
“Hallo,” Cladia mengangkat telp yang baru saja berdering, diliriknya jam di dinding kamarnya, menunjukkan pukul 5 pagi, dan kebetulan dia baru saja bangun dari tidurnya.
“Pagi, sudah bangun? Apa kabarmu pagi ini Cla?” Cladia tersenyum kecil mendengar suara sapaan dari seberang sana.
“Kalau aku belum bangun bagaimana aku bisa menjawab telpmu?” Ornado tertawa pelan mendengar jawaban dari Cladia, baginya jawaban itu sudah cukup untuk menunjukkan kondisi Cladia sedang baik-baik saja.
“Tuan Ornado, apakah kamu benar-benar serius sedang bekerja disana? Kalau iya bagaimana mungkin hampir setiap saat kamu ada waktu untuk menelponku?” Ornado tertawa mendengar pertanyaan Cladia, memang sejak dia sampai di Itali 3 hari lalu hampir setiap saat dia menyempatkan waktu untuk menelpon Cladia, bahkan kadang hanya sekedar menanyakan apakah Cladia sudah makan, sudah mandi, sedang apa. Walaupun kadang Cladia merasa terganggu dengan telp yang sering kali berdering ditengah-tengah waktu meetingnya, saat pagi seperti sekarang ini tanpa sadar begitu membuka mata dia langsung mengarahkan matanya ke arah handphone di atas nakas, untuk melihat apakah Ornado sudah menghubunginya.
“Kalau kamu tidak percaya disini aku benar-benar bekerja, silahkan menyusulku kesini, dengan senang hati aku akan menyiapkan segala keperluanmu untuk berangkat kesini,”
“Tidak perlu, aku sudah terlalu sibuk mengurus event kerjasama kita, tidak ada waktu luang untuk bermain-main.” Cladia buru-buru menampik tawaran Ornado.
“Apa itu artinya saat semua sudah beres kamu tidak keberatan untuk bermain-main bersamaku ke Itali? Anggap saja untuk membayar bulan madu kita yang tertunda,” Ornado berkata dengan suara yang jelas-jelas dengan menahan senyuman, tanpa sadar Cladia melotot mendengar itu.
“Apa maksudm….” Tawa Ornado langsung meledak.
“Bercanda Cla, tenanglah, aku tidak akan pernah melanggar janjiku,” Cladia menarik nafas panjang, bagaimanapun dia tahu bahwa selama hampir 1,5 bulan ini mereka menikah, dia tahu banyak hal yang sudah Ornado lakukan untuknya, sedangkan dia sepertinya belum pernah melakukan apapun untuk pria itu.
“Cla…, kamu masih disana?” Suara Ornado langsung menyadarkan lamunan Cladia.
“Eh, iya Al, ada apa?”
“Jangan melamun, kalau kamu terlalu merindukanku, jangan khawatir, besok lusa aku kembali, atau perlu kukirim fotoku sekarang supaya bisa membantu mengurangi rindumu?”
“Kamu….” Cladia sedikit menjerit mendengar Orando mulai menggodanya lagi, di seberang sana langsung terdengar suara Ornado yang tertawa senang karena berhasil menggoda Cladia.
“Asalkan bisa mendengar suaramu aku bisa menjalani hari ini dengan semangat,” Cladia hanya terdiam, tidak bisa menjawab perkataan dari Ornado.
“Cla, kamu ingin aku membawa apa untukmu?” Ornado segera mengalihkan pembicaraan begitu melihat tanda-tanda Cladia kembali terdiam.
__ADS_1
“Tidak, tidak ada, asal kamu sampai disini dengan kondisi baik-baik saja itu sudah cukup,” Cladia berkata pelan, tanpa menyadari kata-katanya barusan membuat Ornado sedikit menahan nafasnya, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, karena baginya kata-kata Cladia dapat diartikan bahwa Cladia menunggu kepulangannya dan mengharapkan dia kembali ke sisi Cladia dengan kondisi sehat dan baik-baik saja.
