My Wild Rose

My Wild Rose
SATU SATUNYA PRIA YANG AKU INGINKAN


__ADS_3

Dengan lembut dan hati-hati Ornado meletakkan tubuh Cladia dengan posisi duduk di atas tempat tidur, lalu dia sendiri menyusul untuk naik ke atas tempat tidur, duduk dengan posisi tepat di hadapan Cladia, saling berhadapan dengan Cladia di atas tempat tidur. Tangan kanan Ornado terukur ke arah kepala Cladia, kemudian mengelus wajahnya dengan lembut sambil menarik nafasnya dalam-dalam, mengatur debaran dalam dadanya yang semakin berdetak dengan kencang mengingat permintaan Cladia tadi.


“Kalau kamu belum siap, tidak perlu memaksakan dirimu,” Cladia menundukkan wajahnya mendengar perkataan Ornado, lalu menggelengkan kepalanya dengan gerakan pelan, karena saat ini rasanya dia tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengeluarkan kata-kata di depan Ornado karena saat ini dia begitu gugup, dengan pelan disentuhnya tangan Ornado yang masih mengelus wajahnya dengan lembut, seolah menjawab menanggapi pernyataan Ornado barusan, bahwa dia mau mencobanya.


“Kamu yakin kamu mau mencobanya malam ini?” Dengan ragu-ragu Cladia mengangguk pelan mendengar pertanyaan Ornado, Ornado kembali menarik nafasnya dalam-dalam sambil mengernyitkan dahinya melihat sikap ragu-ragu dari Cladia. Walaupun dengan jujur dia mengakui dia begitu menginginkan hal itu sejak lama, tapi dia tidak mau memaksakan kehendaknya, apalagi jika Cladia mau melakukannya hanya karena merasa terpaksa, bukan karena dia benar-benar sudah siap. Untuk beberapa saat Ornado tetap diam, tidak bergerak ataupun bersuara, membuat Cladia menjadi bertambah gugup.


“Al…, aku tidak tahu apakah aku bisa, tapi aku ingin mencobanya,” Melihat Ornado yang terdiam untuk beberapa saat Cladia memberanikan diri berkata-kata dengan sambil sedikit mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap wajah Ornado yang langsung tersenyum begitu mata mereka saling bertemu dan saling bertatapan.


“Bantu aku Al…, kamulah satu-satunya pria yang aku inginkan untuk mengajariku dan bersama melakukan hal itu,” Tanpa memberikan respon dan jawaban terhadap kata-kata Cladia, tangan Ornado menarik kepala Cladia dengan pelan ke arahnya, lalu membaringkan tubuh Cladia di atas tempat tidur dengan lembut, menopangnya dengan lengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya menggenggam telapak tangan kiri Cladia. Dengan gerakan lembut Ornado mulai mencium leher bagian samping Cladia, bergerak turun ke bahu Cladia, dan leher bagian depan Cladia.


“Kalau kamu merasa sakit atau tidak nyaman, katakan saja, kita akan menghentikannya, aku akan berusaha melakukannya selembut mungkin,” Mendengar kata-kata lembut dari Ornado di telinganya, Cladia tidak berani menjawab, hanya menganggukkan kepalanya.


“Ti amo, Amore mio, ti amo piu diqualsiasi cosa. Sei tutto cio che voglio,” (Aku mencintaimu, cintaku, aku mencintaimu lebih dari apapun. Kau adalah segalanya yang aku inginkan) Bibir Ornado mulai bergerak menciumi tubuh Cladia, sesekali meninggalkan tanda merah di tubuh Cladia. Dengan lembut tangannya membuka satu persatu kain yang menjadi penghalang antara dia dan Cladia. Tangan Cladia yang awalnya terdiam, bergerak ke arah leher Ornado, memeluknya dan sesekali mengelus punggung Ornado, juga kepala bagian belakang Ornado, membuat Ornado semakin menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar mencumbu yang memeluk tubuh Cladia, karena otot-otot di beberapa bagian tubuhnya mulai menegang.


Sekilas Ornado melirik ke arah wajah Cladia, mencari-cari tanda adanya ketakutan atau ketidak nyamanan. Walaupun Cladia memejamkan matanya, Ornado dapat merasakan, melihat dan mendengar suara desahan Cladia yang begitu menikmati setiap sentuhan yang dia lakukan, membuat Ornado semakin berani bertindak.


