
Ornado yang sudah mengenakan piyama tidurnya memandangi wajahnya sendiri di depan kaca yang terpasang di atas wastafel di kamar mandinya. Sesekali Ornado menundukkan kepalanya sambil tersenyum bahagia mengingat segala yang terjadi selama pesta tadi. Saat ini dia hatinya benar-benar merasa bahagia, apalagi mengingat bagaimana Cladia menjawab pertanyaan tentang apa alasan yang membuat Cladia jatuh cinta padanya tadi, juga tentang jumlah anak yang ternyata baik dia ataupun Cladia sama-sama menginginkan tiga orang anak.
Bagi Ornado, dia benar-benar telah merasakan bagaimana suka dukanya menjadi satu-satunya anak di keluarga Alberto Xanderson. Menjadi anak tunggal bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan. Untuk beberapa hal memang boleh dibilang dia selalu menjadi pusat perhatian orangtuanya dimanapun dia berada dan apapun yang dia inginkan dia akan selalu menjadi prioritas utama dan seringkali dia selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan tanpa perlu berebut dengan saudara yang lain, tapi ada saat-saat dimana dia membutuhkan seseorang untuk bertukar pikiran dan berbagi tugas yang berkaitan dengan orangtuanya dia tidak dapat melakukan itu.
Seperti kejadian 5 tahun lalu yang memaksanya menghadapi banyak hal sendirian saat papanya, Alberto mengalami masa-masa kritis di rumah sakit. Segala beban yang ada di pundaknya merupakan sesuatu yang tidak dapat dia bagi dengan orang lain karena dia merupakan satu-satunya pewaris Grup Xanderson.
Ornado menarik nafasnya dalam-dalam, menunjukkan kelegaannya karena untuk saat ini dia tidak sendiri lagi, tapi ada Cladia yang sekarang ada di sampingnya, memberinya kekuatan dan tidak lagi membuatnya merasa kesepian.
Ketika Ornado keluar dari kamar mandi, dilihatnya Cladia sedang mengeringkan rambutnya di depan meja riasnya. Untuk beberapa saat diamatinya setiap gerak gerik Cladia di depan kaca dengan rambutnya yang terurai dan sedikit berkibar karena hembusan angin panas dari hair dryer yang membuatnya terlihat cantik.
Dengan santai Ornado berjalan mendekati Cladia, diraihnya hair dryer (alat pengering rambut) dari tangan Cladia dengan tangan kanannya. Lalu tangannya bergerak untuk menggantikan Cladia mengeringkan rambutnya yang panjang tergerai. Ornado menarik nafas panjang menikmati rambut Cladia yang mengeluarkan bau harum shampo yang baru saja digunakannya untuk keramas, untuk menghilangkan bekas penggunaan hair spray pada rambutnya untuk acara pesta malam tadi. (hair spray merupakan salah satu rangkain dari kosmetik untuk penataan rambut yang diformulasikan khusus untuk menjaga tatanan rambut agar tidak mudah rusak. Penggunaan hair spray dapat membuat tatanan rambut tetap pada posisi semula selama beberapa jam. Pengaplikasiannya cukup mudah, anda hanya perlu menyemprotkan spray rambut ke tatanan akhir rambut)
“Kenapa kamu tidak memanggil pelayan untuk membantumu mengeringkan rambutmu Amore mio? Mendengar pertanyaan Ornado, Cladia tersenyum lembut, tangan kanannya bergerak ke arah lengan kanan Ornado, menyentuh dan mengelusnya dengan lembut, membuat Ornado untuk beberapa saat menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengeringkan rambut Cladia dengan hair dryer.
__ADS_1
“Sudah terlalu malam, kasihan kalau kita mengganggu istirahat para pelayan untuk sesuatu yang bisa kita lakukan sendiri dan tidak berat. Kalau kamu merasa lelah istirahatlah lebih dahulu, biar aku mengeringkan rambutku sendiri.” Mendengar perkataan Cladia, Ornado langsung membungkukkan badannya, mendekatkan bibirnya ke arah leher Cladia dan mengecupnya lembut, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Cladia.
"Aku tidak keberatan membantumu melakukan hal seperti ini untukmu. Terima kasih sudah menjadi istri yang begitu baik untukku, termasuk untuk orang-orang di sekitarku. Aku beruntung sekali memilikimu dalam hidupku. Seringkali tanpa kamu sadari kamu banyak mengajarkan padaku yang biasa hidup sendiri sebagai anak tunggal, bagaimana cara untuk berbagi dan memperhatikan kebutuhan orang lain, perduli pada orang lain,” Setelah berbisik di telinga Cladia, Ornado kembali menegakkan badannya, dan kembali mengeringkan rambut Cladia dengan hair dryer yang masih dia pegang di tangannya.
“Al…,” Cladia berbisik lembut memanggil nama Ornado.
“Hmmmm,” Ornado hanya mengeluarkan suara gumaman pelan menangggapi panggilan Cladia, sambil tangannya masih sibuk menggerakkan hair dryer di tangan kanannya.
