
“Bukankah kamu mengatakan kamu dulu yang bertemu dengan Cladia hampir 4 tahun yang lalu, Ornado baru saja bertemu dengannya setengah tahun yang lalu. Kamu yang lebih dulu bertemu dengan Cladia. Ornado yang sudah merebut dia darimu, sekarang kamu harus merebut kembali wanita yang seharusnya menjadi milikmu. Sama seperti Ornado yang harusnya menjadi milikku dari awal,” Cladia sedikit tersentak mendengar kata-kata Ola. Ternyata Ola sedemikian pandainya memutar balik fakta, bahkan memanipulasi kisah pertemuannya dengan Ornado di depan Robi. Cladia melihat ke arah Robi yang terdiam dengan wajah terlihat bimbang.
“Kak Robi, apa yang dikatakan Ola tidak benar, aku dan Ornado adalah teman sepermainan sejak kecil, sejak kecil aku sudah mengenal Ornado, bahkan kedua orangtua kami juga sudah saling mengenal sejak lama, pertemuanku dengan Ornado bukan setengah tahun yang lalu seperti yang dikatakan Ola. Sudah lebih dari 15 tahun yang lalu kami dan keluarga kami sudah saling mengenal.” Sekilas Ola melirik ke arah wajah Robi yang terlihat sedang memikirkan perkataan Cladia yang berusaha keras menjelaskan tentang hubungannya dengan Ornado.
“Hentikan Cla! Jangan mencoba membodohi Robi! Dengarkan aku Rob! Semua yang dikatakan Cladia adalah bohong! Dia melakukan tipuan ini hanya untuk berusaha melepaskan diri dari kita! Percayalah padaku! Kalau kamu begitu mencintai Cladia dan menginginkannya, bawa Cladia sekarang denganmu, sembuhkan dia, maka dia akan sangat berterimakasih padamu, kamu akan menjadi pria yang menyelamatkan hidupnya. Jika kamu bisa menyembuhkannya, dia pasti akan mencintaimu,” Robi memandang ke arah Ola yang mengatakan setiap kata-katanya dengan wajah serius. Tenggorakan Cladia tersekat, benar-benar tidak menyangka begitu liciknya Ola berusaha membuat Robi mempercayai setiap kata-kata palsunya.
“Kak, Kak Robi bilang akan melepaskanku asal kakak melihatku hidup bahagia dengan Ornado. Aku sudah pernah mengatakannya kepada kakak di pertemuan kita sebelumnya. Aku mencintai Ornado Kak, tolong percayalah padaku,” Robi menarik nafas panjang mencoba menimbang-nimbang perkataan siapa yang harus dia percayai saat ini.
Maaf Cla, anggap saja aku ini benar-benar orang yang sangat egois, jujur saja aku meragukan apa yang dikatakan Ola, aku tidak pernah mempercayai Ola, tapi aku belum bisa melepaskanmu, ijinkan aku kali ini untuk tidak percaya padamu, dan tidak perduli dengan pernyataan cintamu untuk Ornado, agar aku tidak merasakan penyesalan membawamu pergi dari sisi Ornado untuk menempatkanmu di sisiku selamanya. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu, apa saja akan aku lakukan untukmu, Robi menarik nafas panjang, dan akhirnya tangannya bergerak memberi kode kepada para pengawal wanitanya agar membantunya untuk membawa Cladia pergi, keluar dari kamar itu, membawanya pergi bersamanya dan meninggalkan Ornado jauh-jauh.
Dua wanita yang merupakan orang suruhan Robi berjalan ke arah Cladia. Dengan pelan tapi penuh dengan tenaga kedua wanita itu menarik kedua lengan Cladia untuk bangkit berdiri dari duduknya, membawanya berjalan ke arah pintu keluar kamar itu. Robi membiarkan Cladia dan kedua pengawal wanitanya berjalan melewati dirinya dan Ola, membiarkan Cladia berjalan di depannya menuju pintu pintu keluar lebih dahulu. Setelah itu Robi meraih tas Cladia di yang berada di atas meja di dekat sofa sebelum beranjak menyusul Cladia yang sudah berjalan di depannya.
