
Ornado bangkit dari tidurnya, berjalan ke arah salah satu ruangan yang ada di dalam kamarnya, mengambil sebuah kotak dari dalam lemari, lalu berjalan kembali ke arah Cladia dan menyerahkan kotak itu di samping tempatnya berbaring. Melihat itu Cladia bangkit dari tidurnya, memandangi kotak yang baru saja diletakkan oleh Ornado. Tanpa menunggu Cladia berkata sesuatu, Ornado membuka tutup kotak itu. Begitu melihat apa yang ada di dalam kotak itu mata Cladia terbeliak kaget.
Tangan Cladia menyentuh gaun putih yang terlihat menyilaukan di dalam kotak itu. Dari atas sampai ke ujung bawah gaun itu dipenuhi dengan batu permata, mutiara dan kristal yang terlihat begitu mewah dan indah. Tangan Ornado segera meraih gaun itu dan menariknya keluar dari kotak, sambil berdiri Ornado dengan kedua tangannya memegang bagian ujung atas gaun itu, sehingga dengan jelas Cladia dapat melihat bentuk gaun itu secara utuh.
“Al, cantik sekali gaun itu,” Ornado tersenyum melihat kilat kagum di mata Cladia melihat gaun itu, merasa puas Cladia menyukai gaun yang sudah dia siapkan khusus untuk Cladia, bahkan lama sebelum Cladia ada menyatakan keinginannya untuk ikut ke Italia bersamanya.
“Designer terbaikku yang membuatnya, gaun ini dirancang khusus untuk kamu kenakan di acara hari ini. Acara perkenalanmu dengan keluarga besar Xanderson dan beberapa kolega penting Grup kami.” Cladia bangkit berdiri, begitu Cladia berdiri Ornado langsung mengarahkan gaun yang dipegangnya dan menempelkannya ke tubuh Cladia.
Dengan hanya membayangkannya saja, Ornado dapat memastikan kalau Cladia akan tampil dengan sangat cantik mengenakan gaun mewah itu. Sebentar kemudian Ornado melirik jam di dinding kamarnya.
“Lebih baik kamu mandi sekarang, setelah kamu siap, kita akan sarapan, setelah itu kamu harus melakukan fiiting gaun ini, para pegawaiku dari butik pasti sudah menunggumu di bawah,” Mata Cladia kembali terbeliak mendengar penjelasan Ornado.
“Mereka sudah datang? Kenapa kamu tidak memberitahuku dari tadi? Aku jadi merasa tidak enak karena membiarkan orang lain menungguku begitu lama,” Ornado tersenyum geli mendengar protes dari Cladia, setelah diletakkannya gaun itu ke atas tempat tidur, ditariknya tubuh Cladia, dan langsung dipeluknya.
“Mana berani mereka membangunkan ratu mereka? Di tempat ini kamu adalah permaisuriku, ratu bagi semua pegawaiku.” Dengan lembut Cladia melepaskan pelukan Ornado dari tubuhnya.
“Jangan begitu Al, bagi mereka waktu juga beharga, tanpa mereka kita juga bukan apa-apa. Kita tidak boleh meremehkan kinerja orang-orang di sekitar kita.” Ornado tersenyum mendengar jawaban dari Cladia.
“Apapun perintahmu Amore mio,” Ornado mengecup pipi Cladia dengan mesra.
“Ah, aku harus bergegas, kasihan kalau mereka harus menungguku begitu lama,” Dengan bergegas Cladia melangkah ke kamar mandi yang berada di sisi lain ruangan itu. Sebelum Cladia menutup pintu kamar mandi, Ornado yang sebelumnya berjalan mengikuti di belakang Cladia menahan pintu kamar mandi dengan kakinya, membuat Cladia langsung menoleh ke arahnya dengan wajah bertanya-tanya ke arah Ornado.
“Apa kamu perlu bantuanku untuk memandikanmu?” Mata Cladia langsung melotot mendengar pertanyaan Ornado yang bertanya dengan senyum nakalnya, yang jelas-jelas ditujukan untuk menggodanya.
__ADS_1
“Tidak perlu Tuan Xanderson, aku bisa melakukannya sendiri,” Ornado langsung tertawa terkikik mendengar penolakan dari Cladia, apalagi dengan buru-buru dan gugup Cladia menyingkirkan kaki Ornado yang menghalangi pintu dengan kakinya, dan langsung menutup pintu kamar mandi.