Tangan dan bibir Ornado bergerak lembut menjelajahi tubuh Cladia,  berusaha memberikan sentuhan yang menunjukkan dia begitu menginginkan tubuh Cladia bersatu dengannya, sampai di suatu titik Ornado sudah tidak bisa lagi menahannya dan memaksakan sesuatu yang ada di tubuhnya bersatu dengan tubuh Cladia, membuat Cladia tersentak kaget dan mempererat pelukannya pada tubuh Ornado bahkan membuatnya mencengkeram tubuh Ornado dengan erat, membuat tubuh mereka semakin menyatu.

__ADS_1





“Selamat pagi Amore mio,” Begitu membuka mata dan dilihatnya Cladia sudah terbangun sambill mengamati wajahnya seperti biasanya jika dia bangun lebih dulu dibanding Ornado, Ornado langsung menyapa Cladia dengan mesra, dikecupnya sekilas bibir Cladia, membuat wajah Cladia langsung bersemu merah karena Ornado kembali mendapatinya dalam posisi diam-diam mengamati wajahnya yang sedang tidur. Entah kenapa sejak beberapa lama ini setiap dia terbangun lebih dahulu, menjadi kebiasaan baru bagi Cladia untuk diam-diam mengamati wajah Ornado yang tertidur di sampingnya.


“Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu merasa ada yang tidak nyaman?” Tangan Orando terulur mengelus lembut kepala Cladia. Cladia tersenyum sambil menggeleng, bagaimanapun tidak mungkin dia tidak merasakan apa-apa, dia merasakan sedikit rasa perih di bagian bawah tubuhnya walaupun tidak sesakit yang dia pernah rasakan saat pagi hari setelah malam pertama Ornado melakukannya tanpa dia sadari karena dia berada bawah pengaruh obat tidur waktu itu.


Bagi Ornado apa yang mereka lakukan adalah untuk kedua kalinya, tapi bagi Cladia kemarin malam adalah saat pertama baginya dalam keadaan sadar sepenuhnya. Namun sedikit rasa perih yang dirasakannya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang saat ini dia rasakan karena sekarang dia sudah bisa menjadi wanita yang sempurna untuk Ornado, apalagi semalam Ornado memperlakukannya dengan sangat lembut. Bahkan mengingat apa yang dilakukan Ornado padanya semalam saat ini masih membuat dadanya berdebar-debar, dan dengan jujur dia harus mengakui bahwa ke depannya dia tidak keberatan untuk melakukan hal itu lagi dengan Ornado.


“Terimakasih untuk tadi malam, kamu benar-benar hebat,” Mendengar pujian dari Ornado, wajah Cladia langsung memerah dan berusaha mengalihkan wajahnya dari pandangan mata Ornado, membuat Ornado meraih wajah Cladia dengan kedua tangannya, merangkumnya dengan kedua tangannya, memaksa Cladia untuk memandang ke arahnya.


“Jangan memasang wajah seperti itu Amore mio. Kamu membuatku semakin sulit untuk menahan diri, jika tidak ingat kamu sedang hamil, aku tidak keberatan untuk mengulang apa yang terjadi semalam walaupun sepanjang hari ini harus mengulangnya sampai beberapa kali, aku sama sekali tidak keberatan,” Mendengar perkataaan Ornado, Cladia segera menjauhkan tubuhnya dari Ornado, bergerak cepat untuk bangkit dari tidurnya ke dalam posisi duduk, dan tanpa sadar menyebabkan tubuhnya yang masih dalam kondisi telanjang terlihat kembali karena selimut sudah tidak lagi menutupi tubuhnya ketika dia mengambil posisi duduk, hanya menutup tubuhnya dari pinggang ke bawah, sedang pinggang ke atas terlihat terbuka, membuat Ornado tertawa tergelak dan langsung bergerak ke arah Cladia, membungkus tubuh Cladia dalam pelukannya sebelum tangan Cladia berhasil meraih selimut untuk menutupi kembali tubuhnya.


