
Cladia membereskan semua file-file yang ada di mejanya, Amalia yang berdiri disampingnya dengan sigap membantunya merapikan file-filenya, memasukkannya ke dalam sebuah kotak, Ornado dan James yang berdiri di sisi lain meja kerja Cladia mengamati apa yang dikerjakan Cladia.
Mereka baru saja melakukan meeting terakhir sebelum Cladia kembali ke Perusahaan Sanjaya siang ini. James melirik ke arah Ornado yang terlihat jelas dari wajahnya kalau dia tidak rela Cladia meninggalkan kantornya.
"Jam berapa kamu kembali ke Sanjaya?"
"Setelah semua ini beres, aku akan segera kembali kesana," Cladia menjawab pertanyaan James tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di depannya.
"Apa tidak sebaiknya setelah makan siang?" James kembali bertanya, Cladia menghentikan gerakan tangannya karena teringat sesuatu karena pertanyaan James barusan.
"Ah, Al, aku lupa memberitahumu, siang ini aku ada janji makan siang dengan Laurel sekalian aku ke RS nya," Ornado mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Cladia.
"Kenapa kamu harus ke RS? Apa ada yang tidak beres dengan kesehatanmu? Bukannya Laurel kemaren bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan?" Ornado berjalan mendekati Cladia.
"Tidak, semua baik-baik saja, tapi aku ingin melakukan cek darah rutin saja." Cladia sedikit menundukkan kepalanya agar Ornado tidak bisa melihat pandangan matanya yang mulai gugup.
"Kenapa tidak dari pihak lab mereka yang datang ke rumah seperti biasanya? Kamu tidak harus kesana kan?" Cladia menahan nafasnya sebentar sebelum berkata-kata untuk bisa meyakinkan Ornado.
"Tidak apa-apa Al, lagipula aku juga ingin sekali-kali mengunjungi Laurel di tempat kerjanya, kami berencana makan siang bersama," Ornado yang sudah berdiri di dekat Cladia menarik kursi de dekat Cladia dan duduk disana.
"Ok, biar aku menemanimu," Cladia langsung menoleh ke arah Ornado.
"Tidak perlu Al, ada beberapa hal yang kita ingin bicarakan berdua, urusan wanita. Lain kali kita bisa sama-sama mengunjunginya di rumahnya," Cladia tersenyum mencoba meyakinkan Ornado agar dia diperbolehkan pergi sendiri tanpa ditemani, Ornado tersenyum simpul mendengar jawaban Cladia.
"Ok, James, aturkan sopir dan pastikan pengawal untuk menemani Cladia," James langsung mengangguk dan meraih hpnya untuk melakukan panggilan, tanpa disadari oleh Ornado, Cladia menarik nafas lega melalui bibirnya karena Ornado memutuskan untuk tidak mengantarnya.
Cladia terpaku menatap hasil usgnya, bibirnya tersenyum bahagia sampai tidak disadarinya air matanya menetes di pipinya, karena bagaimanapun dia masih tidak percaya dengan hasil usg yang saat ini dia lihat. Laurel yang duduk di depannya tersenyum, ikut bahagia melihat hasil usg barusan.
"Dia masih terlalu kecil, belum terlihat jelas, usianya masih sekitar 6 minggu, setelah ini kamu harus rutin sebulan sekali memeriksakan kehamilanmu. Aku dokter penyakit dalam, tapi aku aturkan dokter kandungan terbaik di rs ini untuk menjadi doktermu. Sementara ini hasil usg hari ini akan aku serahkan ke dia dan aku akan konsultasikan kondisimu kepadanya." Cladia yang masih memegang erat hasil usg di tangannya hanya mengangguk-angukkan kepalanya tanpa banyak komentar. Setelah lama mengamati hasil usg nya, Cladia mendongakkan kepalanya memandang ke arah Laurel.
__ADS_1
"Laurel, aku minta tolong agar kamu juga tidak menceritakan ini kepada suamimu," Laurel langsung mengangguk mengiyakan.
"Tenang saja, sementara ini aku akan berdiam diri. O, ya, apa Renata sudah mengabarimu? Sepertinya dia akan pindah ke luar negeri mengikuti suaminya, kamu harus mulai mencari dokter pribadi lain untuk menggantikan Renata,"
"Aku sudah mendapat kabar dari Kak Jeremy, kalau aku minta kamu yang menjadi dokter pribadiku bagaimana? Apakah akan merepotkanmu?" Laurel tertawa.
