
Ketika membuka matanya pagi itu yang dilihat Cladia pertama kali adalah tempat tidur di sampingnya yang kosong, pandangan matanya mengelilingi ruangan itu tapi sosok Ornado tidak terlihat di sekitar situ. Cladia kembali memandang ke arah tempat tidur di sampingnya, tatanan spreinya terlihat masih rapi, tidak menunjukkan adanya bekas seseorang yang semalam tidur disitu. Cladia bangkit dari tidurnya, duduk di tepi tempat tidur, matanya melirik ke arah nakas di sebelah kanannya. Disitu terlihat nampan yang ditutup rapi dengan tudung saji, Cladia membukanya, terlihat ada roti bakar isi daging, potongan buah segar dan susu hangat, buru-buru Cladia menutup kembali makanan tersebut karena tiba-tiba dia merasakan mual di perutnya.
Cladia buru-buru menuju ke arah kamar mandi dengan sedikit berlari. Karena terlalu terburu-buru hampir saja dia menabrak Ornado yang baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi.
"Maaf," Tanpa perduli dengan wajah Ornado yang keheranan Cladia masuk ke kamar mandi dan langsung menutup pintu kamar mandi.
"Cla, kamu kenapa?" Ornado mengetuk pintu kamar mandi, Cladia yang berdiri di depan wastafel dan baru saja memuntahkan sedikit cairan dari perutnya segera menoleh ke arah pintu.
"Maaf Al, aku mau mandi dulu," Ornado menghentikan ketukan di pintu kamar mandi.
"Ok," Ornado berjalan menjauhi pintu kamar mandi, berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur, tangannya bergerak membuka tudung saji di atas nakas, dilihatnya apa yang ada disitu masih utuh seperti semula.
Kenapa Cladia pagi ini buru-buru ke kamar mandi? Apa dia sedang datang bulan hari ini? Mungkin itu juga yang membuatnya kurang fit kemarin. Ornado berkata dalam hati sambil tangannya menutup kembali tudung saji yang baru dibukanya.
Ketika Cladia selesai dari mandinya dilihatnya Ornado sedang duduk di depan jendela kamar hotel yang menunjukkan pemandangan kolam renang terbuka di lantai dasar. Ornado duduk dengan menyilangkan kakinya dengan kedua tangannya memegang handphone, mengetik sesuatu. Begitu mendengar suara pintu kamar mandi dibuka Ornado langsung menoleh, mengarahkan pandangannya ke arah Cladia yang sudah selesai dari mandinya.
Wajah Cladia terlihat segar setelah mandi, tanpa make up di wajahnya, kulit putih Cladia berhasil menonjolkan pesona alami kecantikannya, membuat Ornado sedikit berdebar-debar mendapatkan pemandangan wajah cantik istrinya. Ornado bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Cladia dan meletakkan handphonenya di atas nakas.
"Bagaimana kondisimu pagi ini Cla?" Ornado menatap wajah Cladia lembut sambil menikmati kecantikan wajah istrinya pagi itu.
"Sudah lebih baik dari kemarin." Ornado tersenyum, matanya melirik ke arah makanan yang belum disentuh Cladia.
"Bagaimana kalau kamu mengisi perutmu dulu, tadi pagi aku sudah meminta room service menyiapkan sarapan untukmu," Cladia berjalan ke arah nakas dimana terdapat sarapan yang tadi sempat dilihatnya, duduk di pinggiran tempat tidur lalu dibukanya tudung saji dan diambilnya gelas berisi susu hangat yang sudah mulai dingin.
"Apa perlu aku minta susu hangat yang baru?" Ornado berjalan mendekati Cladia, mengambil posisi duduk di samping Cladia dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
"Tidak perlu. Al, kalau bisa pagi ini aku ingin kembali ke rumah, besok aku masih harus ke kantormu berpamitan secara resmi, selasa aku akan kembali ke kantor Sanjaya. Siang ini aku ingin istirahat di rumah." Ornado memandang wajah Cladia, masih terlihat sedikit pucat, tidak ada alasan baginya untuk memaksa Cladia tetap disini, toh dengan kondisinya dia tidak akan mau ikut bersenang-senang lagi dengan anggota team yang lain, apalagi masih ada James yang bisa menangani acara hari ini.
