My Wild Rose

My Wild Rose
PASAR MALAM


__ADS_3

Cladia tersenyum melihat penampilannya di kaca, dengan t-shirt bewarna merah dan jeans biru sepanjang 3/4 kaki membuatnya tampak santai. Hari ini dia benar-benar merasa senang, karena untuk pertama kalinya dia bisa berjalan-jalan ke pasar malam. Sejak orangtuanya meninggal, bahkan jauh sebelumnya setiap kali ada acara pasar malam pasti dia tidak akan diperbolehkan untuk pergi kesana dengan berbagai alasan. Cladia sadar semua alasan itu untuk melindunginya, tapi saat ini dia begitu ingin menikmati suasana pasar malam yang biasanya hanya bisa dia lihat dari status medsos beberapa temannya atau dari berita di tv.


Ornado yang baru saja keluar dari kamar mandi ikut tersenyum melihat Cladia yang terlihat ceria sore ini di depan kaca meja riasnya. Ornado berjalan mendekati Cladia yang masih di depan kaca, tangannya yang sedang memegang rambutnya untuk dia ikat tiba-tiba terhenti begitu Ornado menggerakkan tangan kirinya ke arah rambutnya, sedang tangan kanan Ornado meraih sisir yang ada di meja rias.


"Biar aku yang mengikatnya," Cladia cukup kaget dengan permintaan Ornado barusan, tapi Cladia menurunkan tangannya perlahan, membiarkan Ornado merapikan rambutnya dengan sisir untuk kemudian mengambil karet dan mengikatnya ke atas. Hidung Ornado begitu menikmati bau harum shampoo yang tersebar dari rambut Cladia. Sejujurnya Ornado ingin sekali berlama-lama dalam posisi itu, tapi dia buru-buru melepaskan tangannya dan mundur menjauhi Cladia begitu rambut Cladia sudah dia ikat rapi, karena jantungnya langsung berdetak keras begitu melihat tengkuk (leher bagian belakang) Cladia yang baginya terlihat begitu menggoda setelah rambutnya terikat di atas.


"Ehem," Ornado berdehem kecil dan mengalihkan pandangannya agar Cladia tidak bisa melihat bahwa baru saja dia benar-benar harus berjuang untuk membuat bibirnya tidak tergoda bergerak mencium tengkuk Cladia barusan.


Cladia yang masih di depan kaca menggerak-gerakan kepalanya sambil tangan kanannya memegang kepalanya ke samping kanan dan ke kiri untuk melihat hasil ikatan rambutnya, sekilas diliriknya Ornado sambil tersenyum kecil.


"Ternyata kamu cukup ahli mengikat rambut, sudah berapa lama kamu berlatih untuk itu?" Ornado tertawa kecil mendengar entah itu pujian atau sindiran dari Cladia.


"Kenapa? Apa kamu pikir aku sudah terlalu sering mengikat rambut wanita lain?" Cladia hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ornado, tanpa menjawab pertanyaan Ornado, Cladia meraih tas nya yang ada di atas meja rias.


"Apa kamu cemburu Cla?" Cladia langsung menoleh mendengar pertanyaan Ornado yang langsung mengerlingkan matanya ke arah Cladia begitu Cladia memandang ke arahnya.


"Aku tidak tahu tentang wanita-wanita di sekitarmu sebelumnya, tapi dari berita yang pernah aku baca, tidak pernah sekalipun ada berita tentang Tuan Ornado Xanderson terlibat asmara dengan seorang wanita, jadi wanita mana yang harus membuatku cemburu?" Ornado langsung tertawa tergelak mendengar perkataan Cladia barusan yang dinilainya sudah mulai berani berdebat dengannya, dan itu bagi Ornado merupakan sebuah kemajuan yang luar biasa untuk hubungan mereka saat ini.


"Aku baru tahu ternyata selama ini kamu cukup mengikuti berita tentang aku, jangan-jangan selama ini kamu sudah menjadi penggemar rahasiaku?" Ornado menghentikan tawanya untuk selanjutnya memandang Cladia dengan tatapan mesra, membuat Cladia memalingkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


"Itu kan berita yang aku tahu, kalau ternyata diam-diam kamu sudah pernah punya kekasih aku juga tidak tahu. Pria berpengaruh sepertimu, pasti banyak hal yang dunia luar tidak tahu," Ornado cukup kaget dengan pernyataan Cladia barusan, buru-buru dia mendekatkan kepalanya ke telinga Cladia.


