
"Al...., jangan bilang kalau hadiah-hadiah itu berasal..., darimu...,?" Mendengar pertanyaan Cladia yang disertai dengan wajah bingung, Ornado hanya sedikit menggerakkan bahunya ke atas sambil tersenyum geli melihat reaksi Cladia karena ceritanya barusan.
"Di ulang tahunmu yang ke sebelas, waktu itu untuk pertama kalinya aku memberikanmu hadiah ulang tahun untukmu, hadiah itu berupa boneka beruang dengan memegang hati bertuliskan Amore mio. Ulang tahunmu yang ketujuh belas, aku memberikanmu kado sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk hati, dikelilingi oleh batu permata, di tengahnya bertuliskan inisial huruf C," Ornado terdiam sejenak sebelum melanjutkan bicaranya, matanya menatap dalam-dalam ke arah leher Cladia yang sampai saat ini dalam kesehariannya selalu mengenakan kalung yang dia berikan 4 tahun lalu.
Tanpa sadar tangan kanan Cladia bergerak ke arah lehernya, menyentuh kalung yang melingkar di lehernya, menyadari bahwa ternyata selama 4 tahun ini kalung yang selalu dia kenakan di lehernya, yang merupakan kalung yang paling dia suka dan selalu dia kenakan kemanapun dia berada merupakan pemberian dari Ornado. Ingatan Cladia juga tertuju pada boneka beruang yang memegang hati dengan tulisan Amore mio. Selama ini, sejak dia menerima boneka itu sebagai hadiah ulang tahunnya di usia 11 tahun, 10 tahun lalu, boneka itu selalu berada di sampingnya saat dia tidur, bahkan sejak 5 tahun lalu sejak terjadi kasus pembunuhan itu, Cladia seringkali tidur dengan memeluk boneka beruang itu, karena saat dia memeluk boneka itu dia merasa nyaman, merasa dia tidak sendiri. Cladia benar-benar tidak menyangka bahwa boneka yang selama ini selalu menemaninya tidur selama 10 tahun ini merupakan pemberian dari Ornado. Cladia menahan nafasnya pelan, harusnya dengan tulisan Amore mio di bentuk hati yang dipegang boneka itu dia sudah bisa menebak pasti yang memberinya kado itu orang yang minimal pernah tinggal di Italia atau minimal orang yang mengerti bahasa Italia. Tapi siapa sangka kalau itu bukan dari Jeremy? Karena Jeremy juga fasih dalam bahasa Italia.
"Dua tahun lalu aku memberikanmu sebuah notebook, dan terakhir tahun lalu sebelum kita menikah, aku memberikanmu hadiah jam tangan Van Cleef & Arpels (Label perhiasan mewah Van Cleef & Arpels sudah lama menjadi kegemaran aktris legendaris seperti Elizabeth Taylor, Grace Kelly, hingga para royals seperti Wallis Simpson dan banyak lagi. Didirikan sejak tahun 1986 di Paris, Perancis oleh Alfred Van Cleef dan Salomon Arpels, Van Cleef & Arpels sudah sejak dulu terkenal akan perhiasan-perhiasan berliannya yang berkualitas tinggi dan mewah. Tidak heran cara mereka dalam membuat sebuah jam juga sangat memperhatikan setiap detail kecilnya, sehingga membuat jam rancangan mereka termasuk salah satu jam termahal di dunia. Jam tangan dengan dial berbentuk bulat bernama Sweet Charms Watch dibuat di atas emas putih 18 karat. Yang membuat jam ini terlihat one of a kind adalah ornamen charm yang digantungkan pada sisi jam selayaknya charm yang biasa di aplikasikan di sebuah gelang. Taburan 358 potongan berlian yang semuanya berjumlah 2.75 karat diaplikasikan pada bagian dial dengan letak yang sangat teratur. Strap yang terbuat dari bahan kanvas menyeimbangkan jam tangan ini sehingga tidak terlalu berlebihan tanpa mengurangi sisi kemewahannya)," Ornado melanjutkan bicaranya, Cladia hanya bisa terdiam mendengar penjelasan dari Ornado, karena dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang sudah Ornado lakukan padanya selama ini, semua perhatian, cinta bahkan perlindungan yang dia berikan untuknya, walaupun Ornado tidak berada di sampingnya secara fisik dan tanpa Cladia tahu bahwa Ornado melakukan semua itu untuknya. Selama ini Cladia selalu berpikir bahwa hadiah kedua yang Jeremy serahkan padanya selama ini merupakan pemberian Jeremy yang hanya ingin menggodanya, sehingga mengatas namakan orang lain untuk mengelabuinya, menyembunyikan dari siapa hadiah itu. Setiap tahun sejak dia berusia 11 tahun ternyata Ornado selalu mengiriminya hadiah ulang tahun, beberapa sangat berkesan seperti yang disebutkan Ornado barusan. Siapa yang menyangka bahwa semua hadiah-hadiah yang disukainya selama ini berasal dari calon suaminya di masa depan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tangan kanan Ornado bergerak mengelus wajah Cladia yang sedikit tersentak, terbangun dari lamunannya barusan. Tangan kiri Cladia langsung bergerak naik ke atas, menyentuh punggung telapak tangan Ornado yang masih mengelus wajahnya.