"Oke, kita pulang pagi ini, tapi habiskan sarapanmu dulu, dan setelah sampai di rumah kita hubungi dr. Renata untuk memeriksa kesehatanmu," Mendengar perkataan Ornado Cladia langsung menoleh kearah Ornado. Secara pribadi tadi malam dia sudah menghubungi dr. Renata untuk bertemu siang hari ini, tapi tentu saja untuk sementara ini Cladia tidak ingin Ornado mengetahui hasil pemeriksaan kesehatannya kalau benar hasilnya seperti yang dia pikirkan kemarin di kamar mandi.
Ketika Cladia menelpon dr. Renata kemarin, dr. Renata mengatakan padanya bahwa untuk sebulan ini dia tidak ada di Indonesia, dia sudah meminta tolong saudara sepupunya, dr. Laurel Tanputra untuk menggantikan posisinya sementara menjadi dokter keluarga Sanjaya. Terus terang mendengar nama dr. Laurel Tanputra, Cladia senang sekali. Cladia tidak asing dengan nama itu, jika benar mereka orang yang sama, gadis cantik itu dulu adalah tetangganya. Setelah papanya meninggal dan keluarganya bangkrut, dokter yang dulunya dianggap kakak oleh Cladia (karena perbedaan usianya 4 tahun di atas Cladia) itu pindah bersama dengan mamanya ke pinggiran kota, sejak itu dia belum pernah mendengar lagi kabar tentangnya. Rasanya selain dia ingin mengkonsultasikan kesehatannya, Cladia tidak sabar ingin bertemu dengan dr. Laurel Tanputra, ingin memastikan apakah dokter itu adalah orang yang sama yang dulu menjadi tetangganya.
"Aku sudah menghubungi dr. Renata kemarin malam, sementara ini dia tidak ada di Indonesia, sepupunya, dr. Laurel yang akan menggantikannya," Ornado memandang kearah Cladia, sedikit mengernyitkan alisnya.
"Laurel? Laurel Tanputra?" Cladia melirik kearah Ornado, wajahnya bertanya-tanya bagaimana Ornado bisa mengenal nama itu, melihat lirikan Cladia, Ornado tertawa kecil.
"Tentu saja aku mengenalnya, kalau benar itu adalah Laurel yang sama, bukannya dia tetanggamu? Saat kita masih kecil setiap aku bermain ke rumahmu seringkali kamu sedang bermain bersama Laurel kan?" Cladia tersenyum, dia baru ingat bahwa masa kecil Ornado yang sering dihabiskan bermain bersamanya, pasti dia juga mengenal Laurel yang juga sering bermain ke rumahnya. Bahkan saat Ornado mencari Cladia dan tidak menemukannya di rumah, dia akan pergi mendapatkan Cladia di rumah Laurel.
"Kalau memang dia benar Laurel yang sama dengan yang kita kenal dulu, sepertinya lebih baik ke depannya dia yang menjadi doktermu, supaya kamu bisa merasa lebih nyaman, seingatku dulu hubungan kalian benar-benar dekat. Selain aku dulu di masa kecilmu dia adalah teman terdekatmu," Ornado meraih gelas berisi susu yang sudah kosong dari tangan Cladia dan meletakkannya kembali ke atas nampan.
Lagipula dengan adanya Laurel, aku harap kenanganmu tentang masa kecil kita bisa kamu ingat kembali dengan jelas, Ornado berkata dalam hati, matanya sekilas melirik Cladia yang tampak sedikit melamun.
__ADS_1
"Kamu sudah sarapan?" Cladia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka, Ornado mengangkat bahunya pelan sambil sedikit mengernyitkan dahinya.
"Aku bisa makan apa saja, jangan khawatir, aku sudah minta room service mengantarkan roti untuk sarapanku, dan aku sudah meminum segelas susu segar. Kapanpun kamu siap kita berangkat," Cladia mengangguk, diraihnya potongan buah segar, dimakannya setengahnya, setelah itu dia mulai membereskan baju dan barang-barangnya yang lain, memasukkan ke dalam koper.
Begitu selesai merapikan semua barang-barangnya, room service yang beberapa waktu sebelumnya sudah dipanggil Ornado segera membantu membawa barang-barang bawaan Ornado dan Cladia. Ketika berjalan melewati ruang tamu kamar hotel Cladia sempat melirik ke arah sofa. Disitu terlihat bantal dan selimut dengan posisi masih berantakan, terlihat jelas bahwa semalam baru saja ada seseorang yang tidur disana. Cladia sedikit menarik nafas panjang, sekilas melirik Ornado yang berjalan di sampingnya sambil menikmati roti di tangannya.
Kamu sudah melakukan banyak hal untukku Al, aku tidak tahu bagaimana caraku untuk dapat membalasmu, Cladia berbisik dalam hati, tangan kanannya memegang dadanya, ada sedikit rasa nyeri di hatinya, tapi buru-buru dia melepaskan tangannya, tidak ingin Ornado melihat tindakannya barusan.
