
"Kenapa Amore mio? Apa yang membuat wajahmu tampak gelisah?" Cladia mengangkat wajahnya, mengalihkan pandangannya dari layar handphone yang ada di tangannya ke arah Ornado. Ornado yang awalnya bersiap menyuapkan potongan buah segar ke mulut Cladia menghentikan gerakan tangannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Ornado, Cladia menyodorkan handphonenya ke arah Ornado yang langsung membaca sebuah pesan di layar handphone Cladia. Di bagian atas pesan tersebut jelas tertulis nama pengirim pesan, Robi, membuat Ornado sedikit menahan nafasnya sebelum membaca pesan tersebut.
Apa kabarmu Cla? Hari ini aku akan mampir ke Sanjaya untuk memberikan sample produk mutiara terbaru kami. Kalau kamu ada waktu,
bisakah kita bertemu dan mengobrol sebentar berdua? Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu.
Begitu selesai membaca pesan dari Robi untuk Cladia, Ornado menarik nafas panjang, tangan kirinya sedikit terkepal, menunjukkan hatinya yang panas membaca pesan barusan.
Ternyata kamu belum memutuskan untuk berhenti mengejar istriku. Kamu benar-benar lancang! Ornado berkata dalam hati sambil matanya memandang ke arah Cladia yang menggerakkan
jari-jarinya mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan dari Robi.
Dengan sengaja Cladia membiarkan Ornado membaca apa yang dia tuliskan disana.
Maaf, untuk masalah sample mutiara Kak Robi langsung berhubungan saja dengan Kak Jeremy. Ke depannya aku harap Kak Robi tidak menghubungiku lagi dengan alasan apapun, statusku saat ini adalah istri sah Ornado Xanderson, apapun yang terjadi tidak ada yang bisa mengubah itu. Tidak baik bagi seorang wanita yang sudah menikah membuat janji pertemuan dengan pria lain, apalagi hanya berduaan. Aku tidak mau ada kesalahpahaman kalau orang lain melihat itu. Setelah event kerjasama Sanjaya dan Bumi Asia selesai, aku akan meninggalkan Sanjaya, aku akan bergabung dengan perusahaan Bumi Asia untuk membantu suamiku disana.
Membaca kata-kata Cladia, Ornado tersenyum bahagia, bukan hanya
karena Cladia menolak permintaan Robi dengan tegas, tapi juga karena pernyataan Cladia untuk bergabung dengan Bumi Asia, kembali ke tempat dimana dia seharusnya berada.
Setelah Cladia menuliskan balasan kepada Robi, untuk beberapa saat kemudian Cladia dan Orando menunggu respon dari Robi, tapi tidak ada lagi pesan balasan dari Robi untuk Cladia.
“Kalau kamu tidak keberatan, sebaiknya hari ini kamu tidak usah masuk kerja, tidak perlu datang ke kantor Sanjaya hari ini,” Cladia menoleh ke arah Ornado, mengamati wajah Ornado yang terlihat tidak senang sejak membaca pesan dari Robi.
Setelah hidup bersama Ornado beberapa lama ini Cladia tahu jelas bahwa dibalik sisi lembut Ornado kepadanya, ada sifat sangat pencemburu yang sebenarnya dimiliki laki-laki yang menjadi suaminya ini. Walaupun sampai saat ini sifat itu belum pernah ditunjukkan Ornado secara terang-terangan di depan Cladia, karena Cladia memang tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun, apalagi bersikap mesra kepada laki-laki lain.
“Aku sudah menolaknya dengan tegas, aku rasa dia tidak akan berani mengambil kesempatan untuk tetap mengajak bertemu denganku,” Ornado kembali menarik nafas panjang, dibalasnya tatapan istrinya dengan tatapan gusar, dalam hatinya merasa benar-benar tidak rela mengetahui ada laki-laki lain yang dengan terang-terangan berusaha mengejar dan merebut Cladia darinya.
“Jangan mudah percaya dengan kata-kata pria yang belum kamu kenal dengan baik. Melihat dari awal dia tidak perduli bahwa kamu sudah menjadi
istri pria lain, sepertinya dia bukan pria baik-baik,” Tangan Ornado bergerak melingkar di bahu Cladia, seolah ingin menyatakan pada semua orang bahwa Cladia hanyalah miliknya, dan tentu saja dia tidak akan membiarkan seorangpun mendekati apalagi merebut Cladia dari tangannya.
