
"Cladia! Lama tidak bertemu denganmu!" Cladia tersenyum mendengar suara teriakan dari Ima yang masih berada lebih dari 10 meter darinya, salah seorang teman dekatnya dulu di SMP, yang juga merupakan teman sebangkunya. Ima langsung berlari ke arah Cladia setelah berteriak memanggilnya.
"Kamu tidak pernah terdengar kabarnya, bahkan tidak pernah aktif di media sosial, keberadaanmu seperti hilang ditelan bumi," Ima langsung mendekat dan memeluk Cladia dengan hangat, baru setelah itu diamatinya Cladia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tawa masih menghias bibir Ima, tanpa memperdulikan Ornado yang berdiri di samping Cladia.
"Sejak kecil kamu memang cantik, idola bagi banyak orang, tapi sekarang tampaknya kamu semakin cantik saja, siapa pria beruntung yang akan mendapatkanmu?" Cladia tertawa mendengar pertanyaan Ima yang tampaknya benar-benar tidak memperdulikan keberadaan Ornado. Mendengar pertanyaan Ima tentang pria yang akan mendapatkannya, dengan cepat tangan kanan Cladia meraih lengan kiri Ornado yang berdiri di sampingnya, membuat Ima seolah-olah baru sadar kalau ada seorang pria di samping Cladia.
"Kenalkan, ini suamiku," Ornado langsung tersenyum begitu Cladia menyebutkannya sebagai suaminya.
"What? Serius? Kamu sudah menikah? Kupikir dia masih berstatus kekasihmu," Ima memandangi Ornado dengan mata terbeliak, diamatinya lelaki di samping Cladia yang sedang tersenyum ke arahnya, seolah menyatakan bahwa yang dikatakan Cladia tentang statusnya benar adanya. Dengan rambut hitam legamnya, mata biru, hidung mancung, bibir tipisnya yang dipenuhi senyum, ditambah tinggi badan lebih dari 180cm dan atletis, membuat mau tidak mau Ima tersentak kaget hingga menutupi mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya. Sedang teman-teman lain yang sudah datang di tempat itu langsung menoleh mendengar suara kaget dari Ima yang terdengar cukup keras.
Beberapa orang langsung saling berbisik mulai bertanya-tanya siapa pasangan yang baru datang dan mencuri perhatian banyak orang, karena bagi banyak orang kedatangan sosok laki-laki seperti Ornado merupakan pemandangan langka, apalagi kedatangannya bersama dengan wanita cantik di sampingnya, membuat beberapa orang kecewa, karena baik laki-laki tampan maupun wanita cantik itu sudah memiliki pasangan.
Setelah lebih dari 6 tahun terus terang banyak diantara mereka yang tidak saling mengingat wajah masing-masing. Membuat mereka harus mengingat-ingat atau berkenalan ulang. Untuk Ima benar-benar masih mengingat Cladia karena mereka sempat berada di SMA yang sama walaupun tidak satu kelas lagi, setelah itu mereka berpisah saat Cladia pindah sekolah setelah kejadian pembunuhan itu.
"Ah, selamat datang, Ima," Ima menyebutkan namanya, mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Ornado untuk mengajaknya berkenalan, dengan tetap tersenyum Ornado menyambut uluran tangan Ima dan menjabatnya.
"Ornado," Begitu Ima dan Ornado saling melepaskan tangannya kembali Ima tersenyum dengan sedikit terkikik, dia langsung mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Cladia dan berbisik ke arah telinga Cladia.
__ADS_1
"Darimana kamu mendapatkan suami sekeren ini, tapi rasanya kalau bukan wanita secantik kamu mungkin dia tidak akan mau, mana minat dia melirik gadis-gadis biasa seperti kami ini," Cladia hanya tersenyum mendengar bisikan dari Ima, kalau saja dia tahu kalau pria di sampingnya saat ini selain tampan dan memiliki bentuk tubuh yang sempurna merupakan pemegang pucuk kepemimpinan tertinggi di Grup Xanderson, termasuk Bumi Asia di dalamnya, Cladia tidak bisa membayangkan bagaimana histerisnya Ima yang selama ini dia kenal begitu ekstrovert, selalu bersikap apa adanya dan blak-blakan.
