
“Ad, bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?” Mendengar pertanyaan Cladia, Ornado mengangkat kedua tangan dan bahunya.
“Apapun itu, silahkan,” Cladia terdiam sebentar sebelum meneruskan pertanyaannya.
“Benarkah sebelum terjadinya peristiwa ini kita baru saja pulang dari Italia?” Ornado menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Cladia, membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Cladia.
“Apa kamu yakin kita benar-benar pergi kesana?” Mata Cladia sedikit terbeliak, karena merasa benar-benar tidak percaya dia pernah pergi ke Italia, negara dengan banyak bangunan klasik dan artistiknya, negara yang sejak dulu begitu ingin dikunjunginya untuk berlibur. Tapi dia benar-benar harus menahan keinginannya karena kondisi phobianya
“Tolong ceritakan padaku, apa saja yang kulakukan disana? Tempat apa saja yang sudah aku kunjungi disana?” Ornado tersenyum melihat wajah ceria Cladia ketika dia menyebutkan tentang Italia.
“Aku harus memulai darimana? Apa perlu aku menceritakan bagaimana para pria Italia memandangmu dengan tatapan terpesona sejak kamu masih berada di Bandara Udara Internasional Leonardo da Vinci?” Cladia melotot mendengar perkataan Ornado, membuat Ornado tertawa terkekeh melihat reaksi Cladia.
“Aku tidak percaya hal itu terjadi, kalaupun benar terjadi, aku tidak percaya kamu tidak mengalami hal yang sama, pasti banyak wanita disana yang terpesona dengan ketampananmu,” Ornado mengerdipkan sebelah matanya mendengar Cladia mengatakan itu.
“Apa itu artinya, kamu juga terpesona denganku sekarang? Atau mungkin kamu sudah jatuh cinta lagi padaku?” Ornado berkata dengan senyum menggodanya, membuat Cladia sedikit tersedak oleh ludahnya sendiri dan terbatuk-batuk, melihat itu Ornado tersenyum sambil meraih gelas berisi air mineral di atas nakas dan menyodorkannya kepada Cladia yang langsung meraih dan meminumnya.
“Minum dengan perlahan-lahan saja, tidak ada yang membuatmu harus terburu-buru kan?” Ornado mengarahkan badannya ke belakang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu melipat kedua tangannya ke depan. Setelah dilihatnya Cladia meletakkan kembali gelas ke atas nakas baru Ornado melanjutkan bicaranya.
__ADS_1
“Mungkin kalau kamu sedang tidak hamil, kamu akan memaksaku untuk mengantarmu ke seluruh tempat wisata yang ada di Kota Roma dan Venice,” Lagi-lagi Cladia hanya bisa membeliakkan matanya karena kaget, tidak percaya bahwa dia telah banyak menghabiskan waktu untuk menikmati Kota Roma.
“Venice? Bahkan kita mengunjungi Kota Venice?” Dan lagi-lagi Ornado hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, ikut senang melihat binar bahagia di mata Cladia ketika dia menyebutkan telah mengunjungi Kota Venice.
“Ceritakan padaku, mana saja tempat yang sempat aku kunjungi selama aku disana,”
“Kita mengunjungi Trevi Fountain, Colosseum, Castel Sant’Angelo, Roman Forum. Besoknya kita ke Kota Venice, mennikmati makanan khas disana dan menikmati keindahan sungai dengan gondola, sampai…,” Ornado menghentikan bicaranya sambil tersenyum karena dilihatnya mata Cladia yang sudah terpejam, dengan suara nafasnya yang terdengar teratur, menunjukkan dia sudah tertidur lelap. Ornado berdiri dari duduknya dan menggeser kursinya dengan perlahan-lahan, lalu diangkatnya kepala Cladia, diambilnya bantal yang ada di punggungnnya supaya dia bisa membuat posisi tubuh Cladia terbaring.
