My Wild Rose

My Wild Rose
PERMINTAAN MAAF AMALIA


__ADS_3

Cladia membuka matanya perlahan-lahan dengan kepalanya yang masih terasa sedikit berat. Cladia berusaha bangkit dari tidurnya, berusaha mengangkat sedikit kepalanya, tapi karena merasa kepalanya masih sedikit pusing dia membatalkan niatnya untuk bangkit dari tidurnya. Diliriknya jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Cladia menggerakkan badannya ke samping, berusaha untuk turun dari tempatnya tidur.


“Ibu Cladia sudah sadar?” Amalia yang awalnya duduk dan tertidur di samping tempat tidur Cladia dengan kepala bertumpu pada tepi tempat tidur Cladia langsung terbangun begitu merasakan ada gerakan dari Cladia dari atas ranjang rumah sakitnya.


“Amalia? Kenapa kamu ada disini? Apa yang terjadi? Ini Dimana?” Cladia melihat ke sekelilingnya, Amalia langsung memegang lengan Cladia dengan lembut, berusaha menahan agar Cladia tidak banyak bergerak.


“Ini di rumah sakit, Ibu jangan banyak bergerak dulu. Saya mendapat kabar ibu pingsan dan dibawa ke rumah sakit kemarin malam. Karena Ibu sudah sadar, saya akan segera panggilkan dokter,” Amalia langsung memencet bel yang ada di atas tempat tidur Cladia.


Cladia memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelum kesadarannya menghilang. Cladia terdiam sesaat, berusaha mengingat-ingat kembali kejadian semalam yang barusan dialaminya. Begitu dia ingat tentang Ornado, badannya kembali bergerak untuk turun dari ranjang rumah sakitnya, ingin bergegas mencari Ornado.


"Bu, dokter sudah berpesan agar sementara Ibu harus tetap berada di tempat tidur sebelum dinyatakan kondisi Ibu sudah pulih, tolong Ibu ingat bayi di kandungan Ibu saat ini," Amalia segera menghalangi gerakan dari Cladia. Akhirnya Cladia hanya bisa terdiam sambil memejamkan matanya.


“Cla…,” Laurel berjalan mendekat ke arah Cladia yang masih terlihat lemas bersama dengan seorang perawat disampingnya, Cladia langsung membuka matanya kembali mendengar suara panggilan dari Laurel.


“Bagaimana kondisimu? Apakah sudah lebih baik?” Cladia memandang ke arah Laurel, tangannya langsung meraih tangan Laurel.


“Katakan, dimana Al? Apa dia baik-baik saja? Aku mau bertemu dengannya,” Cladia berkata sambil  tangannya menggoyang-goyangkan tangan kiri Laurel.


“Cla, kamu baru saja sadar dari pingsanmu, kamu sendiri sedang butuh perawatan,” Tangan kanan Laurel menepuk-nepuk tangan Cladia dengan lembut.

__ADS_1


“Laurel, katakan padaku, apa yang terjadi pada Al? Katakan padaku dengan jujur,” Laurel menarik nafas panjang, melihat itu airmata Cladia langsung mengalir tanpa bisa ditahannya lagi.


“Ornado mengalami luka tembak dari jarak dekat, walaupun peluru tidak menembus organ dalamnya, tapi sobekan akibat peluru yang bergerak miring ke arah punggungnya menyebabkan luka yang cukup panjang sampai ke arah bahunya. Untung saja arah tembakannya miring, jika tidak peluru yang ditembakkan dari jarak sedekat itu akan menembus dadanya dan pasti mengenai organ vitalnya. Saat ini tindakan operasi untuk mengangkat proyektil peluru yang bersarang di tubuhnya sedang berlangsung. Kita berdoa untuk yang terbaik, karena walaupun tidak mengenai organ vitalnya, hasil foto rontgen (foto rontgen adalah prosedur pemeriksaan dengan menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik guna menampilkan gambaran bagian dalam tubuh. Gambaran dari benda padat seperti tulang atau besi ditampilkan sebagai area bewarna putih, sedangkan udara yang terdapat pada paru-paru akan tampak bewarna hitam, dan gambaran dari lemak atau otot ditampilkan dengan warna abu-abu. Dalam beberapa jenis foto rontgen digunakan tambahan zat pewarna (kontras) yang diminum atau disuntikkan, misalnya iodine atau barium, untuk menghasilkan gambaran yang lebih detail) menunjukkan peluru hanya berjarak beberapa mili dari jantungnya, dan dia kehilangan cukup banyak darah,” Mendengar penjelasan dari Laurel, Cladia memejamkan matanya kembali, airmata menetes dengan deras di kedua pipinya.