"Tidak perlu melihat kecantikan atau ketampanan seseorang untuk kamu mendapatkan jodohmu, kalau cinta sudah menguasai hatimu, kamu tidak akan sempat lagi memikirkan tentang pesona fisik seseorang," Cladia membalas bisikan Ima dengan balik berbisik ke telinga Ima.
“Sayangnya sampai saat ini aku belum menemukan pria yang menjadi jodohku, tampaknya kamu memang memiliki peruntungan yang baik dalam hal jodoh,” Ima berkata sambil tertawa terkekeh.
Setelah mendengar suara Ima yang cukup keras, beberapa teman wanita Cladia mendekat dan berusaha menyapa Cladia, beberapa bahkan dengan terang-terangan langsung mengajak berkenalan Ornado. Begitu teman-teman Cladia kembali kembali berbaur dengan yang lain, Ornado langsung menarik nafas panjang dan mengeluarkan nafasnya lewat hidung, tanda dia benar-benar lega. Tindakan Ornado diam-diam tersebut sempat dilihat oleh Cladia yang langsung menahan tawanya dengan menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
"Cla, aku ke sapa teman-teman yang lain ya? Nanti aku akan menemuimu lagi," Cladia langsung mengangguk mendengar Ima yang meminta ijin untuk menyapa teman yang lain.
"Apa kamu mulai merasa tidak nyaman Al? Ini masih awal, acara belum dimulai," Mendengar pertanyaan Cladia, Ornado langsung menoleh ke arah Cladia sambil tersenyum.
"Untung saja kamu tidak datang sendirian, aku sudah melihat beberapa wajah teman-teman priamu yang siap mengeluarkan jurus rayuan mereka kalau saja tidak ada aku disampingmu," Cladia hanya bisa mengangkat bahunya mendengar perkataan Ornado, bukannya mau menyombongkan diri, tapi sepertinya apa yang dikatakan Ornado ada benarnya, dulu di SMP nya Cladia merupakan gadis tercantik di sekolahnya, menjadi primadona sekolah yang seringkali membuat teman-teman prianya, baik itu kakak tingkat, teman seangkatannya, bahkan adik tingkat dengan usia di bawahnya seringkali memberikan surat cinta atau menyatakan cinta secara langsung padanya, dan hal itu seringkali membuat Jeremy harus mengantar dan menjemput Cladia untuk mengawalnya, membuat beberapa teman laki-laki Cladia harus rela mundurjika tidak ingin berurusan dengan Jeremy karena mereka semua tahu tentang kehebatan Jeremy di dunia olahraga taekwondo.
"Al," Bibir Cladia langsung menyebutkan nama Ornado. Cladia langsung tersentak dari ingatannya tentang masa lalu begitu melihat sesosok laki-laki yang berdiri agak jauh darinya, tapi Cladia bisa dengan jelas tahu siapa laki-laki itu, Robi Adhitama. Laki-laki itu terlihat sedang menikmati minuman dari gelas yang ada di tangan kanannya sambil bersendau gurau dengan beberapa teman pria Cladia. Walaupun laki-laki itu tampak menikmati pembicaraannya dengan teman-teman Cladia, tapi Cladia tahu dengan jelas beberapa kali dia menangkap basah mata Robi yang sedang melirik ke arahnya.
Begitu melihat wajah Cladia yang tersentak kaget dan terpaku kepada sesuatu, mata Ornado langsung mengikuti kemana arah mata Cladia sedang terpaku, yaitu melihat kehadiran sosok Robi, Ornado sedikit menarik nafas panjang, sambil tangan kanannya mengepal untuk menahan dirinya sendiri agar tidak terpancing emosi mengingat apa yang pernah dilakukan Robi pada Cladia di kantor Sanjaya beberapa waktu sebelumnya, lalu dengan senyumnya Ornado langsung memandang ke arah Cladia, menatapnya dengan lembut seperti biasanya.