“Al, terimakasih untuk hari ini, untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku. Hari ini kamu benar-benar membuatku seolah-olah menjadi ratu,” Tangan kiri Ornado yang tidak memegang hair dryer menyentuh lembut rambut Cladia, memeriksa apakah rambut Cladia sudah kering atau belum. Begitu Ornado merasakan rambut Cladia sudah kering, Ornado mematikan hair dryer di tangan kanannya dan meletakkannya di atas meja rias di hadapan Cladia. Dengan sedikit membungkuk, kedua lengan Ornado melingkar di bahu Cladia, memeluk tubuh Cladia, dengan kedua telapak tangannya saling menggenggam, menyatu di depan dada Cladia.
Beberapa saat kemudian kepala Ornado mendekat ke arah leher sebelah kanan Cladia, dengan lembut diciumnya leher Cladia yang begitu harum karena bau sabun yang baru dipakainya untuk membilas badannya barusan.
Tiba-tiba saja tangan Cladia bergerak lembut ke arah leher sebelah kanan Ornado yang sedang berada di dekat lehernya sendiri, lalu mengelusnya lembut. Ornado sedikit tersentak mendapat elusan lembut di lehernya, kepalanya bergerak memandang ke arah kaca, mengamati wajah Cladia yang tersenyum manis melalui kaca di depannya.
“Al…,” Suara panggilan lembut dari Cladia yang kembali menyebut namanya membuat Ornado terdiam, ada sesuatu yang seperti sengatan listrik mengalir di tubuhnya, membuat Ornado sedikit menelan ludahnya.
__ADS_1
“Bisakah kita mencoba untuk melakukannya malam ini?” Mendengar pertanyaan Cladia, Ornado langsung menjauhkan kepalanya dari leher Cladia dengan gerakan yang sangat-sangat cepat, kedua lengan Ornado yang awalnya memeluk Cladia tanpa sadar langsung dia lepaskan dari tubuh Cladia, menunjukkan dia begitu kaget dengan pertanyaan Cladia barusan.
Ornado menegakkan kembali tubuhnya, dipandanginya wajah Cladia yang ada di hadapannya melalui kaca di depannya, kedua tangannya memegang kedua bahu Cladia sambil mengelusnya lembut, mencoba meyakinkan dirinya sendiri apakah barusan dia tidak salah dengar tentang apa yang baru saja dikatakan Cladia, atau apakah saat ini dia benar sedang tidak bermimpi. Ornado tahu pasti apa maksud perkataan Cladia barusan tanpa Cladia harus menjelaskannya secara detail kepadanya. Walaupun Ornado sudah begitu lama menunggu Cladia menyatakan itu, tapi ternyata saat Cladia benar-benar mengatakannya, Ornado benar-benar tidak menyangka dia akan sekaget seperti sekarang ini.
“Al…,” Kali ini Cladia kembali memanggil nama Ornado dengan wajah yang memerah dan dada yang berdebar-debar sambil melihat wajah kaget Ornado. Dan tidak adanya respon sama sekali yang ditunjukkan Ornado membuat dadanya semakin berdebar-debar. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya kenapa hari ini dia begitu berani dan lancang mengucapkan kata-kata seperti itu di depan Ornado, apalagi melihat respon Ornado yang terlihat hanya berdiam diri dengan wajah tidak percayanya, membuat Cladia merasa benar-benar tidak nyaman.
“Ah…, ya…. Amore mio,” Ornado menanggapi panggilan Cladia dengan suara terbata-bata, dengan sikap tubuh yang terlihat begitu salah tingkah dan gugup, terlihat bahwa Ornado benar-benar tidak siap mendengar kata-kata yang sebenarnya sudah lama dia nantikan.
“Maaf, jangan hiraukan apa yang baru saja aku katakan, mungkin tidak harus malam ini, kita bisa mencobanya lain kali,” Cladia buru-buru bangkit dari duduknya dari depan meja rias dan langsung berjalan menjauh dari Ornado.
Melihat tubuh Cladia yang menjauh, Ornado seperti disambar petir, seperti orang yang rohnya beberapa waktu lalu meninggalkan tubuhnya dan saat ini roh itu tiba-tiba sudah kembali ke tubuhnya, membuat otaknya kembali berjalan, bisa berpikir dengan normal tentang apa yang baru saja terjadi. Dengan cepat tangan Ornado meraih tangan kiri Cladia yang sudah mulai berjalan menjauh darinya, lalu dengan lembut ditariknya tubuh Cladia untuk mebalikkan tubuhnya agar tubuh mereka saling berhadap-hadapan, Setelah mereka berhadap-hadapan Ornado kembali menarik tubuh Cladia agar mendekat ke arahnya, bersamaan dengan dia berjalan mendekat ke arah tubuh Cladia.
Tanpa meminta persetujuan dari Cladia, Ornado mengarahkan tubuh Cladia untuk semakin mendekat ke tubuhnya, memeluknya dengan erat untuk beberapa saat, kemudian dengan gerakan cepat, tanpa mengeluarkan sepatah katapun Ornado menggendong tubuh Cladia, memeluknya dengan erat, dan membawanya mendekati tempat tidur mereka.
“Sesuai permintaanmu, kita akan mencobanya malam ini Amore mio,” Mendengar perkataan Ornado dengan suara begitu mesra dan lembut di telinganya membuat Cladia memalingkan wajahnya yang memerah untuk menghindari tatapan Ornado yang dia tahu pasti akan membuat wajahnya semakin memerah, apalagi saat ini dadanya benar-benar berdebar tanpa bisa dia kontrol lagi, antara takut, bahagia, malu saat ini bercampur aduk menjadi satu di dalam hati Cladia.
__ADS_1