©©©©©©©
"Nyonya, dr. Laurel sudah datang," Seorang pelayan segera memberi kabar Cladia begitu Laurel datang, Cladia yang sedang di ruang kerja Ornado mengamati kembali design-design perhiasan yang akan dipamerkan di layar notebooknya mengangkat wajahnya.
"Apa Dokter Laurel datang sendiri?"
"Tidak Nyonya, beliau bersama seorang pria, sepertinya bukan orang sini, seperti orang bule, bermata biru seperti Tuan Ornado, tampan Nyonya," Cladia tersenyum mendengar penjelasan pelayannya, apalagi melihat rona merah di pipi pelayannya saat mengatakan pria tampan, benar-benar terlihat bahwa pria yang baru disebutkan itu membuat pelayannya terpesona.
Ah, ternyata begitu ya..., banyak orang menganggap pria seperti Ornado dan ras sejenisnya tampan, Cladia berkata dalam hati, walaupun sebenarnya dari awal pertemuan mereka setelah 15 tahun lalu Cladia pun harus mengakui bahwa Ornado memang benar-benar tampan, bahkan lebih tampan dari artis. Sambil tetap tersenyum karena tingkah pelayannya barusan, Cladia menutup notebooknya dan bangkit berdiri.
"Tuan Ornado ada dimana?"
"Tuan sedang di ruang gym nyonya, sepertinya sedang berolahraga," Cladia mengangguk.
"Sajikan minuman hangat, kue dan buah untuk dr. Laurel dan temannya," Pelayan itu segera mengangguk dan pergi meninggalkan ruang kerja tuannya.
Ketika Cladia membuka pintu ruang gym, dilihatnya Ornado yang memakai dobok taekwondo jenis dan (seragam taekwondo untuk penyandang sabuk hitam) sedang melakukan gerakan dwi huryeo chagi (tendangan berputar melalui belakang) dengan kaki kirinya kemudian disambung dengan gerakan dwi hurigi (tendangan memutar dengan sasaran kepala) dengan kaki kanannya menggunakan samsak yang tergantung di bagian utara ruang gym sebagai sasaran latihannya.
Sejenak Cladia terkesiap melihat gerakan taekwondo yang dilakukan Ornado. Sebelumnya dia pernah melihat Jeremy mengenakan dobok taekwondo dan berlatih dengan samsak di rumah, tapi saat dia melihat Ornado, dengan tinggi badan lebih dari 180 cm dan bentuk tubuhnya yang atletis dan gagah melakukan teknik gerakan taekwondonya membuat pria itu benar-benar terlihat mempesona dan berhasil membuat gerakan yang baru dia lakukan terlihat begitu indah untuk dilihat. Cladia harus mengakui bahwa laki-laki itu benar-benar menawan.
Mendengar suara pintu terbuka gym dan langkah kaki Ornado langsung menghentikan latihannya dan membalikkan badan, melihat siapa yang datang tanpa mengetuk pintu. Begitu dilihatnya sosok Cladia dia langsung tersenyum, diraihnya handuk yang tadinya dia letakkan di atas treadmill untuk mengeringkan tetesan keringat yang membasahi wajah dan rambutnya. Ornado berjalan mendekati Cladia sambil mengatur nafasnya yang terdengar sedikit memburu karena latihan barusan.
"Dr Laurel sudah datang," Untuk mengendalikan hatinya yang tiba-tiba berdebar-debar Cladia langsung berkata-kata sambil mengalihkan pandangannya dari Ornado yang tampak memikat dengan dobok taekwondonya, Ornado sedikit mengernyitkan alisnya.
"Dia benar Laurel yang kita kenal?" Cladia menggeleng pelan mendengar pertanyaan Ornado.
"Aku belum menemuinya, kata pelayan dia membawa teman pria, sebaiknya kita menemui mereka bersama-sama," Cladia buru-buru membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar ruang gym, tapi sebelum tangannya meraih gagang pintu tersebut Ornado sudah bergerak lebih cepat untuk membukakan pintu untuknya.
"Ayo, kita temui mereka," Ornado meletakkan handuknya ke tempat gantungan di dalam gym sebelum dia menyusul Cladia keluar dari ruangan tersebut.