“Al..., aku mau mandi,” Ornado yang baru saja mulai mencium leher Cladia langsung menghentikan tindakannya, dipandanginya wajah Cladia dengan senyum tersungging di bibirnya, lalu tangannya meraih baju tidur Cladia yang semalam tanpa sadar terlempar ke lantai di samping bawah tempat tidur mereka. Dengan lembut Ornado membantu Cladia mengenakan baju tidurnya, baru setelah itu diraihnya baju tidurnya sendiri dan dikenakannya.


“Setelah mengenakan kembali baju tidurnya Cladia bangkit berdiri, diikatnya rambutnya ke atas bersiap untuk mandi. Hari ini Ornado berjanji untuk mengajaknya berkeliling kota Roma, dia tentu saja tidak akan melupakan hal itu, dia akan menagih janji Ornado hari ini, setelah sekian lama dia begitu menginginkan menikmati keindahan Kota Roma, hari ini dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selama ini dia hanya bisa mengagumi Kota Roma dari cerita-cerita Jeremy, sekarang saatnya dia akan menikmati sendiri keindahan itu bersama dengan laki-laki yang dicintainya.


Cladia berjalan ke arah kamar mandi, begitu dia hendak menutup pintu kamar kamar mandi, Ornado kembali menahan pintu tersebut, kali ini dengan telapak tangan kirinya. Cladia langsung memandang ke arah wajah Ornado dengan pandangan bertanya-tanya.

__ADS_1


“Yakin tidak membutuhkan bantuanku untuk memandikanmu?” Dengan santai Ornado mengeluarkan pertanyaan yang tidak disangka-sangka oleh Cladia.


“Tidak!” Cladia menjawab dengan cepat bersamaan dengan wajahnya yang memerah, membuat Ornado terkekeh.


“Kalau begitu jangan tutup pintu kamar mandinya, biarkan tetap terbuka,”


“Jangan bersikap mesum Al,” Cladia memegang tangan kiri Ornado yang masih berusaha menahan pintu kamar mandi, tapi Ornado justru mendekatkan wajahnya ke arah Cladia.


“Ayolah Amore mio, kenapa kita tidak mandi bersama-sama saja?” Mendengar pertanyaan Ornado, Cladia tersenyum dengan wajah malu-malu, lalu dengan sedikit berjinjit berkata dengan lembut.


“Tidak hari ini Tuan Xanderson, mungkin ke depannya akan aku pertimbangkan dengan baik keinginanmu barusan,” Cladia berkata dengan wajah memerah, membuat tangan Ornado bergerak untuk mengacak rambutnya dengan gemas.


“Aku tunggu saat itu tiba, jangan lupa mulai saat ini aku akan sering-sering mengingatkanmu untuk itu,” Tanpa menanggapi perkataan Ornado, Cladia dengan cepat menutup pintu kamar mandi dan menguncinya, seolah-olah takut Ornado akan nekat untuk masuk dan melihat dia dalam kondisi memalukan.


Entah kenapa setelah kejadian semalam, sepanjang pagi ini dia merasa malu sekali berhadapan muka dengan Ornado, rasanya mengingat kejadian semalam membuatnya gugup dan salah tingkah, tidak tahu harus bagaimana harus bersikap saat berhadapan dengan Ornado. Seperti kata Ornado, sejak semalam rasanya tidak ada yang dia sembunyikan lagi dari Ornado, tapi entah kenapa dia masih merasa sangat canggung jika mengingat hal itu. Mungkin karena baginya ini baru pertama kalinya.


Ornado yang baru saja menyingkir dari pintu kamar mandi berjalan kembali ke kamarnya, dibukanya tirai kamarnya, untuk melihat pemandangan indah di luar mansionnya. Membayangkan apa yang terjadi tadi malam rasanya seperti mimpi bagi Ornado, dia tidak menyangka Cladia akan mengambil inisiatif secepat ini. Ornado tersenyum lega, melihat bagaimana Cladia menyerahkan dirinya semalam kepadanya, membuatnya yakin Cladia sudah 100 pesen mempercayakan hidupnya kepadanya, tapi melihat respon malu-malu, gugup dan salah tingkah dari Cladia pagi ini membuat Ornado tersenyum geli, dia mengerti sekali kalau masih ada rasa malu pada Cladia, dan ke depannya dia akan dengan sabar membuat Cladia menjadi lebih percaya diri di hadapannya dalam hal itu.

__ADS_1


__ADS_2