My Wild Rose

My Wild Rose
KEBIASAAN BARU (2)


__ADS_3

Cladia melirik jam di tangannya yang menunjukkan pukul 08:40 pagi, meeting akan diadakan pukul 09:30, masih ada waktu lebih dari setengah jam, Cladia melirik ke arah meja kerja Ornado, laki-laki itu tampak serius dengan tumpukan kertas di depannya.


Cladia sekilas menyentuh perutnya, tanpa disadarinya tiba-tiba dia merasa lapar, padahal tadi pagi dia merasa sarapannya sudah lebih banyak dari biasanya.


Mendengar langkah kaki dari arah meja Cladia, Ornado mengangkat kepalanya, gerakan tangannya yang sedang memegang pulpen langsung terhenti.


“Masih ada waktu sebelum meeting, aku akan ke lantai atas sebentar, membeli cemilan,” Ornado sedikit mengernyitkan dahinya, tumben sekali Cladia mencari cemilan jam-jam segini, sepengetahuannya Cladia bukan tipe wanita yang suka ngemil di jam-jam sepagi ini.


“Ini hari terakhirku bekerja disini, paling tidak aku mau menikmati cemilan kesukaanku di café,” Melihat tatapan Ornado yang menunjukkan tanda tanya Cladia segera mencari alasan sebelum Ornado bertanya macam-macam.


“Mau aku temani?” Cladia buru-buru menggerakkan kedua telapak tangannya tanda menolak.


“Tidak, tidak perlu, masih banyak yang harus kamu kerjakan,” Cladia melirik tumpukan kertas di hadapan Ornado, Ornado menggerakkan bibirnya ke samping, ternyata mata Cladia cukup jeli.


“Ok, nikmati waktumu di café sebelum meeting,” Cladia menganggguk dan melangkah keluar ruangan dengan diikuti pandangan mata Ornado.


Ketika Cladia berjalan ke arah lift untuk naik ke lantai paling atas tempat café kantor itu berada, tanpa sengaja dia bertemu dengan Robi yang membawa amplop putih di tangan kanannya.


Melihat bayangan Cladia, Robi dengan sedikit berlari menuju ke arahnya.


“Cla, tunggu sebentar,” Cladia menghentikan langkah kakinya yang sudah bersiap untuk masuk ke dalam lift.


“Iya Kak, ada apa?” Robi terdiam untuk beberapa saat dengan mata yang menatap tajam ke arah Cladia, membuat Cladia merasa tidak nyaman dan berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak bertatap mata dengan Robi.


“Cla, hari ini aku akan mengajukan surat pengunduran diri,” Mata Cladia melotot, matanya langsung kembali menatap ke arah wajah Robi, tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.


“Kenapa tiba-tiba sekali Kak? Apa Kakak sudah pikirkan baik-baik? Karir Kakak cukup bagus disini, apalagi Kakak masih tergabung dalam team untuk mengerjakan event peluncuran produk baru bersama Sanjaya,” Robi menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Cladia.


“Kalau aku tetap disini, aku tidak bisa mengejarmu. Aku tahu jelas kompensasi yang harus aku bayar karena berhenti di tengah-tengah kontrak masa kerjaku, tapi aku tidak keberatan, bahkan jika harus membayar berkali-kali lipat, aku akan melakukannya. Aku tidak mau berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Ornado.” Mata Cladia membeliak mendengar perkataan Robi, apalagi barusan dia menyebut nama Ornado tanpa embel-embel pak, rasanya sedikit aneh dengan tindakan Robi barusan.


“Apa maksud Kakak?”


“Aku mencintaimu Cla, sudah lama, sejak kita bertemu pertama kali bertemu. Dengan aku meninggalkan perusahaan ini aku dan Ornado bisa bersaing secara adil untuk memperebutkan hatimu,” Robi berjalan mendekati Cladia yang langsung mundur.


“Kak, aku sudah menikah, Kakak tahu itu,” Robi menghentikan langkahnya.


“Aku tahu, tapi aku tidak bisa memilih dengan siapa aku jatuh cinta,”


“Kalau begitu hentikan Kak, jangan dilanjutkan lagi,” Robi menarik nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Aku tidak bisa, karena aku melihat kamu tidak bahagia bersamanya. Hal yang paling menyakitkan bagiku adalah melihat orang yang aku cintai tidak bahagia.”


“Kakak, apapun yang kamu pikirkan tentang suamiku, belum tentu itu benar, jadi berhentilah, jangan merusak dirimu sendiri, jangan merusak masa depanmu,” Cladia menarik nafas panjang sambil menggigit bibir bawahnya.