Suara pintu yang tiba-tiba dibuka dengan keras, membuat semua orang yang ada di ruangan itu mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar. Cladia langsung mengembangkan senyumnya melihat Ornado yang berjalan dari arah pintu bersama dengan empat pengawalnya mendekat ke arahnya, sedang Ola dan Robi tampak terbeliak kaget melihat kehadiran Ornado di tempat itu. Ola dan Robi benar-benar tidak menyangka kalau Ornado bisa secepat itu emnemukan posisi mereka. Dengan langkah tegap, pandangan mata tajam dan tegas, Ornado berjalan mendekat ke arah Cladia yang berdiri di tengah-tengah, diantara Ornado dan Robi, dengan Ola berdiri di samping Robi. Ola mengepalkan tangannya dan menggeretakkan giginya melihat tindakan Ornado yang seolah-olah tidak menganggap keberadaannya di tempat itu, dengan pandangan mata yang tetap fokus, hanya terpaku pada sosok Cladia.
“Berhenti!” Dengan sigap Ola berjalan mundur, menjauhkan dirinya dari Robi dan meraih pistol yang dengan sengaja sudah dia siapkan di dalam tas yang dia kalungkan di pundaknya, dan langsung mengarahkan pistol itu kepada Cladia. Ornado langsung menghentikan langkahnya untuk mendekati Cladia. Melihat tindakan Ola, dengan sigap keempat pengawal Ornado ikut menodongkan pistol ke arah Ola. Robi yang tampak tidak menyangka tindakan nekat Ola berusaha mendekati Ola.
“Diam di tempat Rob! Semua tetap diam di tempat kalian bediri! Termasuk kamu Ad! Kalau kamu berani mendekat ke arah Cladia, timah panas ini akan menembus jantungnya lebih dahulu!” Ornado dan Robi diam mematung di tempatnya masing-masing. Semua orang yang berada di tempat itu terdiam pada tempatnya mendengar ancaman dari Ola, termasuk keempat pengawal Ornado yang dalam posisi sudah siap menembak, mengarahkan masing-masing pistolnya ke arah Ola, siap menarik pelatuk pistol mereka kapan saja asal mendapatkan kode perintah dari Ornado.
“Suruh semua pengawalmu menurunkan pistolnya Ad! Aku bukan penembak yang baik, tapi jangan khawatir, kalau pengawalmu tetap mengarahkan pistolnya ke arahku, dengan cepat aku akan menarik pelatuk pistolku. Aku tahu aku bisa saja mati tertembak oleh anak buahmu tepat saat aku menarik pelatuk pistol ini, tapi kamu juga tidak tahu apakah pistolku aku akan berhasil menembus jantung Cladia atau tidak. Apakah kita perlu mencobanya Ad?” Mata Robi dan Ornado sama-sama terbeliak mendengar ancaman dari Ola. Sebentar kemudian Ornado memberi tanda dengan gerakan tangannya kepada para pengawalnya untuk menurunkan pistol mereka yang awalnya mengarah kepada Ola.
“Hentikan Ola! Apa yang kamu inginkan? Jangan pernah berani kamu menyentuh apalagi menyakiti Cladia! Aku tidak akan membiarkanmu melewati hidup dengan tenang lagi jika terjadi sesuatu pada Cladia,” Ola tertawa mendengar gertakan dari Ornado yang dipenuhi dengan kemarahan.
__ADS_1
“Ckckck, Ad! Saat ini aku yang memegang kendali disini Ad, bukan kamu!” Ornado mengatupkan rahangnya kuat-kuat, menimbulkan suara gemeretak gigi di dalam mulutnya, kedua tangannya mengepal dengan erat.
“Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Kamu tahu sejak awal, apapun yang kamu lakukan aku tidak akan pernah memiliki keinginan untuk bersamamu!” Ola kembali tertawa, kali ini dengan tawa terbahak-bahak, membuat para pengawal wanita Robi menoleh ke arahnya dengan wajah seperti melihat orang gila yang sedang tertawa.
