
“Al…., “ Mendengar Cladia memanggil namanya, Ornado yang awalnya berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya dan mengamati wajah Cladia yang terlihat bingung melihat foto-foto dirinya di kamar ini berjalan mendekati Cladia, Ornado mengambil posisi berdiri di belakang tubuh Cladia, lalu dengan lembut dipeluknya Cladia dari belakang.
“Kenapa Amore mio? Apa yang mau kamu tanyakan?” Seolah-olah bisa membaca pikiran Cladia, Ornado langsung dengan tepat menanyakan apa yang ingin Cladia ketahui tentang foto-fotonya yang terpasang memenuhi kamar Ornado.
“Banyak sekali foto-fotoku di kamar ini, bahkan ada foto-foto masa kecilku, beberapa foto bahkan aku merasa belum pernah mengambil foto dengan pose itu secara disengaja, kamu dapatkan darimana foto-foto itu?” Ornado sedikit menahan nafasnya mendengar pertanyaan Cladia. Dia tahu akan beresiko jika dia menceritakan hal yang sebenarnya pada Cladia, bisa menimbulkan salah paham. Tetapi sejak awal dia sudah meminta pada Cladia untuk mempercayainya, dia akan menjawab dengan jujur tentang apapun yang ingin Cladia ketahui tentang dirinya, sekalipun itu merupakan hal yang kurang baik.
“Beberapa foto terutama foto masa kecilmu aku dapatkan dari Jeremy, sedangkan foto-foto lain beberapa aku dapatkan dari orang-orang suruhanku yang selama ini menjagamu disana,” Cladia membelalakkan matanya mendengar penjelasan Ornado.
“Jadi, selama ini kamu menyuruh orang untuk mengikutiku? Memata-mataiku?” Nada bicara Cladia sedikit naik karena merasa tersinggung dengan tindakan Ornado yang ternyata selama ini menyuruh orang untuk mengikutinya, memata-matainya.
“Maafkan aku,” Ornado mendekatkan bibirnya ke telinga Cladia, dengan tulus dia menyatakan rasa bersalahnya karena tindakannya ternyata sempat membuat Cladia tidak nyaman, merasa di mata-matai, merasa tidak dipercaya.
“Bukan maksudku memata-mataimu, aku hanya khawatir dengan kejadian 5 tahun lalu yang menimpamu, aku tidak mau seseorang kembali menyakitimu seperti waktu itu,” Cladia menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan emosinya, saat ini dadanya berdebar-debar dengan kencang menunggu Ornado melanjutkan penjelasannya. Bagaimanapun, siapa orang yang suka jika kehidupannya begitu diawasi, seolah-olah dia adalah seorang pelaku kejahatan, seorang buronan.
“Maafkan aku, 5 tahun lalu aku tidak bisa berada di sampingmu karena papa dalam kondisi kritis, aku hanya bisa melakukan apa yang aku bisa untuk melindungimu. Setelah papa sembuh sebenarnya aku ingin langsung terbang ke Indonesia, tapi kondisiku yang saat itu harus menggantikan posisi papa di Grup Xanderson dengan tiba-tiba tidak memungkinkan untuk aku meninggalkan Italia untuk menemuimu.” Dada Cladia menjadi sedikit lebih tenang mendengar penjelasan Ornado, walaupun masih ada sedikit rasa tidak terima di dalam hatinya mengetahui selama 5 tahun ini Ornado sengaja mengirim orang untuk mengamat-amatinya, bahkan mencuri-curi fotonya.
“Aku yang begitu mencintaimu, bagaimana bisa tenang membiarkanmu mengalami kejadian mengerikan seperti itu 5 tahun lalu. Andai saja aku bisa mengalihkan tanggung jawab Grup Xanderson dari pundakku, aku akan menyerahkannya, asal aku bisa berlari kepadamu saat itu. Tapi yang bisa kulakukan saat itu hanya bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mencapai kesuksesan dalam waktu yang sesingkat mungkin supaya dengan segera aku bisa menjadikanmu mempelai wanitaku, membawamu ke sisiku agar tidak ada seorangpun yang bisa menyakitimu lagi. Hanya memikirkan bagaimana keadaanmu yang jauh dariku dalam waktu 5 tahun ini, seringkali membuatku sulit untuk bernafas, rasanya berat sekali untuk aku berada jauh darimu. Dalam masa penantianku, foto-fotomu merupakan penghiburan terbesar bagiku. Paling tidak saat aku mendapatkan kiriman foto-fotomu, aku tahu kamu dalam kondisi baik-baik saja. Maafkan aku kalau apa yang aku lakukan membuatmu merasa tidak nyaman,” Dari nada suara yang Cladia dengar saat Ornado memberikan penjelasan padanya, Cladia bisa mendengar nada sedih dari suara Ornado yang tidak berusaha untuk membela dirinya sendiri, dan juga Cladia bisa mendengar bahwa saat ini Ornado mengatakan semuanya dengan jujur.