Setelah tubuh Cladia terbaring, dengan lembut Ornado menyentuh perut Cladia, lalu membungkukukan tubuhnya agar bibirnya bisa mendekat ke perut Cladia.
“Selamat malam nak, maaf, beberapa hari ini papa tidak bisa menyapa dan menyentuhmu, istirahatlah dengan nyaman bersama mama, papa akan menjaga kalian, ti amo,” Setelah Ornado berbisik pelan kepada bayi dalam kandungan Cladia, Ornado meluruskan tubuhnya kembali, berdiri di samping Cladia dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya. Dipandanginya Cladia untuk waktu yang lama, setelah diliriknya jam di tangannya menunjukkan pukul 2 dini hari dan dilihatnya Cladia tetap tertidur dengan lelap, Ornado melangkah keluar dari kamar Cladia, menuju kamar hotel yang telah disewanya untuk dirinya sendiri.
“Hallo,” Cladia langsung mengangkat telponnya begitu melihat nama Laurel melakukan panggilan kepadanya.
“Siang ini sediakan waktu untukku dan Dave,” Cladia tertawa mendengar Laurel yang langsung meminta waktunya tanpa bertanya apapun padanya.
“Apakah hari ini ada perayaan khusus?” Cladia bertanya sambil tangannya menggeser notebooknya agar Amalia memeriksa beberapa surel yang dikirim oleh kolega mereka.
__ADS_1
“Tepat sekali tebakanmu Cla, hari ini tepat hari ulang tahunku, kami akan merayakannya malam minggu 2 hari lagi bersama para kerabat dan saudara, tapi aku mau tepat di hari ulang tahunku tetap ada perayaan kecil, hanya kita berenam, kami, Ornado, kamu, Niela dan Jeremy, jam 12 nanti di restoran Hotel S,”
“Ehmm…, aku…,”
“Aku tidak menerima penolakan Cla, tidak menerima kata tidak, kalau perlu aku akan menculikmu dari hotel sekarang juga,” Cladia langsung tertawa mendengar ancaman Laurel.
“Ok, ok, aku akan kesana, tapi mungkin aku akan sedikit terlambat, aku ada meeting pukul 11:30, tidak yakin apakah bisa selesai tepat waktu, mulailah acaranya lebih dahulu, jangan menungguku,”
“Ok, tapi pastikan kamu datang kalau tidak ingin nanti malam kami membuat keributan di kamar hotelmu. Tolong beritahu Ad soal undangan ini,”
“Eh, kenapa tidak kamu beritahu sendiri…,”
“Ok, terimakasih, jangan lupa info ke Ad,” Tanpa perduli dengan penolakan dari Cladia, Laurel langung menutup telponnya, membuat Dave yang berdiri di sampingnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Kamu ini, benar-benar tidak kekurangan akal kalau masalah menggoda Cladia,” Mendengar perkataan Dave, Laurel menggeser tubuhnya agar lebih dekat kepada Dave.
“Aku tidak menggodanya, justru aku berusaha menjadi perantara bagi mereka, mak comblang, agar ingatan Cladia segera pulih, hebat kan aku?” Dave tertawa kecil mendengar perkataan Laurel, lalu disentuhnya perut istrinya dengan telapak tangan kanannya, dengan mata memandang ke arah perut Laurel.
__ADS_1
“Dengar nak, tutup telingamu, jangan jadi orang yang suka menggoda orang lain seperti mamamu,” Laurel meringis mendengar kata-kata Dave kepada bayi dalam kandungannya, untuk membalas perkataan Dave, Laurel tidak membalasnya dengan kata-kata, justru dia berjinjit ke arah Dave dan langsung mencium pipinya, membuat Dave sedikit tersentak. Setelah mencium pipi Dave, Laurel bergegas menjauh sambil tertawa, tidak memberi kesempatan bagi Dave untuk meraih tangannya dan membalas ciuman istrinya.