“Aku ingin melihat kondisi Al,”


“Ad masih berada di ruang operasi, kita doakan agar operasi dapat berjalan dengan lancar, jika dia sudah keluar dari sana, aku akan membawamu kesana, sekarang istirahatlah dahulu, pulihkan tenagamu. Paling tidak untuk saat ini bantu Ad dalam doa, team dokter di tempat ini pasti akan melakukan yang terbaik yang kami bisa untuk menyelamatkan Ad. Untuk saat ini bantu dia menjaga anak dalam kandunganmu. Aku pikir itu yang paling diinginkan Ad saat ini,” Cladia hanya bisa mengangguk pasrah mendengar kata-kata Laurel.


“Aku akan pergi, sekarang usahakan tenangkan dirimu, istirahatlah dengan baik, jika ada apa-apa kamu bisa memanggilku kapan saja,” Cladia kembali menganggukkan kepalanya.


Begitu Laurel meninggalkan kamarnya, Amalia berjalan mendekat ke arah Cladia, tanpa disangka-sangka tiba-tiba Amalia berlutut disamping tempat tidur Cladia sambil menangis.


“Tidak bu, saya tidak pantas mendapatkan kebaikan ibu, saya minta maaf,” Dengan tenaga yang ada, Cladia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, duduk bersandar di atas tempat tidur.


“Apa maksudku Amalia? Kesalahan apa yang sudah kamu perbuat sampai kamu harus berlutut di depanku? Aku bukan Tuhan, jangan berlutut di hadapanku,” Amalia tidak menggubris perkataan Cladia, yang ada justru tangisnya semakin keras, dengan kepala tertunduk tanpa berani menatap ke arah Cladia, membuat Cladia semakin bertambah bingung.


“Ibu Cladia, saya sudah melakukan hal yang sangat buruk kepada ibu dan Pak Ornado,” Cladia mengernyitkan dahinya, merasa tidak mengerti dengan apa yang baru saja dibicarakan oleh Amalia. Setahu Cladia yang jelas-jelas sudah mencelakakan mereka adalah Ola dan Robi, bukan Amalia.


“Maafkan saya bu, saya benar-benar menyesal,”

__ADS_1


“Jelaskan padaku pelan-pelan Amalia, jangan menangis, duduklah, aku tidak akan mau memaafkanmu jika kamu tetap berlutut di lantai seperti itu,” Untuk beberapa saat Amalia tetap berlutut sambil menangis, tapi akhirnya dengan gerakan perlahan Amalia bangkit berdiri, mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur Cladia.


“Maaf bu, saya sudah dibutakan oleh cinta, sehingga tanpa sadar saya sudah mencelakakan Anda berdua. Sejak Pak Robi mengundurkan diri dari kantor Bumi Asia dia sering menghubungi saya via chat bu. Awalnya dia bilang ingin mengenal saya lebih jauh. Saya terlalu bodoh menganggap bahwa Pak Robi mulai tertarik dengan saya. Ternyata dia hanya memanfaatkan saya untuk mendapatkan informasi tentang kondisi Ibu Cladia,” Cladia tersentak kaget, tidak menyangka bahwa Robi akan bertindak senista itu, bahkan memanfaatkan perasaan Amalia yang jelas-jelas menyukainya untuk mendapatkan info tentangnya.


“Kejadian waktu di kantor Sanjaya harusnya sudah menjadikan peringatan keras buat saya, tapi pada saat itu saya tidak tahu bahwa karena perbuatan saya, ibu hampir saja celaka jika tidak ada Bapak Ornado yang datang membantu Ibu,” Amalia terlihat menghentikan bicaranya sesaat sambil sesenggukan menahan tangisnya.