“Tidak akan terjadi apa-apa, hari ini aku tidak ada niat untuk menemuinya. kak Jeremy juga sudah tahu tentang dia. Aku sudah menceritakan pada Kak Jeremy tentang ketidaknyamanku jika harus berhubungan dengan Robi walaupun hanya masalah bisnis. Tenang saja, mulai sekarang kak Jeremy yang akan mengurus semua yang berhubungan dengan Lautan Gemilang. Hari
ini aku akan berusaha untuk tidak bertemu dengannya, apalagi kantor Sanjaya merupakan wilayah kami, menurutku dia tidak akan berani macam-macam disana.” Cladia yang melihat kilatan emosi di mata Ornado berusaha untuk menenangkannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Ornado kembali menarik nafas panjang untuk dapat mengendalikan emosinya, kalau saja Perusahaan Lautan Gemilang bukan perusahaan
penghasil mutiara terbaik yang menjadi perebutan perusahaan-perusahaan perhiasan yang lain, bahkan perusahaan-perusahaan perhiasan dari daerah Eropa, dia akan meminta Jeremy dan Cladia untuk tidak berhubungan lagi dengan mereka. Sayangnya sampai saat ini belum ada perusahaan lain yang bisa menyaingi kemampuan mereka untuk menghasilkan mutiara-mutiara berkualitas tinggi seperti milik mereka. Dengan alasan cemburu tidak mungkin Ornado meminta Jeremy dan Cladia untuk melepaskan kerjasama mereka dengan Lautan Gemilang, sedangkan untuk saat ini satu-satunya perusahaan perhiasan dalam negeri yang berhasil
bekerja sama dengan Lautan Gemilang hanya Sanjaya.
“Aku berharap hari ini kamu tidak ke kantor, tapi kalau kamu tetap bersikeras, aku berharap semoga semuanya berjalan dengan lancar. Aku berharap hari ini Robi tidak melakukan tindakan konyol dan mencari gara-gara yang akan membuatku marah dan mengambil tindakan keras,” Cladia tersenyum, dengan lembut dan cepat diciumnya pipi Ornado yang membuat sebuah senyuman menggantikan wajahnya yang awalnya terlihat muram.
“Kendalikan emosimu, tidak baik didengar si kecil kalau papanya marah-marah. Suara marahmu bisa mengganggu tidurnya,” Mendengar perkataan Cladia, kilatan marah di mata Ornado langsung surut, dielusnya perut Cladia lembut.
“Maaf, apa papa membuatmu kaget bayi kecil papa?” Cladia terkikik melihat tindakan spontan Ornado yang langsung mengelus perutnya, mengajak bayi dalam kandungannya berbincang. Dengan cepat Ornado mendekat ke arah Cladia, menghentikan tawa Cladia dengan mencium bibirnya secara tiba-tiba, beberapa pelayan yang berdiri tak jauh dari meja makan langsung menundukkan kepala mereka, takut dianggap tidak sopan jika mereka tetap melihat tindakan
mesra tuannya kepada nyonya mereka.
“Al…., banyak pelayan disini,” Cladia berbisik pelan dengan kedua telapak tangannya sedikit mendorong tubuh Ornado agar menjauh darinya.
“Memang kenapa? Aku hanya menciummu. Kalau aku mau melakukan sesuatu yang lebih dari itu, aku akan melakukannya di kamar kita, tidak mungkin di meja makan,” Ornado membalas bisikan Cladia dengan bisikan yang tidak kalah pelan di telinga Cladia dengan senyuman menggoda di wajahnya. Dan bisikan itu sukses membuat wajah Cladia merah padam karena salah tingkah.
©©©©©©©
“Semua file yang Ibu Cladia butuhkan untuk dicek ulang sudah saya letakkan di map warna merah, sedangkan untuk transaksi keuangan yang membutuhkan acc Bu Cladia sebelum di release sudah saya aturkan di map warna kuning, sisanya file-file tentang design ada di file warna biru.” Amalia meletakkan tiga map yang masing-masing bewarna merah, kuning dan biru di atas meja kerja Cladia.
“Apa ada lagi yang Ibu Cladia butuhkan?” Cladia sudah berencana untuk mengatakan tidak, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.
