mesra dengan seorang pria yang mengenakan jas bewarna putih juga tanpa Cladia bisa mengingat wajah laki-laki itu dengan jelas. Setelah itu potongan-potongan ingatan yang tidak jelas silih berganti terlintas di pikiran Cladia, membuat Cladia termenung dengan wajah kebingungan, karena begitu banyaknya ingatan yang terlintas tapi hanya sepotong-sepotong dan tidak jelas sama sekali.

__ADS_1


Cladia berkata dalam hati, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya karena begitu dia berusaha terlalu keras untuk mengingat tentang bayangan-bayangan di otaknya, tiba-tiba rasa sakit di kepalanya kembali menyerangnya.


"Ibu Cladia baik-baik saja?" Begitu melihat raut wajah Cladia menunjukkan dia merasa kesakitan, Amalia langsung mendekat dan meraih tangan Cladia.


"Apa yang bisa saya bantu bu? Lebih baik ibu berbaring saja dulu," Amalia meraih piring berisi apel di tangan Cladia, lalu meletakkannya di atas meja, setelah itu Amalia berusaha membantu Cladia untuk membaringkan tubuhnya.


"Tidak perlu Amalia, biarkan aku bersandar saja, terlalu banyak berbaring membuat punggungku tidak nyaman," Amalia tersenyum, mengambil dua buah bantal, diletakkannya di belakang punggung Cladia supaya Cladia merasa lebih nyaman.


"Bu, saya akan tunjukkan beberapa foto yang mungkin bisa membantu ibu untuk mengingat sesuatu," Cladia langsung mengangguk mendengar penawaran dari Amalia yang langsung mengambil handphonenya dari saku celananya dan membuka layarnya.


"Itu Kak Robi, kakak tingkatku sewaktu aku kuliah dulu. Kenapa dia bisa ikut meeting bersama kita? Apakah dia sekarang bekerja di Bumi Asia?" Mendengar Cladia menyebutkan nama Robi, wajah Amalia berubah menjadi sedikit gugup, seolah-olah sedang diingatkan kembali tentang kesalahan fatal yang pernah dia buat.


"Tidak bu, Pak Robi sekarang sudah keluar dari Bumi Asia," Cladia hanya mengangguk pelan mendengar jawaban singkat dari Amalia, lalu tangan Cladia menunjuk sebuah foto yang menunjukkan kolam renang dengan dua orang yang sedang berenang di dalamnya, sedang beberpa orang lain berdiri di tepi kolam renang, terlihat sibuk memberikan semangat kepada kedua orang yang sedang berenang.


"Foto siapa itu?"


"Itu foto waktu kita sudah menyelesaikan meeting kita dengan pihak Bumi Asia, Ibu dan Pak James sepakat mengajak kita berlibur di Hotel X, besoknya Pak Ornado sengaja menyewa kolam renang private di hotel itu dan bertanding renang dengan Pak Robi," Cladia mengernyitkan dahinya, Ornado dan Robi bertanding renang? Buat apa seorang bos besar seperti Ornado bertanding renang dengan anak buahnya sendiri? Cladia menggerakkan kepalanya ke samping mencoba memikirkan apa yang barusan dia dengar tentang Ornado dan Robi, lalu kembali menunjuk sebuah foto yang menunjukkan dia sedang mencium Ornado.

__ADS_1


"Foto apa ini?" Amalia langsung tersenyum simpul melihat Cladia menanyakan foto itu.


"Maaf bu, saya diam-diam mencuri foto Ibu yang sedang mencium Pak Ornado untuk mengucapkan selamat ulang tahun di acara pesta ulang tahun Pak Ornado beberapa waktu lalu. Foto ini terlihat romantis sekali Bu," Amalia berkata dengan wajah sedikit malu-malu karena harus mengakui bahwa selama ini dia begitu mengidolakan hubungan kedua bosnya itu.


Cladia termenung mengamati foto itu, ingatan tentang dia berciuman mesra dengan seorang pria begitu mengganggunya. Dia yakin laki-laki yang menciumnya di dalam ingatannya adalah orang yang benar-benar istimewa baginya, dan Cladia yakin laki-laki itu merupakan ayah dari bayi yang dikandungnya saat ini, laki-laki yang di ingatan Cladia sering dia panggil dengan sebutan Al, dan bahkan rasa dari ciuman laki-laki itu begitu membekas di ingatan Cladia, seolah-olah masih bisa dirasakan oleh Cladia di bibirnya.


Di dalam ingatan Cladia, malam dimana dia berciuman dengan laki-laki itu merupakan malam yang istimewa baginya dan laki-laki itu. Walaupun dia belum dapat mengingat dengan jelas apa yang terjadi malam itu, tapi dalam ingatannya dia melakukan itu dengan seorang pria yang memakai jas dan celana serba putih, bewarna senada dengan gaun pesta yang dikenakannya saat itu, sedang di foto yang ditunjukkan Amalia, dia berciuman dengan Ornado dalam balutan gaun bewarna merah muda.


"Ah, Amalia, lain kali aku akan memintamu untuk menunjukkan foto-foto lagi, aku tidak mau terlalu memaksa otakku untuk mengingat semua hal yang bagiku masih begitu kabur dan membingungkan," Amalia mengangguk, dia segera menjauhkan kembali handphonenya dari pandangan Cladia, lalu kembali mengambil piring berisi potongan apel kepada Cladia.


Baru saja Cladia kembali menyuapkan sepotong apel di mulutnya ketika pintu kamarnya dibuka oleh seseorang, dan tidak begitu lama sosok Ornado muncul dari balik pintu dengan wajahnya yang masih terlihat lelah tapi tetap menyungingkan sebuah senyuman yang terlihat lembut dan mesra ke arah Cladia.


Begitu Amalia melihat kehadiran Ornado di ruangan itu, dia segera menganggukkan kepalanya kepada Ornado dan berjalan ke arah pintu kamar untuk keluar, membiarkan mereka berdua di ruangan itu.


Mau tak mau Cladia memandang ke arah Ornado yang pagi itu terlihat lebih segar dibandingkan ketika mereka bertemu tadi malam setelah Cladia baru tersadar dari pingsannya. Semalam Cladia bersikeras menolak keinginan Ornado untuk tetap tinggal dan menjaganya malam itu, sehingga akhirnya Jeremy memutuskan dia sendiri yang menjaga Cladia, dan pagi tadi tepat pukul 6 pagi, Jeremy baru meninggalkan kamar Cladia, kembali ke rumah untuk bersiap-siap datang ke kantor hari ini, setelah Amalia datang menggantikan Jeremy untuk menjaga Cladia.


Tangan Cladia bergerak menyentuh dadanya yang berdegup kencang melihat kehadiran Ornado, ada sedikit perasaan bingung di hati Cladia dengan getaran di dadanya yang tidak seperti biasanya, antara takut karena bagaimanapun yang berdiri di depannya saat ini adalah seorang laki-laki, tapi rasanya ada sesuatu yang lain yang terjadi di hatinya saat melihat sosok laki-laki tampan yang sedang berjalan ke arahnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2