“Amore mio, akan lebih cepat jika kamu membiarkanku membantumu mandi,” Dengan wajah dipenuhi dengan senyum geli, Ornado yang belum puas menggoda Cladia masih berteriak dari depan pintu kamar mandi.
“Terimakasih untuk penawarannya Tuan Xanderson, kalau nanti aku membutuhkan bantuanmu, aku tidak akan segan-segan memanggilmu,” Dengan masih tersenyum geli Ornado berjalan menjauhi pintu kamar mandi, kembali mendekat ke arah tempat tidur. Matanya kembali memandang ke arah gaun putih yang tergeletak di tempat tidur, merasa puas dengan hasil karya designernya. Rasanya hati Ornado tidak sabar menunggu Cladia mengenakan gaun itu, yang pastinya akan terlihat sangat cantik.
Cladia menarik nafasnya dalam-dalam, memandangi wajahnya di kaca dalam balutan gaun putih yang sudah disiapkan Ornado tadi pagi. Walaupun gaun yang dikenakannya hari ini bukan merupakan gaun pengantin, tapi warna putihnya mengingatkannya akan hari pernikahan mereka beberapa bulan lalu.
Rambut Cladia tersanggul dengan rapi, diatasnya rambutnya yang tersanggul melingkar aksesoris rambut berbentuk bunga yang dipenuhi dengan batu berlian asli yang berkilauan dengan cantiknya, belum lagi kalung berlian yang melingkar di lehernya saat ini, membuat Cladia tampak begitu menawan.
“Anda terlihat sangat cantik Nyonya, seperti seorang pengantin. Kalau saja hari ini anda berdandan seperti ini untuk menghadiri pesta pernikahan pasti orang akan mengira andalah yang menjadi pengantin hari ini.” Cladia tersenyum mendengar pujian dari wanita yang bertugas meriasnya sore itu.
“Tuan Xanderson pasti sangat mencintai anda, semua yang anda kenakan hari ini semua disiapkan sendiri oleh Tuan Xanderson, mulai dari gaun, hiasan rambut, kalung, anting, gelang bahkan sepatu anda, Tuan Xanderson sendiri yang memilih bahan dan designnya. Bagi kami yang sudah mengenal Tuan Xanderson dan biasa bekerja dengannya, apa yang Tuan pilihkan untuk Nyonya kenakan hari ini semua menggunakan bahan-bahan terbaik, Tuan mengerjakan detailnya secara berhati-hati sekali,” Cladia sedikit terbeliak mendengar penjelasan dari penata riasnya, tidak menyangka sampai sedetail itu Ornado menyiapkan apa yang dikenakannya hari ini, tampaknya Ornado mengganggap hari ini benar-benar penting untuknya.
“Apakah Nyonya sudah selesai?” Ornado berkata tanpa memandang ke arah wanita yang bertugas merias Cladia, karena pandangannya terkunci pada sosok Cladia yang masih duduk di depan meja riasnya.
“Sudah Tuan Xanderson, Nyonya sudah selesai dirias,” Ornado hanya mengangguk untuk menanggapi perkataan penata rias itu.
“Anda boleh meninggalkan ruangan ini, terimakasih untuk kerja keras anda hari ini,” Mendengar perintah dari Ornado wanita itu mengangguk mengiyakan.
“Baik Tuan, kami permisi,” Wanita itu segera berjalan keluar bersama dengan tiga asistennya yang membawa kotak perlengkapan riasnya.
__ADS_1
Begitu mereka semua meninggalkan kamarnya, Ornado langsung berjalan mendekat ke arah Cladia, begitu Ornado sampai di hadapan Cladia, kedua tangan Ornado langsung meraih kedua tangan Cladia ke dalam genggaman tangannya.
“Hari ini kau benar-benar cantik Amore mio, kalau saja hari ini aku tidak ingat ada acara besar yang menunggu kita di bawah, aku tidak akan membiarkanmu turun tanpa menciummu sampai puas,” Wajah Cladia memerah mendengar perkataan Ornado. Tanpa berkedip Ornado memandangi wajah Cladia dengan tanpa bosan-bosannya, menikmati dan mengagumi wajah cantik wanita yang sangat dicintainya dalam balutan gaun putih yang membuatnya semakin terlihat anggun dan mempesona.
“Kalau begitu sebaiknya kita segera turun sebelum kamu benar-benar lupa diri,” Ornado tertawa mendengar perkataan Cladia. Ornado melepaskan genggaman tangan kirinya pada tangan Cladia, tapi tangan kanannya masih menggenggam tangan kiri Cladia.
