
"Lelang akan kita mulai, silahkan untuk yang bertugas membawa satu persatu barang-barang yang akan di lelang ke atas panggung." Pembawa acara memberi kode kepada beberapa orang berpakaian seragam rapi untuk memindahkan barang-barang yang akan di lelang ke atas panggung.
"Untuk yang pertama ditawarkan adalah guci keramik kuno dari jaman dinasti ming, dibuka dengan harga 35 juta, silahkan untuk yang berminat mengangkat papan anda,"
"40 juta"
"60 juta"
"70 juta"
"75 juta" Cladia melirik ke arah seorang wanita separuh baya yang menawar guci dengan harga 75 juta, dalam beberapa waktu kemudian sudah tidak lagi terdengar suara yang menyebutkan angka di atas 75 juta.
"75 juta pertama, 75 juta kedua, 75 juta ketiga. Ok, guci keramik lepas dengan harga 75 juta kepada nyonya yang duduk di sebelah sana," Pembawa acara memukulkan palunya di meja menandakan lelang untuk guci keramik ditutup, untuk selanjutnya mengambil barang lain untuk dilelang. Beberapa barang lelang sudah terjual. Jeremy yang duduk di sebelah Ornado melirik ke arah Ornado yang tampak fokus melihat ke depan.
"Ad, tidak ada keinginan untuk membeli salah satu dari barang lelang itu?" Ornado tersenyum mendengar pertanyaan Jeremy.
"Tunggu saja nanti, ada satu barang yang sedang kuincar,” Ornado berkata sambil melirik ke arah Cladia yang tampak fokus melihat jalannya proses lelang.
Beberapa barang lelang sudah mulai laku terjual dengan harga yang cukup fantastis, jauh lebih tinggi dari harga aslinya, tapi tampaknya para pemenang lelang tidak perduli dengan besarnya kocek yang harus mereka keluarkan karena dengan begitu mereka mau menunjukkan status sosial mereka.
“Berikutnya, ini adalah salah satu perhiasan koleksi dari Buccellati yang terkenal akan keindahannya. Dibuka dengan harga 500 juta,” Pembawa acara mengarahkan tangannya ke kotak kaca yang berisi cincin koleksi dari Buccellati,”
“550 juta” Seseorang penawar pertama menaikkan papan dengan tangan kanannya.
“650 juta,” Ornado mengangkat papan di tangannya, Cladia langsung menoleh kaget mendengar suara Ornado yang ikut menawar cincin itu, Ornado menoleh sekilas ke arah Cladia sambil tersenyum dengan mengangkat bahunya.
__ADS_1
Bagaimana dia tahu kalau aku tertarik dengan cincin itu? Cladia berbisik dalam hatinya sambil matanya masih memandang ke arah Ornado yang kembali fokus ke depan.
“800 juta” Ornado, Cladia, Jeremy dan Niela langsung menoleh ke kiri, ke arah sumber suara yang tiba-tiba saja langsung menaikkan harga di angka 800 juta. Di seberang kursi mereka di sebelah kiri dengan jelas mereka dapat melihat Robi yang menaikkan papan dengan tangan kanannya, sekilas mata Robi melirik ke arah Cladia, yang langsung memundurkan posisi duduknya sehingga tubuhnya tertutup dengan tubuh Ornado yang duduk di sebelah kirinya, membuat Robi tidak dapat melihat sosoknya lagi.
Jangan berpikir aku tidak bisa melihat apa yang kamu sukai dan tidak Cla, demi kamu aku rela melakukan apapun, Robi berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangannya dari Cladia yang sudah tidak dapat dilihatnya lagi.
“900 juta,” Ornado kembali mengangkat papannya dan melakukan penawaran.
“1 milyar,” Robi kembali membalas menaikkan penawaran.
Cladia yang duduk disamping Ornado menarik kain lengan jas Ornado pelan, membuat Ornado menoleh memandangnya. Begitu mata Ornado terarah kepadanya, Cladia segera menggelengkan kepalanya pelan, memberi tanda agar Ornado berhenti, tidak meneruskan penawarannya, melihat itu Ornado hanya tersenyum.