"Tentu tidak, dengan senang hati kalau kamu percaya padaku," Cladia membuka tasnya, menyimpan hasil usgnya ke dalam tas.
"Hari ini aku akan berikan hasil pemeriksaanmu kepada dokter spesialis kandungan, nanti sore aku akan mengaturkan vitamin dan kalsium untuk keperluanmu selama sebulan, aku akan mengirimkannya ke rumahmu," Cladia mengangguk mendengar perkataan Laurel.
"Ok, aku akan pulang dulu, karena hari ini aku akan kembali ke kantor Sanjaya," Cladia bangkit berdiri, diikuti Laurel.
"Cla," Mendengar panggilan pelan dari Laurel, Cladia langsung menoleh ke arah Laurel.
"Hmmm, ya aku tahu mengingat hubunganmu dengan Ornado saat ini rasanya tidak mungkin, tapi sebagai doktermu aku tetap harus mengingatkanmu, untuk trisemester pertama kehamilanmu, karena janin masih rentan....., jangan melakukan itu dulu dengan Ornado," Cladia tersentak kaget, Laurel tersenyum sambil memeluk bahu Cladia.
'Laurel...." Wajah Cladia yang terlihat shock membuat Laurel tertawa.
"Sudahlah, tidak tega aku melihat wajah kagetmu," Laurel menepuk punggung Cladia lembut.
Sepulang dari kantornya di perusahaan Sanjaya, Cladia lebih memilih untuk menikmati suasana di tepi kolam renang di belakang rumah. Awalnya dia hanya ingin duduk-duduk di tepi kolam, tapi akhirnya pemandangan segar kolam renang membuatnya tidak mampu menahan diri untuk masuk ke dalam kolam renang.
Sejak dia memasuki rumah itu belum pernah sekalipun dia berenang di kolam renang itu, bukan karena tidak ingin, tapi dia merasa akan tidak nyaman jika tiba-tiba Ornado melihatnya dengan pakaian renangnya. Setelah makan siang tadi Ornado sempat mengirimnya pesan mengatakan kalau hari ini dia akan pulang terlambat karena ada meeting mendadak dengan klien, karena itu sore ini Cladia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menikmati segarnya air kolam renang, apalagi beberapa waktu lalu di Hotel X yang lain bisa dengan gembira menikmati kolam renang dia hanya bisa duduk-duduk di kursi santai membaca majalah.
Untuk berapa lama Cladia berenang dengan bebas, menikmati segarnya air kolam, sehingga dia tidak menyadari ketika Ornado berjalan melangkah mendekati bibir kolam renang. Ketika Cladia memutuskan keluar dari kolam renang matanya langsung terbeliak melihat Ornado yang masih memakai setelan jasnya ternyata sudah berdiri di tepi kolam renang, tapi terlambat bagi Cladia untuk membatalkan gerakannya untuk keluar dari kolam renang.
Cladia menarik nafas panjang setelah keluar dari kolam renang dan berjalan mendekati kursi santai dekat kolam dimana dia meletakkan jas mandinya. Kondisi Cladia dengan pakaian renangnya yang baru keluar dari kolam dengan rambutnya yang basah dengan air masih menetes melalui ujung-ujung rambut panjangnya membuat Ornado sedikit tertunduk dan tanpa disadarinya membuatnya menelan ludah.
Sebelum Cladia mencapai kursi santai, Ornado sudah meraih jas mandinya dan memakaikannya ke tubuh Cladia yang terlihat canggung karena tindakan Ornado. Cladia buru-buru mengikat jas mandinya agar menutupi tubuhnya yang karena pakaian renangnya benar-benar menunjukkan lekuk-lekuk tubuhnya. Ornado sedikit berdehem pelan dan langsung mengalihkan pandangannya dari tubuh Cladia yang saat ini benar-benar membuatnya berdebar-debar dan kembali menelan ludahnya.
"Tadi kamu bilang akan pulang terlambat?" Cladia mencoba mengalihkan perhatian Ornado dengan pertanyaan agar suasana tidak menjadi lebih canggung.
__ADS_1
"Oh, iya, pesawat klien yang harus kami temui mengalami delay, meetingnya ditunda besok pagi," Setelah yakin Cladia sudah menutup rapat tubuhnya dengan jas mandinya baru Ornado berani menoleh memandang kembali ke arah Cladia, namun tetap saja wajah basah dan segar Cladia setelah berenang, begitu juga rambut Cladia yang masih terlihat basah membuat jantung Ornado berdegup kencang.