“Ayo kita sambut tamu-tamu kita Amore mio,” Cladia mengangguk sambil memegang dadanya dengan tangan kanannya untuk mengurangi rasa gugupnya, entah kenapa, hari ini bukan lagi hari pernikahannya, tapi dia merasa sangat gugup, mungkin karena saat ini dia tahu pasti bahwa dia begitu mencintai pria yang berdiri di sampingnya sekarang.
Dengan langkah anggun Ornado dan Cladia keluar dari kamar mereka, berjalan sambil bergandengan tangan menuruni tangga menuju main hall mansion Ornado. Suara ribut orang yang sedang bercakap-cakap langsung digantikan dengan suara decak kagum dan bisik-bisik begitu melihat Ornado dan Cladia menuruni tangga dengan bergandengan tangan. Jeremy dan Alberto tampak tersenyum puas dan bahagia melihat pasangan tersebut berjalan ke arah tengah-tengah ruangan untuk menyapa para tamu yang hadir. Cahaya lampu blitz dari kamera terlihat menyala bergantian untuk mengambil foto Ornado dan Cladia. Termasuk beberapa wartawan yang secara khusus diundang oleh Ornado untuk ikut dalam pestanya kali ini.
Satu persatu Ornado mengenalkan Cladia pada para anggota keluarga besar Xanderson mulai dari yang tertua sampai yang masih kecil, termasuk mengenalkan Cladia kepada kedua orang tua Amadea.
“Pantas saja Amadea begitu mengagumimu dan selalu menceritakan tentangmu. Ternyata benar seperti yang dikatakan Amadea, Nyonya Xanderson bukan sekedar seorang wanita yang sangat cantik tapi cerdas dan memiliki wawasan luas. Ke depannya pasti keberadaanmu akan banyak membantu Ornado,” Cladia hanya bisa tersenyum menanggapi pujian dari mama Amadea, wanita berambut pirang itu berusia di atas 50 an, namun masih terlihat muda dan cantik seperti wanita berusia 40 an, sedang papa Amadea merupakan pria tampan yang juga berambut pirang. Pria yang tampak tegas dan berwibawa, namun terlihat ramah dan baik hati.
Dengan melihat wajah kedua orangtua Amadea, Cladia bisa menilai bahwa kecantikan yang dimiliki oleh Amadea diturunkan murni dari papanya, sehingga tidak heran wajah Amadea dan Ornado tidak terlihat mirip, sehingga sempat membuat Cladia berpikir salah tentang siapa Amadea bagi Ornado.
“Kakak ipar, setelah aku mengenalmu, aku selalu mengatakan kepada semua orang bahwa memang kamu adalah satu-satunya wanita yang pantas untuk mendampingi Ad,” Ornado langsung tertawa dan mengarahkan terlunjuknya ke arah kening Amadea dan menyentilnya pelan mendengar kata-katanya barusan.
“Ad, aku salah apa coba? Bukankah semua yang aku katakan tentang kakak ipar benar?” Mendengar protes dari Amadea, Ornado kembali tertawa.
“Benar, semua benar. Tapi kapan kamu akan mulai mengurangi sifat manjamu itu? Kalau tidak kasihan sekali orang yang akan menjadi suamimu kelak,” Amadea melotot mendengar perkataan Ornado.
“Ad, jangan sembarangan. Aku akan mencari seorang pria yang sepertimu, yang cinta mati kepada wanitanya, dia pasti akan menerimaku apa adanya,” Ornado tersenyum mendengar perkataan Amadea.
__ADS_1
“Dengan senang hati aku akan mendoakan agar kamu segera menemukannya. Kalau kamu sudah bertemu dengan pria itu, bawa dia padaku agar aku bisa memastikan apakah dia memang pantas untukmu,” Amadea tergelak, dia tahu dengan pasti siapapun pria yang menyukai dan berusaha mendekatinya pasti harus memiliki nyali lebih karena harus berhadapan dengan Ornado, James, belum lagi para sepupu laki-lakinya dari keluarga De Luca.
Detik berikutnya Cladia banyak menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan Amadea dan kedua orangtuanya, sampai saat dia menoleh ke samping, tiba-tiba dia sudah tidak mendapati Ornado berada di sampingnya lagi. Mata Cladia berkeliling melihat ke semua sudut ruangan untuk mencari sosok Ornado yang tiba-tiba menghilang dari sampingnya tanpa berkata sepatah katapun.