“Pagi sebelum Pak Robi datang berkunjung ke kantor kita, dia mengirimkan pesan jika dia butuh memberikan sesuatu yang penting yang harus diberikan secara pribadi kepada ibu berhubungan dengan acara event di Italia, karena dia meyakinkan bahwa itu sangat penting, maka ketika saya tahu ibu tidak ikut meeting bersama Pak Jeremy, saya memberinya info ketika ibu bilang ke saya mau pergi ke toilet,” Cladia tersentak kaget, ternyata Amalia yang diam-diam memberi kesempatan pada Robi untuk menemuinya saat itu, Cladia benar-benar tidak menyangka.


“Itu bukan satu-satunya kesalahan saya bu. Kesalahan terbesar saya saat saya memberitahukan kepada Pak Robi bahwa Ibu akan menghadiri acara reuni bersama teman-temean SMP, saya baru tahu dari Pak James setelah kejadian ini bahwa acara reuni dipindahkan dengan tiba-tiba ke Hotel XY milik keluarga Pak Robi dan disana Pak Robi berusaha menculik Ibu,” Lagi-lagi Amalia menghentikan bicaranya, sedikit mengatur nafasnya untuk kembali melanjutkan bicaranya, sedangkan Cladia berusaha mengatur hatinya yang terasa nyeri mendengar penjelasan Amalia.


“Sehari sebelum acara, Pak Robi menghubungi saya via chat, menanyakan kepastian apakah Ibu akan datang ke acara reuni, saya bilang ibu pasti datang, dan kemungkinan akan datang bersama Bapak Ornado karena Ibu juga dalam kondisi hamil,” Kali ini mata Cladia benar-benar terbeliak, saat kejadian penculikan itu dia benar-benar penasaran, siapa yang memberi info kepada Robi tentang kehamilannya, dan ternyata walaupun Robi sudah tahu dia mengandung anak Ornado sehari sebelumnya, laki-laki itu tetap nekat ingin memisahkan dia dengan Ornado, dan sudah merencanakannya semuanya dengan matang. Mulai dari Ola, Andi, Putri, saudara sepupunya, bahkan memanfaatkan Amalia sebagai informan tanpa Amalia sadar telah dimanfaatkan. Dari awal ternyata Robi sudah mengatur semuanya, Cladia sedikit bergidik membayangkan apa yang ada di otak Robi saat itu, sampai berbuat senekat itu.


“Ibu Cladia, maafkan saya, kalau saya tahu Pak Robi memiliki niat sejahat itu kepada Ibu, saya tidak akan pernah mau menjalin hubungan apapun dengannya walaupun mengatasnamakan persahabatan,” Cladia terdiam, berusaha menenangkan dirinya, sampai akhirnya dia tersenyum, rasanya percuma juga dia marah, semuanya sudah terjadi, waktu tidak akan bisa terulang, yang ada justru saat ini Cladia merasa kasihan melihat Amalia yang tidak mengerti apa-apa sudah dimanfaatkan sejauh itu oleh Robi. Cladia tahu Amalia pasti juga pasti sangat terpukul setelah mengetahui niat jahat Robi kepadanya.


“Bukan salahmu, kamu juga tidak ada niat untuk mencelakakan kami,” Cladia meraih tangan kanan Amalia yang langsung tersentak kaget, tidak menyangka Cladia tidak marah ataupun memakinya sama sekali, justru meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat, wajah Amalia yang awalnya menunduk memberanikan diri untuk menatap ke arah Cladia.


“Ibu beruntung sekali memiliki Bapak Ornado yang begitu mencintai Ibu. Saya berharap keadaan Bapak segera membaik, dan segera bisa kembali bersama dengan Ibu. Sudah dua kali ini saya salah memilih laki-laki yang saya sukai, mungkin saya memang ditakdirkan untuk hidup sendiri tanpa pria disamping saya,”


“Hust, jangan mengatakan hal-hal buruk seperti itu. Aku harap hal itu tidak akan terjadi padamu. Kamu gadis yang baik, pasti kamu akan mendapatkan laki-laki yang baik juga. Anggap saja kedua laki-laki itu tidak berjodoh denganmu karena mereka bukan pria baik-baik, mereka tidak pantas untukmu,” Amalia tersenyum mendengar kata-kata Cladia, kalau saja tidak ingat bahwa wanita di depannya itu adalah bosnya, rasanya ingin sekali dia memeluk Cladia.

__ADS_1


__ADS_2