
Suara musik masih mengalun lembut, Ornado menundukkan kepalanya untuk memandangi wajah Cladia yang berada dalam pelukannya. Ornado bisa melihat saat ini Cladia terlihat tenang, tidak ada ketakutan yang terpancar dari wajah cantiknya malam ini, membuat kebahagiaan yang dirasakan Ornado saat ini benar-benar sempurna, tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata.
“Amore mio, aku benar-benar tidak menyangka kamu melakukan semua ini. Aku pikir hari ini aku akan melewatkan ulang tahunku tanpa ada waktu bersamamu,” Cladia tersenyum mendengar perkataan Ornado.
“Maaf sudah sempat membohongimu dengan alasan temanku butuh bantuan,” Ornado buru-buru menggelengkan kepalanya.
“Tidak sebanding dengan kebahagiaanku karena apa yang sudah kamu lakukan untukku hari ini,” Ornado memandang ke arah Cladia dengan begitu lembut dan mesra, sampai tidak menyadari satu lagu telah berakhir, dan Cladia mulai sedikit menjauhkan tubuhnya dari Ornado walaupun tetap dalam posisi satu tangan Ornado masih memeluk pinggangnya.
“Aku sedikit lelah, tidak apa kan kita hanya berdansa satu lagu saja?” Ornado mengangguk pelan.
“Tentu saja, kamu pasti lelah sudah menyiapkan kejutan besar hari ini, kesehatanmu adalah yang paling penting,” Walaupun dalam hati ada rasa tidak rela, dengan lembut Ornado melepaskan tangannya dari pinggang Cladia, mengajaknya berjalan menjauhi lantai dansa, mendekati kursi yang disediakan di bagian kanan kiri ruangan bagian depan.
“Mau kuambilkan sesuatu untuk mengisi perutmu?” Begitu Cladia duduk di kursi, Ornado yang masih dalam posisi berdiri di sampingnya segera menawarkan makanan untuknya.
“Aku ingin mengambil pai buah, biar kuambil sendiri,” Cladia bersiap untuk berdiri kembali tapi dengan spontan tangan Ornado menyentuh bahunya untuk mencegahnya berdiri. Mata Cladia sedikit membeliak dan langsung menjauhkan tubuhnya dari jangkauan tangan Ornado yang langsung sadar dengan tindakannya yang sedikit sembrono dan langsung menarik tangannya cepat.
“Maaf, aku tak bermaksud menakutimu,” Cladia berusaha tersenyum sambil mengangguk mendengar permintaan maaf Ornado, Ornado buru-buru bergerak menjauhi Cladia mendekati meja yang berisi berbagai macam makanan, kue dan minuman.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, tapi sebenarnya sentuhanmu tadi bukannya membuatku takut, hanya sedikit terkejut. Satu-satunya pria yang pernah menyentuh bahuku hanya Kak Jeremy, tapi aku tidak tahu ada apa dengan sentuhanmu dan Kak Jeremy, kenapa rasanya sungguh berbeda, aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Cladia berkata dalam hati sambil memegang dadanya, karena sentuhan tangan Ornado yang tiba-tiba di bahunya barusan membuat dadanya terasa berdebar-debar.
Ada sedikit rasa penyesalan kenapa dia langsung bergerak menjauh, tapi dia sendiri tidak mengerti apa arti debaran di dadanya yang akhir-akhir ini sering dia rasakan jika berada dekat dengan Ornado. Bukan debaran jantungnya karena rasa takut saat berdekatan dengan Ornado, tapi debaran lain yang dia sendiri tidak bisa menjelaskan karena selama ini dia belum pernah mengalaminya.
__ADS_1
“Brak!!!” Suara pintu ruangan yang dibuka dengan keras membuat Cladia spontan menoleh ke belakang untuk melihat apa yang terjadi.
Begitu pintu terbuka lebar, terlihat Ola dengan gaun pesta warna hijau terang langsung berlari ke arah Ornado dan memeluknya, berusaha mencium bibir Ornado yang langsung dengan cepat menggerakkan kepalanya ke samping dan menjauhi wajah Ola, sedang kedua tangannya dengan cepat bergerak untuk memegang bahu Ola dan mendorongnya menjauh dari tubuhnya. Beberapa orang yang melihat kejadian itu langsung membeliak karena kaget, tidak menyangka ada kejadian seperti itu.
“Ad, aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun,” Alberto yang kebetulan berdiri di dekat Ornado segera berjalan mendekati mereka.
“Ola, kamu ini masih gadis, jadilah gadis baik-baik, di negara ini tidaklah umum seorang gadis mencium bibir seorang pria apalagi bukan suaminya sendiri,” Ola berjalan mendekati Alberto.
“Paman tahu sejak dulu aku selalu menyukai Ornado, kenapa paman tidak pernah merestui kami?” James yang sebenarnya berada cukup jauh dari mereka segera berlari mendekat ke arah sumber keributan, berdiri di antara Ornado dan Ola, seolah ingin menegaskan pada Ola agar tidak lagi mendekati Ornado yang tampak menggeretakkan gigi karena menahan amarah akibat tindakan Ola barusan.