__ADS_1
"Ada aku disini, dia tidak mungkin berani melakukan sesuatu yang nekat, apalagi sedang banyak orang disini." Cladia menahan nafasnya sebentar, tanpa sadar tubuh Cladia bergerak untuk lebih mendekat ke arah Ornado, seolah sedang mencari perlindungan, menyadari kegugupan Cladia, lengan kiri Ornado segera melingkar ke pinggang Cladia untuk memeluknya, menunjukkan dia selalu siap untuk melindungi wanitanya.
"Menurutmu kenapa dia ada disini? Setahuku kalian bukan teman satu angkatan, usia dia lebih tua 2 tahun darimu, jadi tidak mungkin dia menjadi teman sekelasmu sewaktu SMP dulu," Cladia mengangguk, sedang Ornado sambil menunggu jawaban dari Cladia segera mengajak Cladia berjalan menjauhi tempat awal mereka berdiri sehingga Robi tidak bisa lagi menatap ke arah Cladia.
"Mungkin dia mengantar sepupunya, saat pertama kali kalian bertemu di acara wisudaku, dia mengantarkan sepupunya, sepupunya merupakan teman sekelas SMP ku," Ornado mengangguk pelan, tangan kanan Ornado segera meraih hanphonenya dari saku celananya dan menuliskan sebuah pesan untuk James tanpa diketahui oleh Cladia apa isi pesan itu.
"Sepertinya dia sengaja mencari-cari kesempatan sekecil apapun untuk dapat bertemu denganmu," Cladia sedikit bergidik mendengar perkataan Ornado tentang Robi, karena teringat kembali kejadian terakhir saat mereka bertemu dan Robi sempat berusaha meraihnya dengan tangannya di depan pintu toilet kantor Sanjaya.
“Jangan dipikirkan lagi Amore mio, nikmati saja pesta reunimu hari ini, kamu tidak perlu mencemaskan hal lainnya, ada aku disini,” Cladia sedikit mendongak, memandang wajah Ornado sambil tersenyum, membenarkan ucapan Ornado barusan.
Kali ini Ornado baru bisa benar-benar bernafas dengan lega karena acara reuni malam ini sudah selesai, semua tamu undangan yang datang diberikan kartu kamar hotelnya masing-masing, termasuk Cladia. Sepajang pesta juga Ornado tidak melihat Robi berusaha mendekati Cladia sama sekali.
“Al, sebaiknya kita segera ke kamar, kakiku sedikit pegal, mungkin karena terlalu banyak berdiri sepanjang malam ini,” Ornado mengangguk, lalu dengan sigap memeluk bahu Cladia dan mengajaknya menuju kamar hotel sesuai dengan nomer yang tertulis di kartu kamar hotel yang ada di tangan Cladia.
“Fasilitas kamar hotel yang diberikan hanya sekelas kamar deluxe, bukan kamar presidential room seperti yang biasa kamu pesan. Apa kamu tidak masalah dengan ini?” Ornado tersenyum mendengar pertanyaan Cladia.
__ADS_1
“Tidak masalah selama ada istriku yang tidur di sampingku malam ini, aku lebih memikirkan apa yang bisa kita lakukan sepanjang malam ini daripada memikirkan tentang kamar yang kita dapat,” Wajah Cladia tersipu malu mendengar perkataan Ornado yang lagi-lagi berkata dengan nada menggodanya.
Begitu mereka sampai di depan pintu kamar hotel dan membuka pintu, Cladia dan Ornado sedikit terkejut karena di dalam kamar tersebut ternyata sudah ada salah satu teman wanita Cladia, yang sedang melepas kalung di lehernya, di depan kaca kamar hotel, dan tampaknya wanita itu juga sama terkejutnya dengan Cladia dan Ornado. Cladia melirik ke arah nomer yang tertempel di depan pintu kamar hotel dan kartu yang dipegangnya, keduanya menunjukkan nomer yang sama, jadi tidak mungkin saat ini dia dan Ornado salah kamar.