"Terima kasih untuk cintamu selama ini. Voglio stare con te per sempre," (Aku ingin bersamamu selamanya) Ornado tersenyum mendengar perkataan Cladia, hatinya merasa berbunga-bunga mendengar pernyataan Cladia.
"Il mio cuore e' solo tuo. Sei tutto per me, Amore mio," (hatiku selamanya milikmu seorang. Kaulah segalanya untukku, cintaku) Ornado berkata sambil tangan kirinya menggengam erat tangan kiri Cladia, memandangi wajah istrinya dengan mesra, sedang tangan kanannya tetap mengelus wajah Cladia dengan lembut dan mesra.
"Ehmm..., makanlah sebelum makananmu dingin," Ornado melepaskan kedua tangannya, supaya Cladia bisa memulai makan siangnya.
“Ayo kita mulai makan siang kita, jangan lupa setelah ini kamu berjanji mengajakku naik gondola,” Ornado tertawa mendengar ajakan Cladia yang juga mengingatkannya tentang janji menikmati sungai di Kota Vanice dengan menaiki gondola. Tentu saja dia tidak akan melupakan janjinya kepada Cladia untuk naik gondola melewati jembatan bride of sighs saat matahari hampir tenggelam.
“Puaskan makananmu dahulu, setelah itu beristirahatlah sebentar, baru kita malanjutkan perjalanan kita,” Cladia tersenyum, langsung diraihnya gelato yang ada di depannya dan menikmati segarnya gelato di depannya, Ornado hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat itu, karena bukan pasta carbonara yang dituju Cladia, tapi justru gelato.
“Al, sepertinya kamu sengaja ingin membuat berat badanku naik dengan drastis, sehingga makanan yang kamu pesan selalu membuatku lupa diri,” Ornado langsung tertawa pelan mendengar kata-kata Cladia yang lebih ke arah protes.
__ADS_1
“Kenapa? Kamu takut jika badanmu menjadi gemuk? Jangan khawatir, aku tidak perduli karena kehamilanmu bentuk badanmu berubah, asal kamu dan bayi kita selalu sehat, itu sudah cukup bagiku. Bagiku, seorang wanita yang mau mengambil tanggung jawab untuk hamil dan melahirkan adalah wanita hebat dan kecantikannya tidak akan rusak karena hal itu. Justru harusnya kamu tahu, bagiku kamu yang sedang hamil justru terlihat benar-benar semakin cantik dan mempesona, membuatku semakin berdebar-debar jika berada dekatmu,” Mendengar perkataan Ornado, Cladia langsung mengalihkan pandangannya dan pura-pura tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Ornado, membuat Ornado kembali tertawa.
“Laurel mengatakan berat badanmu turun agak banyak pada trisemester pertama kehamilanmu karena terlalu banyak muntah, dia mengatakan agar kamu perlu menambah kualitas makanmu di trisemester kedua ini agar berat badanmu naik, kalau kondisi berat badanmu tidak bisa naik di trisemester kedua ini, akan berbahaya untuk bayi kita, bisa menghambat pertumbuhannya,” Cladia langsung menoleh mendengar perkataan Ornado dan menatap wajah Ornado dalam-dalam.
“Al, kamu benar-benar berusaha keras ya untuk mengawasiku?” Ornado tersenyum, tangan kanannya langsung meraih tangan Cladia dan menggenggamnya.
