My Wild Rose

My Wild Rose
SESUATU YANG ANEH PADAKU


__ADS_3

Cladia sedikit salah tingkah mendengar pertanyaan dari Ornado yang benar-benar tidak disangkanya, tangannya sedikit meremas handphone yang ada di tangannya. Kalau dia menjawab false kemungkinan salah satu diantara Robi, James atau Ornado sendiri akan segera menyangkal jawabannya, kalau dia menjawab true, bisa dipastikan akan terjadi kehebohan, bahkan hari Senin lusa, hari terakhirnya masuk kantor di Bumi Asia untuk berpamitan secara resmi sebelum dia kembali ke kantornya sendiri bersama Jeremy bisa dipastikan akan jadi hari yang tidak gampang untuk dia hadapi jika kebenaran hubungannya dengan Ornado terungkap. Walaupun dia tidak akan menyebutkan siapa nama suaminya, dengan kejadian beberapa waktu ini dan sikap Ornado kepadanya pasti semua orang sudah bisa menebak siapa laki-laki dari Bumi Asia yang menjadi suaminya.


Cladia menarik nafas panjang, posisinya saat ini benar-benar sulit untuk memutuskan harus menjawab apa, matanya masih memandang ke arah Ornado yang sejak mengajukan pertanyaannya masih tetap dalam posisi menatapnya dengan pandangan lembut dan mesra.


"True," Akhirnya Cladia memutuskan menjawab true, karena dia juga bukan orang yang suka jika dibohongi, maka dia sendiri tidak mau berbohong kepada orang lain dengan alasan apapun.


Mendengar jawaban itu Ornado tersenyum, sedang semua yang ada di meja itu, yang belum tahu tentang kebenaran itu langsung berteriak kaget dengan mata melotot, memandang ke arah Cladia dengan tatapan tidak percaya, bahkan Amalia langsung bangkit berdiri dan menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia sebagai karyawan langsung Cladia bahkan tidak pernah tahu sama sekali bahwa adik pimpinannya itu menikah dengan seseorang yang bekerja di Bumi Asia.


"Kamu juga sudah tahu itu?" Amalia yang duduk di depan Robi bertanya kepada Robi dengan suara pelan yang langsung menjawabnya dengan sebuah anggukan pelan.


Astaga, aku bener-benar seperti orang bodoh, harusnya aku yang paling tahu, tapi kenyataannya aku tidak tahu apa-apa? Amalia berkata dalam hati dengan wajahnya yang masih terlihat bingung. Cladia mendongakkan kepalanya melihat ke arah Amalia, tangan kirinya meraih tangan kanan Amalia dengan lembut, menariknya agar kembali duduk, membuat Amalia tersentak kaget dan menggerakkan tubuhnya agar kembali duduk.


Mata Amalia memandang Cladia masih dengan wajah tidak percaya, Cladia menepuk-nepuk bahu Amalia pelan.


"Bu Cladia, apakah...," Amalia berbisik pelan, matanya melirik ke arah Ornado yang terlihat sedang mengamati handphonenya, sekilas Cladia mengangguk pelan mengiyakan seolah mengerti bahwa Amalia menanyakan apakah benar Ornado adalah suami dari Cladia. Amalia kembali tersentak kaget, tapi dia buru-buru mengendalikan dirinya dan mengangguk pelan ke arah Cladia sambil tersenyum, ikut berbahagia mengetahu ternyata pimpinannya menikah dengan seorang pria yang hebat seperti Ornado Xanderson.


'What? Mustahil!"


"Astaga! Benar-benar berita besar!"


"Sulit dipercaya!"


"Berarti gosip tentang perselingkuhan mereka...."


"Hust, jangan mengungkit tentang gosip aneh itu!" Suara bisik-bisik langsung terdengar silih berganti.


James hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Cladia begitu ingin menutupi status siapa suaminya, tapi ternyata Ornado sendiri yang membongkarnya, memaksa Cladia mengakui dengan bibirnya sendiri, benar-benar laki-laki hebat yang sulit dikalahkan. James menoleh kesamping, seorang pelayan segera berjalan mendekati James, membisikkan sesuatu ke telinganya, disambut sebuah anggukan oleh James.


"Sudah-sudah, kita hentikan permainan ini, makanan sudah siap, ok, siap-siap berpesta seafood malam ini," James menepukkan kedua telapak tangannya untuk menghentikan keributan yang barusan terjadi, setelah itu James menjentikkan jarinya ke arah seorang pelayan yang berdiri di sampingnya. Begitu James memberi kode, dari arah timur 5 orang pelayan segera mendekati meja dan menyajikan makanan yang tampak masih mengepulkan uapnya, menandakan masakan itu baru saja matang, membuat beberapa orang menelan air liurnya karena lapar begitu membaui uap dari masakan yang disajikan. Mata Amalia dan teman-teman yang lain terbeliak melihat berbagai jenis makanan yang menarik dan banyaknya makanan yang tersaji di depan mereka.