“Aku tidak pernah menghalangi Ornado untuk mencintai siapapun tapi sejak awal Ornado sudah menjatuhkan pilihannya pada Cladia, tolong hargai itu. Percayalah, kamu akan dapat pria yang lebih baik dari Ornado.” Ola yang datang dalam kondisi sedikit mabuk menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“Ola, hentikan! Kamu mabuk, lebih baik kamu ikut aku keluar,” James menarik tangan Ola, berusaha mengajaknya keluar. Ola dengan keras menepis tangan James.
“Dengar! Aku tahu kalian sengaja tidak mengundangku ke acara ini, karena kalian takut aku membuka rahasia Cladia!” Telunjuk tangan Ola menunjuk ke arah James dan Ornado.
“Tidak ada rahasia apapun tentang Cladia, aku yang paling tahu karena dia adalah istriku! Aku lebih tahu tentang Cladia lebih dari siapapun!” Ornado berkata dengan dingin dan nada sedikit tinggi kepada Ola yang berusaha lebih lagi untuk mendekat ke arah Alberto.
“Paman Alberto! Paman tidak tahu apa-apa tentang Cladia! Dia tidak pantas mendampingi Ornado! Dengar di depan semua orang akan kuceritakan tentang rahasia Cladia! Kalian dengarkan baik-baik!” James berusaha menutup mulut Ola, tapi sebelum berhasil, 2 orang pengawal yang baru saja dipanggil Tante Ema dengan cepat menyeretnya keluar dari ruangan pesta.
“Ad! James! Kalian tidak berhak menghalangiku bicara tentang Cladia! Dia tindak pantas menyandang nama Nyonya Xanderson!” Dua pengawal yang lain segera menutup pintu ruangan begitu dua pengawal yang sebelumnya berhasil mengeluarkan Ola dari ruangan itu.
__ADS_1
“Maaf untuk insiden barusan, kita lupakan saja, mari kita lanjutakan makan malam kita!” James berbicara mewakili Ornado untuk menenangkan keadaan, beberapa orang terlihat saling berbisik-bisik, tapi kemudian kembali mengikuti acara.
Ornado bergegas kembali ke arah Cladia duduk, tapi tangan papanya bergerak memegang lengannya.
“Sebenarnya ada apa Ad? Apa yang terjadi? Apa maksud perkataan Ola barusan?” Ornado menepuk-nepuk tangan Alberto.
“Tenang saja pa, tidak ada apa-apa, semua baik-baik saja,”
“Tapi Ad, setahu papa Ola gadis yang baik dan sopan. Setiap kami bertemu dia selalu bersikap lembut,” Ornado tersenyum, sedikit jengkel karena selama ini Ola sudah membodohi papanya.
“Sebaik-baiknya orang menyimpan bangkai pasti suatu ketika akan ketahuan pa. Dengan kejadian barusan papa bisa tahu orang seperti apa Ola. Dari awal aku sudah tahu, tapi ada baiknya papa tahu dengan mata kepala papa sendiri,” Alberto menarik nafas panjang, masih tidak menyangka dengan apa yang barusan dilakukan Ola.
“Dari awal mendengar tentang perjodohanmu dia langsung mengambil inisiatif untuk bertemu secara pribadi dengan papa, berterus terang bahwa dia menyukaimu, jika memungkinkan dia ingin menggantikan Cladia untuk dinikahkan denganmu.” Ornado menarik nafas panjang sambil mengerutkan keningnya karena menahan amarah di dadanya.
“Papa tahu aku tidak akan mau walaupun papa menyetujui permintaannya.” Alberto mengangguk, dia benar-benar mengerti bahwa satu-satunya yang dicintai oleh Ornado adalah Cladia, bahkan sejak dia berumur 12 tahun. Kalau saja saat itu dia tidak memberitahukan tentang surat wasiat mamanya dan mama Cladia, mungkin saat itu Ornado tidak akan pernah mau meninggalkan Indonesia.
Bagaimana seorang papa tidak mengerti tentang perasaan anaknya, sedangkan Ornado sedikitpun tidak pernah menyembunyikan perasaannya terhadap Cladia yang terlihat dari dekorasi kamar dan ruang kerjanya yang dipenuhi foto-foto Cladia dengan berbagai ukuran. Tanpa mengatakan sepatah katapun orang akan tahu bagaimana Ornado sangat mencintai Cladia.
“Justru karena itu aku selalu memberinya pengertian bahwa gadis yang kamu cintai adalah Cladia. Setiap papa nasehati dia selalu bilang iya, papa pikir dia sudah melupakan ambisinya untuk menggantikan Cladia, ternyata dia masih berusaha keras untuk itu,” Ornado tersenyum melihat kerut di kening papanya.
“Sudahlah pa, jangan dipikirkan, aku bisa mengatasinya,” Alberto menutup matanya sekilas lalu tersenyum, rasanya percuma juga dia khawatir, anak laki-laki satu-satunya, Ornado Xanderson adalah pria hebat yang sudah melewati banyak hal, dia harus percaya bahwa anaknya lebih dari mampu mengatasi masalah Ola dengan caranya. Akhirnya Alberto melepas tangannya dari lengan Ornado, membiarkan Ornado dengan sedikit berlari menuju ke arah Cladia.
__ADS_1