
"Untuk semua barang yang akan di lelang Tuan dan Nyonya sekalian bisa melihatnya di kotak kaca yang ada di sebelah kanan kiri tempat Tuan dan Nyonya duduk. Kita akan buka acara lelang hari ini dengan acara dansa sebelum mulai lelang dimulai. Tuan dan Nyonya sekalian dipersilahkan untuk menikmati jamuan yang telah kami sediakan sekaligus mengikuti acara ini." Pembawa acara lelang memberikan pengumuman.
Ornado mengajak Cladia berkeliling melihat-lihat berbagai barang yang dipamerkan untuk dilelang, mulai dari barang-barang antik dan perhiasan dari para designer dunia yang terkenal.
"Kalau ada yang kamu inginkan, katakan saja, aku akan memenangkan lelangnya untukmu," Ornado berkata lembut kepada Cladia yang hanya disambut gelengan pelan oleh Cladia. Ornado hanya tersenyum melihat penolakan dari Cladia, tapi tanpa disadari oleh Cladia, Ornado sempat memperhatikan perubahan wajah dan mata Cladia begitu melihat salah satu perhiasan milik Buccellati yang dipamerkan.
(Buccellati \= Merek perhiasan mewah ini berasal dari Italia, terkenal karena desain perhiasan terukir dilapis dengan emas dan platinum. Mereka membalut dengan aksen batu permata dengan kualitas terbaik seperti berlian, safir , zamrud dan rubi. Buccellati adalah nama besar tidak hanya di Italia (di mana ia pertama kali dimulai) tetapi di semua kota besar lainnya seperti New York, London, Paris, dan Hong Kong. Dengan warisan dan budaya yang kuat, Buccellati dikenal karena kualitas dan desainnya yang tak tertandingi dalam perhiasan emas dan perak yang bertali serta bentuk serangga dan hewan bertatahkan batu yang dibuat dengan indah menjadi potongan-potongan yang sangat indah).
Suara musik yang lembut mengalun di tengah-tengah ruangan pesta, beberapa pasangan mulai berjalan menuju ruang lantai dansa, termasuk Dave dan Laurel, Jeremy dan Niela, sedangkan Ornado masih dengan setia menemani Cladia berkeliling melihat-lihat berbagai barang yang akan dilelang.
Ornado dan Cladia menghentikan kesibukannya ketika pembawa acara pesta mendekati mereka berdua.
"Selamat malam Tuan Ornado Xanderson, Nyonya," Orando mengangguk menjawab sapaan sang pembawa acara tersebut.
"Tuan, jika Tuan Ornado tidak keberatan bisakah anda dan nyonya turun ke lantai dansa, kehadiran anda berdua di pesta ini menarik banyak perhatian. Tentu saja anda sebagai perwakilan dari Grup Xanderson sudah dinanti-nantikan oleh banyak orang," Ornado melirik ke arah Cladia.
Dari alunan lagu yang terdengar mereka bisa langsung tahu jika mereka berdansa, harus bendansa jenis slow waltz yang tentu saja mengharuskan mereka saling bersentuhan secara fisik, mulai dari sekedar pegangan tangan ataupun gerakan dengan tangan memeluk pinggang pasangannya dengan tubuh yang saling berdekatan. Bagi Ornado yang terbiasa menghadiri pesta sejenis ini di Itali, dansa baginya bukan masalah besar, begitu juga bagi Cladia yang merupakan seorang balerina, tapi dengan kondisi phobia Cladia tentu saja Ornado tidak ingin mengambil resiko mengajak Cladia berdansa.
"Maaf, istriku sedang kurang seh...," Belum selesai Ornado berkata-kata, tiba-tiba Cladia menarik lengan jas Ornado lembut.
"Kami hanya akan berdansa satu lagu saja," Ornado cukup kaget melihat tindakan Cladia. Dengan senyum tipis Cladia mengangguk ke arah pembawa acara dan mengajak Ornado ke lantai dansa.
__ADS_1
"Cla, kamu tidak harus...,"
"Al, aku akan berusaha menahannya, tolong bantu aku mengatasinya," Cladia langsung memotong perkataan Ornado. Ornado memandangi wajah Cladia dalam-dalam, dengan melihat mata Cladia, dia dapat melihat bahwa Cladia serius dengan perkataannya barusan. Akhirnya Ornado menarik nafas panjang sambil tersenyum.
"Ok, kita akan coba, kalau kamu merasa tidak nyaman kamu bisa berhenti kapanpun kamu mau, jangan memikirkan apa yang akan dipikirkan orang lain," Ornado menarik lengan Cladia lembut, Cladia sedikit tersentak, berusaha keras agar tangannya tidak bereaksi dengan menepiskan tangan Ornado atau kakinya bergerak menendang Ornado.
Dengan lembut tangan kiri Ornado menarik tangan kiri Cladia, meletakkan telapak tangan Cladia ke atas telapak tangan kanannya, lalu menggenggam tangan kiri Cladia. Selanjutnya tangan kiri Ornado menarik tangan kanan Cladia dengan lembut dan meletakkannya di bahu kirinya, kemudian pelan-pelan tangan kirinya mengarah ke pinggang Cladia untuk memeluknya. Ornado menghentikan gerakannya begitu dilihatnya wajah Cladia yang terlihat ketakutan.
"Tidak apa-apa Al....... aku mau..... mencobanya," Cladia berkata pelan dengan terbata-bata. Tangan kiri Ornado kembali bergerak untuk memeluk pinggang ramping Cladia, tangan kanan Cladia yang ada di bahu kiri Ornado bergerak meremas kain jas dibagian bahu Ornado, giginya terkatup erat untuk mengendalikan ketakutannya.