“Aku selalu bilang aku hanya ingin melindungimu, kalau aku mengawasimu, itu artinya aku tidak percaya padamu, tapi aku selalu katakan bahwa 100% aku mempercayaimu, kalau aku katakan aku melindungimu, itu artinya karena aku menyayangimu, tidak ingin ada hal buruk yang terjadi padamu,” Cladia menarik nafas panjang mendengar perkataan Orando, jujur saja dia belum terbiasa dengan apa yang biasa Ornado lakukan untuk mengetahui sedetail-detailnya tentang dia dengan segala cara, tapi sepertinya ke depan Cladia harus mulai terbiasa dengan sikap over protektif Ornado padanya, seperti yang dikatakan Laurel beberapa waktu lalu.
“Amore mio…,” Mendengar panggilan dari Ornado, Cladia mengarahkan pandangannya, menatap mata Ornado dalam-dalam.
“Aku akan selalu percaya padamu, aku percaya bahwa apapun yang kamu lakukan adalah untuk kebaikanku,” Ornado menepuk-nepuk tangan Cladia lembut, menunjukkan dia benar-benar lega mendengar kata-kata Cladia.
“Terimakasih Amore mio, ti amo,” Cladia menarik tangannya dari genggaman tangan Ornado dengan pelan, tersenyum pada laki-laki itu dan mulai menikmati pasta carbonaranya.
“Ah, senang sekali rasanya,” Ornado hanya bisa tersenyum melihat Cladia yang duduk sambil meregangkan otot-ototnya dengan menarik kedua tangannya ke atas. Setelah itu Cladia merebahkan tubuhnya di atas sofa hotel yang mereka pesan untuk bermalam di Kota Venice hari ini.
“Al, sebenarnya kita tidak perlu menyewa kamar hotel hari ini, sebenarnya perjalanan dari Venice ke Roma tidak lebih dari 70 menit menggunakan pesawat pribadimu,” Ornado yang awalnya hendak melangkah ke arah jendela menghentikan langkahnya, lalu mendekati Cladia dan duduk di sampingnya, di sofa.
“Sudah kukatakan berapa kali padamu Nyonya Xanderson, aku keberatan kamu selalu menyebut brang-barang milik kita dengan sebutan barangku. Dari awal sudah kukatakan kalau sejak kita menikah, apa yang menjadi milikku adalah milikmu juga, termasuk, yang baru saja kamu sebutkan, pesawat pribadi “KITA”,” Ornado menekankan pada kata kita, membuat Cladia tersenyum,
“Maaf Tuan Xanderson, aku benar-benar belum terbiasa mengatakan hal-hal seperti itu,” Cladia berkata sambil tersenyum manis dengan matanya menatap manja ke arah Ornado, membuat Ornado sedikit menggigit bibir bawahnya dan tersenyum melihatnya.
__ADS_1
“Kamu memang selalu membuatku tidak bisa mengatakan tidak,” Dengan cepat diciumnya bibir Cladia dengan mesra, walaupun hanya sekilas, sudah cukup membuat wajah Cladia memerah, membuat Ornado tersenyum geli melihat Cladia yang masih sering bersikap malu-malu padanya, apalagi saat Ornado bersikap mesra padanya.
“Aku tidak mau kembali ke Roma hari ini. Aku tidak mau membuatmu terlalu lelah, apalagi ini sudah malam kita baru menyelesaikan perjalanan kita menikmati gondola,” Cladia tersenyum, karena begitu Ornado mengatakan gondola ingatannya langsung berlari ke ingatan beberepa jam yang lalu, ketika mereka naik ke atas gondola, Sesuai janjinya, sore tadi Ornado mengajak Cladia untuk menikmati sore di atas gondola, menikmati perjalanan melalui sungai di Kota Venice sambil mendengarkan alunan nyanyian dari Gondolier. (Gondolier merupakan sebutan bagi orang yang mengayuh gondola sekaligus bertugas untuk menyanyikan lagu-lagu opera Italia yang syahdu. Gondolier mengenakan kostum yang khas, kaus setrip horizontal hitam putih, celana hitam, syal merah di leher seperti saputangan dan selendang bewarna yang diikatkan ke pinggang, serta topi jerami yang dilingkari kain merah. Alunan suara seorang Gondolier terdengar sangat indah. Selesai si Gondolier bernyanyi dia akan mendapatkan tepuk tangan dari penumpang dan orang-orang yang menontonnya, sebagai ucapan terimakasih dengan elegan dia akan membungkukkan badannya dan meletakkan salah satu tangannya di dada sambil tersenyum).