Tanpa sadar airmata Cladia menetes mendengar penjelasan Ornado, bagaimana dia bisa marah lagi dengan pria yang begitu mencintainya dengan sangat dalam seperti itu, dan saat ini, dia juga merupakan satu-satunya pria yang membuatnya mengenal apa itu cinta, pria yang bagi Cladia saat ini menjadi segala-galanya dalam hidupnya.
__ADS_1
Tangan Cladia bergerak menyentuh tangan Ornado yang masih memeluk pinggangnya dan mengelusnya dengan lembut, sebagai tanda Cladia tidak lagi mempermasalahkan apa yang sudah Ornado lakukan selama 5 tahun ini. Melihat reaksi Cladia, tangan kanan Ornado dengan lembut menyingkirkan rambut Cladia dari punggungnya, mengarahkan semua rambutnya ke depan, sehingga Ornado bisa melihat dengan jelas tengkuk Cladia. Dengan mesra diciumnya tengkuk Cladia dengan hidung mancungnya sambil memejamkan matanya, menikmati bau harum tubuh istrinya, membiarkan tubuhnya merasakan dadanya yang selalu berdebar saat berada dekat dengan Cladia, menyadarkan dirinya sendiri bahwa dia benar-benar mecintai wanita yang saat ini berada dalam pelukannya, tidak akan sanggup bila harus terpisah lagi dengan Cladia. Membayangkan itu membuat mata Ornado sedikit berkaca-kaca, dia merasa bersyukur saat ini dia memeluk Cladia dari belakang, sehingga Cladia tidak bisa memandang wajahnya yang terlihat sedih.
“Ti amo Amore mio,” (Aku mencintaimu cintaku) Ornado berkata lirih dengan segenap perasaannya, menyadari betapa dia begitu mencintai Cladia. Bahkan Ornado merasakan rasa cintanya kepada Cladia semakin hari menjadi semakin dalam, apalagi saat ini sudah ada buah cinta mereka di dalam rahim Cladia, walaupun saat itu terbentuk mungkin Cladia belum merasakan perasaan cinta yang sama dengan dirinya.
“Ti amo Amore mio, ti amo…Sei tutto per me. Sei il grande amore della ma vita,” (Aku mencintaimu cintaku, aku mencintaimu…kaulah segalanya untukku. Kau adalah cinta terbesar dalam hidupku) Bibir Ornado kembali berbisik lembut, lalu mencium kembali tengkuk Cladia dengan bibirnya, membuat tubuhnya tiba-tiba merasakan hawa panas yang mengalir karena menahan gejolak di dadanya, membuat dirinya sedikit menelan ludahnya sendiri, menunjukkan saat ini dia benar-benar sedang menahan gelora dalam tubuhnya.
Ketika Cladia membuka matanya pagi itu dilihatnya lengan Ornado yang melingkar di pinggangnya, memeluknya dari arah belakang, dalam posisi tidur. Dengan perlahan Cladia membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan dirinya dari pelukan lengan kiri Ornado, sehinga tubuh Cladia menjadi berhadap-hadapan dengan tubuh Ornado. Cladia memandangi wajah Ornado yang tampak masih menikmati tidurnya dengan lelap. Sambil tersenyum, Cladia mengamati wajah tampan suaminya, sambil tangannya sedikit mengelus perutnya.
Kalau kamu terlahir sebagai anak laki-laki, mama berharap kamu bisa mewarisi ketampanan wajah papamu yang tiada duanya ini. Ornado Xanderson, walaupun mungkin cintaku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan besarnya cintamu padaku selama ini, tapi kamu adalah satu-satunya pria yang aku cintai untuk sekarang dan selama-lamanya. Cladia berkata dalam hati, lengan kanannya bergerak memeluk pinggang Ornado, bibirnya bergerak ke arah pipi Ornado dan bersiap mencium pipi Ornado, sampai tiba-tiba Ornado menggerakkan kepalanya, membuat bibir Cladia bukannya mencium pipi Ornado tapi mendarat tepat di bibir Ornado. Cladia yang langsung tersentak kaget dengan reflek bergerak untuk menjauhi tubuh Ornado, tapi dengan cepat tapi lembut lengan kiri Ornado yang masih memeluk pinggang Cladia bergerak menarik tubuh Cladia agar kembali mendekat ke tubuhnya, dan tanpa menunggu lebih lama lagi bibirnya langsung mencium bibir Cladia dengan posisi tidur dan saling berpelukan.
Cladia langsung menarik nafas dalam-dalam begitu Ornado melepaskan bibirnya. Ornado langsung tersenyum melihat rona merah di wajah Cladia, karena beberapa saat sebelum Ornado menghentikan ciumannya, Ornado bisa merasakan bahwa baru saja ciuman Cladia kepadanya tiba-tiba berubah menjadi ciuman yang penuh gairah tidak seperti biasanya.
“Wajahmu hari ini sungguh menggemaskan,” Mendengar perkataan Ornado wajah Cladia bertambah memerah.
“Jangan menggodaku Al,” Ornado tertawa tanpa berniat bergerak dari posisi mereka yang saling berpelukan di atas tempat tidur.