“Aku akan berhenti kalau kamu bahagia bersamanya dan kamu mengakui bahwa kamu memilih dia karena kamu mencintainya. Tolong jawab aku, apa kamu mencintainya?” Cladia cukup kaget mendapat pertanyaan seperti itu dari Robi.


“Untuk saat ini aku sudah memutuskan untuk tetap bersamanya,” Cladia menjawab pertanyaan Robi dengan suara pelan.


“Yang kamu katakan tidak menjawab pertanyaanku. Baiklah, aku akan pergi dulu,” Robi membalikkan tubuhnya, tapi baru dua langkah dia berjalan dia menghentikan langkahnya lagi.


“Tunggu aku Cla, aku akan segera kembali padamu. Dalam waktu dekat kita akan bertemu lagi dengan kondisi dan status yang berbeda dari sekarang,” Robi berkata dengan sedikit menoleh ke arah Cladia dan tanpa menunggu respon dari Cladia dia segera melangkah pergi, membiarkan Cladia dengan wajah sedikit bingung.


Cladia memegang dadanya yang berdebar-debar karena merasa sedikit terintimidasi dengan tindakan Robi barusan, dia benar-benar tidak mengerti dengan tindakan Robi barusan.





Cladia masih duduk di cafe dalam posisi mengingat kejadian bersama Robi barusan sebelum dia memasuki lift.


Di depan Cladia sudah terhidang sebuah puding strawberi dan segelas coklat hangat yang masih belum sempat disentuhnya.


Tangannya sibuk mengaduk-aduk coklat hangat di depannya dengan mata sedikit menerawang mengingat kejadian tadi. Untuk beberapa saat Cladia tetap dalam posisi itu sampai tidak menyadari ada 3 orang wanita yang berdiri di sampingnya.


"Pagi bu..." Cladia mengangguk mendengar sapaan mereka bertiga.


"Bu Cladia, maafkan kami," Cladia mengernyitkan alisnya, bertanya-tanya kenapa mereka minta maaf kepadanya.


"Kenapa kalian minta maaf? Aku tidak ingat kalian melakukan kesalahan?" Ketiga wanita itu saling berpandangan.


"Maafkan kami bu, kami pernah menggosipkan ibu dan Pak Ornado ketika kita di kamar mandi beberapa waktu lalu," Cladia tersenyum, dia baru ingat bahwa ketiga orang yang sedang berdiri di dekatnya sekarang adalah 3 orang yang pernah menggosip dengan penuh semangat di kamar mandi waktu itu.


"Kalian tidak perlu minta maaf, kalian sudah menerima teguran dariku waktu itu, asal kalian tidak mengulanginya bagiku sudah lebih dari cukup dari permintaan maaf," Ketiga orang itu kembali saling berpandangan, gerakan tubuh mereka masih menunjukkan sikap rasa bersalah mereka, tapi melihat senyuman di wajah Cladia membuat mereka merasa lega, karena terlihat jelas bahwa istri CEO mereka ini benar-benar sudah melupakan kejadian itu dan tidak akan memperpanjang masalah itu.


"Terimakasih bu, terimakasih," Ketiga orang itu mengucapkan terimakasih dengan sedikit membungkukkan badan mereka. Cladia bangkit dari duduknya, memegang pundak dari salah satu mereka.


"Kita sama-sama belajar, agar ke depannya kita tidak gampang menghakimi orang lain dan menyebarkan berita yang belum jelas," Ketiga orang itu buru-buru menganggukkan kepalanya, paling tidak mereka bisa bernafas lega, karena sepertinya Cladia tidak akan memperpanjang kasus itu, bagaimanapun mereka cukup khawatir dengan kekuasaan Cladia yang ternyata memang benar istri CEO Bumi Asia, bisa saja dengan statusnya dia minta pihak personalia untuk mendisiplinkan mereka.


"Ok, jangan dipikirkan lagi, kalian bisa kembali ke tempat kerja kalian," Dengan senyum di wajah mereka, ketiga orang itu kembali mengangguk dan berbalik arah meninggalkan Cladia yang langsung kembali mengambil posisi duduk.


Ketiga orang itu tersenyum lega, dan buru-buru berjalan ke arah pintu keluar cafe sampai tidak sadar hampir menabrak Ornado yang berdiri tidak jauh dari tempat kejadian dengan posisi berdiri sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celana jasnya.

