
Sore itu wajah Cladia tampak cerah dengan rambutnya yang terikat di atas dan pakaian santainya yang bewarna krem, senada dengan warna pita yang terikat di rambutnya, menimbulkan kesan anggun yang ada pada Cladia semakin menonjol. Cladia berdiri di dekat Tante Ema bersama 2 pelayan wanita dan seorang pria yang merupakan tukang masak di rumahnya yang sibuk menyiapkan pesta barbeque malam nanti. Alberto dan Ornado tampak mengobrol santai di kursi yang ada di pinggiran taman belakang rumah mereka sambil sesekali memandang ke arah Tante Ema dan Cladia yang terlihat sibuk.
"Ke depannya papa tidak akan ikut campur lagi urusan Ola dan Yati, semua papa percayakan padamu jika ada sesuatu yang terjadi," Ornado yang duduk sambil menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain tersenyum sambil mengangguk mengiyakan perkataan papanya.
"Apa yang papa berikan untuk mereka sudah lebih dari cukup. Rumah dan tempat usaha cafe, aku sendiri belum tentu akan semurah hati itu untuk mereka berdua, yang sejak awal kami bertemu, mereka selalu membuat masalah," Ornado berkata sambil matanya menatap lurus ke depan, mengamati Cladia yang sedang sibuk membantu Tante Ema, menikmati setiap gerakan tubuh Cladia yang baginya terlihat sungguh indah.
"Besok Amadea akan berangkat ke Bali, papa akan ikut kesana, rasanya sudah lama papa tidak kesana, sejak mamamu meninggal, terlalu banyak tempat dengan kenangan di negara ini yang ditinggalkan oleh mamamu, termasuk di Pulau Bali. Apa kamu benar-benar tidak tertarik untuk menemani kami berlibur kesana?"
"Sejak aku dan Cladia menikah, tidak ada tempat liburan yang ingin aku datangi jika Cladia tidak ikut. Akhir-akhir ini Cladia sedang butuh banyak istirahat." Alberto mengarahkan pandangan matanya ke menantunya yang sedang menyeka keringat di wajahnya dengan tissue.
"Apa ada masalah dengan kesehatan Cladia?" Alberto mengernyitkan keningnya, bagaimanapun juga perkataan Ola tentang rahasia Cladia sedikit mengganggu pikirannya.
"Tidak, tapi beberapa waktu lalu dia sempat mengalami somnabulisme, Laurel menyarankan dia perlu mengatur jadwal tidurnya dengan baik dan juga kenyamanan tidurnya," Alberto menarik nafas panjang sambil tersenyum.
"Hubungan kalian selalu mengingatkanku tentang mamamu, sayang sekali kami hanya berjodoh sebentar. Aku harap kalian memiliki waktu yang panjang tidak seperti kami," Ornado menoleh sebentar, dilihatnya wajah papanya yang sudah menunjukkan banyak kerutan tapi masih terlihat tampan, terlihat kerinduan di mata papanya saat menceritakan tentang mamanya.
"Apakah papa pernah berpikir untuk menikah lagi?" Alberto tertawa mendengar pertanyaan spontan dari Ornado.
"Belum pernah ada wanita lain yang bisa membuat hatiku bergetar selain mamamu, mana bisa aku menikahi wanita lain? Jangan mengigau Ad. Lagipula aku lebih takut dengan protes anakku kalau dia mendengar aku berencana menikah lagi," Perkataan Alberto langsung disambut tawa dari Ornado.
"Apa saja yang penting papa bahagia," Ornado berkata dengan tulus.
__ADS_1
"Daripada kamu memikirkan itu lebih baik segera berikan aku cucu supaya aku memiliki kesibukan baru merawat cucuku," Tawa Ornado langsung terhenti mendengar perkataan papanya, berganti dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Cladia masih terbilang muda, masih 21 tahun, tapi aku rasa sudah tidak ada alasan kalian menunda untuk memiliki anak, apalagi usiamu sekarang sudah 27 tahun per kemarin. Menurut papa, Cladia wanita yang baik, dia tegas tapi baik hati, dia akan menjadi seorang mama yang hebat untuk anak-anakmu," Ornado menarik nafas panjang dengan senyum masih tersungging di bibirnya yang tipis. Keinginannya untuk memiliki anak bersama Cladia jauh lebih besar dibanding siapapun.
