My Wild Rose

My Wild Rose
AJAK AKU KE ITALIA


__ADS_3

Suasana sore hari ini benar-benar nampak cerah, membuat Ornado dan Cladia begitu kerasan berenang di kolam renang rumah mereka. Selain ingin menikmati kesegaran air kolam dan sedikit berolahraga, Cladia ingin menyegarkan dirinya, menjernihkan pikirannya dan berusaha melupakan kejadian bersama Robi tadi pagi di kantor Sanjaya. Walaupun sebenarnya Cladia sangat senang berenang kali ini dia harus cukup berhati-hati dan menahan dirinya agar tidak terlalu memforsir tenaganya mengingat bayi dalam kandungannya. Cladia lebih banyak berendam sambil mengamati Ornado yang begitu menikmati waktu renangnya, sesekali menggoda Cladia dengan menyipratkan air ke wajah Cladia yang langsung berusaha menghindar sambil tertawa geli.


Setelah puas menikmati waktu berenang di dalam kolam renang, dengan hati-hati Ornado yang dengan sigap lebih dahulu keluar dari kolam renang, memegang kedua tangan Cladia, membantunya keluar dari kolam renang, kemudian mereka berdua berjalan beriringan ke arah kursi santai di pinggir kolam renang.


Cladia meraih handuk kimono (jubah mandi) yang ada di atas meja dekat kursi santai dan segera mengenakannya, setelah itu diraihnya handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya sambil duduk berselonjor di atas kursi santai. Ornado yang tubuhnya membelakangi Cladia, yang tetap dalam posisi berdiri dan berkacak pinggang, menggerak-gerakkan kepalanya dengan gerakan cepat ke kanan dan ke kiri untuk mengeringkan rambutnya, lalu mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangannya, tanpa ada keinginan untuk mengeringkannya dengan handuk.


"Al, airnya kemana-mana," Ornado menoleh mendengar protes Cladia, tanpa disangka-sangka oleh Cladia, Ornado langsung berjalan mendekati Cladia, menggeser tubuh Cladia ke samping, lalu ikut duduk berselonjor di atas kursi santai yang ditempati Cladia dan langsung mengambil posisi memeluk tubuh Cladia yang sudah memakai handuk kimononya, sehingga tubuhnya yang basah dengan air kolam menempel pada handuk kimono Cladia.


"Kalau begitu bantu aku mengeringkan badanku Nyonya Xanderson," Cladia tertawa geli melihat tingkah Ornado, tangannya berusaha meraih handuk kimono Ornado yang masih terlipat rapi di atas meja di sebelah kursi santainya, bermaksud untuk memberikannya kepada Orando, tapi dengan cepat Ornado meraih tangan kanan Cladia sehingga tidak lagi bisa mengambil handuk kimono di atas meja.


"Hei, aku ingin kamu mengeringkan aku dengan handukmu," Mendengar permintaan konyol Ornado, Cladia hanya bisa tertawa, diambilnya handuk kecil yang sebelumnya bertengger di kepalanya, lalu dengan gerakan lembut dikeringkannya kepala Ornado dengan handuk di tangannya.


"Apa seperti ini yang kamu inginkan Tuan Xanderson?" Ornado mencibirkan bibirnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ya...Bolehlah," Cladia tersenyum mendengar jawaban Ornado yang terdengar asal-asalan dan sedikit manja. Dengan santai Ornado tetap pada posisi memeluk tubuh Cladia sambil Cladia mengeringkan rambut di kepala Ornado dengan handuk.


"Al, kursinya bisa patah kalau kita berdua disini," Ornado tertawa geli sambil mengamati wajah Cladia yang terlihat sedikit cemas.


"Yang benar saja, jangankan kita berdua, bila ada dua orang lagi seukuran badan kita duduk bersamaan di atas kursi ini, kursi ini pasti masih bisa bertahan. Jangan meremehkan kualitas kursi ini. Lagipula, aku tidak akan membiarkan kamu terjatuh dari kursi ini," Ornado mendekatkan wajahnya ke arah Cladia, bersiap untuk mencium bibir istrinya, tapi Cladia buru-buru menjauhkan wajahnya dari wajah Ornado dengan tersenyum manis.


"Berjanjilah padaku tentang satu hal Al," Ornado membenarkan posisi duduknya, melepaskan pelukannya. Dari cara Cladia memandangnya, Ornado sudah bisa menebak kalau Cladia menginginkan sesuatu darinya, dan sepertinya permintaan itu bukan sesuatu yang sepele, bukan hal yang mudah untuk diberikannya pada Cladia.