Alunan sebuah lagu lembut baru saja berjalan setengahnya, keringat dingin mulai membasahi kening Cladia yang mulai menggigit bibir bawahnya untuk menahan keinginannya untuk berlari dari hadapan Ornado. Tanpa berkata-kata Ornado melakukan gerakan dansa dengan menjauhi lantai dansa. Setelah sampai di pinggiran lantai dansa Ornado buru-buru melepaskan kedua tangannya dan menjauh dari tubuh Cladia yang tampak sedikit tersengal-sengal, berusaha mengatur nafas dan dadanya yang berdetak kencang karena ketakutannya.
"Maaf Al, aku belum bisa..." Ornado menggeleng pelan, matanya memandang Cladia dengan lembut, berusaha memberikannya ketenangan.
"Tidak akan ada yang menyalahkanmu, tenangkan dirimu. Ada aku disini, semua akan baik-baik saja," Ornado mengambil gelas berisi minuman dari nampan seorang pelayan pesta yang kebetulan lewat di dekat mereka.
"Minumlah," Ornado memberikan gelas berisi minuman ke tangan Cladia yang basah oleh keringat dingin yang langsung meminumnya sedikit untuk membuatnya tenang. Cladia menarik tissue dari tasnya dan mengeringkan keringat dingin yang membasahi keningnya.
Aku tidak akan membiarkanmu terus tersiksa bersama laki-laki itu Cla. Kamu bilang kamu memutuskan untuk bersamanya sedangkan kamu terlihat begitu ketakutan saat bersamanya. Robi yang sedari tadi mengamati apa yang dilakukan Cladia dan Ornado berbisik dalam hati.
"Malam Tuan Ornado," Ornado menoleh mendengar namanya dipanggil. Seorang wanita cantik mengenakan gaun merah menyala mendekat ke arahnya sambil tersenyum. Ornado mengernyitkan keningnya, dia jelas-jelas tahu siapa wanita itu, salah satu putri dari salah seorang bangsawan dari Inggris. Ornado mengangguk pelan untuk membalas sapaan wanita itu. Beberapa kali Ornado pernah bertemu dengan wanita itu.
__ADS_1
"Bisakah saya berdansa dengan Tuan Ornado?" Ornado memandang wanita itu sambil tersenyum.
"Maaf, saya tidak begitu pandai berdansa, partner dansa yang bisa mengimbangi dansa saya yang payah hanya istri saya, tapi saat ini dia sedang kurang sehat, saya harus menemaninya," Mendengar penolakan halus dari Ornado wanita itu mengangguk dengan senyuman di wajahnya. Wanita itu tahu bahwa jelas-jelas Ornado hanya mencari-cari alasan untuk menolaknya.
Siapa yang tidak kenal dengan Ornado Xanderson, laki-laki hebat yang selama ini menjadi incaran para wanita single. Dia pernah menghadiri beberapa pesta mewah dimana disana dia bertemu dengan Ornado, dan beberapa kali dia melihat Ornado berdansa dengan indahnya di lantai dansa. Hanya saja dia juga pernah mendengar rumor bahwa sulit sekali mengajak Ornado untuk berdansa. Dari cerita beberapa orang yang pernah dia dengar, Ornado tidak berdansa dengan sembarang orang, dia hanya mau berdansa dengan wanita yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya, dan malam ini dia yakin bahwa itu bukan sekedar rumor melihat bagaimana Ornado menolaknya.
"Ok, terimakasih, senang sekali bisa menyapa anda Tuan Ornado," Wanita itu melirik ke arah Cladia sekilas sebelum meninggalkan mereka.
"Istri yang sangat cantik, pantas saja Ornado begitu melindunginya," Wanita itu tersenyum dan segera melangkah pergi, bergabung dengan tamu yang lain.
"Maaf Al," Ornado memandang ke arah Cladia.
"Maaf untuk apa?" Cladia mendongak memandang Ornado yang berdiri di samping kursi tempat dia duduk.
"Tidak, tidak apa-apa, kenapa kamu menolak berdansa dengan wanita cantik tadi?" Tanpa menjawab pertanyaan Cladia, Ornado memberikan kode lewat tangannya kepada Cladia agar menggeser posisi duduknya, sehingga dia bisa duduk di samping Cladia.
"Berdansa hanya aku lakukan dengan orang yang punya hubungan dekat denganku, itupun dulu, sebelum aku menikah. Aku tidak pernah membiarkan sembarang orang menyentuhku. Dan sekarang, aku hanya menginginkan satu orang yang bisa menemaniku berdansa." Cladia sedikit menunduk mendengar perkataan Ornado.
"Kamu tahu, ada yang pernah mengatakan padaku cemburu seorang istri bisa mengubah surgamu menjadi neraka hanya dalam hitungan detik. Dan aku adalah orang yang ingin selalu menikmati surga dengan istriku, bukan neraka. Aku bukan laki-laki yang punya cukup keberanian untuk membuat istriku cemburu." Cladia langsung mengangkat wajahnya yang tampak sudah tenang kembali, memandang ke arah Ornado yang tersenyum dengan wajah menggoda.
Disaat, seperti ini masih bisa-bisanya kamu bercanda, Cladia berkata dalam hati, sedang Ornado masih tetap memandangnya, kali ini bukan lagi dengan wajah menggoda, tapi dengan tatapan lembut dan mesra, membuat Cladia buru-buru mengalihkan pandangannya untuk menutupi rasa gugupnya. Cladia yakin sekali mendengar dan melihat apa yang dikatakan dan dilakukan Ornado kepadanya barusan, akan sangat sulit bagi wanita normal untuk tidak jatuh cinta pada Ornado, dan dia berharap ke depannya dia bisa menjadi wanita normal yang jatuh cinta dengan Ornado.
__ADS_1