“Apa tamu dari Lautan Gemilang sudah datang?” Mendengar Cladia menyebut nama Lautan Gemilang wajah Amalia langsung berubah menjadi ceria, dan Cladia tahu betul karena siapa wajah Amalia berubah ceria, tentu saja karena sejak awal Amalia sudah menyukai Robi, sejak mereka masih berkerja sama di kantor Bumi Asia.
Ah, andai saja Robi memiliki perasaan yang sama dengan Amalia, mereka akan jadi pasangan yang serasi. Cladia berbisik dalam hati, dia cukup geli dengan wajah Amalia yang terlihat bahagia saat dia menyebutkan tentang perwakilan dari Lautan Gemilang, tetapi begitu Cladia teringat akan Ornado, Cladia langsung terdiam, merasa jangan-jangan saat dia bersama Ornado, orang lain juga bisa melihat wajahnya berubah malu-malu seperti Amalia saat ini.
Cepat-cepat Cladia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghapuskan ingatannya tentang Ornado, apalagi ingatan tentang setiap tindakan mesra Ornado padanya akhir-akhir ini.
“Sudah bu, sudah 10 menit yang lalu, sekarang mereka sedang berada di ruang meeting bersama dengan Pak Jeremy,” Amalia langsung menjawab
pertanyaan Cladia dengan cepat, sedikit mengernyitkan dahinya karena heran dengan Cladia yang sebelumnya terlihat wajahnya memerah sekilas dan tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ooo, ok kalau begitu,” Cladia bangkit berdiri dari
duduknya, berjalan ke arah pintu keluar.
__ADS_1
“Ibu Cladia mau kemana? Menyusul mereka ke ruang meeting?” Cladia langsung menoleh mendengar pertanyaan Amalia.
“O, tidak, mulai sekarang masalah Lautan Gemilang akan di handle sendiri oleh Pak Jeremy. Aku sudah tidak ada kepentingan dengan pihak Lautan Gemilang. Kamu tunggu disini dulu, ada file lain yang perlu kamu siapkan setelah ini. Aku mau ke toilet sebentar,” Cladia keluar dari ruangannya dan berjalan menuju toilet.
Setelah selesai dari toilet Cladia langsung mencuci tangan di wastafel dan mengeringkannya. Cladia masih menggerak-gerakkan kedua telapak
tangannya ketika dia hendak membuka pintu untuk keluar dari toilet wanita. Begitu Cladia keluar dari pintu toilet wanita dilihatnya Robi sudah berdiri di depan pintu keluar toilet pria yang posisinya berhadap-hadapan dengan pintu keluar toilet wanita, memandang ke arahnya, seolah-olah dengan sengaja menunggunya keluar dari toilet wanita. Dengan gerakan sedikit gugup Cladia memutar tubuhnya ke kanan dan langsung berjalan menjauh dari tempat itu, bertindak seolah-olah tidak mengetahui kehadiran Robi di dekat pintu keluar toilet pria.
"Cla," Mendengar Robi memanggil namanya, mau tidak mau Cladia membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah Robi, melihat Robi berjalan mendekat, Cladia spontan berjalan mundur untuk menghindarinya.
"Tolong, Kak Robi jangan mendekat," Melihat wajah Cladia yang terlihat tidak nyaman, Robi menghentikan gerakan langkah kakinya.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, paling tidak untuk mengobati rasa rinduku, sejak terakhir aku kesini bersama kakakku rasanya lama sekali kita belum bertemu, dan selama ini seringkali pesanku yang berisi sapaan selamat pagi atau apapun tidak pernah kamu balas satupun," Robi tersenyum, Cladia sedikit mengalihkan pandangannya ke samping, beerus aha menghindari tatapan dari Robi.
"Kak, sudah aku katakan aku adalah istri Ornado Xanderson, dan sampai saat ini aku tidak ada keinginan untuk mengubah statusku sebagai istri sahnya. Aku tidak mau Ornado salah paham jika kita saling mengirim pesan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Aku tahu Kak Robi orang yang hebat, pasti ke depannya Kakak akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Kelak..." Robi menyipitkan matanya, keningnya berkerut, menunjukkan dia sungguh tidak menyukai kata-kata Cladia barusan.
"Tidak perlu kamu teruskan Cla. Itu hanya alasan klasik yang selalu dibuat-buat untuk membodohi orang lain," Cladia menarik nafas panjang.
