My Wild Rose

My Wild Rose
BALAS DENDAM EDI


__ADS_3

“Jangan tutup telponmu Amore mio, aku akan menunggumu,”


“Ok, aku akan terima dahulu paketnya,” Cladia tersenyum, pria yang memberikan kotak itu menyodorkan kotaknya, lalu menyodorkan selembar kertas dan sebuah bolpoin, meminta Cladia untuk menandatangani sebuah kertas yang berisi permintaan tanda tangan untuk orang yang menerima paket, sebagai tanda bahwa paket itu sudah diterima. Cladia melepaskan tangannya dari handphonenya setelah meletakkan handphonenya diantara telinga dan bahunya, menjepitnya agar tidak terjatuh, lalu menerima kertas dan bolpoin dari pria di depannya.


“Aku tanda tangan disini?” Melihat orang yang mengirimkan barang tidak menjawab pertanyaan Cladia, Cladia memandang ke arah orang itu yang terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri dengan sedikit tertunduk, seolah sedang mencari-cari sesuatu.


“Pak, ada yang salah? Apa yang sedang bapak cari?” Mendengar teguran Cladia, laki-laki itu tiba-tiba mendorong tubuh Cladia untuk masuk ke rumah dan langsung menutup pintu ruang tamu dan menguncinya dari dalam, membuat para penjaga yang ada di depan pintu masuk rumah tidak bisa masuk untuk menolong Cladia, mereka segera berlari ke arah sisi lain rumah untuk mencari jalan masuk lain.


Dorongan ke arah tubuh Cladia barusan membuat hanpdhone Cladia yang masih terhubung dengan Ornado terjatuh ke lantai. Cladia yang tersentak kaget langsung berlari ke arah sofa ruang tamu dengan dadanya yang berdebar dengan keras karena takut. Sedang pria itu berjalan dengan langkah cepat menyusul Cladia ke arah sofa dengan wajah masih tertunduk.


“Siapa kamu? Apa maumu?” Wajah Cladia berubah menjadi ketakutan, apalagi melihat pria itu berusaha mendekatinya, diinjaknya handphone Cladia yang tergeletak jatuh di lantai sampai terdengar suara benda yang remuk.


“Amore mio! Apa yang terjadi? Amore mio! Katakan sesuatu!” Mendengar suara handphone Cladia terjatuh dan Cladia berteriak, Ornado berteriak di handphone dan langsung berlari keluar dari kamarnya, dan tanpa sengaja tangannya mengenai gelas yang baru saja diletakkannya di atas meja sehingga terjatuh dan pecah di lantai.


“Cepat hubungi James dan Fred, suruh mereka ke rumah sekarang juga, katakan Nyonya sedang dalam masalah,” Tanpa memperdulikan pakaian yang dikenakannya, Ornado berlari dengan cepat menyusuri lorong rumah sakit dikuti para pengawalnya. Tante Ema yang baru saja kembali dari ruang administrasi terlihat kaget dan langsung berusaha menyusul Ornado.


“Jangan mendekat! Katakan apa maumu? Aku tidak mengenalmu!” Laki-laki itu menghentikan langkahnya, mengangkat kepalanya dan melepas topinya, sehingga wajah pria itu terlihat jelas oleh Claida, membuat wajah Cladia semakin pucat karena ketakutan dan tenggorakannya tersekat, tidak dapat bicara lagi, airmata langsung merembes keluar membasahi pipi Cladia. Wajah pria di depannya langsung mengingatkannya akan kejadian 5 tahun lalu. Kejadian mengerikan yang akhir-akhir ini sudah tidak lagi mengusik ingatannya, tapi melihat wajah orang yang saat ini ada di hadapannya mau tidak mau ingatan tentang kejadian 5 tahun lalu kembali terbayang dengan jelas di dalam otak Cladia.


“Kamu tidak mengenalku, tapi kamu mengenal dengan baik saudara kembarku,” Edi kembali maju dua langkah ke arah Cladia yang kembali melangkah mundur, sampai kakinya tidak bisa mundur lagi karena terhalang oleh sofa.

__ADS_1


“A…apa… yang…, kamu… inginkan?” Cladia berusaha mengeluarkan suaranya dengan sisa keberanian yang dia miliki.


“Aku? Hanya satu! Menghancurkan Ornado! Seperti dia menghancurkan kehidupanan kakakku kembarku! kehidupan keluargaku! termasuk kehidupanku!” Edi berkata dengan matanya yang melotot, menunjukkan dia begitu membenci Ornado. Tangan kanan Edi bergerak ke balik pakaiannya dan mengeluarkan sebilah pisau dari sana.


“Salahkan dirimu sendiri yang bersedia menikah dengan Ornado! Salahkan nasib burukmu menjadi orang yang dicintai oleh laki-laki itu! Laki-laki yang menghancurkan keluargaku!”