"Masalah anak, biar Tuhan yang memberikan jika itu sudah waktunya diberikan pa," Alberto menepuk bahu Ornado mendengar jawaban Ornado yang cukup bijaksana.
"Asal kalian tetap giat berusaha," Alberto tertawa dan bangkit berdiri menyambut James dan Amadea yang baru saja muncul, meninggalkan Ornado yang sedikit berpikir sambil matanya masih menatap ke arah Cladia. Sekilas dilihatnya tawa bahagia Cladia ketika Jeremy yang baru saja datang bersama Niela tiba-tiba menyuapkan sebutir anggur di mulutnya. Ornado tersenyum, ikut senang melihat tawa ceria Cladia, tapi begitu Ornado kembali teringat akan ciuman Cladia semalam di pesta ulang tahunnya Ornado segera mengalihkan pandangannya, tangannya menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdebar keras karena membayangkan kejadian semalam saat Cladia mencium bibirnya di pesta ulang tahunnya. Akhir-akhir ini karena kemajuan hubungan mereka tampaknya semakin sulit bagi Ornado untuk bisa menahan gairahnya saat melihat sosok Cladia. Ornado menarik nafas panjang dan mengeluarkan lewat bibirnya untuk berusaha membuat dirinya sendiri menjadi tenang sebelum akhirnya dia harus bergabung dengan yang lain.
Alih-alih memakan daging panggang dan sate ayam yang dibakar oleh Niela dan Tante Ema, sedari tadi Cladia lebih banyak menikmati buah-buahan dan kue-kue yang tersedia di meja dekat tempat dia duduk bersebelahan dengan Ornado dan Alberto.
"Maaf...., aku akan ke toilet, kalian lanjutkan makan malamnya tanpa aku, aku akan beristirahat sebentar," Dengan buru-buru Cladia berdiri dengan telapak tangan kanannya masih dalam posisi menutup mulutnya, tangan kirinya menyingkirkan kursi yang tadi dibuatnya duduk dan berjalan dengan cepat tanpa memberi kesempatan yang lain menjawab perkataannya. Ornado segera bangkit berdiri, bersiap untuk menyusul Cladia, tapi sebelum dia menyusul Cladia perkataan papanya cukup membuatnya terdiam beberapa saat karena kaget.
"Al, sepertinya sebentar lagi aku akan mendengar kabar tentang cucu papa," Ornado yang sudah mengarahkan badannya bersiap untuk mengejar Cladia kembali membalikkan badannya menghadap ke arah papanya.
"Apa maksud papa?" Melihat wajah bingung Ornado, Alberto hanya tersenyum.
"Papa bukan seorang dokter, belum tentu apa yang akan papa katakan itu benar, tapi dari wajah pucat Cladia dan gejala yang barusan ditunjukkannya, sepertinya sebentar lagi kamu akan menjadi seorang papa," Kali ini mata Ornado benar-benar terbeliak kaget. Beberapa lama ini dia memang sempat bertanya-tanya kenapa selera makan Cladia sedikit berubah, berusaha menjauhi masakan berbahan dasar ikan dan lebih memilih daging atau ayam yang boleh dibilang tidak terlalu berbau amis dan banyak menkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan bahkan yang cenderung asam, wajahnya juga kadang terlihat sedikit lebih pucat dari biasanya.
"Papa juga dulunya seorang suami dari seorang wanita yang pernah hamil juga, sedikit banyak papa ada pengalaman dalam hal itu," Ornado memandangi wajah papanya yang dipenuhi senyum bahagia seolah-olah apa yang diperkirakannya itu tidak mungkin meleset. Jeremy dan Niela saling berpandang-pandangan mendengar perkataan Alberto Xanderson, dan tanpa sadar senyum bahagia menyembul dari bibir mereka berdua.
__ADS_1
"Masak kamu sebagai suaminya tidak tahu kalau ada perubahan yang terjadi pada tubuh istrimu? Coba kamu ajak dia ke dokter untuk memastikannya," Ornado sedikit mengalihkan pandangannya mendengar pertanyaan menggoda dari papanya. James dan Amadea tersenyum geli melihat wajah memerah dari Ornado karena godaan Alberto.