"Dari awal Kak Robi tahu aku tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Kakak, aku hanya menganggap Kakak sebagai seniorku. Tolong ke depannya kita tidak perlu bertemu dengan cara seperti ini. Aku benar-benar tidak ingin menimbulkan salah paham." Telapak tangan Cladia mulai basah oleh keringat dingin.
"Aku sudah katakan aku tidak akan mundur sampai aku melihatmu bahagia di samping Ornado dan kamu mencintainya. Dari beberapa lama kita bekerja sama di Bumi Asia aku tahu dari
wajahmu kamu tidak bahagia bersamanya, kamu tidak mencintai Ornado," Cladia memberanikan diri menatap wajah Robi dalam-dalam.
"Aku mencintai suamiku, aku mencintai Ornado." Robi tersentak mendengar perkataan Cladia, dengan cepat dia melangkah maju mendekat ke arah Cladia, tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar, membuat Cladia kembali melangkah mundur, tangan Robi hampir saja berhasil menggapai Cladia, tapi tiba-tiba tubuh Cladia yang terus mundur menabrak tubuh seseorang yang langsung memeluknya.
Cladia menengadahkan wajahnya untuk melihat siapa yang sudah dia tabrak dan memeluknya. Melihat wajah Ornado, tanpa sadar airmata Cladia langsung menetes, karena rasa syukur saat ini Ornado tiba-tiba muncul di hadapannya, tepat disaat dia sedang mengalami ketakutan. Rasa takut membuat kaki Cladia menjadi lemas, dan tanpa sadar hampir membuatnya jatuh ke lantai,
dengan gerakan cepat Ornado segera menahan tubuh Cladia, lengan kirinya langsung bergerak melingkar ke arah punggung Cladia, sedang lengan tangan kanannya bergerak ke arah belakang lututnya dan langsung menggendongnya dengan gaya bridal style.
(Seperti pengantin pria menggendong pengantin wanitanya). Perlahan kedua lengan Cladia bergerak melingkar ke arah leher Ornado, kepalanya menghadap ke dada Ornado seolah berusaha mencari perlindungan dari Ornado, menyembunyikan dirinya dari pandangan Robi sama seperti ketika mereka di pesta amal beberapa waktu yang lalu.
"Tuan Robi Adhitama, tolong jaga sikap anda. Rasanya sebagai CEO dari Perusahaan sebesar Lautan Gemilang tidak pantas memaksakan kehendak kepada seorang wanita, apalagi wanita itu sudah menjadi istri orang lain. Anda membawa nama besar Lautan Gemilang di pundak Anda. Apa kata orang jika ada yang melihat tindakan Anda yang tidak pantas ini," Robi terdiam melihat apa yang barusan terjadi di depannya, melihat wajah Cladia yang begitu ketakutan melihatnya dan berusaha menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ornado.
"Saya rasa sebaiknya Tuan Robi kembali ke ruang meeting, saya yakin Pak Jeremy dan yang lain pasti sudah menunggu kehadiran anda disana. Ke depannya saya harap anda tidak akan pernah lagi membuat istri saya ketakutan seperti hari ini. Sebagai pemimpin, berpikirlah dengan baik sebelum bertindak," Tanpa menunggu jawaban dari Robi, Ornado membalikkan tubuhnya, melangkah meninggalkan Robi dengan Cladia dalam gendongannya, dipeluknya tubuh Cladia yang berada dalam gendongannya dengan erat untuk menunjukkan perlindungannya kepada Cladia.
Benar-benar menyakitkan, walaupun kamu sudah mengakui bahwa kamu mencintai laki-laki itu, entah kenapa bagiku rasanya tetap sulit sekali
__ADS_1
untuk bisa melepasmu bersamanya. Aku rela melakukan apa saja asal kamu mau bersamaku, asal kamu memilihku, apapun yang kamu minta, apapun itu.... Robi berbisik dalam hati, menatap sosok Ornado yang menggendong Cladia sampai menghilang dari pandangannya. Menyadari Cladia, gadis yang merupakan cinta pertamanya menghilang dari pandangannya, Robi tertegun sejenak sebelum akhirnya melangkah pergi untuk kembali ke ruang meeting.
NOTE : Terimakasih untuk para pembaca setia, mulai hari ini author akan berusaha untuk up tiap hari, mohon dukungannya. Jangan lupa like, komen, vote dan follow. Happy reading, I love you all