“Nyonya!” Beberapa orang pelayan wanita berlarian ke arah Cladia, berusaha mendekat, tapi melihat pria itu memegang sebilah pisau, mereka hanya bisa melihat dari jauh, tidak berani mendekat.


“Kalau kalian berani mendekat, aku tidak akan segan-segan membunuh kalian bersama dengan nyonya kalian!” Mata Edi memandang dengan tajam ke arah para pelayan yang ada di ruangan itu. Setelah mengancam para pelayan, mata Edi kembali melihat ke arah Cladia dengan tatapan sinis.


“Ornado tidak melakukan kesalahan apapun pada kalian! Edo yang memperkosa dan membunuh Dina!” Edi tertawa dengan tatapan semakin sinis mendengar pembelaan dari Cladia.


“Aku akan membuatmu mati segan, hidup tak mau! Supaya Ornado merasakan hukuman yang mengerikan! Aku tidak perduli setelah ini Ornado membunuhku! Asal dia menderita seumur hidupnya bagiku itu sudah cukup!”


“Nyonya!” Edi langsung menoleh mendengar suara teriakan dari para pengawal yang berhasil masuk, melihat banyaknya pengawal yang datang dan tidak mungkin dia sendiri menghadapinya, dengan gerakan spontan Edi mendorong tubuh Cladia sehingga terjatuh ke sofa dengan posisi terjengkang, sehingga kepalanya menabrak ujung meja yang terletak di dekat sofa. Melihat itu Edi segera menuju ke arah pintu, berusaha membuka kunci dan berlari keluar, tapi saat Edi belum sempat sampai ke pintu gerbang untuk mengambil motornya, terlihat sebuah mobil yang langsung berhenti menghadangnya, menghalangi gerakan Edi. Menyusul sebuah mobil lagi berhenti di belakang mobil yang pertama. James, Fred dan beberapa pengawal langsung keluar dan menghadang Edi, dan tidak butuh waktu lama untuk membuat Edi tidak berdaya.


“Fred, tahan dia, aku akan melihat kondisi Nyonya!” Fred langsung mengangguk, James berlari ke dalam rumah bersama dengan dua orang pengawal.


Melihat apa yang terjadi di ruang tamu James terbeliak kaget. Para pelayan meletakkan tubuh Cladia yang pingsan di atas sofa dengan posisi terbaring, dari belakang kepala Cladia terlihat cairan kental bewarna merah yang menetes membasahi pakaian dan sofa tempatnya terbaring.

__ADS_1


James menarik nafas panjang dengan mulutnya yang terbuka, tangan kirinya berkacak pinggang sedang tangan kanannya mengacak rambut di kepalanya, menunjukkan dia begitu frustasi melihat kejadian di depannya. Lagi-lagi dia datang terlambat. Suara panggilan di handphonenya membuat James memejamkan matanya sebentar, karena dia sudah dapat menebak siapa yang menelponnya saat ini.


“Hallo Ad,” Tanpa tenaga James menjawab panggilan dari Ornado.


“James! Aku sudah menelponmu dari tadi! Kenapa kamu baru mengangkat telponmu? Apa kamu sudah berada di rumah? Bagaimana kondisi Cladia? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia tadi berteriak histeris? Apa yang terjadi?” Ornado menyerbu James dengan berbagai pertanyaan tanpa memberikan jeda sedikitpun.


“Ad, tenangkan dirimu,” James berusaha berkata-kata dengan nada setenang mungkin.


“James! Katakan padaku! Dimana Cladia sekarang! Apa yang terjadi?” Ornado berteriak tanpa memperdulikan kata-kata James untuk menenangkan dirinya.


“Ad…,”


Belum sempat James melanjutkan bicaranya James mendengar suara mobil dengan kecepatan tinggi datang dan langsung mengerem dengan sekuat-kuatnya begitu sampai di depan pintu rumah. Begitu James menoleh dilihatnya Ornado masih dengan pakaian rumah sakitnya keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah.


Handphone yang awalnya sedang berada di dalam genggaman tangan Ornado, yang masih dalam kondisi menyala karena melakukan panggilan dengan James langsung terjatuh begitu Ornado melihat Cladia yang tergeletak tak sadarkan diri di atas sofa dengan pakaiannya di bagian bahu terlihat merah karena darah yang menetes dari kepalanya. Dengan langkah gontai Ornado mendekat ke arah Cladia terbaring dengan airmata menetes di pipinya.


“Amore mio!” Ornado terjatuh dengan posisi berlutut di dekat tubuh Cladia.


“Ahhhhh!” Ornado berteriak histeris dengan suara sekeras-kerasnya dengan kepalanya menengadah ke atas sambil menangis, setelah itu dipeluknya dengan erat tubuh Cladia, seolah-olah dengan tindakannya itu bisa membuat Cladia segera terbangun.

__ADS_1


__ADS_2