“1,5 milyar,” Tanpa memperdulikan permintaan Cladi, Ornado langsung menaikkan penawaran ke angka 1,5 milyar, yang jelas-jelas langsung membuat semua mata yang hadir memandang ke arah Ornado dengan tidak percaya, Cladia hanya bisa menarik nafas panjang, rasanya percuma menghalang-halangi Ornado kalau itu sudah jadi keinginannya.
Robi baru saja mau memulai mengangkat papannya kembali, tapi seorang pria paruh baya buru-buru menghalangi tindakannya dengan mencekal tangannya dan melotot dengan tajam ke arahnya.
Maaf Cla, aku harus saat ini aku masih harus menurut dengan papa dan kakakku. Kelak kalau aku sudah benar-benar ikut memegang kendali perusahaan, apapun yang kamu inginkan akan aku berikan, Robi berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang, untuk menahan kekecewaannya.
“1,5 milyar pertama….., 1,5 milyar kedua….., 1,5 milyar ketiga….., ok, perhiasan cantik koleksi dari Buccellati, dimenangkan oleh Tuan Ornado Xanderson, terimakasih untuk penawaran yang luar biasa dari Tuan Ornado Xanderson,” Pembawa acara mengetukkan palunya di meja tanda sah dari harga yang sudah diajukan oleh Ornado.
“Ad, apa kamu sadar harga perhiasan itu tidak semahal itu, lagipula kalau kamu menginginkannya kenapa tidak membeli langsung tanpa melalui lelang, dengan harga yang lebih masuk akal.” Ornado hanya tersenyum mendengar pertanyaan Jeremy.
“Bagiku di dunia ini tidak ada yang terlalu mahal jika yang menginginkannya adalah Cladia. Diluar sana banyak perhiasan yang mungkin lebih cantik dengan harga jauh lebih mahal, tapi apa gunanya kalau bukan itu yang diinginkan Cladia,” Ornado berbisik ke telinga Jeremy, Jeremy sedikit tersentak, setelah itu dia langsung tersenyum, karena dia tahu pasti arti dari kata-kata Ornado barusan, walaupun Jeremy tahu pasti sifat adiknya yang tidak akan mungkin memaksa orang lain untuk memberikan apa yang diinginkannya, semua itu hanya untuk menunjukkan bahwa bagi Ornado yang paling berharga baginya adalah Cladia.
__ADS_1
Cladia baru saja mengeringkan rambutnya yang baru dicuci setelah pesta ketika dilihatnya Ornado yang masih mengenakan jasnya sepulang acara lelang malam ini memasuki kamar. Laki-laki itu langsung mendekat ke arah Cladia yang sedang duduk di depan meja riasnya. Tangan Ornado meraih sisir yang ada di tangan Cladia.
“Biar aku yang melakukannya,” Cladia sedikit kaget dengan tindakan Ornado yang mengambil sisir dari tangannya dan mulai menyisir rambutnya dengan lembut. Cladia berusaha bersikap tenang saat tangan Orando mulai bergerak menyisir rambutnya, berusaha meyakinkan hatinya bahwa Ornado tidak akan melakukan sesuatu yang buruk kepadanya.
“Apa kamu ingat Cla? Sejak kecil Laurel suka sekali dengan rambut panjangmu. Setiap kali Laurel menyisir rambutmu pasti aku merebut sisir dari tangannya dan menggantikannya untuk menyisir rambutmu.” Cladia tersenyum, samar-samar dia ingat apa yang dikatakan Orando walaupun tidak ingat dengan jelas.
“Kamu ingat kenapa rambutmu selalu panjang?” Cladia menggeleng, matanya memandang ke arah wajah Ornado yang tersenyum melalui kaca di depannya.