"Apa yang kamu inginkan? Selama aku bisa mengabulkannya pasti aku berikan,"

__ADS_1


"Ijinkan aku ikut ke Italia mengikuti event kerjasama kita," Mendengar permintaan Cladia, wajah Ornado berubah menjadi serius.


"Tidak, penerbangan akan berbahaya untuk bayi di perutmu, biar aku dan Jeremy yang menangani acara ini," Cladia menatap dalam-dalam ke arah wajah Ornado.


"Ini event pertamaku bersama Sanjaya, tolong ijinkan aku untuk ikut menghadirinya Al. Kamu tahu arti event ini bagiku, dan kamu tahu setelah event ini selesai aku akan mengikutimu untuk bekerja di Bumi Asia. Ini event terbesarku, pertama dan terakhir selama aku di Sanjaya, " Tangan Ornado mengelus kepala Cladia lembut.


"Tolong mengertilah kondisimu Amore mio, kehamilanmu masih berada di trisemester pertama, kamu harus ekstra berhati-hati menjaga bayi kita. Aku tidak akan mengijinkanmu melakukan sesuatu yang bisa membahayakan kehamilanmu," Cladia menyentuh tangan Ornado yang sedang mengelus kepalanya, membuat gerakan tangan Ornado terhenti.


"Kondisiku baik-baik saja, kamu lihat berapa hari ini nafsu makanku sudah mulai pulih, aku juga sudah mulai jarang mengalami morning sick, apalagi saat event kita tersebut, trisemester pertama kehamilanku akan lewat, mulai memasuki trisemester kedua," (morning sick \= Morning sickness adalah mual muntah yang terjadi saat hamil.


Meski disebut morning sickness, kondisi ini tidak hanya terjadi pada pagi hari, tetapi juga pada siang, sore, atau malam hari. Morning sickness paling sering terjadi pada trimester pertama kehamilan. Biasanya gejala morning sickness akan mulai mereda pada pertengahan trimester kedua) Ornado menarik nafas dalam-dalam mendengar sanggahan dari Cladia, tangannya bergerak ke arah keningnya dan sedikit menggaruk keningnya, terlihat sekali bahwa saat ini dia sedang berpikir keras untuk membuat Cladia membatalkan keinginannya.


"Ayolah Al, bayi kita juga bukan bayi yang lemah, penerbangan ini pasti tidak akan menjadi masalah bagi bayi kita yang kuat," Mendengar perkataan Cladia, Ornado terdiam sejenak, mencoba memikirkan apa yang terbaik bagi mereka bertiga.


"Boleh asal kita konsultasikan dulu dengan Laurel, kita akan tanyakan bagaimana pendapatnya. Tapi berjanjilah, kalau dia bilang tidak boleh kamu harus patuh untuk tidak pergi kesana, lakukan yang terbaik untuk menjaga bayi kecil kita," Cladia tersenyum mendengar jawaban bijak dari Ornado.


“Kamu memang yang terbaik Al,” Cladia berkata dengan tersenyum manis, dengan gerakan cepat dipeluknya leher Ornado dengan kedua lengannya, lalu diciumnya bibir Ornado sekilas, setelah itu Cladia dengan perlahan menjauhkan tubuhnya dari Ornado, tapi tentu Ornado tidak begitu saja membiarkan tubuh Cladia menjauh darinya.


Gerakan tubuh Cladia untuk menjauh dari Ornado langsung terhenti karena gerakan lengan kanan Ornado yang melingkar di pinggangnya dengan cepat dan langsung menarik tubuh Cladia kembali mendekat ke arah tubuh Ornado, bahkan dengan lembut sengaja membuat tubuh Cladia berguling ke arahnya, yang akhirnya membuat tubuh Cladia berada di atas tubuh Ornado dengan posisi saling berhadap-hadapan, kemudian dengan lembut Ornado langsung mencium kembali bibir Cladia, menikmati kelembutan dan sensasi debaran di dadanya akibat ciumannya ke bibir lembut Cladia, walaupun Ornado tidak berani melakukannya untuk waktu yang lama karena takut bayi di perut Cladia merasa tidak nyaman karena posisi mereka berdua.