"Nyonya Xanderson, apa perlu aku ingatkan lagi siapa yang sudah merampok hatiku 15 tahun lalu? Membuatku tidak pernah bisa tertarik lagi dengan makhluk yang namanya wanita kecuali dia?" Cladia sedikit tersentak mendengar bisikan lembut Ornado di telinganya, perlahan Ornado menjauhkan tubuhnya dari Cladia sambil tangannya sekilas memegang lembut ikatan rambut Cladia kemudian melepaskannya kembali, membuat hidungnya bisa kembali mencium bau harum dari rambut Cladia.


"Aku hanya memiliki Afro dan James sebagai sepupu laki-lakiku, tapi aku memiliki banyak sepupu wanita yang umurnya dibawahku, mereka seperti adik bagiku. Aku sering bermain-main dengan mereka, termasuk mengikat rambut mereka," Tanpa diminta Ornado menjelaskan tentang masalah ikatan rambut, bagaimanapun dia tidak ingin ada kesalahpahaman sedikitpun diantara mereka, walaupun Cladia tidak mempertanyakan itu.


"Tapi, kalau memang benar kamu merasa cemburu, aku akan senang sekali, walaupun kecemburuanmu itu tidak beralasan sama sekali," Ornado tersenyum dengan matanya tetap memandang ke wajah Cladia yang sedari tadi terlihat salah tingkah sejak mendengar bisikan lembut Ornado di telinganya.


Dasar! Apa yang baru saja aku katakan? Kenapa mulutku hari ini terlalu banyak bicara, Cladia berkata dalam hati dengan sedikit menunduk sehingga tidak begitu menyadari Ornado yang sudah berjalan ke arah pintu kamar, bersiap untuk keluar dari kamar.


"Cla, ayo...Apa kamu mau membatalkan acara jalan-jalan kita?" Cladia mengangkat kepalanya dan dengan cepat langsung menggeleng-gelengkannya, kemudian dengan sedikit terburu-buru menyusul Ornado keluar dari kamar.


Malam ini rasanya Ornado tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari wajah Cladia yang terlihat begitu bahagia, banyak tersenyum dan tertawa, melihat tingkah anak-anak kecil yang berlarian kesana kemari, para penjual mainan anak-anak, alat-alat rumah tangga dengan berbagai model dan harga murah, makanan tradisional, bahkan suara penyanyi dangdut yang sedang tampil di atas panggung dan beberapa orang yang mencoba ikutan bernyanyi dengan suara yang sumbang, sehingga terdengar lucu. Ornado tersenyum melihat wajah bahagia Cladia malam ini. Rasanya sejak mereka bertemu beberapa bulan lalu, baru kali ini dilihatnya wajah Cladia yang dipenuhi dengan senyum bahagia.


"Al, mau coba?" Cladia menyodorkan sate kol ke arah Ornado dengan senyum tertahan, bagaimanapun bekicot mungkin Ornado pernah memakannya, karena merupakan salah satu hidangan yang dianggap mewah di Perancis yang dikenal dengan sebutan escargot, tapi kol (sejenis bekicot tapi hidup area persawahan, rawa-rawa, danau, bahkan parit di Pulau Jawa. Di daerah lain ada yang menyebutnya tutut, keong sawah, kraca atau haliling)? Membayangkan wajah Ornado shock jika dia beritahu darimana asal mula kol didapatkan di negara ini tiba-tiba saja membuat Cladia merasa bersemangat dan ingin mengerjai laki-laki itu. Melihat senyum mencurigakan di wajah Cladia, Ornado sedikit mengernyitkan alisnya, tapi tanpa diduga-duga oleh Cladia, Ornado melahap sate kol yang disodorkan tangan kanan Cladia ke arahnya, membiarkan tinggal tusuknya yang ada di genggaman tangan Cladia.


"Lumayan enak, walaupun terlalu pedas," Cladia yang tidak menyangka tindakan Ornado barusan terdiam karena kaget.


"Ayolah, jangan mengerjaiku, aku tau itu kol, bukan bekicot, tapi tidak masalah, karena kamu ingin aku memakannya, aku akan makan, tapi kalau sampai aku sakit perut, kamu harus bertanggung jawab ya," Ornado tertawa kecil melihat wajah Cladia yang terlihat sedikit kecewa karena tidak berhasil mengerjainya, tidak berhasil melihat wajah jijik Ornado melihat kol yang tadi sudah dibayangkannya.