__ADS_1


Cladia memandangi masakan yang tersaji di meja mereka. Penampilan masakan itu benar-benar menggugah selera, tapi entah kenapa Cladia yang merupakan penggemar berat seafood tiba-tiba merasa mual begitu hidungnya membau dan melihat masakan-masakan itu. Ornado yang awalnya mengamati para pelayan yang sibuk menyajikan masakan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Cladia begitu dilihatnya Cladia dengan buru-buru menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya, wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Maaf, kalian bisa mulai dulu, aku perlu ke toilet sebentar," Cladia buru-buru bangkit berdiri dengan satu tangan masih menutup hidung dan mulutnya, bergegas membalikkan badannya berjalan dengan sedikit terburu-buru ke arah toilet tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya.


Ornado langsung menggeser kursinya ke belakang, bangkit berdiri, dengan sedikit berlari meninggalkan meja makan dan menyusul langkah Cladia, Amalia memandang tindakan mereka, lalu memandang ke arah teman-temanya yang lain, dan mereka sama-sama tersenyum, seolah-olah tindakan Ornado barusan benar-benar mempertegas tentang hubungan mereka berdua.


Begitu Cladia keluar dari toilet dia sedikit kaget melihat Ornado yang sudah berdiri menunggunya di depan pintu toilet dengan kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya dengan kepala sedikit menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu baik-baik saja Cla?" Wajah Ornado terlihat sedikit panik melihat wajah Cladia yang agak pucat dan dari kondisi Cladia yang terlihat, Ornado bisa menebak bahwa istrinya itu baru saja memuntahkan isi perutnya.


"Aku baik-baik saja," Cladia menutup mulutnya dengan punggung tangan kanannya.


"Al, sepertinya aku kurang enak badan, aku akan kembali ke hotel duluan, mungkin kamu bisa pulang bersama James," Ornado mengamati wajah Cladia, tanpa menjawab perkataan Cladia tangannya buru-buru mengambil handphone dari sakunya, membuka layarnya dan melakukan panggilan telp.


"Selamat malam tuan," Suara sopir Cladia segera menjawab panggilan telp dari tuannya.


"Segera siapkan mobil, bawa ke parkiran yang paling dekat dengan posisi toilet, aku dan nyonya akan kembali ke hotel sekarang,"


"Hallo, ada apa Ad? Apa Cladia baik-baik saja?" Begitu mengangkat telp James langsung menanyakan kondisi Cladia.


"James kamu temani yang lain untuk makan malam, aku dan Cladia akan kembali ke hotel, Cladia sedang kurang enak badan, aku serahkan urusan disini kepadamu," Cladia memandang ke arah Ornado, dari tatapan matanya Ornado bisa mengartikan bahwa Cladia keberatan dengan keputusannya untuk ikut kembali ke hotel, tapi kali ini Ornado benar-benar mengabaikan keinginan Cladia untuk membuatnya tetap tinggal.


"Ok, tenang saja, aku akan atur yang disini," james menjawab dengan cepat.


"Kalian tidak perlu memikirkan kami, selamat bersenang-senang," James tersenyum mendengar perkataan Ornado, tentu saja mereka akan menikmati semua yang sudah disediakan, tidak akan menyia-nyiakannya.


©©©©©©©


"Kamu harus tetap makan walaupun cuma sedikit, dari siang aku lihat kamu hanya makan sedikit," Ornado menyodorkan roti ke arah Cladia yang duduk di tempat tidur dengan menyandarkan pungungnya di sandaran tempat tidur.

__ADS_1


"Tidak, ini sudah cukup," Cladia mengangkat gelas berisi minuman hangat di tangannya. Ornado yang duduk di kursi sebelah kanan tempat tidur menarik nafas panjang.


"Menurut Jeremy kamu penggemar berat seafood, kenapa denganmu hari ini?" Ingin sekali Ornado meraih kedua tangan Cladia, merangkumnya dalam genggaman kedua tangannya dan menciuminya. Cladia menoleh memandang ke arah Ornado.


"Aku baik-baik saja, mungkin terlalu banyak terkena angin malam," Ornado tidak begitu menanggapi perkataan Cladia, karena sebenarnya hari ini Cladia memakai pakaian yang cukup tebal, rasanya bukan itu alasan yang tepat untuk menjelaskan kondisi Cladia sekarang.