Mata Orando memandang ke arah tangan kirinya yang sedari tadi memegang bingkai foto Cladia sejak dia melakukan panggilan telponnya, bibirnya tersenyum simpul mengamati foto gadis cantik di bingkai itu. Saat ini tiba-tiba dia merasa merindukan Cladia, benar-benar merindukannya.
“Al,”
“Ah, iya,” Ornado langsung tergagap mendengar panggilan pelan dari Cladia.
“Ah, sudah hampir jam makan siang, aku ada janji dengan Amadea dan papa untuk makan siang bersama, nanti setelah makan siang aku telp lagi, selamat pagi Cla, mi manchi,” (Aku merindukanmu) Ornado menutup telponnya dengan senyuman yang tersungging di wajahnya, sekilas diciumnya foto yang ada di tangan kirinya, sedang Cladia, tiba-tiba merasa hatinya tidak enak ketika Ornado mengatakan akan makan siang dengan Amadea dan papanya.
Sepertinya Amadea benar-benar dekat dengan Ornado, Cladia berkata dalam hati, tapi akhirnya dia memilih untuk mengabaikan apa yang dirasakan hatinya barusan dan berjalan membuka pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Ornado. Cladia langsung membuka tirai di kamar Ornado. Saat Ornado tidak ada berapa hari ini dia senang sekali memandangi taman mawar yang terlihat jelas dari jendela kamar Ornado. Rasanya memandangi kebun mawar itu menjadi salah satu obat penenang bagi Cladia saat hatinya sedang gundah.
“Ok, hari ini meeting kita terakhir sebelum kami kembali ke perusahaan Sanjaya, minggu depan kami sudah akan kembali lagi ke perusahaan Sanjaya, sebelum semuanya berakhir, sepulang kerja kami mengundang team kita untuk makan malam bersama di restoran X, kita ingin suasana berbeda dengan makan malam di restoran yang bernuansa alam terbuka.” Mendengar perkataan itu semua yang hadir di meeting bertepuk tangan, tiba-tiba James mengangkat tangan kanannya untuk melakukan interupsi.
“Wah,”
“Betulan ini?”
“Serius?” Semua anggota meeting langsung tersentak kaget, tidak menyangka akan mendapatkan undangan makan sekaligus menginap di hotel X yang terkenal dengan fasilitasnya yang wah dan tentu saja dengan harganya yang fantastis. Cladia memandang ke arah James, cukup kaget juga dengan apa yang barusan dia dengar, James hanya tersenyum sambil menggerakkan bahunya.
“Ok-ok, terimakasih untuk kerja keras team kita selama berapa waktu ini, sekarang kalian silahkan ajukan ijin pulang cepat di HRD, setelah itu silahkan bersiap-siap, kita berkumpul kembali tepat jam 2 nanti,” James menutup meeting hari itu diiringi suara gaduh dari peserta meeting yang tampak senang dengan kejutan yang barusan mereka dapatkan tanpa disangka-sangka.
“James, tunggu sebentar,” Cladia langsung mendekati James sebelum meninggalkan ruangan meeting, James langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya sehingga berhadap-hadapan dengan Cladia.
“Ya? Kenapa?”
“Apa masalah menginap ini Al juga tahu? Dia acc?” James tertawa pelan mendengar pertanyaan Cladia.
__ADS_1
“Tenang saja, aku diberi kuasa penuh oleh Ad memutuskan apapun di sini selama dia tidak ada, lagipula, apa menurutmu Ad akan tinggal diam kalau dia tahu kamu mentraktir anak buahnya dengan makan makan mewah sedang dia tidak memberikan balasan?” Cladia menarik nafas panjang, sejenak dia lupa bahwa dibandingkan dengan Grup Xanderson jelas saja Grup Sanjaya tidak ada apa-apanya, dan dia yakin dengan posisi Ornado sebagai CEO Grup Xanderson tentu saja tidak akan mau menerima sesuatu tanpa membalasnya.