“Aku tahu, aku berharap aku bisa mendapatkanmu saat Cladia tidak ada lagi disisimu, tapi aku salah perhitungan kali ini, kamu berhasil menggagalkan sebagian dari rencanaku. Aku tahu resikonya jika kamu mengetahui keterlibatanku dalam menghilangnya Cladia. Tapi karena kamu sudah terlanjur mengetahuinya, aku tahu bahwa aku tidak mungkin lagi memiliki kesempatan untuk mendapatkanmu lagi. Karena itu yang kuinginkan hanya satu! Biarkan Robi membawa Cladia pergi bersamanya,” Mata Ornado langsung melotot mendengar permintaan dari Ola, sedang Robi sedikit tertegun mendengar kata-kata Ola barusan.
“Rob! Cepat bawa pergi Cladia dari tempat ini!” Mata Ola melotot ke arah Robi, dengan bibirnya bergerak ke atas, berharap Robi segera membawa Cladia menghilang dari hadapannya dan Ornado.
Robi baru saja memberikan kode melalui tangannya agar kedua pengawal wanita yang ada di samping kanan dan kiri Cladia untuk membawa Cladia pergi ketika dilihatnya tubuh Cladia sedikit menunduk, kedua tangannya memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sedikit kaku dan nyeri. Sedangkan Ornado dengan wajah khawatir memandang ke arah Cladia tanpa bisa berbuat apa-apa, kakinya sudah hampir saja bergerak untuk berlari ke arah Cladia jika saja dia tidak ingat tentang ancaman Ola.
“Hentikan!” Robi langsung memerintahkan kedua pengawalnya untuk menghentikan gerakan tangan mereka meraih lengan Cladia dengan paksa.
“Ola! Hentikan kegilaanmu! Cladia sedang mengandung! Jangan membuatnya tertekan!” Ola dan Ornado sama-sama melotot mendengar teriakan Robi. Ornado tidak menyangka bahwa Robi tahu bahwa Cladia sedang mengandung anaknya dan tetap tidak perduli, tetap berencana memisahkan Cladia darinya, sedang Ola benar-benar tersentak kaget, tidak menyangka bahwa saat ini Cladia sedang mengandung anak dari Ornado. Karena begitu kaget mendengar Cladia sudah mengandung anak Ornado, kaki Ola tanpa sadar mundur dua langkah ke belakang.
“Cladia sedang hamil, jangan menyakitinya. Perjanjian kita hanya sebatas memisahkan Ornado dari Cladia, bukan menyakiti Cladia!” Robi menatap tajam ke arah Ola, wajah Ola memerah karena marah, merasa dikhianati oleh Robi, kenapa info sepenting itu Robi tidak memberitahunya sama sekali.
“Kamu gila! Ornado tidak akan mungkin melepaskan Cladia yang sedang mengandung anaknya! Walaupun kamu membawa Cladia sampai ke ujung dunia, dia akan tetap mengejarmu!” Ola kembali berteriak histeris, diacak-acak dan dijambaknya rambutnya sendiri dengan tangan kirinya, harapannya kini benar-benar sirna mengetahui bahwa Cladia sedang mengandung anak Ornado, bisa dipastikan Ornado akan mengejar kemanapun Cladia menghilang, dan tidak akan mungkin ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi Cladia di hati Ornado. Ola menggeleng-gelengkan kepalanya dengan airmata yang tiba-tiba menetes di pipinya, menunjukkan saat ini dia benar-benar dalam keadaan frustasi.
“Oke, tidak masalah!” Tiba-tiba Ola berkata sambil tersenyum menyeringai dengan airmata yang masih mengalir di pipinya.
“Kalau aku tidak bisa mendapatkan Ornado, jangan berharap juga untuk Cladia bisa mendapatkan Ornado!” Ola tertawa dengan keras, matanya menatap Cladia dengan pandangan penuh dengan kebencian.
__ADS_1
“Kamu harus mati bersama bayimu, supaya Ornado dan Robi sama-sama tidak bisa mendapatkanmu! Agar nasib mereka sama sepertiku, merasakan sakitnya tidak bisa memiliki sesuatu yang begitu aku inginkan!” Mata Ornado dan Robi sama-sama melotot mendengar perkataan dari Ola.