Ketika Cladia dan Ornado yang masih mengenakan doboknya memasuki ruang tamu mereka melihat seorang wanita cantik dengan model potongan rambut acutely asymmetrical (potongan rambut depan lebih panjang dari potongan rambut belakang) dan seorang pria dengan rambut bewarna coklat tua sedang mengamati hp yang ada di tangan si gadis dengan senyum ceria di wajah mereka berdua.
Begitu mendengar langkah kaki mendekat, kedua tamu tersebut langsung menghentikan kegiatannya dan sama-sama bangkit dari duduknya. Melihat wajah Cladia gadis bernama Laurel itu langsung terbeliak, menutup mulutnya kedua tangannya, tidak bisa menyembunyikan rasa senang bercampur kagetnya.
__ADS_1
"Cladia? Benar kamu Cladia kan? Cladia Sanjaya adik Jeremy Sanjaya?" Melihat Cladia mengangguk mengiyakan, tanpa menunggu lebih lama lagi Laurel berjalan cepat ke arah Cladia dan langsung memeluknya, menciumi pipi Cladia, tidak perduli pada Ornado dan pria yang bersamanya memandang tindakan mereka sambil tersenyum dengan pandangan sedikit geli.
"Laurel, aku benar-benar merindukanmu, kemana saja kamu selama ini? Kenapa tidak pernah mengirim kabar?" Cladia membalas pelukan Laurel dengan erat.
"Kamu semakin cantik saja. Sudah berapa lama kita berpisah? Mungkin sudah 7-8 tahun ya. Aku senang sekali bisa bertemu lagi denganmu. Baru 6 bulan ini aku kembali ke Indonesia, maaf belum sempat mencarimu, karena ada banyak hal yang sudah terjadi," Laurel berkata sambil melepaskan pelukannya dan melirik ke arah pria yang datang bersamanya, pria itu hanya tersenyum sambil sedikit mengangkat bahunya.
"Sebenarnya setelah kembali ke Indonesia aku kembali ke rumah lamaku, tapi saat mengunjungi rumah kalian info dari tetangga 5 tahun lalu kamu dan Jeremy sudah pindah dari rumah itu," Cladia mengganguk, karena kejadian 5 tahun lalu untuk mengurangi trauma Cladia, Jeremy memutuskan untuk pindah dari rumah lama mereka yang sebelumnya berada tidak jauh dari rumah Laurel yang lama.
Cladia memandang ke arah pria tersebut, tampan seperti yang dikatakan pelayannya, dari wajahnya Cladia bisa menebak bahwa umur pria itu tidak jauh dari Ornado, mungkin 1-2 tahun di atas Ornado, postur tubuhnya hampir sama dengan Ornado, tinggi, berhidung mancung, bermata biru seperti Ornado, namun rambutnya bewarna coklat tua, dan Cladia maklum pelayan tadi cukup terkesima dengan wajah tamunya hari ini. Di negara ini wajah-wajah berciri khas Eropa atau Amerika yang sering disebut "bule" sepertinya masih saja membuat orang di daerah Asia terkesima, sedangkan bagi dia sendiri karena perusahaan papanya banyak memiliki klien dari luar negeri sejak kecil dia sudah terbiasa bertemu dengan wajah-wajah bule. Cladia sedikit tersenyum geli memikirkan itu.
"Ayolah, duduklah, aku dengar dari Renata kondisimu kurang sehat," Laurel menarik tangan Cladia lembut mengajaknya ke arah sofa. Setelah Cladia duduk, Laurel kembali duduk di samping pria yang bersamanya tadi, berhadap-hadapan dengan Cladia. Begitu Ornado duduk di samping Cladia, Laurel tiba-tiba terpekik kecil, baru teringat dengan keberadaan Ornado.
"Ad, Ornado, hahh, bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali, kamu semakin tampan saja," Laurel tertawa memandangi Ornado yang tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya tanpa membalas pujian dari Laurel dengan kata-kata.
"Ehem..." Pria yang ada disamping Laurel menyenggolkan lengan kanannya ke lengan kiri Laurel, Laurel langsung menoleh ke arah pria itu sambil tersenyum.
"Sori......" Laurel mengatupkan kedua telapak tangannya menutupi mulutnya yang sedikit terkikik.
"Kamu tidak mengenalkan dia kepada kami?" Ornado tersenyum geli melihat Laurel yang salah tingkah karena mendapatkan lirikan tajam dari pria di sampingnya setelah memuji ketampanannya.