“Tenang saja Cla, aku akan infokan ke Ornado, dalam berapa lama ke depan, kalau dia tidak menghubungimu untuk membahas masalah ini artinya dia pasti acc, kalaupun dia tidak acc, apa kamu sebagai Nyonya Xanderson akan membatalkannya? Aku pikir kalaupun Ad tidak setuju, kamu sebagai Nyonya Xanderson pasti akan menggantikannya untuk memikul tanggungjawab membayar semuanya, atas semua yang sudah kita janjikan ke team kita,” James tertawa tergelak, Cladia melotot, benar-benar James sudah mempertimbangkan semuanya, tentu saja selain dia sebagai pihak Sanjaya dia juga adalah istri Ornado Xanderson yang tidak mungkin akan membiarkan nama Ornado dipermalukan karena menarik perkataan yang sudah dijanjikan di depan anak buah.
“Ini kartu kamar kalian,” James membagikan kartu hotel untuk kunci kamar ke teamnya, ketika Cladia menerima kartunya dari James dia sedikit tersentak, karena dengan jelas disana tertulis presidential suite room.
“Ah, kalian pergi dulu saja ke kamar kalian,” Melihat wajah kaget Cladia James segera memandangi ke arah anggota team yang lain dan menyuruh mereka bergegas ke kamar mereka.
“Ada apa Cla?” James memandang Cladia yang wajahnya penuh dengan pertanyaan.
“Untuk kamar standar di hotel ini sudah cukup bagiku, fasilitas di hotel ini jauh dibandingkan dengan hotel lain, walaupun kamar standar tidak akan kalah dengan kelas kamar junior room di hotel lain,” James tersenyum.
“Bagaimana aku mempertanggungjawabkan di depan Ad kalau aku memberikan kamar standar kepadamu?”
“Tim kita kecuali Robi tidak tau kalau aku istri Ornado, tidak perlu ada perlakuan khusus, biar aku sama-sama saja dengan mereka, tolong aturkan ulang agar aku mendapatkan kamar standar saja,” Cladia menyodorkan kartu kamarnya ke arah James, James langsung menahannya dengan telapak tangannya.
“Toh mereka tidak tahu kalau kamu akan menempati presidential suite room, kamar mereka juga saling terpisah, tidak ada yang berdekatan, jangan lupa ini weekend Cla, kita memutuskan menginap baru hari ini, jadi semua kamar sudah penuh, tenang saja, mereka tidak akan tahu kalau kamu mendapatkan fasilitas lebih, apalagi tidak semua orang bisa sembarangan mendapat akses untuk mendekati lokasi presidential suite room,” James berusaha memberikan penjelasan kepada Cladia.
Ah, dasar James, pintar sekali dia berkelit, sepertinya kali ini aku harus mengalah, apalagi sejak tadi siang aku belum bisa menghubungi Ornado, Cladia menghela nafasnya dan memilih untuk tidak berdebat dengan James.
“Sudahlah, kamu istirahatlah dulu, jam 7 kita akan bertemu di restoran untuk makan malam bersama team kita,” Cladia menggangguk dan segera meninggalkan lobi hotel menuju kamarnya.
Setelah makan malam selesai Cladia buru-buru kembali ke kamarnya, tidak seperti biasanya badannya terasa capek, padahal perjalanan mereka hari itu tidak terlalu jauh. Baru saja Cladia berganti pakaian, bersiap untuk merebahkan badannya di kasur, dia mendengar ada suara bel dari arah pintu kamarnya.
Dengan malas Cladia membuka pintu kamarnya, matanya langsung terbeliak melihat siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya, seorang pria tampan dengan kacamata hitam berdiri dengan wajah penuh senyuman di depannya.
“Apa kabar Cla?” Ornado membuka kacamata hitamnya dan melangkah masuk, di belakangnya mengikuti Fred yang menarik tas koper dengan tangan kanannya.
__ADS_1