"Kalau kamu ada waktu, besok siang setelah makan siang aku mau mengajakmu ke butik," Cladia mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Ornado.
"Ada pesta amal lelang barang-barang antik untuk donasi korban bencana alam, aku harap kamu bisa menemaniku pergi ke pesta. Walaupun ini pesta amal tapi kamu tahu sendiri kadang dengan kedok pesta amal disana orang saling berlomba untuk membuktikan diri sebagai orang penting yang perlu dipertimbangkan keberadaannya." Cladia mengambil handuk kecil dari atas kursi dan mengeringkan rambutnya.
"Kapan pestanya?"
"2 hari lagi, Jeremy pasti juga sudah menerima undangannya," Ornado menjelaskan.
"Haruskah aku ke butik lagi? Tidak bisakah aku memakai pakaian yang sudah ada?" Orando tersenyum mendengar pertanyaan Cladia, tentu saja Cladia akan cantik memakai pakaian apapun, ber merk atau tidak, tapi kali ini akan banyak tokoh-tokoh besar dari kalangan bangsawan baik dari luar negeri ataupun para pemimpin perusahaan besar baik dari dalam ataupun luar negeri.
"Aku tidak ingin memaksamu, tapi aku akan senang sekali kamu mau mengenakan busana pesta yang berasal dari butik kita, bagaimanapun kehadiranmu sebagai Nyonya Xanderson pasti akan menjadi sorotan banyak orang," Cladia menarik nafas panjang, selama ini dia cukup menikmati posisinya sebagai anak kedua dari keluarga Sanjaya yang kebetulan juga seorang wanita, jadi secara tanggung jawab dan beban yang ditanggungnya tidak sebesar Jeremy, tapi dengan statusnya sekarang sebagai istri Ornado Xanderson, bisa dipastikan beban dan tanggung jawabnya sekarang bahkan jauh lebih besar dari Jeremy.
"Ok, besok kita ke butik," Cladia melangkah ke kursi santai di dekat meja dan mengambil posisi duduk dengan berselonjor diikuti Ornado yang mengambil posisi duduk di kursi sebelah kanannya. Ornado tersenyum senang, karena sebenarnya dia sudah memilih gaun untuk Cladia. Gaun bewarna perak yang sebenarnya sudah dikerjakan para designernya sejak 30 hari lalu.
"Cla, kamu sudah dengar? Robi mengajukan resign hari ini," Cladia menoleh ke arah Ornado, tangannya masih bergerak mengeringkan rambutnya.
"Tadi pagi sebelum ke cafe aku sempat bertemu dengannya dan dia juga mengatakan hal yang sama padaku,"
"Dia minta mulai besok sudah tidak masuk kantor. Sesuai aturan untuk karyawan sekelas staff minimal harus 1 bulan sebelumnya mengajukan pengunduran diri, tapi sepertinya Robi memilih membayar penalti daripada menunggu selama sebulan," Cladia mengangguk mendengar penjelasan Ornado.
"Al...," Cladia berkata pelan, Ornado yang awalnya memandang ke arah kolam renang langsung menoleh mendengar panggilan dari Cladia.
"Aku mau mengatakan sesuatu, tapi janji jangan marah ya...," Ornado mengernyitkan alisnya mendengar permintaan dari Cladia.
"Ada apa Cla? Ada sesuatu yang telah terjadi?" Seingatnya belum pernah Cladia memintanya untuk tidak marah.
"Janjilah dahulu," Ornado langsung mengangguk mengiyakan.
"Tadi pagi sewaktu aku bertemu Kak Robi, dia mengatakan kalau alasan dia resign supaya dia bisa mengejarku, pagi tadi dia menyatakan cintanya padaku," Mata Ornado melotot kaget, dari pancaran sinar mata Ornado sekilas Cladia bisa melihat aura kemarahan disana. Jauh-jauh hari Ornado sudah tahu kalau Robi menyukai Cladia, tapi benar-benar tidak disangkanya dengan status Cladia sebagai istrinya dia tetap nekat menyatakan perasaannya, bahkan berencana mengejar Cladia?
__ADS_1
Jangan mimpi! Ornado berteriak dalam hati.