__ADS_1


"Ayolah, jangan cemberut karena gagal mengerjaiku," Ornado berkata dengan tawa masih menghiasi wajahnya.


Dasar!! Dalam hal apapun kamu benar-benar tidak bisa dibodohi, semoga anak kita kelak bisa sehebat kamu, Cladia berkata dalam hati, sekilas dia mengelus perutnya lembut. Benar-benar hanya sekilas, berharap Ornado tidak memperhatikan gerakan tangannya barusan, tapi ternyata tetap saja dia kalah dengan pandangan mata Ornado yang jeli.


"Kenapa dengan perutmu? Apa ada masalah?" Ornado meraih bungkusan makanan di tangan Cladia.


"Jangan diteruskan makan ini lagi, terlalu pedas, tidak baik untuk perutmu," Ornado mengangkat bungkusan makanan yang barusan diambilnya di tangannya, mencari tempat sampah untuk membuangnya.


"Al, tidak baik membuang-buang makanan, kita bisa memberikan ke orang lain kalau kita tidak mau, toh itu makanan baru, bukan bekas kita," Cladia meraih bungkusan dari tangan Ornado.


"Biar nanti kita beli lagi supaya bisa dimakan para pelayan di rumah, kita bisa beli beberapa macam makanan lagi buat mereka malam ini," Ornado tersenyum mendengar kata-kata Cladia sebelum mengangguk setuju dengan ide Cladia. Memang di rumah mereka para pelayan tidak akan pernah kekurangan makanan, tapi tidak ada salahnya sekali-sekali mereka memberikan sesuatu yang kelihatannya sederhana untuk bawahan mereka untuk menunjukkan perhatian kepada mereka, sekaligus bentuk ucapan terimakasih karena selama ini sudah membantu mereka sehari-harinya. Ornado merasa senang dengan keputusan Cladia, terselip rasa bangga karena sikap Cladia yang cukup bijaksana sebagai nyonya rumah.


"Ahhhh!!!" Tiba-tiba Cladia berteriak keras karena kaget, seseorang menarik paksa tas di tangannya, dengan sigap Ornado memegang bahu Cladia supaya tubuhnya tidak terjatuh karena badannya ikut bergerak ke depan ketika pencopet itu menarik paksa tasnya, namun buru-buru Ornado melepaskan tangannya, matanya sekilas melirik ke arah belakang. Tanpa menunggu lama dua orang wanita mendekat ke arah Cladia.


"Tunggu aku disini," Ornado memberikan kode lewat matanya kepada kedua wanita pengawal Cladia untuk menjaga Cladia sedang dia dan dua orang pria pengawalnya yang lain langsung berlari mengejar pencopet tas Cladia. Cladia berjalan dengan sedikit berlari ke arah Ornado yangberlari dengan cepat  mengejar pencopet itu.


"Nyonya, jangan menyusul kesana," Tanpa memperdulikan permintaan pengawalnya, Cladia berjalan dengan tergesa-gesa ke arah Ornado mengejar pencopet itu, karena sekilas tadi dia sempat melihat ada suatu benda menyerupai pisau yang terselip di pinggang pencopet itu.


Saat Cladia berhasil menemukan sosok Ornado, laki-laki itu sudah berdiri di belakang pencopet itu dengan tangannya mengunci kedua tangan pencopet itu di belakang tubuhnya. Salah satu tangan pencopet yang berhasil dilumpuhkan Ornado tampak memegang sebuah belati, sedang dua orang pengawal Ornado juga tampak melumpuhkan seorang pria lain yang Cladia yakin merupakan komplotan pencopet itu. Ornado mengunci kedua tangan pencopet itu dengan tangan kanannya, tangan kirinya langsung meraih pisau dari tangan pencopet itu dan menjatuhkannya ke bawah. Cladia menarik nafas lega melihat pemandangan itu, bukan karena tasnya tidak jadi hilang, tapi melihat Ornado baik-baik saja dan bisa dengan mudah mengatasi pencopet itu.

__ADS_1


Ah, aku lupa, dengan sabuk hitam taekwondo yang dimilikinya tentu saja dia tidak akan mengalami kesulitan mengalahkan lawannya. 4-5 orang pria dengan kemampuan bertarung yang biasa-biasa maju bersamaan saja tidak akan mungkin bisa melawan Ornado, apalagi satu lawan satu, Cladia memegang dadanya sebagai tanda lega. Tanpa menunggu lama tampak beberapa petugas keamanan datang tergopoh-gopoh ke arah mereka.


__ADS_2