Apa itu mungkin? Kita hanya melakukannya sekali, kecuali saat itu benar-benar puncak masa suburmu. Mungkinkah apa yang dikatakan papa benar-benar terjadi? Ornado bertanya-tanya dalam hati dengan wajah antara bingung dan tidak percaya. Sentuhan lembut dari tangan Tante Ema membuat Ornado sedikit tersentak.
"Susul Cladia, lihat bagaimana keadaannya, apa dia baik-baik saja, kalian tidak perlu melanjutkan makan malam hari ini, temani saja dia supaya dia beristirahat dengan cukup," Tanpa menunggu diperintah dua kali oleh Tante Ema, Ornado langsung berlari ke dalam rumah dengan tergesa-gesa dan langsung menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
Saat Ornado masuk ke kamarnya dilihatnya Cladia sedang duduk di atas tempat tidur sambil melihat televisi. Walaupun mata Cladia terarah ke layar televisi, Ornado dapat melihat bahwa Cladia sedang melamun, matanya tidak benar-benar menikmati siaran yang ada di telivisi di hadapannya.
Ornado berjalan pelan mendekati tempat tidur, menarik kursi dan meletakkannya di dekat posisi Cladia merebahkan tubuhnya. Cladia sedikit tersentak melihat Ornado yang baru saja datang dan mengambil posisi duduk di samping tempat tidurnya.
"Kamu baik-baik saja amore mio?" Cladia tersenyum dan sedikit membenarkan posisi duduknya di atas tempat tidur sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Mata Ornado sekilas menatap ke arah tubuh Cladia, terutama perut Cladia yang tertutup oleh selimut sampai di bagian dada.
"Kenapa kamu meninggalkan makan malammu?" Cladia tidak menjawab pertanyaan Ornado, justru balik bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
Apakah kamu benar-benar hamil? Jika itu benar, itu merupakan hadiah ulang tahun terbaik yang pernah aku terima selama aku hidup selain keberadaanmu di sisiku, Ornado berbisik pelan dalam hati, rasanya saat ini dia benar-benar ingin menarik tubuh wanita di depannya ke dadanya, memeluknya dengan erat, mencium keningnya, pipinya, bibirnya, bahkan seluruh tubuhnya. Mata Ornado yang memandang Cladia dengan lembut sedikit berkaca-kaca, dia benar-benar ingin menyentuh perut Cladia, berusaha merasakan adanya kehidupan bayi kecilnya disana. Sebelum Cladia melihatnya, Ornado buru-buru mengalihkan pandangan matanya ke samping untuk beberapa saat, berpura-pura melihat ke arah televisi yang sedang menyala dengan suara pelan sambil berusaha mengendalikan emosinya untuk menahan airmata bahagianya.
"Aku sudah kenyang, apa kamu baik-baik saja?" Ornado kembali mengulang pertanyaannya, membuat Cladia mengalihkan pandangannya dari televisi ke wajah Ornado yang berusaha menekan emosinya karena perasaan terharunya, memikirkan bahwa saat ini wanita yang ada di hadapannya sekarang, yang sangat dicintainya sedang mengandung bayi kecil mereka di dalam tubuhnya.
"Aku juga sudah cukup kenyang," Ornado tersenyum mendengar jawaban Cladia yang terus berusaha menghindar untuk menjawab pertanyaan tentang kondisi kesehatannya, membuat Ornado semakin curiga dengan kebenaran analisa papanya, apalagi melihat sikap gugup yang ditunjukkan Cladia saat Cladia menangkap basah pandangan mata Ornado yang tertuju ke arah perutnya.
"Berapa lama ini wajahmu terlihat pucat. Aku hanya ingin memastikan kondisimu baik-baik saja. Lebih baik aku menelpon Laurel sekarang," Cladia sedikit tersentak mendengar perkataan Ornado yang langsung bangkit berdiri, berjalan menjauhi tempat tidur dan dengan tangan kanannya membuka layar handphonenya. Dengan cepat tangan kanan Cladia meraih tangan kiri Ornado, membuat Ornado spontan menghentikan langkahnya karena kaget, karena bukan sekedar meraih tangan kirinya, saat ini tangan kanan Cladia menggenggam tangan kirinya, dengan genggaman yang cukup erat......
__ADS_1