“Aku menggodamu? Siapa yang lebih dulu menggoda dengan mencoba diam-diam mencuri ciuman saat aku masih tertidur?” Cladia tersenyum malu-malu mendengar pertanyaan Ornado.
__ADS_1
“Ternyata kamu cuma pura-pura tidur,” Tangan Ornado bergerak merapikan rambut Cladia yang terlihat berantakan, sebagian bahkan menutupi wajah cantiknya.
“Menurutmu pria mana yang bisa tidur dengan tenang di samping istri yang sangat dicintainya? Aku bukannya sengaja pura-pura tertidur, aku hanya ingin memberikan kesempatan pada istriku untuk mengagumi wajah tampanku saat aku tid……,”
“Ah…” Mendengar jeritan kecil dari Cladia, Ornado segera menghentikan bicaranya, dan langsung menggerakan kepalanya untuk bangun dari tidurnya, bergerak ke arah Cladia dengan posisi lengan tangan kanannya bertumpu pada tempat tidur.
“Apa yang terjadi? Di bagian mana kamu merasa tidak nyaman? Aku akan memanggil dokter sekarang juga,” Ornado membalikkan badannya untuk meraih handphonenya, lalu memandang Cladia dengan wajah khawatir, apalagi melihat tangan Cladia yang bergerak menyentuh perutnya bersamaan dengan dia menjerit kecil barusan.
“Al! dia bergerak! dia mulai bergerak Al! Aku bisa merasakannya! Barusan dia bergerak Al!” Ornado menarik nafas lega mendengar perkataan Cladia yang wajahnya tampak begitu bahagia, karena barusan dia merasakan ada suatu gerakan kecil dari dalam perutnya. Gerakan yang sangat kecil tapi Cladia bisa merasakannya karena baru pertama kali selama hidupnya dia merasakan gerakan kecil dan lembut seperti itu dari dalam perutnya, rasanya seperti sesuatu yang menyentuh perutnya tetapi berasal dari dalam perutnya. Ornado menggerakkan tangannya ke arah perut Cladia, mencoba ikut merasakan tanda-tanda gerakan dari bayi kecilnya.
(Gerakan janin dalam kandungan, menandakan perkembangan Si Kecil. Bayi dalam kandungan bergerak disebabkan berbagai hal. Alasan bayi bergerak karena ingin meregangkan anggota tubuh atau saat ia merespons emosi yang dirasakan ibu atau suara yang didengar. Selain itu,bayi dalam kandungan dapat mendengar saat ibunya sedang membaca, berbicara, atau bernyanyi. Beberapa posisi tubuh dan makanan yang baru dikonsumsi ibu hamil juga dapat membuat janin bergerak. Bayi dalam kandungan sebenarnya sudah bergerak pada usia kehamilan 12 minggu. Tetapi badannya yang masih terlalu kecil membuat ibu hamil belum dapat merasakan gerakannya. Umumnya ibu hamil dapat merasakan gerakan bayi dalam kandungan pada usia kehamilan 13-16 minggu. Sedangkan Ayah atau orang lain baru dapat merasakan gerakan bayi ini dari luar perut, beberapa minggu setelah ibu hamil merasakannya, yakni sekitar kehamilan 20-24 minggu).
“Selamat pagi bayi kecil papa, apa tidurmu nyenyak semalam?” Cladia tersenyum mendengar Ornado menyapa bayi di perutnya dengan nada mesra.
“Aku belum bisa merasakan gerakannya dari luar, mungkin karena dia masih terlalu kecil, tapi rasanya aku sudah tidak sabar menunggunya lahir dan mengajaknya bermain bersama, dia akan menjadi anak yang hebat di bawah asuhan kita berdua,” Setelah mengatakan itu, Ornado menggerakkan kepalanya untuk mencium perut Cladia dengan mesra.
“Kalau dia anak laki-laki, aku berdoa supaya dia mewarisi kehebatan dan wajah tampanmu,” Ornado tertawa mendengar perkataan yang berupa harapan bagi Cladia, namun bagi Ornado lebih merupakan pujian baginya.
“Baik dia mirip denganku ataupun denganmu, jika anak laki-laki dia pasti akan sangat tampan, dan jika dia anak perempuan pasti juga akan sangat cantik,” Ornado mengelus lembut kepala Cladia, lalu mengecup kening Cladia dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Gadis kecilku, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang mama. Kamu pasti akan menjadi mama yang hebat dan baik, yang akan disayangi dan dikagumi oleh anak-anak kita,” Cladia tersenyum dengan malu-malu, apalagi mendengar kata-kata Ornado yang menyebutkan tentang “anak-anak kita”, menunjukkan dengan jelas ke depannya Ornado masih mengharapkan anak berikutnya yang akan lahir dari rahimnya. Membayangkan itu hati Cladia menjadi berdebar-debar, mencoba menanyakan pada dirinya sendiri, apakah dia sudah siap untuk memberikan hak Ornado sebagai suaminya.