Begitu memasuki kembali ruangan itu Cladia memandang sekeliling, tidak ada yang banyak berubah kecuali di samping meja kerja Ornado terlihat ada satu lagi meja lagi dengan design sama persis dengan meja Ornado sendiri. Cladia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala meilhat begitu cepatnya James menjalankan perintah Ornado, tidak heran Ornado begitu mempercayai James bahkan tidak merasa sayang untuk memberinya fasilitas lebih padanya.

__ADS_1


Ornado berjalan ke arah meja kerja Cladia yang baru saja disediakan James, diamatinya sekilas meja itu, memastikan bahwa kondisi meja itu sesuai dengan yang dia inginkan. Setelah itu Ornado membalikkan tubuhnya sehingga berhadap-hadapan dengan Cladia.


"Selamat datang kembali di kantor anda Nyonya Cladia Xanderson, silahkan menikmati meja kerja anda yang baru," Cladia tersenyum lebar mendengar candaan dari Ornado yang berkata sambil menepuk-nepuk meja kerja Cladia.


"Tapi Al, apakah tidak ada kantor lain yang bisa aku gunakan lagi?" Ornado mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Cladia dan langsung berjalan mendekat ke arah Cladia yang masih berdiri cukup jauh dari posisi meja kerjanya.


"Kenapa? Apa kamu merasa ruangan ini kurang nyaman? Katakan padaku, apa yang harus aku ubah dari ruangan ini untuk membuatmu merasa nyaman," Cladia tersenyum.


"Justru karena terlalu nyaman, takutnya akan mengganggu konsentrasi kerja kita," Ornado tertawa dan langsung meraih Cladia dalam pelukannya, diciumnya puncak kepala Cladia dengan hangat dan mesra, dinikmatinya kehangatan tubuh Cladia yang berada dalam pelukannya, lalu sekilas diciumnya leher Cladia dengan mesra.


"Apa kejadian seperti ini yang kamu takutkan?" Mendengar pertanyaan Ornado, Cladia melepaskan pelukan Ornado dari tubuhnya, lalu berjalan mendekati meja kerjanya yang baru.


"Yang kutakutkan justru nantinya kamu tidak hanya sekedar melakukan hal seperti itu." Ornado tertawa lebar mendengar perkataan Cladia.


"Bolehkah aku melakukan lebih dari itu?" Ornado bertanya dengan wajah menggoda, membuat Cladia langsung beringsut menjauh. Ornado langsung bergerak mendekati Cladia dan dengan kedua tangannya mengelus lembut kedua bahu Cladia.


"Aku sudah berjanji padamu, tidak akan meminta hakku sampai kamu sendiri siap memberikannya padaku. Kamu tahu aku bukan tipe laki-laki yang akan memaksa wanita yang aku cintai melakukan hal yang tidak disukai atau belum bisa dilakukan oleh wanitanya," Wajah Cladia memerah mendengar perkataan Ornado, dadanya berdebar-debar dengan keras karena perkataan Ornado, dan dia tahu betul debaran dalam jantungnya saat ini bukan karena ketakutan, tapi karena sesuatu yang lain yang dia sendiri masih belum dapat mengartikannya.


"Tempatmu adalah di sampingku, jadi keputusannya, tidak ada ruangan lain untukmu Nyonya, jadi nikmati saja kantor barumu disini," Ornado langsung mengalihkan pembicaraan dan langsung tersenyum geli melihat Cladia yang sedikit melotot mendengar perkataan Ornado yang lebih menyerupai perintah daripada pernyataan, tapi Cladia tidak membalas sama sekali perkataan Ornado, sehingga Ornado dapat mengartikan bahwa pada akhirnya Cladia menerima keputusannya.


"Aku juga harus serius mengurus bisnisku untuk menghidupi istri dan anakku. Jadi jangan khawatir, aku pasti bisa bersikap profesional walaupun pasti akan amat sangat sulit sekali untuk menjalaninya, tapi mau tidak mau aku harus bekerja lebih keras kalau tidak mau kelak istri dan anakku kelaparan," Kali ini Cladia tertawa mendengar candaan Ornado.


Dengan nilai kekayaan yang dimiliki Ornado sekarang, walaupun tujuh keturunan di bawahnya hanya mau menikmati hartanya tanpa mau bekerja, boleh dibilang mereka tidak akan mampu menghabiskan kekayaannya. Akhirnya  Cladia hanya bisa mengernyitkan sedikit dahinya sambil mengangkat bahunya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2