“Dulu pernah sekali kamu memotong rambutmu agak pendek, ketika itu aku marah dan bilang ke kamu, seorang princess yang cantik sepertimu harus berambut panjang, sejak itu kamu berjanji padaku tidak akan pernah memotong pendek rambutmu,” Ornado tersenyum geli karena ingatan masa kecil mereka, sedang Cladia sedikit mengernyitkan alis, sejak dulu memang dia tidak pernah memotong pendek rambutnya, karena ada sesuatu yang mengganjal setiap kali dia memiliki keinginannya untuk memotong pendek rambutnya, ternyata di alam bawah sadarnya dia masih tetap mengingat janji masa kecilnya kepada Ornado.
Apakah di alam bawah sadarku sebenarnya benar-benar tertanam semua ingatanku tentang Ornado, tentang setiap janji yang pernah kami ucapkan? Sehingga tanpa sadar aku akan menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan janjiku padanya? Cladia berkata dalam hati sambil mencoba mengingat-ingat apalagi yang selama ini dia lakukan kira-kira itu ada kaitannya dengan janjinya kepada Ornado semasa kecil mereka dahulu.
“Barusan Afro menelpon, ada sedikit masalah dengan salah satu supplier bahan material usaha properti kita di Itali, aku harus segera melakukan pengecekan. Sekalian aku akan melakukan pengecekan venue acara kita, supaya aku tidak perlu bolak balik kesana. Keberangkatanku dengan Jeremy akan dipercepat dua hari lagi,” Cladia menganggukkan kepalanya.
“Al, mulai besok ada pasar malam di alun-alun kota, Cuma berlangung selama 3 hari. Kalau kamu tidak keberatan, sebelum kamu ke Itali, kita bisa berjalan-jalan kesana,” Ornado mengernyitkan dahinya, sedikit heran dengan permintaan Cladia.
“Kamu ingin kesana? Disana pasti banyak orang, apalagi besok hari pertama pembukaan pasar malam, apa kamu akan baik-baik saja?”
“Sudah lama sekali aku ingin jalan-jalan di acara-acara seperti itu, dimana orang tidak mengenal kita, tidak memandang status, hanya menikmati pameran makanan tradisional yang sekarang sudah sulit ditemukan, mainan rakyat, menikmati suasana keramaian walaupun tidak dikemas dengan mewah dan modern,” Cladia berkata sambil tersenyum membayangkan apa yang ada di pasar malam besok. Melihat wajah Cladia tersebut membuat Ornado sedikit menahan tawanya, terlihat bahwa Cladia benar-benar ingin kesana.
“Sejak kejadian 5 tahun lalu aku tidak pernah keluar ke tempat dimana banyak orang berkumpul, tapi kadang aku ingin sekali berjalan-jalan menikmati keramaian seperti itu, apalagi….,” Cladia terdiam sesaat sebelum melanjutkan bicaranya, tangan Ornado yang masih menyisir rambut Cladia terdiam sesaat, menunggu Cladia melanjutkan kata-katanya.
“A…, ada kamu yang akan selalu melindungiku,” Ornado tersenyum lebar mendengar perkataan Cladia barusan, ingin sekali rasanya saat ini tangannya langsung meraih tubuh Cladia dan memeluknya dengan erat, tapi pada akhirnya dia hanya sedikit menundukkan badannya, meraih rambut Cladia yang panjang dengan tangan kanannya dan menciumnya dengan lembut, sedang tangan kirinya meletakkan kembali sisir di atas meja. Cladia yang melihat tindakan Ornado sedikit menahan nafasnya agar bisa mengendalikan dirinya untuk tidak bereaksi berlebihan, hanya sedikit tersentak kaget, karena tidak menyangka tindakan mesra Ornado barusan kepadanya.
“Aku akan menemanimu, besok kita akan bersenang-senang disana,” Ornado memegang rambut Cladia dengan kedua tangannya dan menggerak-gerakkannya ke atas dan ke bawah untuk membuatnya rapi sebelum melepaskannya, membiarkannya tergerai.
__ADS_1
“Istirahatlah, aku akan berganti pakaian,” Ornado berjalan ke arah lemari pakaiannya sambil melepas kancing jasnya, sedang Cladia langsung bangkit dari duduknya, berjalan ke arah tempat tidur.