
Begitu Jeremy menjauh, Ornado kembali mengambil posisi duduk di samping Cladia, dipandanginya wajah Cladia, lalu dielusnya wajah Cladia dengan lembut sambil tersenyum, setelah itu Ornado membungkukkan badannya untuk dapat membisikkan sesuatu di telinga Cladia.
"Amore mio, kamu dengar kata-kata kakakmu, dia dan aku akan selalu menunggumu untuk bangun. Kamu sudah membuatku menunggumu selama 15 tahun, apa kamu sedang marah padaku? Apa kamu ingin aku menunggumu lagi? Jangan khawatir, mau berapa lama lagipun aku akan tetap menunggumu," Ornado mencium telinga Cladia dengan lembut sebelum akhirnya dia kembali menegakkan tubuhnya kembali, lalu memandang ke arah yang lain.
"Sudah malam, lebih baik kalian pulang ke rumah, kalian juga butuh istirahat," Mendengar permintaan Ornado, baik Jeremy, Niela dan James dengan tegas langsung menggelengkan kepalanya, membuat Ornado hanya bisa menarik nafas panjang.
"Siapa yang akan mengurus perusahaan kalau kalian semua bersikeras untuk disini? Apa kalian ingin saat Cladia terbangun dia merasa bersalah?" James dan Jeremy saling berpandangan mendengar perkataan Ornado.
"Oke, kami akan pergi, tapi urus dirimu dulu Ad, paling tidak makanlah dulu. Kondisimu sendiri masih dalam kondisi belum pulih dari lukamu, kamu juga perlu merawat dirimu sendiri jika ingin menjaga Cladia," Mendengar perkataan Jeremy, Ornado kembali menoleh ke arah Cladia, tangan kanannya terulur ke arah perut Cladia, lalu dia mendekatkan bibirnya kesana.
"Bagaimana kondisimu hari ini nak? Kamu baik-baik saja disana nak? Kejadian hari ini tentu sudah membuatmu kaget ya? Tapi bisakah kamu membantu papa membuat mamamu terbangun, katakan padanya papa sedang merindukannya," Ornado mencium perut Cladia, sedetik kemudian Ornado merasakan sesuatu yang bergerak pelan dan lemah dari dalam perut Cladia, seolah memberikan respon atas apa yang baru saja dikatakan Ornado kepadanya barusan, membuat Ornado membeliakkan matanya dengan wajah tidak percaya. Bibir Ornado kembali bergerak mendekat ke arah telinga Cladia.
"Amore mio, apa kamu merasakan? Anak kita sudah bisa merespon apa yang aku katakan. Aku sudah bisa merasakan gerakan yang dia buat. Kamu pasti senang jika melihat responnya padaku. Dia benar-benar anak hebat seperti yang kamu harapkan," Ornado meraih kembali tangan Cladia, menggenggamnya dengan erat, sambil dia terus berbisik ke telinga Cladia dengan suara lembut dan mesra.
"Amore mio, cepatlah bangun, supaya kita bisa bersama-sama lagi menjaga anak kita. Kita berdua akan sama-sama menikmati saat-saat dia berkembang dengan sehat dan kuat di dalam perutmu. Apa yang kamu takutkan untuk membuka matamu? Mulai sekarang sudah tidak akan ada yang akan menyakitimu. Robi sudah pergi jauh, Ola dan Edi sudah berada di tempat dimana seharusnya mereka berada setelah melakukan kejahatan mereka. Bukalah matamu, kamu sudah tidak akan melihat lagi wajah-wajah orang yang akan menyakitimu lagi, kamu hanya akan melihat kami semua yang begitu menyayangimu," Ornado berkata sambil tangan kirinya menggenggam erat tangan kiri Cladia yang tergeletak di atas perutnya, sedang tangan kanan Ornado mengelus lembut rambut di kepala Cladia.
"Aku akan keluar sebentar. Jangan khawatir, Jeremy, Niela dan James mereka semua ada disini menjagamu. Aku hanya pergi sebentar, aku akan segera kembali, ti amo Amore mio," Setelah selesai berbisik di telinga Cladia, Ornado bangkit dari duduknya dan bangkit berdiri, berjalan ke arah pintu kamar.
__ADS_1
"Jer, aku menitipkan Cladia sebentar, aku akan mencari minuman hangat sebentar," Jeremy mengangguk mendengar permintaan dari Ornado. Ornado sengaja melilih untuk pergi sendiri ke kantin rumah sakit, tidak memerintahkan para penjaga untuk membelikan minuman untuknya karena dia ingin sebentar menenangkan dirinya sambil mengisi tenaganya kembali setelah kejadian yang hari ini yang benar-benar membuatnya lelah baik secara fisik dan pikirannya.
Tanpa disadari oleh Ornado, sedetik setelah Ornado mengucapkan kata-kata ti amo Amore mio, jari-jari tangan kanan Cladia sedikit bergerak-gerak, menunjukkan respon atas kata-kata yang dibisikkan Ornado ke telinganya.