"Apa mungkin kamu terlalu lelah karena beberapa waktu ini kamu terlalu memforsir tenagamu untuk urusan event peluncuran produk baru kita?" Cladia menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan Ornado, ada hal lain yang jauh lebih besar yang sedang dia pikirkan, sesuatu yang belum pasti tapi benar-benar membuat Cladia tidak tenang.


"Selama aku tidak disini James bilang berapa hari ini kamu selalu pulang malam untuk mengerjakan persiapan acara, bahkan kemarin kamu melewatkan makan siangmu. Mungkin ini momen besar pertama yang harus dihadapi Sanjaya dalam skala internasional, tapi jangan terlalu membebani dirimu sendiri, aku akan bantu handle jika ada masalah, aku tidak akan membiarkan ada yang mengacaukannya," Cladia meneguk minuman hangatnya, dipandanginya Ornado dengan wajah seriusnya. Cladia tahu betul, bagi Ornado apa yang dia sedang kerjakan bukan event besar yang pertama kalinya diadakan oleh perusahaannya, tapi bagi Cladia dengan dia terlibat dalam event ini dia akan membantu membesarkan Grup Sanjaya.


Aish, dasar si James benar-benar, tukang lapor, kenapa dengan bakatnya itu dia tidak menjadi mata-mata profesional saja, Cladia sedikit mengerutu dalam hati mengingat ternyata James selalu melaporkan apapun yang dilakukannya kepada Ornado.


"Tenang saja, aku memiliki tubuh yang kuat, kalau tidak percaya tanya saja pada Jeremy, aku jarang sekali sakit, cuma hari ini mungkin kurang fit," Cladia meletakkan gelas di tangannya di nakas sebelah tempat tidurnya.


"Lebih baik aku beristirahat untuk memulihkan tenagaku," Cladia bergerak mengubah posisi tubuhnya dari duduk bersandar ke posisi tidur, Ornado buru-buru bangkit dari duduknya, menarik selimut yang ada di kaki Cladia, menarik dan menutupkannya ke tubuh Cladia.


"Istirahatlah, aku akan ke restoran sebentar mengisi perutku," Cladia mengangguk, dia benar-benar lupa memang sejak sore tadi dia juga belum melihat Ornado memakan sesuatu.


"Kamu mau aku membawakanmu sesuatu dari restoran?" Cladia buru-buru menggeleng mendengar pertanyaan Ornado.


"Ok, istirahatlah, buat dirimu senyaman mungkin," Ornado berjalan keluar meninggalkan Cladia yang sudah dalam posisi siap tidur, tapi pikirannya membuat dia tidak bisa tidur dengan tenang.


Sebelumnya begitu sampai di hotel tadi tempat yang pertama di tuju Cladia adalah toilet, dan begitu sampai di sana Cladia kembali memuntahkan semua minuman yang sempat dia minum sepanjang perjalanan kembali ke hotel. Dengan wajah kaget tiba-tiba Cladia teringat sesuatu yang berapa lama ini benar-benar tidak dia perhatikan.


Cladia menekan kedua telapak tangannya ke atas wastafel keramik di depannya, berusaha mengingat-ingat kapan terakhir dia mendapatkan tamu bulanannya, rasanya dia sudah terlambat cukup lama. Cladia tahu pasti jadwal tamu bulanannya tidak pernah terlambat, selalu datang sesuai jadwal, kalaupun datang lebih awal atau terlambat tidak akan lebih dari 2 hari. Cladia mulai menghitung dengan jari-jarinya. Tanggal pernikahannya 1,5 bulan lalu jika dihitung hari itu adalah 14 hari setelah tanggal datang bulannya di hari pertama bulan sebelumnya, itu artinya saat hari pernikahannya itu dia berada pada puncak masa suburnya, dan sejak hari itu dia belum mendapatkan tamu bulanannya.


Cladia memandang pantulan wajahnya di kaca yang terpasang di atas wastafel, dengan tangan kanannya masih menekan wastafel di depannya, tangan kirinya bergerak menyentuh perutnya.


Apa mungkin aku......Cladia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha untuk tidak melanjutkan apa yang baru saja terlintas di pikirannya.

__ADS_1


"Cla, kamu tidak apa-apa? Apa perlu aku masuk?" Suara panggilan Ornado dari luar pintu kamar mandi segera menyadarkan lamunan Cladia.


"Eh....Tidak apa-apa Al, tunggu sebentar lagi aku selesai, aku akan segera keluar," Cladia mencuci mukanya dan segera mengeringkannya dengan handuk agar wajahnya bisa terlihat sedikit lebih segar, bagaimanapun dia tidak mau Ornado bertanya macam-macam saat melihat wajahnya yang terlihat kusut.


__ADS_2