__ADS_1


Melihat wajah kaget ketiga orang saat melihatnya, Ornado segera memberikan kode dengan tangannya agar mereka bisa langsung meneruskan berjalan meninggalkan cafe tanpa perlu berhenti karena melihatnya.


Cladia yang tidak menyadari kehadiran Ornado di cafe itu kembali memegang sendok di gelas coklat hangatnya dan mengaduk-aduknya.


Ornado berjalan mendekat ke arah Cladia, berdiri di belakang kursi Cladia, badannya sedikit membungkuk, lalu dengan perlahan kedua tangannya memegang sandaran kursi Cladia yang tingginya hanya sebatas pinggang Cladia yang dalam posisi duduk.


Kedua tangan Ornado menekan sandaran kursi dengan posisi tubuh Cladia berada diantara kedua lengan Ornado. Menyadari ada dua lengan di kanan kirinya Cladia mendongakkan kepalanya, Ornado langsung tersenyum begitu mata mereka bertemu.


Cladia sedikit gugup, dan dia langsung mengarahkan pandangannya ke sekeliling cafe, beberapa orang yang kebetulan melihat tindakan mesra Ornado kepada Cladia langsung berpura-pura tidak melihat dengan buru-buru mengalihkan pandangan mereka, walaupun setelahnya mereka langsung saling berbisik satu dengan yang lain.


Ornado menarik kedua tangannya, berjalan ke kursi di dekat Cladia, menariknya dan dengan santai lalu duduk disitu, menyilangkan kakinya dengan kedua tangannya bertumpu pada sandaran kursi.


Matanya melirik ke arah puding dan coklat hangat yang masih terlihat utuh di depan Cladia.


"Coklat hangatmu keburu dingin dan pudingmu keburu berair," Dengan pandangan matanya Ornado menunjuk ke arah puding dan coklat hangat di depan Cladia.


Tanpa menunggu lama, dengan gerakan terlihat gugup Cladia meraih sendok kecil di samping piring berisi pudingnya dan mulai menyendoknya.


Ornado tersenyum melihat tindakan gugup Cladia, sekilas dia teringat tadi malam ketika Cladia dengan berani memutuskan untuk pindah ke kamar utama bersamanya dan kejadian barusan, tindakan Cladia menghadapi ketiga orang tadi yang baginya benar-benar terlihat elegan, dia sangat menyukai melihat respon Cladia terhadap ketiga orang tadi.


Apa yang dilakukannya benar-benar terlihat penuh dengan pertimbangan bahkan menunjukkan sikap berwibawa seperti seorang bangsawan sejati.


Dengan usianya yang masih terbilang sangat muda Cladia bisa menunjukkan bahwa dia benar-benar pantas menyandang status Nyonya Xanderson. Tapi kedua kejadian itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan sikap gugup Cladia saat ini di hadapannya.


Kau benar-benar wanitaku, satu-satunya yang pantas menjadi wanitaku, Ornado berkata dalam hati sambil matanya terus memandangi wajah Cladia dengan tidak bosan-bosannya.


"Al...., jangan memandangku seperti itu," Cladia mulai jengah melihat pandangan mata Ornado yang sedari tadi tidak lepas dari wajahnya, apalagi sepanjang laki-laki itu duduk di depannya, bibirnya tidak lepas dari senyuman.


Mendengar protes dari Cladia bukannya menghentikan tindakannya, Ornado justru semakin melebarkan senyumnya.


"Sekarang siapa yang berani memprotesku mengagumi istriku sendiri?" Cladia menarik nafas panjang, benar-benar sesuai dugaannya, hari ini menjadi hari yang melelahkan baginya.


Sejak pagi dia datang ke kantor ini, dia melihat pandangan mata semua staff dan karyawan yang ada terlihat berubah, mereka yang tidak pernah bertemu dengannya pun ketika mereka berpapasan langsung memberinya senyum ramah dan sikap hormat dengan sedikit menundukkan badan mereka.


Dengan tindakan mereka yang berubah drastis dalam waktu singkat sudah bisa dipastikan bahwa kabar tentang dia sebagai istri Ornado pasti sudah tersebar di seluruh kantor.


Cladia buru-buru mengalihkan pandangannya dari wajah Ornado, matanya melirik ke arah jam  di tangannya, buru-buru dia meneguk coklat hangatnya hingga tersisa sepertiganya, lalu bangkit berdiri.


"Al, waktunya tinggal 5 menit lagi kita harus ke ruang meeting," Ornado menggerakkan kedua bahunya dengan santai dan mengikuti Cladia yang terburu-buru keluar dari cafe menuju lift.

__ADS_1


__ADS_2