"Ah, aku hampir lupa, Dave, seperti yang sempat aku ceritakan dulu, ini Cladia Sanjaya dan Ornado Xanderson. Kenalkan, dia Dave Alexander Shaw, suamiku," Laurel menyebutkan kata-kata "suamiku" dengan suara lirih sambil menunjukkan jari manis tangan kanannya yang dilingkari sebuah cincin, Ornado dan Cladia langsung tersenyum mendengar penjelasan Laurel. Laurel yang mereka lihat saat ini masih seperti Laurel 15 tahun lalu, gadis yang murah senyum dan ceria, mungkin itu alasan terbesar Dave jatuh cinta dengan Laurel.
"Kamu sudah menikah? Kapan kamu menikah? Sayang sekali aku tidak tahu kabarnya, kalau tidak pasti aku bisa menjadi pendampingmu," Cladia tersenyum.
"Sebenarnya aku sudah menikah 7 tahun lalu," Cladia dan Ornado terbeliak, 7 tahun lalu, berarti saat itu Laurel masih berumur 18 tahun. Cladia terbengong-bengong, begitu lulus kuliah dia diharuskan menikah dengan Ornado, sedangkan karena kemampuan akademisnya Cladia hanya menjalani masa SD nya selama 5 tahun dan kuliah hanya dalam waktu 3,5 tahun, sehingga saat dia menikah dengan Ornado, umurnya masih 21 tahun. Itupun dia sudah merasa masih terlalu muda untuk menikah, ternyata Laurel lebih gila lagi, menikah di umur 18 tahun? Serius? Di jaman sekarang? Melihat wajah terkejut Cladia, Laurel tertawa terkikik.
"Kami sudah menikah 7 tahun lalu, tapi karena ada satu dan lain hal yang rumit, kami baru bertemu 6 bulan lalu dan melakukan resepsi pernikahan bulan lalu,"
"Hah?" Cladia semakin bingung dengan penjelasan Laurel, sudah menikah 7 tahun lalu, tapi baru bertemu 6 bulan lalu, baru merayakan resepsinya 1 bulan lalu, pernikahan macam apa itu? Benar-benar cerita yang rumit.
"Sudah, tidak cukup waktu seharian untuk menceritakan kisahmu, lain kali kamu bisa ceritakan lagi," Dave meraih bahu Laurel dalam pelukannnya, mencoba memperingatkan Laurel dengan lembut. Dari logat bahasanya Cladia bisa memperkirakan bahwa pria itu pasti sudah lama tinggal di Indonesia, jauh lebih lama dari Ornado.
"Ok, ok, lain kali aku akan ceritakan pada kalian. Ah, aku senang sekali, akhirnya kalian menikah. Sejak kecil saat kita bermain rumah-rumahan Ornado selalu minta menjadi pengantin priamu kan Cla. Akhirnya mimpimu jadi kenyataan juga Ad," Laurel tersenyum, dari wajahnya terlihat dia sangat puas bisa melihat saat ini Ornado dan Cladia benar-benar sudah menikah. Cladia sedikit salah tingkah dengan ucapan Laurel barusan, sedangkan Ornado tetap seperti biasanya terlihat tenang dengan senyuman di wajahnya.
"Maaf, apa hubunganmu dengan Tuan Augistin Shaw?" Tiba-tiba Ornado teringat sesuatu, mendengar pertanyaan itu Dave tertawa.
"Tuan Xanderson ternyata ingatannya sangat tajam, dia papaku," Dave tersenyum memandang Ornado.
"O, pantas saja, salam buat Tuan Augistin Shaw jika bertemu beliau, panggil saja aku Ad atau Ornado," Ornado tersenyum, Augistin Shawn, tentu saja Ornado ingat nama itu, salah satu pemilik usaha farmasi terbesar di Irlandia, yang juga merupakan salah satu supplier bahan baku kimia terbesar untuk perusahaan manufaktur milik Grup Xanderson.
"Baik, mewakili beliau salam juga untuk Tuan Alberto Xanderson," Ornado mengangguk mengiyakan. Cladia dan Laurel saling berpandangan, ternyata dunia begitu sempit, tidak disangka-sangka ternyata kedua orangtua Ornado dan Dave sudah saling mengenal bahkan mempunyai hubungan bisnis yang kelihatannya sudah cukup lama dan dekat.
__ADS_1
"Ah, aku lupa tujuan awalku datang kesini, ayo, dimana aku bisa mulai memeriksamu Cla?" Seperti baru saja dibangunkan dari tidurnya, Cladia sedikit tersentak dan sadar tentang maksud kedatangan Laurel.
"Kita ke kamar tamu saja," Cladia bangkit berdiri diikuti Laurel yang langsung membawa tas berisi peralatan kedokterannya berjalan mengikuti Cladia ke arah kamar tamu di lantai bawah.