“Door!” Suara tembakan terdengar menggema di ruangan itu.
“Al!” Beberapa detik kemudian Cladia menjerit dengan histeris memanggil nama Ornado yang memeluknya punggung Cladia sebelum akhirnya tubuh Ornado terjatuh di lantai, darah membasahi pakaian dan celana Ornado yang bewarna putih, membuat warna merah darahnya yang mengalir terlihat begitu jelas.
Beberapa detik sebelum Ola menembakkan pistolnya, dengan gerakan cepat Ornado berlari dengan secepat yang dia bisa ke arah Cladia, menarik tangannya, memutar tubuhnya sendiri untuk menjadikan dirinya sendiri perisai bagi tubuh Cladia dan langsung memeluk tubuh Cladia dari belakang untuk melindunginya, sedang Robi bergerak cepat ke arah Ola untuk menghalangi tangan Ola yang bersiap menarik pelatuk pistolnya, membuat arah pistol Ola bergeser tapi justru tepat mengenai Ornado yang memeluk tubuh Cladia dari belakang. Begitu Ola meletuskan tembakan, dengan cepat Robi menampik tangan Ola lagi sehingga pistolnya terjatuh dan tanpa menunggu lama dengan sigap anak buah Ornado bergerak untuk melumpuhkan Ola.
Mata Ola terbeliak melihat tubuh Ornado yang ambruk di lantai dengan darah yang mengalir membasahi kemeja dan celana yang dikenakannya. Dia benar-benar tidak menyangka pada akhirnya Ornado yang mengorbankan dirinya untuk Cladia, dan dia sendiri yang mengaku bahwa dia mencintai Ornado justru membuat Ornado terluka.
“Al,” Cladia langsung duduk bersimpuh dan menangis histeris di samping tubuh Ornado yang terjatuh di lantai, diangkatnya kepala Ornado ke atas pangkuannya, tidak diperdulikannya lagi darah Ornado yang mengotori gaunnya. James yang baru saja datang bersama beberapa pengawal Ornado yang lain langsung berlari mendekat ke arah Cladia dan Ornado dengan mata terbeliak kaget melihat kondisi Ornado.
“Amore mio…, syukurlah…, kamu…, baik-baik…, saja,” Ornado berkata sambil tangannya mengelus pipi Cladia dengan lembut, sebelum akhirnya kesadarannya menurun, tangannya terkulai lemah di samping tubuhnya dan pingsan di pangkuan Cladia.
“Al! Bangun Al! Jangan tertidur, kamu harus tetap sadar! Al!” Cladia menjeritkan nama Ornado dengan wajahnya dipenuhi dengan airmata, sampai akhirnya beberapa detik kemudian, akhirnya Cladia menyusul pingsan di atas tubuh Ornado.
Robi hanya bisa berdiri termenung dengan mata berkaca-kaca menyaksikan tubuh Cladia yang pingsan di atas tubuh Ornado yang bersimbah darah, benar-benar tidak menyangka cinta mereka sekuat itu, bahkan Ornado dengan berani menantang maut demi cintanya pada Cladia. Dia menarik nafas panjang, mencoba bertanya pada dirinya sendiri, jika berada padaposisi Ornado, apakah dia dengan berani akan melakukan hal yang sama seperti Ornado.
“Cepat angkat tubuh tuan dan nyonya dengan hati-hati,” Mendengar perintah dari James, beberapa pengawal Ornado langsung bergerak cepat mengangkat tubuh Ornado dan Cladia, dengan sedikit berlari membawa tubuh mereka ke arah lobi hotel.
Dengan bergegas James ikut berlari keluar dari kamar, tapi begitu dia sampai di pintu kamar, dia membalikkan tubuhnya, matanya yang dipenuhi dengan amarah menatap tajam ke arah Ola yang tangannya sudah terikat di belakang dan lengannya dipegang dengan erat oleh pengawal Ornado yang lain.
__ADS_1
“Aku akan membuat perhitungan dengan kalian! Kalau sampai Ornado tidak selamat! Aku tidak segan-segan akan meminta nyawa kalian sebagai ganti untuk membayarnya!”