Selama menikmati perjalanan dengan gondola, mereka melewati beberapa jembatan, sehingga Cladia tidak ingat lagi cerita tentang jembatan bride of sighs sampai tiba-tiba ketika hampir melewati salah satu jembatan Ornado langsung menarik tubuh Cladia dan tanpa berkata-kata Ornado langsung mencium mesra bibir Cladia begitu gondola mencapai bawah jembatan bride of sighs. Ciuman Ornado yang tiba-tiba membuat Cladia tersentak kaget, namun beberapa detik kemudian, dengan tidak kalah mesra Cladia membalas ciuman Ornado, membiarkan Ornado menciumnya sampai puas sambil memeluk tubuhnya dengan erat.
“Lagipula, aku menganggap ini perjalanan bulan madu kita, aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu dengan menunjukkan tempat-tempat romantis di Italia padamu,” Cladia tersenyum dengan wajah sedikit gugup mendengar Ornado mengatakan tentang perjalanan bulan madu.
“Aku mau benar-benar menikmati perjalanan kali ini bersama istriku,” Ornado menggerakkan kepalanya ke arah leher Cladia dan langsung mencium leher Cladia dengan mesra, sedang Cladia langsung menjauhkan tubuhnya dari Ornado secara tiba-tiba, membuat Ornado sedikit kaget,
“Maaf Al, aku mau mandi, rasanya badanku gerah sekali,” Ornado tersenyum mendengar permintaan Cladia.
“Kalau begitu mandilah, aku akan menunggumu disini. Aku akan mandi setelah kamu selesai,” Cladia bangkit berdiri dari duduknya, membalikkan tubuhnya ke hendak menuju kamar mandi, tapi baru dua langkah dia berjalan, Cladia kembali membalikkan tubuhnya.
“Al, apa kamu masih ingin menagih janjimu untuk mandi bersama?” Ornado langsung menoleh kaget mendengar tawaran dari Cladia, dengan cepat dia langsung bangkit berdiri, berjalan ke arah Cladia dan langsung memeluk bahunya dan membawanya berjalan bersama ke arah kamar mandi.
Tanpa menunggu ijin dari Cladia, Ornado berencana melepas pakaiannya, bersiap untuk mandi ketika dilihatnya Cladia masih terdiam di dekat pintu kamar mandi sambil mengalihkan padangannya dari Ornado dengan wajah gugup, membuat Ornado kembali mendekat ke arahnya.
“Apa kamu berubah pikiran, atau kamu perlu bantuanku untuk melepas pakaianmu?” Wajah Cladia benar-benar memerah mendengar tawaran dari Ornado dengan wajah penuh senyum menggodanya.
“Tidak, aku bisa sendiri,” Ornado berjalan ke arah Cladia, mendekatkan tubuhnya ke tubuh Cladia, dengan lembut dipeluknya tubuh Cladia erat-erat, sambil bibirnya mencium kembali leher Cladia yang masih terdiam di tempatnya.
__ADS_1
“Buat dirimu senyaman mungkin, lalukan apapun yang kamu suka tanpa membebani dirimu sendiri. Buat dirimu sendiri bahagia,” Cladia mengangguk pelan, dengan lembut dibalasnnya pelukan Ornado, dan dengan gerakan pelan Cladia mengelus lembut punggung Ornado, lalu tanpa disadarinya, tangannya bergerak ke bawah, bergerak masuk ke balik kemeja Ornado, bergerak mengelus kulit pinggang Ornado, dan membalas ciumannya. Ornado sedikit terkejut melihat reaksi Cladia, namun sedetik kemudian Ornado tersenyum, bibirnya bergerak ke arah telinga Cladia dan berbisik lembut.
“Setelah kita selesai mandi, bolehkan aku mengunjungi bayi kecil kita?” Wajah Cladia kembali memerah mendengar permintaan Ornado yang bagi Cladia sudah sangat jelas apa yang sedang diminta Ornado darinya barusan, dan dengan malu-malu Cladia menganggukkan kepalanya dengan perlahan.