Ornado baru saja meneguk sekali minuman hangatnya sambil berjalan menuju pintu keluar kantin rumah sakit ketika dilihatnya James berlari dengan kencang ke arahnya, dan tanpa menunggu James sampai padanya, Ornado langsung meletakkan minuman hangatnya di atas meja kosong di dekatnya dan langsung berlari menyongsong James.
"Apa yang terjadi pada Cladia?" James segera mengatur nafasnya begitu dia sampai di hadapan Ornado.
Suara pintu yang terbuka dengan suara sedikit keras karena terburu-buru dibuka membuat semua yang sedang ada di dalam kamar tempat Cladia dirawat menoleh kaget ke arah pintu, termasuk Cladia yang sedang dalam posisi terduduk di atas ranjang rumah sakit. Dengan senyum lebar Ornado berjalan dengan cepat ke arah Cladia, tapi begitu Ornado mendekat, Cladia langsung bergerak menjauhinya dengan wajah kaget.
"Syukurlah Amore mio," Ketika Ornado hendak meraih tangannya, Cladia langsung menarik tangannya dan mendekapkan tangannya di depan dadanya, memandang ke arah Ornado dengan wajah terheran-heran.
"Kak Jeremy, siapa laki-laki ini?" Mendengar pertanyaan Cladia, mata Ornado terbeliak kaget, sedang Jeremy langsung meraih tangan Ornado yang masih terulur ke arah Cladia dan menurunkannya dengan perlahan.
"Sepertinya benturan di kepalanya membuatnya tidak ingat tentang beberapa hal, termasuk keberadaanmu sebagai suaminya," Mata Ornado kembali terbeliak dan tanpa sadar kakinya melangkah mundur selangkah karena kaget mendengar bisikan dari Jeremy yang menjelaskan kondisi Cladia saat ini.
__ADS_1
Cladia memandang wajah Ornado dengan tatapan mata bingung, benar-benar terlihat seperti seseorang yang sedang memandang orang yang baru ditemuinya. Mata Cladia memandang Ornado dari atas kepala sampai ke kakinya, mengamat-amatinya, berusaha mengingat-ingat apakah dia mengenal pria yang sedang berdiri di depannya saat ini. Ternyata usaha keras Cladia tidak membuahkan hasil justru membuatnya tiba-tiba merasakan sakit kepala yang membuatnya spontan memegang kepalanya dengan kedua tangannya sambil meringis menahan sakit.
“Cla, kamu baik-baik saja?” Jeremy memegang tangan Cladia yang sedang memijat-mijat kepalanya yang terasa sakit.
“Cla, tenangkan dirimu, tarik nafasmu dalam-dalam, jangan memaksakan dirimu yang baru sadar dari pingsanmu,” Niela memeluk bahu Cladia lembut. Cladia menuruti perkataan Niela untuk menarik nafas dalam-dalam sambil berusaha menenangkan pikirannya. Setelah rasa sakit di kepalanya berkurang, Cladia memandang ke arah Niela.
“Niela, siapa laki-laki itu?” Cladia meoleh ke arah Ornado sambil telunjuk tangannya terarah ke arah Ornado.
“Kamu harus tenang Cla, aku akan jelaskan pelan-pelan tentang siapa dia,” Cladia mengangguk pelan sambil matanya masih mengamati Ornado, memandanginya dengan tatapan menyelidik.
“Dia suamimu, Ornado Xanderson, hampir 4 bulan lalu kalian menikah, bahkan sekarang kamu sedang mengandung anaknya,” Mata Cladia terbeliak kaget mendengar perkataan Niela, dengan spontan tangannya langsung menyentuh perutnya lalu dipandanginya perutnya yang memang sudah menunjukkan sedikit tanda-tanda kehamilannya, membuat perutnya sedikit keras dan terlihat sedikit membesar.
Cladia terdiam seribu bahasa, dia ingat beberapa menit lalu saat dia terbangun, tersadar dari pingsannya, yang dia ingat dengan jelas adalah kejadian pembunuhan Dina 5 tahun lalu yang dilakukan oleh Edo, dan yang kedua adalah saat dia terbangun dari tidurnya dan melihat gaun pengantin tergantung rapi di dinding kamar tempatnya tertidur, selain itu dia tidak mengingat apapun tentang sosok pria yang saat ini menurut perkataan Niela adalah suaminya.
Cladia tahu tentang Ornado Xanderson, tapi yang dia tahu dia adalah sahabat sekaligus rekan bisnis Jeremy, pengusaha muda dan sukses yang selama ini tinggal di Italia, juga teman masa kecilnya bersama Jeremy yang sudah terpisah selama 15 tahun, yang bahkan sekalipun Cladia merasa belum pernah bertemu dengannya sejak mereka berpisah 15 tahun lalu.
“Aku sudah menikah? Dengan laki-laki itu? Dan aku sedang mengandung anaknya sekarang?” Niela mengangguk pelan mendengar pertanyaan dari Cladia yang terlihat bingung dan tidak percaya.
__ADS_1